
Dua bulan berlalu. Xiao Ling mencoba hidup normal, meski sulit. Dia kembali bekerja di galeri seni. Dia menjalani hari seperti kebanyakan orang. Pergi bekerja di pagi hari dan pulang di sore harinya. Di rumah, dia menghabiskan waktu bersama keluarganya. Mencoba tersenyum dan tertawa bersama mereka. Dan saat akhir pekan, dia pergi jalan-jalan dengan Xiao Lung atau pergi berbelanja dengan Shi Yen Xing. Kadang-kadang pergi memancing dengan Xiao Guo. Atau hanya di rumah seharian jika sedang malas melakukan ketiga kegiatan itu.
Kehidupan keluarga Xiao tak berubah. Masih sama seperti tak ada yang terjadi. Mereka tak lagi mengungkit atau bertanya apa yang terjadi dengan Xiao Ling selama di San Fransisko. Xiao Ling juga menutup rapat tentang perasaan terlarangnya pada Daniel Chang. Menguburnya di dalam hati. Dan nenek, masih sering berkata sinis yang menyakitkan setiap kali hanya berdua dengan Xiao Ling.
***
Xiao Lung berdiri di depan kamar Xiao Ling dan mengetuk pintu yang sedikit terbuka. “Boleh aku masuk?”
Xiao Ling yang sedang menulis sesuatu segera menghentikan pekerjaannya. Dia meoleh ke arah pintu. “Masuklah jie.”
Xiao Lung masuk dan duduk di pinggir ranjang. “Kau sudah tahu Jane jie mengadakan pertunjukan di Beijing?”
“Iya. Dia memberitahuku sebelum aku pulang kesini.”
“Pertunjukannya akhir minggu ini. Kau mau nelihatnya denganku?”
“Berdua?”
“Tidak. Dengan Yuan Bao juga.”
Xiao Ling diam sejenak. Dia merasa tidak nyaman jika harus berada di dekat Li Yuan Bao. “Kau pergi berdua saja dengan Yuan Bao ge ge. Aku tak begitu berminat.”
“Bagaimana kalau dengan Mama dan Papa?”
Sebenarnya, masalahnya bukan dengan siapa Xiao Ling akan menonton. Tapi lebih karena dia akan teringat Daniel Chang jika kembali menyaksikan teater. Meski judul pertunjukan berbeda, tapi teater itu akan memunculkan kenangan saat dia bersama pria itu ketika melihat teater untuk pertama kalinya.
“Aku sedang tidak ingin pergi jie.”
“Kenapa?” Xiao Lung heran.
“Aku sudah pernah melihatnya.” Suara lirih Xiao Ling hampir tak terdengar.
“Dengan siapa?”
Xiao Ling hanya diam dan tersenyum.
Xiao Lung semakin penasaran dengan sikap adiknya itu. Apa yang disembunyikan gadis itu dari keluarganya? Apa mungkin ada hubungannya dengan pria yang pernah berbicara dengannya di telepon?
“Baiklah. Katakan kalau kau berubah pikiran. Kita bisa pergi berdua ke Beijing.” Xiao Lung menepuk pundak Xiao Ling sebelum keluar dari kamar adiknya.
Xiao Ling melanjutkan kegiatannya yang tertunda karena mengobrol dengan kakaknya. Dia kembali menulis. Entah apa yang dia tulis.
***
Jane Wang berada di dalam taksi menuju kediaman keluarga Xiao di Guangzhou. Suasana hatinya sedang kurang baik. Dia kecewa pada kedua sepupunya, Xiao Lung dan Xiao Ling. Mereka tidak menyaksikan pertunjukannya di Beijing. Dia harus tahu alasannya.
__ADS_1
Taksi yang ditumpangi Jane Wang berhenti di depan rumah keluarga Xiao. Dia turun dari taksi setelah membayar ongkos perjalanan. Dia kemudian memencet bel yang ada di dinding depan rumah. Dia menunggu sampai ada seseorang yang membukakan pintu.
