Mid-Autumn In San Francisco

Mid-Autumn In San Francisco
Bab 3


__ADS_3

Selesai makan malam, Xiao Lung masuk ke kamarnya untuk minum obat dan mengganti perban lukanya. Tak berapa lama, nenek menyusulnya ke kamar.


“Nenek tadi melihat sesuatu yang menarik saat makan malam.”


“Apa?” Xiao Lung tak begitu menanggapi perkataan neneknya. Dia masih sibuk memberi obat merah dilukanya dan  membalutkan perban disana.


“Nenek tadi melihat seseorang yang terus melihat Yuan Bao tanpa berkedip.”


“Mana mungkin!”. Suara Xiao Lung meninggi, “begitu…” lalu sangat pelan setelah dia melihat nenek yang


tersenyum-senyum menatapnya.


“Apakah terlihat jelas, Nai-nai?”


Nenek menganggukkan kepalanya. “Apakah kau begitu menyukai Yuan Bao?” Ucap nenek dengan suara sedikit menggoda cucu tersayangnya itu.


Wajah Xiao Lung bersemu merah. Dia mengangguk malu-malu.


Senyum nenek semakin lebar. “Dia pria yang baik. Nenek juga menyukainya.”


Tanpa sadar, Xiao Lung berhambur memeluk neneknya. Dia merasa mendapat satu dukungan dari anggota


keluarganya. Restu dari nenek  akan memudahkan jalannya ke depan, pikirnya.


“Nenek mau ke bawah, melihat apakah Yuan Bao sudah pulang.”


Xiao Lung melepas pelukannya. “Baiklah.” Dia berniat mengikuti nenek, tapi diurungkan. Dia merasa hatinya


terlalu berdebar untuk melihat Li Yuan Bao sekarang. Dia memutuskan untuk beristirahat di kamarnya saja.


Nenek berjalan keluar kamar Xiao Lung. Dia sudah tidak melihat Li Yuan Bao di dapur ataupun di ruang keluarga.


“Yuan Bao sudah pulang?”, tanyanya pada menantunya yang sedang sibuk membersihkan dapur.


“Iya. Xiao Ling mengantarnya ke depan.”


Nenek berjalan ke teras untuk melihat apakah Li Yuan Bao benar-benar sudah pergi. Betapa kagetnya dia mendapati pria itu dan Xiao Ling sedang duduk bercanda lepas di teras. Mereka terlihat begitu bahagia, tertawa bersama. Sesekali Li Yuan Bao membelai lembut rambut Xiao Ling dan menyibakkannya di belakang telinga. Pun Xiao Ling mengelus pipi Li Yuan Bao.


Nenek memperhatikan semuanya dari balik pintu. Dia tidak berpikir jika Li Yuan Bao dan Xiao Ling saling


menyukai. Dia hanya tahu bahwa Xiao Ling merebut pria yang disukai cucunya. Dia semakin tercengang saat Li Yuan Bao mencium pipi Xiao Ling. Tanpa pikir panjang, dia menarik tangan Xiao Ling dan menyeretnya ke dalam kamarnya.


“Nenek… kenapa?” tanya Xiao Ling bingung.

__ADS_1


“Apa yang kau lakukan dengan Yuan Bao di teras? Kau menggodanya?” Wajah nenek merah padam memendam amarah dalam dirinya.


“Aku hanya mengantar Yuan Bao ge ge pulang.”


PLAK


Sebuah tamparan mendarat di pipi Xiao Ling, membekaskan warna merah disana. Refleks, dia memegang


pipinya. Dia masih belum paham apa yang sebenarnya terjadi. Apa yang membuat neneknya begitu marah. Selama ini, memang neneknya bersikap dingin padanya, bahkan terlalu dingin. Dia tidak pernah dianggap sebagai cucu. Tapi nenek tidak pernah mencubit atau pun memukulnya. Tapi hari ini… dia mendapat sebuah tamparan yang terasa panas dipipi dari neneknya.


“Jangan bohong!”


“Apakah aku melakukan kesalahan, Nek?” tanya Xiao Ling hati-hati dengan suara sedikit bergetar.


“Kesalahan? Kesalahanmu adalah hadir dalam keluarga ini.”


Xiao Ling semakin tak mengerti perkataan nenek.


“Kau hanya anak sial tanpa asal-usul yang jelas yang memakai marga Xiao dalam namamu. Kau hanya seorang


anak angkat.”


