Mid-Autumn In San Francisco

Mid-Autumn In San Francisco
Bab 32


__ADS_3

“Kau mau pergi?” Xiao Ling melihat Jane Wang membawa tas ransel di punggungnya.


“Aku mau ke sanggar. Mengembalikan barang-barang yang kemarin dipakai untuk pertunjukan. Kau mau ikut?”


“Tidak jie. Aku di rumah saja.”


“Kau mau pergi dengan Daniel?” Jane Wang menebak.


Xiao Ling menggeleng. “Tidak.”


“Baiklah. Kau tidak perlu menungguku. Aku pulang malam. Kau makan malam sendiri saja.” Jane Wang melangkah keluar apartemen. Baru sedetik, dia membuka pintu kembali dan hanya kepalanya yang terlihat dari balik pintu. “Tolong kau buang sampah ke bawah.” Lalu tak terlihat lagi.


Xiao Ling menuruti permintaan sepupunya. Dia mengambil kantong plastik di dapur dan membuangnya ke tong sampah yang berada di depan gedung apartemen di lantai bawah. Dia naik lagi ke lantai tiga. Di depan lift, seorang wanita menabrak lengannya. Wanita itu pergi begitu saja tanpa meminta maaf. Xiao Ling sepertinya mengenalnya. Bukankah itu Jessica? Tak lama, Daniel Chang muncul. Xiao Ling tersenyum getir. Bukankah ini seperti pertengkaran sepasang kekasih?


***


Jessica berdiri di depan pintu apartemen ketika pintu itu terbuka. Daniel Chang mengerutkan kening. Tidak biasanya Jessica datang dimana matahari masih nampak di luar.


“Kau tidak sedang mabuk, kan?” Daniel Chang tahu betul jika Jessica seratus persen sadar. Aneh saja jika gadis itu menemuinya dalam keadaan normal.


Jessica mendengus. “Kau pikir aku apa?” Dia masuk ke dalam apartemen dan duduk di sofa.


“Mau minum apa?” Daniel Chang sudah di depan lemari es untuk mengambil minuman.


“Kau punya alkohol?”


Daniel Chang menatap Jessica. Tak ada ekspresi bercanda. “Kau mau mabuk di siang bolong begini?”


“Aku butuh alkohol untuk melampiaskan kekesalanku.”


“Kenapa?” Daniel Chang membuka kaleng soda dan memberikannya pada Jessica. Membuka sekaleng lagi untuk dirinya.


Jessica menarik napas dalam-dalam dan menghembuskannya penuh dendam. “Papaku menjodohkan aku dengan anak rekan bisnisnya.”


Daniel Chang kaget. Soda yang baru diteguknya menyembur keluar mulutnya. “Apa?” Dia tak bisa menahan tawanya. “Siapa yang mau menikah denganmu?”


Jessica mengacak-acak rambut panjangnya sambil berteriak kesal. Dia merasa masih terlalu muda untuk menikah. Apalagi lewat perjodohan.


“Tapi bagus juga kau menikah. Jadi kau tidak akan lagi menerobos apartemenku saat mabuk.”


Jessica memutar cepat kepalanya. Menatap tajam Daniel Chang. “Kau keberatan?”


Daniel Chang mengangkat bahu. “Aku hanya ingin menjaga perasaan seseorang.”


“Siapa?” Selidik Jessica.


“Ada. Seseorang.”


“Gadis itu?” Jessica pernah melihatnya, sepertinya memang dia. “Karena itu kau tidak pernah berbuat apa-apa saat aku mabuk?”

__ADS_1


Daniel Chang terkekeh. “Apa maksudmu? Kau tahu aku bukan pria seperti itu?”


Jessica mendesah. “Kau benar. Seandainya kau melakukan itu sekali saja, aku punya alasan agar kau bertanggungjawab.”


Daniel Chang memukul pelan kepala Jessica. “Lalu aku yang harus menikahimu? Hentikan omong kosong itu.”


