Mid-Autumn In San Francisco

Mid-Autumn In San Francisco
Bab 1


__ADS_3

Xiao Ling duduk termenung di teras depan rumahnya. Tatapan kosong matanya terlempar entah kemana. Sesekali dia menarik napas panjang dan menghembuskannya cepat, seolah semua masalahnya akan ikut terhempas bersama udara yang dia buang. Entah sudah dua atau tiga jam dia duduk disana, dia sendiri tidak tahu.


“Apa yang kau lakukan?”


Suara Xiao Lung, kakaknya, membuyarkan lamunannya. Dia menoleh ke arah Xiao Lung yang sudah duduk di sebelahnya.


“Tidak ada. Hanya duduk melihat dedaunan yang mulai menguning. Musim sudah berganti lagi.”


“Kau masih memikirkan perkataan nenek tempo hari?” Xiao Lung yakin jika adiknya itu berbohong. Dia tahu pasti apa yang ada dalam pikiran Xiao Ling. Dia sudah mengenal gadis itu selama dua puluh delapan tahun. Selama itu pula, yang dia tahu Xiao Ling adalah adiknya. Kenyataan yang baru terungkap, sedikitpun takkan menggoyahkan hatinya untuk menyayangi Xiao Ling sepenuhnya, seperti dua puluh delapan tahun yang telah berlalu.


Xiao Ling hanya membisu. Bukan hanya kenyataan itu yang membuatnya begitu gelisah. Tapi ada hal lain yang membuatnya begitu tertekan. Yang membuat pikirannya kacau. Membuat dadanya terasa begitu sesak. Untuk bernapas pun terasa sulit untuknya saat ini.


“Aku mau masuk ke kamar dulu jie.”


Xiao Ling berlalu meninggalkan Xiao Lung di teras. Saat ini, dia sedang ingin sendiri. Dia ingin menata perasaannya yang berantakan. Dia ingin menjernihkan pikirannya dahulu, sehingga dia bisa memilih jalan penyelesaian yang terbaik untuknya, untuk kakaknya dan untuk keluarganya.


Sedang Xiao Lung, membiarkan adiknya untuk sendiri sementara waktu ini. Dia tidak ingin mengganggu dan menambah beban dalam hati Xiao Ling. Dia tahu bagaimana rumitnya perasaan Xiao Ling. Tidak mudah untuk menerima kenyataan yang terungkap begitu mendadak.


***


Dua minggu yang lalu


Xiao Ling dalam perjalanan pulang dari nonton film bersama Li Yuan Bao, kekasihnya, ketika ponselnya berdering. Mama, nama yang muncul di layar ponselnya.


“Ni hao. Ada apa Ma?”


“Kau dimana, Ling’er?”


Suara Shi Yen Xing, mamanya terdengar lain. Ada kecemasan yang ditangkap Xiao Ling dari suara di seberang sana.


“Aku di perjalanan pulang dengan Yuan Bao ge. Mama kenapa? Mama menangis?” Tanya Xiao Ling sedikit cemas.

__ADS_1


“Tidak. Mama hanya sedikit gugup.”


Xiao Ling mengernyitkan keningnya, tidak yakin dengan jawaban mamanya. Tidak mungkin tidak ada apa-apa.


“Saat kau sampai rumah, hanya ada nenek. Kau tidak apa-apa kan dirumah dulu sama nenek?”


“Mama sama kakak dimana?” Xiao Ling semakin penasaran. Apakah yang terjadi?


“Mama menemani Xiao Lung di rumah sakit. Mungkin…”


“Kakak sakit? Sakit apa?”


Shi Yen Xing belum sempat menyelesaikan kata-katanya, Xiao Ling sudah lebih dulu memotong dengan pertanyaannya yang terdengar begitu panik.


“Kakakmu tadi terpeleset jatuh dari tangga. Kakinya sedikit terluka. Mama takut kalau kepalanya terbentur atau apa, makanya mama membawa kakak ke rumah sakit untuk MRI. Tapi sepertinya tidak apa-apa.”


“Benar Ma?”


Xiao Ling merasa sedikit lega setelah mendengar penjelasan mamanya. “Mama di rumah sakit mana? Aku segera


menyusul ke situ.”


“Tidak usah. Kau pulang saja kerumah.”


“Aku akan ke sana. Katakan dimana?”


