
Sudah dua minggu lebih Xiao Ling hanya mengurung diri di kamar. Dia jadi sering membolos kerja. Juga sering melewatkan waktu makan bersama keluarga. Shi Yen Xing dengan sabar mengantar makanan ke kamarnya. Pagi ini juga, dia yang meletakkan makanan di meja. Memandang putrinya yang bersembunyi di balik selimut. Dengan napas berat dia mengambil makanan tadi malam yang tidak disentuh Xiao Ling sedikitpun. “Setidaknya makanlah sedikit Ling’er. Mama khawatir nanti kamu jatuh sakit.” Ucapnya sebelum keluar kamar tanpa jawaban apa-apa.
Semua anggota keluarga sudah tahu tentang kejadian malam itu. Shi Yen Xing memberitahu Xiao Guo saat sudah pulang dari Beijing. Begitu pun Xiao Lung yang tahu keesokan harinya. Xiao Ling meminta Shi Yen Xing untuk merahasiakan tentang dia dan Li Yuan Bao. Dia tidak ingin kakaknya tahu, karena dia mengenal betul sifat kakaknya. Xiao Lung pasti akan mengalah, dan Xiao Ling tidak menginginkan itu.
Xiao Ling duduk di dekat jendela. Manatap kosong. Dia butuh waktu untuk sendiri agar dia bisa memutuskan pilihannya dengan pikiran jernih. Sepertinya, hari ini adalah waktu yang tepat baginya untuk mengungkapkan keinginannya. Di rumah hanya ada Shi Yen Xing dan Xiao Guo. Nenek sedang pergi ke kelenteng dan Xiao Lung bekerja.
Xiao Ling turun dengan membawa makanan yang sama sekali belum dimakan. Setelah meletakkan di dapur, dia menemui Shi Yen Xing dan Xiao Guo yang sedang duduk santai di depan televisi.
“Mama Papa aku mau bicara.”
Shi Yen Xing menyuruh Xiao Ling untuk duduk di sofa. Dia duduk di tengah-tengah diapit Shi Yen Xing dan Xiao Guo. Shi Yen Xing membelai lembut rambut panjang putrinya. Ada sesuatu yang mengganjal di hatinya. Menerka-nerka apa yang ingin Xiao Ling katakan.
Xiao Ling menarik napas dalam-dalam. Berharap itu bisa memberinya kekuatan lebih. “Dimana ibu kandungku?”
Shi Yen Xing dan Xiao Guo diam sejenak. Mereka saling memandang. “Kami tidak tahu.” Suara Xiao Guo memecah keheningan.
“Setelah meninggalkanmu bersama kami, dia pergi.” Lanjut Shi Yen Xing. “Dia hanya berkata ingin mencari sepupunya di Chinatown, San Fransisko. Dia berharap sepupunya dapat membantunya memulai hidup baru.”
Pelupuk mata Xiao Ling mulai buram, tertutup airmata yang sudah memenuhi kelopak matanya. Sekejam
itukah ibunya meninggalkannya hanya untuk memulai hidup yang baru? Apakah dirinya adalah beban bagi ibunya? Tidak bisakah ibunya membawa serta dirinya untuk ‘hidup baru’ itu?
“Lalu ayahku?”
“Setelah menikam kakek, ayahmu dijatuhi hukuman seumur hidup. Lima belas tahun yang lalu dia meninggal. Bunuh diri di dalam penjara.” Ungkap Xiao Guo.
Tapi penjelasan itu tidak cukup bagi Xiao Ling. Dia masih belum menemukan semua jawaban atas pertanyaan dalam hatinya. Kenapa ibunya menelantarkannya? Kenapa kedua orantuanya berpisah? Dan pertanyaan lainnya. Yang akhirnya membuatnya mengambil jalan untuk mencari tahu semua itu sendiri.
“Aku ingin mencari ibuku. Tolong ijinkan aku.”
__ADS_1
“Kemana kau akan mencari ibumu?” Shi Yen Xing mulai gusar. Dia takut jika harus melepas putri bungsunya pergi.
“San Fransisko.”
“San Fransisko itu kota yang sangat besar.” Suara Shi Yen Xing mulai bergetar. Sepertinya sebentar lagi dia akan meneteskan airmata. Dia meraih telapak tangan Xiao Ling dan menepuk punggung tangannya pelan. “Haruskah kamu pergi, Ling’er?”