“Jane jie.” Sapa Xiao Lung ramah. Dia memeluk sepupunya sebelum mengajaknya masuk. “Mama Jane jie datang.” Serunya setelah berada di dalam rumah.
“Jane, kapan kau datang?” Shi Yen Xing memeluk keponakannya. “Duduklah. Kau pasti lelah.”
Jane Wang hanya menurut. Dia duduk di sofa di ruang keluarga. Diikuti Xiao Lung yang juga duduk di sebelahnya. Sementara Shi Yen Xing pergi ke dapur untuk membuat minuman.
“Kemana yang lain?” Tanya Jane Wang yang hanya melihat Xiao Lung dan mamanya.
“Papa pergi keluar kota urusan bisnis. Nenek pergi ke kelenteng. Kalau Ling’er… mungkin di kamarnya. Aku juga belum melihatnya dari tadi.”
“Ini diminum dulu.” Shi Yen Xing meletakkan segelas orange jus di meja di depan Jane Wang. Kemudian duduk di sofa, mengapit Jane Wang di tengah.
“Terima kasih Bibi.” Jane Wang mengangkat gelas dan meneguknya, menyisakan separuh dari isinya semula. “Lung’er, kenapa kau tak melihat pertunjukanku?” Ucapnya setengah protes.
“Ling’er tidak mau ikut. Aku juga tidak jadi ke Beijing.”
“Bagaimana keadaan Ling’er? Dia… baik-baik saja kan?” Tanya Jane Wang hati-hati. Dia tak tahu apakah Xiao Ling menceritakan semua yang terjadi selama di San Fransisko pada keluarganya atau tidak.
Xiao Lung mengangkat bahu. “Entahlah. Aku tak yakin apakah dia baik-baik saja. Dia tak mau bercerita apapun. Apa kau tahu sesuatu?”
“Benar Jane. Ceritakan pada kami jika kau tahu.” Imbuh Shi Yen Xing.
Jane Wang sedikit ragu untuk bercerita. Tapi dia juga tak bisa menyimpan itu sebagai rahasia. Keluarga Xiao lebih baik tahu agar mereka bisa menghibur Xiao Ling dan memberinya semangat.
“Daniel Chang?” Xiao Lung menebak.
Jane Wang mengangkat sebelah alisnya. “Kau mengenalnya?”
“Tidak benar-benar mengenalnya. Aku pernah berbicara dengannya di telepon dua kali.”
“Lanjutkan Jane.” Pinta Shi Yen Xing.
“Dia tetangga apartemenku. Dia pria yang baik. Dia yang menemani Ling’er mencari ibunya. Dia juga yang mempertemukan Ling’er dengan ibunya.”
“Mereka saling menyukai?” Tebak Xiao Lung.
Jane Wang menghela napas. “Sepertinya. Mereka sudah sangat dekat. Mereka sering menghabiskan waktu berdua.”
“Lalu?”
Jane Wang lagi-lagi menghela napas dalam. Perasaan iba kembali muncul di hatinya setiap mengingat kenyataan yang harus dihadapi Xiao Ling dan Daniel Chang.
“Ternyata… Daniel Chang putra dari Nyonya Liu dengan suaminya yang sekarang?”
__ADS_1
“Ma-maksudmu anak dari ibunya Ling’er?” Pupil mata Shi Yen Xing membesar. Tak percaya dengan cerita Jane Wang.
“Iya.” Ucap Jane Wang diikuti desahan.
Suasana menjadi hening. Baik Xiao Lung maupun Shi Yen Xing diam membisu. Larut dalam pikiran masing-masing. Tapi mereka memiliki satu kesimpulan yang sama. Ternyata itu yang membuat Xiao Ling menjadi begitu pendiam dan sering melamun. Mereka bisa membayangkan betapa hancur perasaan Xiao Ling saat tahu kebenaran antara dia dan Daniel Chang. Xiao Lung dan Shi Yen Xing mendesah bersama.
