Mid-Autumn In San Francisco

Mid-Autumn In San Francisco
Bab 27


__ADS_3

“Ling’er, kau lihat stocking warna coklat? Sudah ketemu.”


“Kau lihat sepatu fantovelku?”


“Sudah ada disini.”


“Kau lihat…? Apa lagi ya?”


Jane Wang sangat sibuk. Sudah setengah jam dia bergerak ke sana ke mari. Keluar masuk kamar. Mencari ini dan itu. Bertanya ini tapi kemudian dia jawab sendiri. Hari ini adalah jadwal pertunjukannya. Dia sibuk mempersiapkan acara tersebut.


Xiao Ling duduk tenang di sofa sambil memperhatikan setiap tingkah sepupunya. Dia ingin membantu, tapi tak tahu harus membantu apa. “Hati-hati jie.” Dia berusaha memperingatkan sepupunya saat ada kursi di depannya, tapi terlambat.


Kaki Jane Wang terantuk sudut kursi. Dia meringis kesakitan, tapi tetap melanjutkan kesibukannya. “Siap.” Akhirnya semua keperluannya sudah masuk ke dalam tas ransel yang gemuk karena terisi penuh.


“Acaranya jam berapa?” Tanya Xiao Ling saat sepupunya duduk telentang di sofa di sebelahnya.


“Jam tujuh malam sudah mulai.” Jane Wang mengibas-ngibaskan telapak tangannya di depan lehernya. Gerah. “Datanglah bersama Daniel. Dia sudah tahu tempatnya.”


“Rencananya juga seperti itu.”


“Sepertinya kau dekat dengannya. Kau sudah mulai berkencan dengannya?”


“Belum.” Ada sedikit kecewa dalam nada suara Xiao Ling.


“Bukankah dia terlalu lama mengulur waktu? Apa yang dia tunggu? Jika dia menyukaimu harusnya dia bergerak cepat.”


“Mungkin dia masih butuh waktu.” Xiao Ling menghibur dirinya sendiri.


“Dia tidak benar-benar menyukaimu. Lupakan pria seperti itu. Dia hanya seorang playboy.” Jane Wang mulai gregetan. “Nanti malam aku kenalkan dengan temanku. Dia pria yang baik.”


“Tidak perlu jie. Aku tidak perlu…”


Belum selesai Xiao Ling berkata, Jane Wang sudah memotong. “Kalau kau tak suka tidak apa-apa. Kalian bisa menjadi teman. Jangan terlalu berharap pada Daniel. Kau bisa menjadi perawan tua kalau hanya menunggunya.”


Xiao Ling tak membantah. Semua perkataan sepupunya masuk akal. Jika Daniel Chang menyukainya, kenapa pria itu diam saja. Sudah tiga bulan mereka saling mengenal. Bahkan mereka sering menghabiskan waktu bersama, tanpa kepastian hubungan apa diantara mereka.


Jane Wang melihat jam yang tergantung di atas televisi. “Sudah jam satu. Aku harus berangkat sekarang.” Dia menggendong tas ranselnya. “Jangan datang terlambat.” Pesannya pada Xiao Ling sebelum keluar apartemen.


Xiao Ling menggangguk. “Semoga sukses jie.”

__ADS_1


***


Daniel Chang dan Xiao Ling sudah berada di depan gedung teater di Chinatown. Mereka sengaja datang lebih awal untuk mendapat tempat duduk di depan. Tak tahunya, ternyata gedung belum dibuka.


Daniel Chang memegang sebuah pamflet bertuliskan ‘Sampek Engtay the Butterfly Lover’. Itulah cerita yang akan ditampilkan sebentar lagi. “Jadi… apa peran Jane kali ini?”


Xiao Ling mencoba mengingat. “Dia jadi pelayan Engtay.”


Daniel Chang terkekeh. “Aku kira dia yang jadi Engtay.”


Xiao Ling memandang tajam Daniel Chang. Tersinggung.


“Maaf.” Daniel Chang merasa salah ucap. “Kau pernah menonton teater sebelumnya?”


“Belum. Aku biasanya nonton di bioskop.”


“Please, come in.”Seorang pria membuka loket tiket dan mempersilahkan penonton masuk.


Daniel Chang menyerahkan tiketnya kemudian masuk ke dalam gedung pertunjukan diikuti Xiao Ling. Mereka memilih deretan kursi nomer dua dari depan.


Tak lama, pertunjukan dimulai. Semua penonton diam menyaksikan. Daniel Chang melirik Xiao Ling yang duduk di sebelahnya. Gadis itu sangat serius menyaksikan pertunjukan. Terlihat dari sikapnya yang diam dengan pandangan yang hanya tertuju ke atas panggung.


Daniel Chang terlihat seperti orang bodoh. Dia merasa seperti pengecut. Bagaimana seorang pria begitu ragu hanya untuk menggenggam tangan dari gadis yang dia sukai? Kenapa dia bisa seperti ini? Padahal julukannya adalah playboy.