Xiao Ling memandang wajah wanita paruh baya yang sudah menjadi mamanya selama ini. Mengelus pipi dan mengusap butiran bening yang telah menetes perlahan. “Setelah menemukan ibuku, aku akan pulang Ma.” Ucap Xiao Ling menenangkan. Entah bisa bertemu atau tidak dengan ibu kandungnya, dia sendiri belum tahu pasti apakah dia akan kembali atau tidak. Dia belum memutuskan apa yang harus dia lakukan nanti. Yang pasti saat ini, dia harus pergi. Jika dibilang pengecut, iya. Dia seperti itu, karena satu-satunya jalan dalam benaknya adalah dia ingin lari dari masalah dengan alasan mencari ibu kandungnya.
Shi Yen Xing memeluk tubuh putrinya erat. “Mama akan menunggu kepulanganmu,” bisiknya di telinga Xiao Ling.
Xiao Ling membalas pelukan Shi Yen Xing lebih erat. “Iya Ma.”
Xiao Guo yang menyaksikan sejak tadi pun akhirnya juga memeluk Xiao Ling dari belakang. Mereka
bertiga saling berpelukan penuh kasih sayang.
***
Shi Yen Xing masuk ke kamar Xiao Ling. Dia memberikan sebuah foto usang yang sudah robek setengah.
Mungkin memang sengaja dirobek.
Xiao Ling sedang duduk menekuk lututnya di atas tempat tidurnya. Dia menerima foto itu dan memandanginya dengan seksama. Ada seorang wanita yang memegang perut besarnya di dalam foto itu. Dari raut wajahnya kesan pertama yang dapat ditangkap adalah wanita itu tidak bahagia. Umurnya mungkin sekitar 20-an. Wajahnya kusam tanpa make up sedikit pun, sehingga membuatnya terlihat lebih tua. Rambut diurai sebahu.
“Itu foto ibumu. Hanya itu satu-satunya barang peninggalannya.” Shi Yen Xing ikut duduk di tepi ranjang, berhadapan dengan Xiao Ling. “Namanya Liu Yen. Foto itu diambil saat dia hamil dirimu. Di sebelahnya itu ayahmu, tapi ibumu merobeknya.”
Xiao Ling masih memandangi foto usang itu. Mata wanita itu seperti matanya, mata sipit dengan bulu mata yang lentik. Juga bibirnya. Sama persis seperti miliknya.
“Foto ini mungkin bisa membantumu untuk menemukan ibumu.”
__ADS_1
“Terima kasih, Ma.”
“Sepupu dari ibumu tinggal di sebuah kelenteng di Chinatown. Dia menjadi seorang biksu disana.”
“Apa ibuku juga menjadi biksuni?”, tanya Xiao Ling ragu.
Shi Yen Xing hanya menggeleng. “Mama juga tidak tahu.” Dia meraih tangan Xiao Ling. Mengusap telapak tangannya, “Mencari ibumu tidak akan mudah. Apa kau harus melakukan itu?”
“Hmmm.” Disertai anggukan Xiao Ling.
“Jika kau merasa terlalu sulit, pulanglah. Keluargamu ada disini. Mama akan menjelaskan pada Lung’er pelan-pelan.”
Xiao Ling memegang erat tangan mama. “Tidak Ma. Jangan katakan apapun pada kakak. Aku ingin kakak
bahagia.”
“Apa kau yakin kakakmu akan bahagia?”
“Tentu saja.” Aku pasti akan membuat kakak bahagia.
Shi Yen Xing merasa gagal membujuk Xiao Ling untuk merubah keputusannya. Kali ini, dia akan membiarkan
Xiao Ling untuk melakukan apapun keinginannya. Dia hanya berharap, Xiao Ling tidak terluka jika kenyataan yang akan dia dapati tidak sebaik harapannya.
“Baiklah. Tapi ingatlah satu hal. Mama, Papa dan kakakmu disini selalu menunggumu. Pulanglah kapan pun kau mau.”
Xiao Ling tersenyum. Dia memeluk Shi Yen Xing sangat erat. “Terima kasih, Ma.”, bisiknya di telinga Shi Yen Xing.
Terdengar getar ponsel di meja sesaat setelah Shi Yen Xing keluar dari kamar Xiao Ling. Nama Li Yuan Bao yang terpampang di layar. Xiao Ling meraih ponselnya, tapi dia hanya memandangi layar ponsel itu. Dia tidak tahu harus mengatakan apa, setelah lebih dari dua minggu mengabaikan panggilan atau pun pesan Li Yuan Bao.
__ADS_1
Sesaat layar ponsel itu berhenti, namun kemudian kembali bergetar selama beberapa detik. Xiao Ling masih hanya menandanginya. Dia meletakkan jarinya di atas tombol telepon berwarna hijau, tapi tak juga menggesernya. Sampai ponsel itu berhenti lagi.
Ayo kita bertemu. Akhirnya dia mengirim pesan setelah ponselnya benar-benar berhenti bergetar.