“Kenapa? Kau tak mau menikah denganku? Aku menyukaimu.” Kata-kata itu keluar begitu saja dari bibir Jessica. Dia tidak sedang bercanda. Dia sangat serius tentang perasaannya.


Daniel Chang terdiam. Bukannya dia tak tahu, dia hanya berpura-pura. Jessica pernah sekali mengungkapkan perasaannya ketika mabuk. Gadis itu bahkan pernah menciumnya sesaat setelah memberitahu bahwa dia menyukai Daniel Chang.


“Tak bisakah kau menyukaiku?” Jessica mengiba. Suaranya parau. Pandangannya mulai buram. Sial. Kenapa air ini menutupi mata? Meskipun dia terlihat begitu kokoh, dia tetaplah seorang gadis. Hatinya akan sakit saat terluka. Seperti saat ini. Perasaannya bertepuk sebelah tangan. Meski dia sudah bisa menduganya, tapi tetap saja itu membuat hatinya terluka. “Aku berharap kau bisa menyukaiku. Dan aku bisa memutuskan perjodohan konyol itu.” Butiran bening mulai mengalir di pipinya. Secepatnya dia menghapus dengan telapak tangannya.


 Daniel Chang mendekati Jessica. “Jessie, aku menyukai orang lain.” Dia mengelus bahu gadis itu. “Di luar banyak pria lain yang lebih baik dariku. Aku berharap kau bisa bahagia.”


Jessica paling benci kata-kata seperti itu keluar dari mulut pria. Alasan yang sangat klasik di telinganya. “Kau tahu Daniel. Aku berharap kau tak akan pernah bisa bahagia bersama dia.” Dia berdiri dan pergi begitu saja.


“Jessie tunggu.” Daniel Chang mengejar Jessica. Gadis itu dalam keadaan emosional. Jika dia mengendarai mobil sendiri, Daniel Chang khawatir terjadi sesuatu.


Jessica berlari. Di depan lift dia bersenggolan dengan seseorang. Dia tak menoleh dan masuk ke dalam lift.


Daniel Chang bertemu dengan Xiao Ling di depan lift saat mengejar Jessica. Mereka saling menatap untuk beberapa detik tanpa berucap sepatah kata pun.


“Kalian bertengkar?” Tanya Xiao Ling memecah keheningan.


“Tidak. Bukan seperti itu.” Daniel Chang bingung bagaimana menjelaskannya tanpa kesalahpahaman. “Dia… Jessica hanya mampir. Karena tidak mabuk, dia jadi sedikit sensitif.” Jelasnya sambil tertawa garing.


“Ooh…”


“Dari bawah.”


“Jane pergi?”


Xiao Ling mengangguk. “Dia ke sanggar. Ada urusan.”


“Dia sepertinya sangat sibuk.”


“Mungkin. Kalau begitu aku masuk dulu.”


Xiao Ling berniat kembali ke apartemennya. Tapi Daniel Chang memegang pundaknya dari belakang dan mendorongnya pelan masuk ke apartemen pria itu.


“Kenapa kau membawaku ke sini?”


“Disini dulu.” Daniel Chang terus menuntunnya sampai di sofa dan mendudukkan Xiao Ling. “Kau marah?”


“Kenapa?”


“Karena Jessica mungkin.” Daniel Chang duduk di sebelah Xiao Ling.


“Tidak.” Ucap Xiao Ling membuang muka. Dia tidak ingin melihat ke arah Daniel Chang. “Kenapa harus marah?”

__ADS_1


“Kalau begitu kau cemburu?” Suaranya sedikit menggoda.


“Tidak juga.”


“Lalu katakan apa yang ada di hatimu.” Daniel Chang menyandarkan kepalanya di pundak Xiao Ling. Entah sejak kapan hal itu menjadi sesuatu yang menyenangkan baginya. Wangi tubuh gadis itu membuatnya merasa damai.


Xiao Ling beringsut. Hatinya berdesir. Ini membuatnya tak nyaman, tapi juga membuatnya berdebar. Perasaan yang rumit.