“Bagaimana pertunjukannya?” Tanya Xiao Ling saat pertunjukannya sudah selesai. Dia dan Daniel Chang duduk di depan gedung teater. Mereka sedang menunggu Jane Wang, karena sebelumnya sudah diberitahu kalau sepupunya itu ingin menemui Xiao Ling sebelum pulang.


“Biasa saja.” Jawab Daniel Chang datar. “Bagaimana mungkin seseorang begitu mudahnya menyerah hanya karena cinta?” Karena dalam hatinya, dia tidak menyerah untuk mendapatkan cinta Xiao Ling.


“Lalu… harus bagaimana? Sampek sudah meninggal. Bagaimana Engtay bisa hidup tanpanya?”


Benar. Konteks kisah cinta Sampek Engtay sangat berbeda dengan kisah Daniel Chang saat ini. Engtay sudah kehilangan Sampek. Sedangkan dia hanya perlu mengungkapkan perasaannya.


Daniel Chang diam sejenak. Sebenarnya, dia tidak bisa memposisikan dirinya sebagai Engtay. “Harusnya Engtay tetap menjalani hidupnya dengan baik.” Jawabnya tanpa berpikir. Dalam hatinya, dia hanya berharap agar tidak pernah mengalami kisah cinta tragis seperti mereka. “Cinta dapat tumbuh lagi. Jadi yang hidup tetaplah hidup. Jangan pernah menyerah pada hidup hanya karena satu cinta.” Semua perkataannya tak ubah hanya pemikiran singkat. Dia tak benar-benar tahu apa yang harus dia lakukan jika mengalami kisah seperti itu.


“Tapi itu cinta sejati.” Xiao Ling mencoba membela.


“Bagaimana kau tahu kalau itu cinta sejati?”


Xiao Ling terdiam. Dia tidak bisa menjawabnya, karena memang tidak ada kepastian tentang itu. Dia hanya melanjutkan bertanya, “Apa kau juga akan melakukan seperti itu?”

__ADS_1


“Seperti apa?”


“Kau akan menjalani hidupmu dengan baik meskipun cintamu tak bisa bersatu?”


“Tentu saja.” Tiba-tiba Daniel Chang tertawa garing. “Dan apa itu menjadi kupu-kupu? Kalau bisa terlahir kembali, kenapa memilih menjadi kupu-kupu?”


“Kenapa? Kupu-kupu cantik.” Xiao Ling kembali berseberangan pendapat. “Jika aku harus mengalami kegagalan cinta di kehidupan ini, aku berharap dilahirkan sebagai kupu-kupu. Aku akan terbang menemui orang yang aku cintai.”


“Aku tidak akan melakukan itu. Berapa kali pun aku dilahirkan kembali, aku ingin menjadi manusia.” Daniel Chang mengutarakan pendapatnya. “Hanya dengan menjadi manusia, aku bisa bebas pergi ke banyak tujuan untuk menemukan cinta yang tepat.”


“Apa yang kalian bicarakan sampai begitu serius?” Jane Wang datang dengan seorang pria.


Pria itu tinggi, bermata biru dengan rambut agak gondrong berwarna pirang. Dia seorang pria Amerika asli.


“Kami hanya membicarakan pertunjukanmu tadi.” Jawab Xiao Ling.


“Bagaimana? Bagus?”


“Lumayan.” Ucap Daniel Chang datar.


Pria Amerika tadi menyenggol lengan Jane Wang. Dia merasa terasing ditengah percakapan yang sama sekali tidak dia pahami. Dia tidak mahir Bahasa Mandarin.


Jane Wang sadar. Dia kemudian memperkenalkan pria itu. “Ling’er, kenalkan ini Samuel. Sam, she is my cousin.” Dia mendekatkan bibirnya ke telinga Xiao Ling. “Dia pria yang aku bicarakan tadi siang.” Ucapnya setengah berbisik.


Samuel mengulurkan tangannya sambil berkata, “Just call me Sam.”


“I’m Xiao Ling.”Sembari menjabat tangan Samuel.


“Nice to meet you.”


Daniel Chang melihat Samuel tidak juga melepaskan tangan Xiao Ling. Baginya, itu terlalu lama untuk sekedar berkenalan. “My name is Daniel Chang.” Dia melepas paksa tangan Xiao Ling dari genggaman Samuel. Dan kemudian menjabat tangan Samuel.


Samuel terlihat sedikit kesal hingga dia bersikap acuh pada Daniel Chang. Dia hanya berbicara pada Xiao Ling. “We are going to drink in bar. Come with us.” Ajaknya.


“Benar Ling’er. Ikutlah.” Jane Wang menimpali.


Xiao Ling melihat Daniel Chang. Tatapannya seperti meminta ijin. Lalu dia mengangguk begitu saja. Dia tidak perlu ijin dari pria yang bukan siapa-siapanya.


“I’m in.”Ucap Daniel Chang seketika melihat anggukan Xiao Ling.

__ADS_1


__ADS_2