
Xiao Ling dan Daniel Chang duduk berhadapan di sebuah resto seafood. Resto itu terletak di pinggir jalan utama Chinatown, tepatnya di sisi kanan dari pintu gerbang. Suasana resto sangat ramai. Mungkin karena sudah masuk waktu makan siang, jadi banyak pengunjung yang datang.
“Sup kerang pedas disini paling enak.” Daniel Chang memberi rekomendasi menu untuk Xiao Ling.
Xiao Ling yang sejak tadi hanya memandangi kertas menu di tangannya mengangguk. Dia memang sedikit bingung untuk memilih menu makan siangnya, karena terlalu banyak makanan yang tertulis disana. “Baiklah. Aku pesan itu.” Dia akhirnya memesan sesuai saran Daniel Chang.
“Sup kerang pedas dua dan…,” ucap Daniel Chang pada pelayan yang sejak tadi berdiri menunggu pesanan. “Kau mau minum apa?” Tanyanya beralih pada Xiao Ling.
“Aku….” Xiao Ling kembali membaca menu minuman yang tertulis. “Mau es lemon tea.”
“Es lemon tea satu, cola dingin satu. Terima kasih.” Daniel Chang melanjutkan pesanan mereka.
“Dua sup kerang pedas, satu es lemon tea dan satu cola dingin.” Pelayan tadi mengulangi pesanan yang diikuti anggukan Daniel Chang. “Tunggu sebentar. Pesanan Anda akan segera diantar.” Ucap pelayan sebelum meninggalkan kedua pelanggannya.
Xiao Ling memutar pandangannya melihat interior resto yang saat ini dikunjunginya. Resto itu mengusung tema klasik yang elegan. Ada beberapa ornamen khas negeri tirai bambu, seperti patung singa di pintu masuk serta kaligrafi bergambar panda di taman bambu yang digantung di atas meja kasir. Tak lupa lampion-lampion merah yang menjuntai hampir di seluruh langit-langit resto. Resto itu rupanya ikut menyambut perayaan yang sebentar lagi akan digelar.
“Apa yang kau lihat?”
Suara Daniel Chang mengembalikan pandangan Xiao Ling kedepan. “Aku sedang mengamati suasana resto
ini. Kau sering kesini?”
“Tentu. Hampir setiap akhir pekan aku kesini bersama mantan pacarku.”
Xiao Ling mengangkat sebelah alis. “Mantan?”
“Iya mantan. Karena kami sudah putus beberapa waktu yang lalu.”
“Kenapa?”
Giliran Daniel Chang yang mengangkat sebelah alis. Dia tak menduga jika gadis di depannya penasaran dengan kehidupan pribadinya. “Kau ingin tahu?”
“Tidak juga.” Xiao Ling tidak ingin memaksa. Kenapa juga dia ingin tahu? Itu bukan urusannya.
“Kalau kau penasaran, aku akan menjawabnya.”
“Tidak perlu.”
“Permisi… ini pesanan Anda.” Seorang pelayan mengantar pesanan mereka. “Selamat menikmati.” Kemudian pelayan itu berlalu.
__ADS_1
“Selamat makan.” Ucap Xiao Ling yang sudah tidak sabar mencicipi hidangan di depan matanya. Dari aromanya sangat menggoda perutnya yang sudah sangat lapar.
“Bagaimana?” Tanya Daniel Chang setelah melihat Xiao Ling memasukkan satu sendok sup kedalam mulutnya.
“Sangat enak.” Jawab Xiao Ling dengan binar mata yang cerah. Memang sup itu rasanya sangat lezat. Rasanya sangat menggugah nafsu makannya.
“Aku akan mengajakmu kesini lagi kalau kau mau.” Ucap Daniel Chang yang ternyata tidak ditanggapi oleh Xiao Ling, karena gadis itu sibuk memakan supnya.
Xiao Ling makan dengan lahapnya tanpa suara. Hanya suara gesekan antara sendok dan mangkuk keramik yang kadang-kadang terdengar. Hanya dalam hitungan menit, mangkok sup itu sudah kosong. Beralih masuk mengisi perutnya.
Sedangkan Daniel Chang terus memperhatikan gadis di depannya itu. Dia bahkan tak begitu berkonsentrasi dengan makanannya. Tanpa sadar dia tersenyum, ada perasaan hangat yang menyelimuti hatinya. Entah kenapa melihat gadis itu makan dengan lahapnya membuatnya merasa senang. Perasaan yang aneh.
“Kau sudah selesai?” Ucap Daniel Chang basa-basi setelah melihat mangkok Xiao Ling kosong. “Apa kau benar-benar kelaparan?” Godanya sedikit mengejek.
