
Seluruh pemain dan kru teater duduk di dalam bar yang berada tak jauh dari gedung pertunjukan. Daniel Chang dan Xiao Ling juga termasuk disana. Mereka tadi berjalan ramai-ramai ke sana, karena bar itu tidak cukup ruang untuk parkir mobil. Kebanyakan meninggalkan mobilnya tetap terparkir di dekat gedung teater, termasuk Daniel Chang.
Xiao Ling duduk diapit Jane Wang di sebelah kanan dan Samuel di sebelah kirinya. Sedangkan Daniel Chang duduk di sebelah kirinya dengan jarak empat orang termasuk Samuel. Bergelas-gelas bir sudah tersedia di meja didepan semua orang.
“For Sampek Engtay. Cheers.”Seorang pria yang paling tua disana berdiri mengangkat gelas dan meminum bir didalamnya yang diikuti semua orang, kecuali Daniel Chang. Dia hanya minum soda. Dia harus menyetir mobil saat
pulang nanti. Jadi dia tidak boleh mabuk.
Daniel Chang meneguk soda dengan tatapan yang tak lepas dari Xiao Ling. Dia melihat Samuel mengajaknya bersulang, dan gadis itu menurutinya. Gadis itu sudah menghabiskan segelas bir. Tak berapa lama, gelas kedua sudah tersaji di depan gadis itu.
Seorang pelayan membawakan dua gelas martini kepada Samuel. Pria itu memberikan salah satu gelas pada Xiao Ling. Tanpa menolak, Xiao Ling juga meneguk isi dalam gelas itu. Gadis itu merapatkan pejaman matanya sesaat setelah minum. Kandungan alkohol dalam minuman itu terlalu keras untuknya.
Kepala Daniel Chang sudah memanas. Dia tidak tahan melihat pemandangan di depannya. Samuel benar-benar berniat membuat gadis itu mabuk. Apa yang dia inginkan? Tangan Daniel Chang mengepal begitu kuat sampai buku-buku jarinya memutih, menahan amarah. Ingin sekali dia membawa Xiao Ling keluar dari tempat itu saat
ini juga.
***
Xiao Ling menggenggam segelas bir dan menempelkannya dengan gelas yang dipegang Samuel sampai berbunyi, kemudian meneguk sedikit isinya.
“Come on girl, one shoot please.”
Xiao Ling hanya tersenyum. Dia tahu batas minumnya. Tapi Samuel terus memintanya untuk mengosongkan gelasnya, akhirnya dia hanya menurut.
“Good girl. Take one more okay.”
“No, Sam. I think I can’t drink anymore.”
__ADS_1
“It’s okay Ling. I’ll take you home.”
Belum sempat Xiao Ling menolak, Samuel sudah memesan segelas bir dan segelas martini.
“Try it. You'll like it.” Samuel memberikan segelas martini itu dan meminta Xiao Ling meneguknya langsung.
Xiao Ling berusaha menolak, tapi Samuel terlalu gigih memaksanya meminum alkohol itu. Dia melihat sekilas kearah Daniel Chang dan berpikir sepertinya tidak apa-apa. Masih ada pria itu yang akan menemaninya pulang.
Xiao Ling meneguk isi gelas di tangannya. Seketika sensasi panas menyerang kerongkongannya. Dia merasakan
sebuah hantaman di kepalanya. Alkohol itu terlalu keras untuknya. Tapi entah kenapa, dia merasa penasaran dengan rasanya. Dia kembali meneguk minumannya sampai habis. Tak berapa lama rasa mabuk menyerangnya.
Xiao Ling duduk tertunduk di sofa di sudut bar. Wajahnya memerah, bukan karena tersipu. Melainkan dia sudah mabuk. Benar saja. dia telah menghabiskan hampir dua gelas bir dan segelas martini.
Di sampingnya, ada Daniel Chang. Dia hanya duduk diam dan sesekali memelototi setiap pria yang berniat mengganggu gadis di sebelahnya. Atau dia yang akan menolak jika ada seseorang mengajak Xiao Ling untuk kembali minum.
Orang-orang yang tadi disana sudah banyak yang pergi. Ada yang sudah pulang. Ada juga yang berpindah tempat duduk.
