
Jane Wang mendengar seseorang membuka pintu apartemen dari luar. Dengan mata yang setengah terpejam, dia melihat jam di dinding. Pukul 07.00. Darimana Xiao Ling sepagi ini? ucapnya dalam hati.
Jane Wang bangkit dengan malas. “Kau dari mana sepagi ini?” Sapanya saat Xiao Ling sudah berada di dalam apartemen.
“A-aku dari…”
“Tunggu sebentar.” Potong Jane Wang. Dia mencoba berpikir. Xiao Ling bukannya darimana, tapi dari semalam gadis itu tak pulang. Dia tak tahu karena sejak pulang semalam dia belum masuk kamar. Dia langsung merebahkan diri di sofa dan tertidur disana. “Kau baru pulang?”
“Iya.” Jawab Xiao Ling sangat pelan.
“Kau tidur dimana?” Jane Wang kembali terdiam, mencoba mengumpulkan semua kesadarannya. “Jangan-jangan kau tidur dengan Daniel?” Suaranya meninggi. Antara tak percaya dan penasaran.
“Bukan seperti itu. Aku hanya menginap di kamarnya. Kami tidur terpisah. Aku di kamar dan dia di sofa.” Jelas Xiao Ling panjang lebar.
“Benarkah?”
“Hmm” Diikuti anggukan kepala Xiao Ling.
“Kalaupun terjadi sesuatu, itu urusan kalian. Kau sudah dewasa. Hanya saja jika sesuatu berjalan diluar kendali, aku ikut bertanggungjawab. Jadi berhati-hatilah. Aku tak mau jadi sasaran kemarahan Mamamu yang menakutkan itu.”
“Iya jie.”
Jane Wang berdiri dari sofa. “Aku mau tidur di kamar. Jangan bangunkan aku.”
Xiao Ling menghempaskan dirinya di sofa. Kepalanya masih terasa pening. Perutnya tak nyaman, perpaduan rasa antara sakit dan kembung. Wajar saja, semalam dia minum terlalu banyak. Dia tak kuat minum. Batas alkohol baginya hanya segelas bir. Lebih dari itu, dia pasti mabuk. Dalam hati, dia tak akan mengulangi seperti semalam.
Dengan kekuatan yang terbatas, Xiao Ling bangkit dan berjalan ke dapur. Dia ingin membuat teh madu untuk mengobati mabuknya. Dia membawa cangkir minumannya ke balkon dan duduk menikmati suasana. Tiba-tiba dia teringat sesuatu. Dia harus menghubungi kakaknya.
Xiao Ling mengambil ponselnya dan menekan nomer kakaknya. Tak berapa lama, seseorang menjawabnya.
“Hallo. Ling’er?” Suara Xiao Lung terdengar serak dan lesu.
“Kau sudah tidur jie?” Tebak Xiao Ling.
“Aku hanya ketiduran. Belum benar-benar tidur. Bagaimana kabarmu?”
“Aku baik-baik saja. A-apa semalam kakak menelponku?”
“Iya. Seorang pria yang menjawab. Namanya…” Beberapa saat sepi. Tak ada suara. “Daniel Chang. Benar?”
“Iya.”
“Ceritakan padaku? Bagaimana kau bisa tidur dengannya?”
Untuk kedua kalinya, dalam satu pagi Xiao Ling mendengar kalimat seperti itu. Dia menghela napas. “Kami tidur terpisah. Kami tidak tidur bersama.”
“Bagaimana bisa?” Xiao Lung sedikit tak percaya.
“Semalam aku mabuk. Jadi dia membawaku ke apartemennya. Dia tidak tahu kode apartemen Jane jie.”
“Benar seperti itu? Tidak terjadi sesuatu seperti yang aku pikirkan?”
__ADS_1
“Tidak jie.”
“Baguslah. Tapi kenapa kau sampai mabuk? Apa ada masalah yang tidak kau ceritakan padaku?”
“Tidak. Semalam aku minum bersama Jane jie dan teman-temannya. Aku minum terlalu banyak.”
“Adikku benar-benar sudah dewasa. Kau sudah berani mabuk-mabukkan.”Nada suara Xiao Lung lebih terdengar seperti sindiran.
“Bukan begitu. Teman Jane jie mengajakku minum. Aku tidak enak kalau menolak.” Xiao Ling membela diri.
“Kakak tahu kau sudah dewasa, tapi bagiku, bagimama kau tetap gadis kecil kami. Berhati-hatilah. Jaga dirimu baik-baik. Jangan melakukan sesuatu yang berbahaya.”
“Baik jie.” Xiao Ling tak membantah. Dia bisa memahami semua ucapan Xiao Lung, semua itu demi kebaikannya.
“Aku tidak akan mengatakan apapun pada Mama.”