Xiao Ling memaksa tetap ke rumah sakit. Dia tidak akan bisa tidur tenang sebelum melihat keadaan kakaknya dengan mata kepalanya sendiri.


“Baiklah Ma, aku akan segera sampai. Bye.” Xiao Ling menutup telpon setelah tahu alamat rumah sakit tujuannya.


“Ge ge, kita ke rumah sakit. Lung jie jatuh tadi.” Ucap Xiao Ling pada pria yang sedari tadi hanya diam sambil mengemudikan mobilnya.

__ADS_1


Li Yuan Bao, adalah tipe pria yang tenang. Meskipun hanya diam, dia mendengar semua percakapan antara Xiao Ling dan Shi Yen Xing.


“Xiao Lung baik-baik saja?”


Xiao Ling hanya mengangguk. “Tapi aku harus memastikan sendiri.”


Li Yuan Bao adalah teman satu kampus Xiao Lung. Setelah lulus, dia dan Xiao Lung bekerja di perusahaan yang sama. Dia mengenal Xiao Ling dari temannya itu. Sekitar lima tahun yang lalu, pertama kali dia bertemu Xiao Ling.


Saat itu salah satu teman sekampusnya meninggal karena kecelakaan. Xiao Ling ikut kakaknya melayat ke rumah duka. Sejak pertemuan pertama itu, Li Yuan Bao sudah jatuh hati pada Xiao Ling.


Tak dapat dipungkiri, pria mana pun akan dengan mudahnya jatuh hati pada Xiao Ling. Dia memiliki tubuh yang proposional dengan kulit putih mulus, mata sipit dan wajah yang cantik, khas gadis oriental. Selain itu, dia dikenal baik hati dan bertutur kata lembut. Meskipun sedikit pendiam, dia adalah seorang gadis yang hangat.


Li Yuan Bao sendiri pria tiga puluh tahun, seumuran dengan Xiao Lung, yang mapan. Meskipun bukan berasal dari keluarga kaya, tapi dia dikenal sebagai orang yang rajin dan pekerja keras. Sejak mulai bekerja, dia memutuskan untuk hidup mandiri dengan membeli sebuah apartemen di tengah kota Guangzhou. Walaupun kecil dan sederhana, dia tetap bangga karena tidak lagi merepotkan kedua orangtuanya.


Li Yuan Bao memiliki tinggi 180 cm. Bermata kecoklatan, rambut cepak dan hidung mancung. Dada bidang dan tubuh kekarnya menambah ke-maskulin-an dalam dirinya. Membuat setiap wanita tidak akan mudah bosan untuk menatapnya. Dia juga dikenal perkepribadian baik dan mudah bergaul.


Setelah menyetel GPS mobilnya, Li Yuan Bao mengemudikan mobilnya sesuai petunjuk. Dia meraih tangan Xiao Ling dan menggenggamnya erat. Agar gadis itu merasa tenang, bahwa selalu ada dirinya disampingnya.


Jalanan kota Guangzhou terlihat lengang. Mungkin karena sudah lewat jam pulang kantor, jadi kemacetan sudah


teratasi. Di kiri dan kanan berdiri kokoh gedung-gedung perkantoran dan juga apartemen. Terdapat pula beberapa pusat perbelanjaan yang mulai sepi pengunjung. Karena waktu sudah hampir jam sepuluh malam, dan sebentar lagi akan tutup.


Saat ini bulan Juli. Di Guangzhou sedang musim panas. Pada bulan Juli dan Agustus inilah saat-saat paling panas


dengan suhu mencapai 40 derajat selsius. Biasanya orang-orang lebih senang menghabiskan waktu dengan berendam di pantai atau di kolam. Sebagian yang lain hanya bermalas-malasan di dalam rumah mereka.


Setelah menempuh perjalanan selama tiga puluh menit, Xiao Ling dan Li Yuan Bao sampai di rumah sakit yang mereka tuju. Dia menurunkan Xiao Ling di pintu masuk rumah sakit.


“Kau masuk dulu. Aku akan memarkir mobil.” Li Yuan Bao menurunkan sedikit kaca mobilnya agar kata-katanya dapat di dengar Xiao Ling yang sudah turun dari mobil.


“Iya. Nanti langsung naik ke lantai dua. Kakak dirawat di kamar 215.”

__ADS_1


__ADS_2