“Sebaiknya aku mengantar dia pulang.” Ucap Daniel Chang karena melihat Xiao Ling tak bergeming.
“Let me take her home.” Samuel datang dengan sempoyongan.
Daniel Chang menatap Samuel dengan kilatan di matanya. Jika Jane Wang mengijinkan pria itu mengantar Xiao Ling, dia juga akan ikut. Tak peduli jika harus meninggalkan mobilnya. Mana mungkin dia menyerahkan gadis mabuk pada pria yang baru mengenalnya dua jam lalu.
“You’re drunk, Sam. Let him take her.”
Tanpa menunggu aba-aba, Daniel Chang segera membantu Xiao Ling berdiri. Dia memegang lengan gadis itu untuk menuntunnya berjalan. Tapi gadis itu menyingkirkan tangan Daniel Chang dari lengannya.
__ADS_1
“Aku bisa sendiri.” Ucap Xiao Ling.
Daniel Chang tak memaksa. Dia berjalan mengikuti Xiao Ling. Setelah di luar bar, dia berjalan mendahului Xiao Ling dan berjongkok di depannya. “Naik ke punggungku. Kau berjalan terlalu lambat.” Dia sudah tak sabar setelah melihat Xiao Ling hampir jatuh beberapa kali.
Awalnya Xiao Ling menolak. Tapi Daniel Chang memaksa dan terus memaksa yang akhirnya membuatnya mau merangkul leher Daniel Chang dari belakang. Daniel Chang mulai melangkahkan kakinya dengan Xiao Ling yang berada di punggungnya.
“Apa aku berat?” Suara Xiao Ling tepat di telinga Daniel Chang, yang membuat pria itu merinding geli. “Pasti aku berat.”
“Tidak.” Jawab Daniel Chang jujur. Memang tubuh Xiao Ling tak terasa berat baginya.
Daniel Chang berjalan menyusuri trotoar menuju tempat dia memarkir mobilnya. Sepanjang perjalanan, Xiao Ling tak berhenti berucap. Entah dia sadar atau karena mabuk, dia terus saja berbicara.
“Daniel… kau… kau pria yang sangat…. Sangat menyebalkan.”
“Kenapa?”
“Bagaimana mungkin kau tidak menyadarinya? Atau kau hanya pura-pura tak tahu?”
“Tentang apa?”
“Apa kau akan membuatku menunggumu selamanya? Sampai kapan aku harus menunggumu?” Xiao Ling melirihkan suaranya, tapi tetap masih terdengar oleh Daniel Chang karena wajah gadis itu sangat dekat dengan telinga Daniel Chang.
“Aku saja yang bodoh. Kenapa menunggu seorang pria yang mempunyai banyak hati. Hah… aku merasa hidupku sangat malang. Setelah berpisah dengan pria baik harus bertemu dengan seorang playboy.”
Daniel Chang diam, tidak lagi membalas perkataan Xiao Ling. Dia tidak ingin menjawab sesuatu yang mungkin tak diingat oleh gadis itu. Walaupun dia sangat ingin bertanya apa maksud dari perkataan Xiao Ling, dia menundanya. Dia akan bertanya siapa ‘pria baik’ itu saat Xiao Ling benar-benar sadar. Dia hanya mendengarkan semua ucapan yang keluar dari bibir Xiao Ling, yang mungkin saja itu semua ungkapan hatinya.
“Dan Jessica? Apa hubunganmu dengannya? Kenapa dia selalu datang ke kamarmu? Aku tidak senaif itu. Bagaimana mungkin kalian tidak melakukan apa-apa. Hanya ada kalian berdua di dalam kamar yang sempit. Dan bodohnya aku mempercayai semua ucapanmu. Aku memang sangat bodoh.”
__ADS_1
Setelah mengucapkan semua itu, Xiao Ling menyandarkan kepalanya di bahu Daniel Chang. Dia merasa capek. Dia sudah benar-benar mabuk. Dia mengeratkan pelukan tangannya yang melingkar di leher Daniel Chang.
Sesampainya di tempat parkir, Daniel Chang mendudukkan Xiao Ling di kursi penumpang depan. Dia memakaikan seat belt. Kemudian dia masuk ke kursi kemudi dan membawa gadis itu pulang ke apartemen.