“Terima kasih.” Xiao Ling menghargainya. Jika mamanya tahu tentang kejadian semalam, pasti akan terjadi kehebohan. “Ngomong-ngomong, kenapa kakak menelpon semalam?”
Xiao Lung hampir lupa tentang itu. “Aku ingin bercerita padamu.”
“Tentang apa?”
Xiao Lung mengatur napasnya. Dia tidak ingin terdengar terlalu menggebu-gebu karena tidak bisa menahan perasaan bahagia. “Aku dan Yuan Bao sudah berkencan?”
“Benarkah?” Xiao Ling ikut bahagia. Tulus, bukan pura-pura. “Ceritakan padaku?”
“Sudah sekitar sebulan ini aku lebih dekat dengannya. Dan kemarin dia mengajakku berkencan.” Kikik tawa terdengar.
“Selamat jie. Kau harus mentraktirku nanti.”
“Aku belum tahu. Belum aku pikirkan.”
“Kenapa? Apa kau belum menemukan ibumu?”
“Belum.” Xiao Ling menggeleng. Dia lupa jika lawan bicaranya tak bisa melihatnya. Ada rasa kecewa dalam desahan napasnya. “Aku tak tahu harus mencarinya kemana lagi. Satu-satunya foto sebagai petunjuk sudah hilang.”
Xiao Lung mengerti perasaan adiknya saat ini. Seandainya dia ada disana, dia akan memeluk adiknya dan menghiburnya dengan semua kekuatannya. “Jangan bersedih Ling’er. Kami keluargamu. Kami akan selalu ada
untukmu.”
“Terima kasih.”
“Kalau terlalu sulit untukmu, pulanglah. Atau perlu aku jemput?”
“Tidak perlu.”
“Aku serius. Aku belum pernah ke San Fransisko. Aku juga ingin bertemu Jane jie dan Daniel tentunya.” Xiao Lung menggoda. “Apa dia tampan.”
“I-iya.” Jawab Xiao Ling malu-malu. Dia terlalu jujur.
“Ceritakan padaku sejauh mana hubungan kalian.”
__ADS_1
“Ehm… seperti itu.”
“Maksudmu seperti itu?” Xiao Lung sangat heran dengan jawaban adiknya.
“Aku tak tahu apakah Daniel menyukaiku.” Xiao Ling diam sejenak. “Aku merasa dia
menyukaiku, tapi sepertinya tidak juga. Entahlah aku bingung.”
“Kalian pernah pergi berdua?”
“Sering.”
“Kalian pernah makan bersama?”
“Pernah.”
“Kalian pernah berkencan?”
Xiao Ling berpikir. “Aku tak yakin apakah kami pernah berkencan atau tidak.” Dia tidak
bisa mengartikan kebersamaan mereka selama ini.
“Kalian…” Suara Xiao Lung terhenti. Lalu kembali terdengar dengan suara yang lirih. “Sudah berciuman?”
“A-apa maksud kakak?” Suara Xiao Ling terdengar kikuk. Dia tidak menyangka kakaknya menanyakan itu. Tentu saja dia sudah pernah berciuman, dengan Li Yuan Bao. Tapi dia merahasiakannya dari siapapun.
“Aku cuma bertanya. Untuk bisa menyimpulkan sejauh mana hubungan kalian.”
Xiao Ling terdiam.
“Kenapa diam? Sudah atau belum?”
“Belum.” Suara Xiao Ling sangat lirih. Hampir tak terdengar.
“Belum?” Xiao Lung ingin meyakinkan dirinya.
“I-iya.”
“Kemungkinan besar Daniel tidak menyukaimu. Kau jangan terlalu berharap.”
“Iya jie. Aku paham.” Suara Xiao Ling terdengar kecewa. Dia merasa seperti mengalami kegagalan cinta.
“Kau jangan terlalu memikirkan pria seperti itu. Dibawa santai saja.”
“Hmm..”
“Jangan sampai kau jadi melupakan hidupmu hanya karena terpaku dengan Daniel. Jika dia mengabaikanmu, cari saja yang lainnya.”
“Tentu saja jie.”
Xiao Lung menguap. Matanya sudah diserang rasa kantuk. Sudah lebih dari tiga puluh menit dia bercakap-cakap dengan adiknya. sudah saatnya untuknya pergi tidur. “Ling’er, kita sambung lagi besok. Aku sudah sangat mengantuk.”
__ADS_1
“Iya jie. Selamat tidur.”
Xiao Ling meletakkan ponselnya di meja di depannya. Dia kembali menikmati secangkir teh madu sambil memandangi suasana pagi dari balkon. Sejenak, dia tidak ingin memikirkan semua percakapannya tadi. Dia masih punya sedikit keyakinan tentang perasaan Daniel Chang.