Mid-Autumn In San Francisco

Mid-Autumn In San Francisco
Bab 33


__ADS_3

DESEMBER


Musim dingin menyapa. Suhu udara menjadi lebih dingin, meski masih tersinari matahari. San Fransisko akan segera berselimut salju.


Seperti musim yang berganti, Xiao Ling mulai menetapkan langkah hidupnya. Keinginan untuk bertemu ibunya hampir mustahil. Tapi dia sudah menemukan alasan untuk tetap disana. Dia akan memulai jalannya dari awal. Menetap di San Fransisko. Dia hanya perlu menata kehidupannya. Dia akan mencari pekerjaan, dan jika sudah memungkinkan, dia akan pindah dari apartemen sepupunya. Menyewa apartemen sendiri. Begitulah rencananya. Bukan karena Jane Wang terbebani, tapi Xiao Ling merasa tidak enak hati jika terus menumpang. Rasanya kurang nyaman saja.


Xiao Ling sedang berada di balkon membaca iklan lowongan pekerjaan. Dia sedang memilih dan mempertimbangkan pekerjaan yang mungkin cocok untuknya.


“Apa yang kau lakukan?” Jane Wang menghampiri dengan secangkir kopi di tangannya. Dia menengok sekilas tablet di tangan sepupunya. “Kau mencari pekerjaan?”


Xiao Ling mengangguk.  “Aku harus menghasilkan uang untuk bertahan hidup.”


“Kau berniat menetap disini?” Jane Wang duduk di kursi sebelah Xiao Ling. Meneguk kopinya yang masih mengepul asap.


“Rencanaku seperti itu. Aku merasa nyaman hidup disini.”


“Karena Daniel?”


Xiao Ling melihat Jane Wang. “Mungkin.” Ucapnya ringan. Tak ada yang harus disembunyikan lagi. Meski Daniel Chang belum juga mengatakan bahwa menyukainya, dia tidak peduli. Selama dia bisa bersama dengan pria itu, sudah cukup baginya. Kadang, perasaan tak perlu diungkapkan. Hanya perlu dirasakan.


“Bagaimana dengan mencari ibumu?”


Xiao Ling menghela napas. “Kemungkinan untuk bertemu dengannya hampir mustahil. Dengan aku tetap disini, mungkin suatu saat nanti takdir menemukan kami.” Hanya itu harapan satu-satunya yang tersisa. Berharap Dewa berbaik hati dan mempertemukan dia dengan ibu yang selama ini dia cari.


Jane Wang mendesah. “Seandainya aku tidak menghilangkan foto itu.”


“Itu bukan kesalahanmu.” Xiao Ling menenangkan sepupunya.


“Temanku bilang pernah melihatnya di mobilku yang dia pinjam. Tapi sudah lewat satu bulan, dia belum juga menemukan itu.” Jane Wang kembali mendesah.


Kedua orang itu tiba-tiba saja saling diam. Yang satu sibuk menatap layar tablet. Yang lainnya melamun melihat kopi di tangannya. Sampai seseorang memanggil dengan suara hampir berbisik dari balkon sebelah.


“Xiao Ling…Xiao Ling…”


Xiao Ling berdiri dan mencari dari mana asal suara itu. Ternyata Daniel Chang tengah berdiri di pojok balkon apartemennya yang berbatasan dengan apartemen Jane Wang.


“Nanti malam ayo kita nonton. Ada film yang baru rilis.” Suara Daniel Chang masih berbisik. Entah dia takut ketahuan oleh siapa.


“Aku ada disini Daniel.” Jane Wang berucap dengan suara lantang. Sengaja agar Daniel Chang mengetahui keberadaannya.

__ADS_1


“Hai Jane.” Sapa Daniel Chang. “Aku berniat mengajak Xiao Ling nonton film. Kau mau ikut?”


“Tidak, terima kasih. Aku ada latihan nanti malam.”


“Sudah mau mengadakan pertunjukan lagi?”


“Tentu saja. Aku orang yang sibuk. Tidak seperti pria yang aku kenal.” Ejek Jane Wang.


Daniel Chang tertawa garing. “Aku juga pria yang sibuk asal kau tahu.”


“Aku tahu. Sibuk merayu wanita.” Jane Wang berdiri membawa kopinya. “Aku masuk dulu. Aku tidak mau mengganggu dua sejoli yang sedang berbisik-bisik.”


“Bagaimana Xiao Ling?” Daniel Chang mengulangi pertanyaannya yang sempat tertunda.


Xiao Ling diam sejenak, berpura-pura berpikir. Meski jawaban yang dia ucapkan ‘iya’. Setidaknya dia harus menyembunyikan perasaannya untuk menjaga harga dirinya.