Xiao Ling melihat pria didepannya dengan tatapan kesal.
“Sepertinya dokter tadi benar. Kau memang kekurangan makan.”
Xiao Ling menjadi semakin kesal. “Aku sudah selesai. Aku akan membayar makananku sendiri.” Dia kemudian berdiri. “Aku akan pergi lebih dulu.”
Dengan cepat, Daniel Chang meraih pergelangan tangan kanan Xiao Ling. “Tunggu aku. Aku yang akan membayar.”
“Jangan marah Nona. Aku hanya bercanda.”
“Lepaskan Daniel.” Xiao Ling mengerak-gerakkan tangannya agar terlepas. Tapi tetap sia-sia.
“Apa kau tahu arah jalan pulang?”
Xiao Ling terdiam. Dia memang belum hafal daerah sini. Dia pasti tersesat kalau pulang sendirian.
“Aku akan melepasmu kalau kau kembali duduk.”
“Baiklah.” Xiao Ling menurut. Dia duduk kembali dan tangannya pun dilepas oleh Daniel Chang.
“Tunggu aku sampai selesai. Nanti kita pulang bersama.”
Xiao Ling hanya diam, tentu saja karena dia masih sedikit kesal. Tapi dia tidak beranjak dari tempat duduknya. Dia menunggu Daniel Chang seperti permintaannya. Ternyata pria ini sangat menyebalkan, batin Xiao Ling. Jangan tertipu dengan kebaikan ataupun wajah tampannya.
“Aku sudah selesai. Ayo kita pergi.” Ajak Daniel Chang setelah menghabiskan makanannya.
__ADS_1
“Aku akan membayar makananku sendiri.” Xiao Ling masih berkeras sambil membuka dompetnya saat berada di depan meja kasir.
Daniel Chang menghalangi tangan Xiao Ling agar tak mengeluarkan uang. “Tidak perlu. Aku tahu kau sedang kesal. Tapi tidak perlu sampai seperti ini.” Dia kemudian mengeluarkan kartu kreditnya dari dalam dompet. “Dia pacarku. Kami sedikit berdebat tadi, jadi dia sedikit marah padaku.” Ucapnya seraya memberikan kartunya pada kasir perempuan.
Kasir perempuan itu menerimanya sambil menahan tawa. Menurutnya tingkah kedua pelanggannya itu lucu.
Sedangkan Xiao Ling menatap tajam pada Daniel Chang. Apa dia bilang? Pacar? Pria itu seenaknya saja menyebutnya pacar. Benar-benar tidak lucu. “Aku tunggu diluar.” Dia sudah tak tahan berlama-lama disana. Dia
tahu kalau kasir perempuan itu tersenyum-senyum sejak tadi. Menertawakannya.
“Ini kartu Anda. Terima kasih atas kunjungannya.”
Daniel Chang menerimanya dan menyusul Xiao Ling yang sudah keluar lebih dulu. Gadis itu menunggunya di dekat parkiran. “Ayo kita pergi,” ajaknya.
Xiao Ling mengikuti langkah Daniel Chang. Mereka kemudian masuk kedalam mobil yang masih terparkir.
“Kau mau pergi ke suatu tempat?” Tanya Daniel Chang setelah mereka duduk didalam mobil.
Xiao Ling hanya menggeleng.
“Kalau begitu kita mampir ke apotek dulu sebelum pulang.”
“Kenapa? Kau sakit?”
“Bukan aku.” Daniel Chang mulai melajukan mobilnya. “Tapi kau.”
“Aku?” Xiao Ling menunjuk dirinya sendiri. Dia heran. Karena menurutnya dirinya baik-baik saja. “Aku tidak sakit.”
“Tapi kau tadi pingsan. Dokter meresepkan multivitamin untuk kau minum.”
“Tidak perlu. Aku sudah sehat. Aku tidak perlu itu.”
“Benarkah?” Daniel Chang memegang kening Xiao Ling dengan telapak tangan kirinya.
Merasakan sentuhan tangan Daniel Chang membuat Xiao Ling salah tingkah. Pipinya merona merah. Degupan jantungnya jadi tak beraturan. Dia merasakan sesuatu yang aneh dalam dadanya. Dia segera menyingkirkan tangan pria itu. “Aku tadi hanya pingsan, bukan demam.”
“Benar juga. Tapi kita tetap harus membeli obat untukmu. Itu perintah Jane.”
“Terserah kau.” Xiao Ling membuang muka kearah jendela. Dia tidak ingin Daniel Chang melihat wajahnya yang tersipu. Akan sangat memalukan jika pria itu tahu.
__ADS_1