“Apa aku harus membuatmu mabuk dulu agar kau mau berkata jujur?”


“Tidak lucu Daniel.”


“Kalau begitu, ayo kita makan malam.” Daniel Chang mengangkat kepalanya. “Makan malam disini. Kau yang masak. Masakanmu benar-benar enak.”


Apa ini? Kenapa bisa berubah drastis menjadi ajakan makan malam? Pria ini sungguh diluar dugaan. “Kau ingin makan apa?” Ucap Xiao Ling selanjutnya. Dia menyanggupi begitu saja permintaan Daniel Chang. Kebetulan, dia sedang tidak ingin makan sendirian.


“Ehmmm…” Daniel Chang mencoba berpikir. “Kwetiau sepertinya enak. Tapi kita ke pusat perbelanjaan dulu. Tak ada bahan apapun di lemari es.” Daniel Chang menggenggam tangan Xiao Ling dan membawanya pergi berbelanja.


***


Daniel Chang mendorong troli belanja mengikuti Xiao Ling yang mengambil bahan makanan mentah di depannya. Dia berjalan dengan senyuman yang tak lepas dari sudut bibirnya. Dia merasa seperti seorang suami yang mengikuti istrinya berbelanja. Jika nanti mereka menikah, dia akan melakukan kegiatan seperti ini karena menurutnya menyenangkan.


Daniel Chang memukul kepalanya sendiri. Apa ini? Menikah? Bukankah dia masih terlalu muda untuk itu? Kenapa pikiran itu tiba-tiba mampir di kepalanya. Apakah dia berniat untuk menjalin hubungan dengan Xiao Ling untuk waktu yang lama? Ini tidak seperti dirinya. Biasanya, saat dia menjalin suatu hubungan tidak pernah bertahan lebih dari enam bulan. Dia akan memutuskan hubungan ketika wanitanya mulai membicarakan hubungan yang lebih serius. Sebab itulah sebutan playboy menjadi gelar di belakang namanya.


Xiao Ling mengambil sekotak udang segar di jejeran rak makanan laut. Dia dan Daniel Chang sedang berada di salah satu pusat perbelanjaan di Chinatown. Dia melirik Daniel Chang saat meletakkan udang itu di troli. Pria itu tersenyum-senyum sendiri.


“Apa ada yang lucu?” Xiao Ling penasaran.


Daniel Chang menatap ke arah Xiao Ling. “Tidak ada.”


“Kenapa kau senyum-senyum?”


“Aku hanya berkhayal sesuatu.”


“Apa? Tidak mungkin sesuatu yang jorok, kan?”


“Mana mungkin. Aku membayangkan jika nanti menikah, aku akan mengantarkan istriku berbelanja.” Daniel Chang diam. Haruskah dia lanjutkan? Bagaimana kalau Xiao Ling tersinggung atau salah paham?


“Kau ingin menikah?” Xiao Ling heran. Apa mungkin seorang pria playboy dan masih muda memikirkan tentang pernikahan? Bukankah rasanya aneh? Apa dia bisa hidup hanya dengan seorang wanita?


“Tentu saja.”


“Bukankah kau masih muda untuk itu?”


“Tapi kurasa, sudah waktunya baginya untuk menikah.”


“Siapa?”


Daniel Chang memandang kedua bola mata Xiao Ling. “Kau.” Akhirnya terucap juga dari bibirnya.

__ADS_1


Xiao Ling seketika terdiam. Semu merah menghiasi wajah putihnya. Tak pernah terbayangkan olehnya kata-kata seperti itu keluar dari mulut Daniel Chang. Apakah pria itu bersungguh-sungguh saat mengatakannya? Bolehkah dia bermimpi untuk hidup bahagia bersamanya? Jika suatu saat nanti takdir mengijinkan, dia akan menerima semuanya. Dia akan melupakan semua kenangan buruk hidupnya. Baginya, hanya Daniel Chang yang dia butuhkan. Asalkan bisa bersama pria itu selamanya, itu sudah lebih dari cukup untuknya.


__ADS_2