***


Suhu malam ini terasa lebih dingin dari biasanya. Daniel Chang dan Xiao Ling sedang dalam perjalanan ke bioskop.


“Film apa yang akan kita tonton nanti?” Tanya Xiao Ling ingin tahu.


“Kau suka film apa? Horror? Romantis? Atau yang erotis?” Tanya Daniel Chang dengan nada genit di kalimat terakhirnya.


“Tapi aku ingin menonton yang erotis.” Lanjut Daniel Chang menggoda Xiao Ling. “Kita nonton itu, oke?”


Xiao Ling memukul pelan bahu Daniel Chang. “Jangan mengada-ada Daniel.”


“Atau kita lihat film horror saja? Tapi hampir setiap hari aku bertemu dengan makhluk horror, tidak perlu lagi menontonnya.”


Xiao Ling mengangkat sebelah alis, “Siapa?” Dia penasaran siapa yang Daniel Chang maksud.


“Sepupumu, tentu saja.”


Daniel Chang tertawa lepas, yang disusul tawa Xiao Ling. Gadis itu tak bisa menahan tawanya.


“Itu tidak baik Daniel. Haruskah aku beritahu Jane jie?”


“Jangan Xiao Ling. Aku tak mau kehilangan tetanggaku satu-satunya.” Daniel Chang memasang wajah mengiba. Xiao Ling hanya tersenyum.

__ADS_1


“Jadi kita putuskan nonton film apa?”


“Film romantis saja.”


“Siap Nona.” Jawab Daniel Chang sambil menempelkan telapak tangan di kening, memberi hormat seperti saat upacara bendera.


Mobil Daniel Chang terus melaju di tengah jalanan utama ibukota San Fransisko. Tapi entah kenapa tiba-tiba dia memutar balik mobilnya.


“Kenapa?” Xiao Ling bingung. “Ada yang ketinggalan?”


“Tidak. Aku pikir filmnya tidak begitu bagus. Kita nonton lain kali saja.”


Xiao Ling hanya menurut. Dia ingin bertanya lebih jauh. Karena tidak biasanya Daniel Chang membatalkan janji begitu saja. Tapi sudahlah. Mungkin filmnya memang kurang menarik.


Daniel Chang menghentikan mobilnya di depan apartemen. “Kau masuklah dulu. Aku harus pergi ke suatu tempat. Kodenya 1808. Itu tanggal ulang tahun Mamaku, kalau saja kau bertanya-tanya.”


“Apa itu?” Xiao Ling tidak mengerti.


“Kode apartemenku. Tunggu aku di sana.”


“Kenapa?”


“Ada hal penting yang ingin aku katakan setelah ini. Aku pergi dulu.”


Xiao Ling mengangguk dan turun dari mobil. Dia berdiri di depan apartemen sampai mobil Daniel Chang menghilang di tikungan. Dia sebenarnya bingung dengan sikap Daniel Chang yang seperti itu, tapi dia memilih untuk menunggu pria itu menjelaskan nanti.


Saat Xiao Ling hendak masuk apartemen, saat Jane Wang memanggilnya dari dalam mobil. Dia kemudian berjalan menghampiri mobil sepupunya.


“Temanku akhirnya menemukan foto ibumu. Dia lupa menyimpannya di dalam buku agenda.” Jane Wang menyerahkan foto usang yang telah lama menghilang.


“Terima kasih jie.” Xiao Ling menerimanya dengan perasaan senang juga tak menyangka akan melihat foto itu lagi. Sebenarnya dia sudah putus harapan untuk menemukannya. Dia memegang erat foto itu. “Kau mau pergi?”


“Aku harus ke tempat latihan lagi. Aku pulang hanya untuk memberikan itu.” Jane Wang melihat sekeliling, tapi tak menemukan Daniel Chang. “Kau tidak jadi pergi dengan Daniel.”


Xiao Ling mengangkat bahu dengan lesu. “Dia harus pergi ke suatu tempat. Dia menyuruhku menunggu di dalam.”


“Ling’er… apa mungkin dia punya janji dengan wanita lain?”


Xiao Ling menatap tajam Jane Wang. Dia tidak menyukai perkataan sepupunya itu.

__ADS_1


“Aku hanya bercanda.” Jane Wang merasa terintimidasi dengan pandangan Xiao Ling. “Aku pergi sekarang.” Lebih baik dia segera pergi dari sana.


Xiao Ling menuju apartemen Daniel Chang setelah Jane Wang pergi. Dia menekan kodenya dan berhasil. Dia duduk di sofa sambil terus memandangi foto yang masih dia pegang. Untuk mengusir keheningan dia menyalakan televisi. Pembawa acara mengatakan bahwa mala mini akan turun salju pertama di sebagian besar wilayah San Fransisko, termasuk Chinatown.


__ADS_2