Telinga Xiao Ling memanas mendengar setiap kata yang keluar dari mulut nenek. Hatinya sakit. Apa maksud


‘anak sial’ itu? “Apakah benar aku hanya anak angkat di keluarga ini? Lalu… siapa diriku sebenarnya? Dimana orangtua kandungku?” semua pertanyaan itu hanya mengendap dalam hatinya. Bibirnya tidak sanggup berucap. Dia merasakan matanya menjadi buram dan perih. Tetes demi tetes butiran bening jatuh membasahi pipinya. Dia terduduk di lantai karena kakinya tiba-tiba lemas. Dia diam membisu. Pikirannya kosong. Hatinya kosong. Hanya kata-kata nenek yang terngiang-ngiang memenuhi gendang telinganya.


kakakmu.”


Pria? Siapa?


“Apa kau tidak tahu jika Yuan Bao itu kekasih Xiao Lung?”


Xiao Ling kembali tercengang. Apakah benar Li Yuan Bao kekasih dari kakaknya? Lalu dirinya siapa? Apakah pria


itu memacari mereka berdua?


“Hentikan po po.” Shi Yen Xing tiba-tiba masuk ke dalam ketegangan antara nenek dan Xiao Ling.


***


Shi Yen Xing sedang mencuci piring saat melihat nenek menarik tangan Xiao Ling dan membawanya ke kamar. Dia


tidak berpikir macam-macam, mungkin nenek hanya ingin berbicara berdua. Meskipun belum pernah dia melihat nenek mengobrol dengan Xiao Ling. Dan kemudian dia mendengar suara nenek meninggi. Dia mempercepat pekerjaaanya dan segera menghampiri nenek dan Xiao Ling.

__ADS_1


Di depan kamar, Shi Yen Xing mendengar nenek mengungkit rahasia yang telah keluarga Xiao pendam selama dua


puluh delapan tahun. Rahasia yang tidak pernah ingin dia ungkap. Tapi malam ini semuanya terbongkar. Tentang kebenaran tentang Xiao Ling.


“Hentikan Ibu.”


Shi Yen Xing mendekati Xiao Ling yang sudah terduduk di lantai. Dia ikut duduk dan memegangi pundak Xiao


Ling, untuk memberi kekuatan. “Kau anak mama.”, bisiknya di telinga Xiao Ling.


“Dia bukan anakmu. Dia anak seorang pembunuh. Ayahnya lah yang sudah membunuh suamiku.” Nenek semakin diluar kendali. Dia memuntahkan semua isi hatinya yang sudah lama dia pendam. Semua kebenciannya pada Xiao Ling yang mengendap dalam dadanya.


Sedangkan Xiao Ling semakin terluka. Airmatanya semakin deras menetes tanpa henti. Kenapa malam ini dia menerima begitu banyak kenyataan pahit? Dia mencoba tegar, meski airmata terus mengalir dari sudut matanya. Dia masih menunggu kenyataan lain yang mungkin akan terungkap.


“Ayo berdiri. Mama akan mengantarmu ke kamar.”


Shi Yen Xing memapah Xiao Ling berjalan keluar dari kamar nenek. Dia terus memegangi dan menuntun


langkah Xiao Ling, karena putrinya itu terlihat begitu terpukul. Sepertinya dia tidak mampu berjalan di atas kakinya sendiri.


Shi Yen Xing mendudukkan Xiao Ling di tepi ranjang saat sampai di kamar. Dia memeluk Xiao Ling sangat erat


sambil terus berbisik bahwa Xiao Ling adalah anaknya. Tangis Xiao Ling kembali pecah. Dia terisak-isak.


Shi Yen Xing membiarkan Xiao Ling seperti itu. Dia membiarkan putrinya menumpahkan semua kesedihannya, agar


berkurang beban hatinya meskipun sedikit.


Shi Yen Xing mendengar suara getaran. Dia melirik ponsel Xiao Ling di atas meja di samping ranjang. ‘Yuan Bao ge ge’ nama yang terlihat di layar ponsel. Xiao Ling hanya membiarkannya. Dia masih memeluk mamanya. Belum mau melepasnya.


“Lihat mama Ling’er?” Shi Yen Xing melepas pelukan dan memegang kedua pipi Xiao Ling. “Apa kau berkencan


dengan Yuan Bao?”


Xiao Ling nampak ragu untuk menjawab. Dia mengangguk pelan, tapi secepatnya menggeleng. “Kakak yang lebih


berhak atas Yuan Bao ge ge. Karena jie-jie menyukainya”


“Jika kalian saling menyukai, aku akan mengatakan itu pada Lung’er.”


“Tidak Ma.”Xiao Ling melihat kedua bola mata Shi Yan Xing dengan tatapan yang sulit diartikan. Ada sorot


kesungguhan di manik matanya, sekaligus ada sorot memelas dan terluka.

__ADS_1


Shi Yen Xing menarik napas. “Lung’er pasti mengerti jika kalian saling menyukai. Kami tidak mengharap


dirimu membalas budi. Kau tak punya hutang apapun pada keluarga ini.”


__ADS_2