“Aku akan menemui Ling’er.” Suara Jane Wang membuyarkan keheningan.
“Naiklah ke lantai dua. Kamar Ling’er sebelah kanan tangga.”
“Baiklah.” Jane Wang berjalan menaiki tangga.
“Apa Mama pernah terpikir seperti yang dikatakan Jane jie?” Suara Xiao Lung di tengah-tengah kediaman-nya.
Shi Yen Xing menggeleng lemah.
“Aku juga. Aku hanya terpikir Xiao Ling bertemu dengan pria jahat yang kemudian mencampakkannya begitu saja.”
“Aku tak terpikirkan apapun.”
Kedua orang itu kembali terdiam sampai Jane Wang bersuara dengan setengah teriak dari lantai dua. “Bibi, Ling’er tidak ada di kamarnya.”
Jane Wang hanya mendapati kamar kosong tak berpenghuni. Setelah mengetuk pintu kamar cukup lama, akhirnya dia masuk dan tak melihat Xiao Ling disana.
“Kau melihat Ling’er keluar?”
Xiao Lung menggeleng.
“Kemana anak itu pergi?” Shi Yen Xing naik ke lantai dua untuk mencari Xiao Ling. Sedangkan Xiao Lung mencari di lantai bawah sambil mencoba menghubungi ponsel Xiao Ling. Tapi nomer adiknya itu tidak aktif.
Shi Yen Xing mencari di kamar Xiao Lung dan balkon, tapi tak menemukan Xiao Ling. Jane Wang mengetuk kamar mandi yang ada di kamar Xiao Ling, tapi juga kosong.
“Dia tidak mengangkat teleponnya.” Ucap Xiao Lung saat naik ke lantai dua.
“Bibi, Lung’er, ada surat di meja Ling’er.”
Shi Yen Xing dan Xiao Lung berjalan cepat masuk ke kamar Xiao Ling. Mereka melihat ada tiga amplop di atas meja dengan nama Kakak, Mama dan Daniel Chang di setiap amplop.
Dengan ragu Shin Yen Xing mengambil surat bertuliskan namanya. Tangannya bergetar saat membuka amplop dan membaca tulisan di secarik kertas di dalamnya. Matanya mulai berkaca-kaca. Tetes demi tetes butiran bening jatuh. Tak kuat menahan kesedihan, dia terjatuh lemas di lantai.
“Mama, ada apa?” Xiao Lung bingung dengan sikap mamanya. Dia kemudian mengambil surat bertuliskan namanya. Dia mulai membaca dan tak kuasa menahan tangis. Dia ikut terduduk di lantai dan memeluk mamanya. Mereka berdua menangis dengan saling berpelukan.
Jane Wang yang hanya melihat, mengambil surat di tangan Shin Yen Xing dan Xiao Lung. Dia membaca satu per satu surat itu. Dia menutup mulutnya dengan telapak tangannya. Dia menggelengkan kepalanya, tak percaya dengan keputusan Xiao Ling. Dia menyesal kenapa baru datang hari ini. Seandainya saja dia datang lebih cepat, mungkin dia bisa menghentikan Xiao Ling untuk tidak melakukan hal bodoh ini. Tapi dia terlambat. Xiao Ling sudah pergi.
Jane Wang berlari keluar rumah. Berhenti di pinggir jalan, menengok arah kanan dan kiri sambil memegang kepalanya. Dia tidak tahu harus kemana mencari Xiao Ling, mungkin saja dia bisa menghentikan
__ADS_1
sepupunya. Tak pernah terpikirkan olehnya gadis itu akan berbuat sejauh ini. Harusnya dia bisa mengantisipasi sebelumnya saat Xiao Ling mendapati kebenarannya dulu. Harusnya dia lebih peka dan memberi semangat pada gadis itu.
Jane Wang duduk berjongkok di pinggir jalan. Dia menangis sambil memegangi dadanya.