Mid-Autumn In San Francisco

Mid-Autumn In San Francisco
Bab 22


__ADS_3

Daniel Chang mengajak Xiao Ling ke atap gedung tertinggi di Chinatown. Gadis itu terengah-engah memburu napasnya yang hampir habis. Mereka harus berjalan menaiki tangga tujuh lantai, karena sialnya lift apartemen rusak di lantai tujuh belas. Dan saat ini sedang diperbaiki. Beruntung mereka tidak terjebak di dalam lift untuk waktu yang lama.


“Ja-jadi… disini… acara yang kau… maksud.” Suara Xiao Ling terputus-putus karena kelelahan. Dia berusaha mengatur kembali napasnya yang hampir putus.


“Benar.” Jawab Daniel Chang santai. Dia tak tampak kelelahan sedikitpun. Hanya beberapa butiran keringat yang menempel di dahinya. Ini karena dia rajin berolahraga, jadi berjalan beberapa lantai tidak menyulitkannya. “Sebentar lagi akan mulai. Tunggulah.”


Xiao Ling melihat sekitar tempat dia berdiri. Atap itu gelap. Hanya ada lampu dengan pencahayaan seadanya di empat sudut penjuru. Selain itu, hanya hamparan lantai kosong, tak ada apapun. Tidak mungkin jika akan ada pesta di tempat seperti itu.


“Acara apa maksudmu?” Pikiran Xiao Ling mulai menerka-nerka. Apa mungkin pria ini ingin berbuat macam-macam dengannya disini. Tapi tunggu dulu, jika itu niatnya bukankah lebih pribadi di apartemennya.


Xiao Ling menggelengkan kepalanya, mengusir pikiran buruk yang merajainya. Daniel Chang pria yang baik,


dia harus berhenti berburuk sangka.


“Moonlight festival.”


“Apa itu?” Xiao Ling baru pertama kali ini mendengar nama perayaan itu.


Daniel Chang duduk begitu saja di lantai, karena memang tak ada kursi ataupun alas yang bisa digunakan. “Itu…perayaan yang aku ciptakan sendiri lima tahun terakhir.”


Xiao Ling mendekati Daniel Chang. Dia duduk di sebelah pria itu.


“Kau tahu kalau malam ini bulan purnama?


“Iya.”


“Kebiasaanku setelah merayakan festival bulan, aku akan ke sini untuk menikmati cahaya bulan. Ini tahun kelima aku ke sini” Daniel Chang mendongakkan kepalanya menatap langit. Menunggu bulan muncul.


Benar saja. Tak berapa lama, bulan menampakkan wujudnya yang bulat sempurna. Mulai meninggi di langit. Cahayanya sedikit redup karena ditutupi awan kelabu. Tak terlupa bintang-bintang yang tersebar di hamparan langit malam. Pemandangan malam yang sangat indah.

__ADS_1


“Kau biasa ke sini dengan siapa?”


“Selama empat tahun yang lalu, aku sendiri. Tapi malam ini aku bersamamu.”


“Benarkah?” Xiao Ling tak percaya.


“Kau orang pertama yang ku ajak ke sini. Jadi ini suatu kehormatan, karena kau istimewa.”


Wajah Xiao Ling bersemu merah. Terima kasih pada kegelapan karena telah menyamarkan wajahnya, jadi pria itu tidak melihat ekspresinya yang tersipu. Harusnya dia sudah terbiasa dengan gurauan ataupun rayuan Daniel Chang. Tapi entah kenapa, Xiao Ling selalu terbuai dengan kata-kata pria ini.


Suasana jadi hening ketika dua orang yang sedang duduk di bawah cahaya bulan itu saling diam. Mereka terhanyut dalam pikiran masing-masing sambil terus memandangi langit.


“Aku hampir lupa.” Daniel Chang membuka kue bulan yang terbungkus kertas yang sejak tadi dibawanya. “Makanlah.” Dia memberikan sepotong kue itu pada Xiao Ling.


“Terima kasih.” Xiao Ling menggigit ujung kue.


“Sayangnya aku lupa tak membawa bir.” Daniel Chang sedikit kecewa. “Sepotong kue bulan dan sekaleng bir bisa menjadikan mala mini lebih sempurna.”


“Kata orang, perayaan bulan tidak lengkap tanpa memakan kue bulan.” Daniel Chang juga memakan kue yang jadi ciri khas perayaan setiap musim gugur itu.


“Sepertinya kau sangat menyukai Moon festival.”


“Benar. Pertama kali aku melihat festival ini saat aku berusia sepuluh tahun. Orangtuaku mengajakku ke Chinatown.” Daniel Chang memakan potongan terakhir kue yang ada di tangannya. “Setelah itu, setiap tahun aku pasti datang ke sini untuk merayakannya.” Dia mengambil kue kedua dari bungkus kertas di sampingnya.


“Apa kau tahu cerita dibalik perayaan ini?”


“Apa?” Daniel Chang tampak antusias untuk mengetahuinya. Setiap tahun dia merayakannya tanpa tahu artinya. Orangtuanya belum pernah menceritakannya.


“Kau tahu Chang’e?”

__ADS_1


Daniel Chang berpikir sejenak. “Bukankah dia salah satu tokoh dalam cerita Sun Go Kong?”, tebaknya.


“Bukan. Dia adalah seorang dewi. Dewi bulan.”


Daniel Chang memutar posisi duduknya menghadap Xiao Ling. “Ceritakan padaku. Aku ingin tahu.” Dia sudah memasang kedua telinganya untuk mendengarkan dengan baik.


Xiao Ling melihat Daniel Chang sekilas. Sepertinya pria itu sangat ingin mendengar cerita darinya. Dia tidak ingin membuatnya kecewa, jadi dia mulai bercerita. “Menurut cerita, Chang’e adalah istri dari seorang yang bernama Hou Yi. Hou Yi memiliki ramuan yang dapat membuat seseorang terbang ke langit. Dan ramuan tersebut dititipkan


pada Chang’e.”


Xiao Ling berhenti sejenak. Melirik ke arah Daniel Chang. Pria itu terlihat serius mendengarkan ceritanya.


“Lanjutkan.” Pinta Daniel Chang saat melihat Xiao Ling berhenti.


“Baiklah.” Xiao Ling mulai bercerita lagi. “Lalu ada seseorang bernama Peng Meng yang tahu tentang ramuan itu dan berusaha untuk mengambilnya. Demi melindungi obat itu, Chang’e meminumnya dan dia terbang sampai ke bulan. Untuk mengenang istrinya, Hou Yi melakukan ritual setiap bulan purnama pada musim gugur. Dia akan menggelar upacara di halaman rumah. Dia juga menyiapkan berbagai macam sebagai persembahan. Dan tentu saja kue bulan tak pernah ketinggalan.”


Saat Xiao Ling asyik bercerita, cahaya bulan bersinar lebih cerah. Awan-awan tipis yang tadi menghalangi telah berarak pergi. Tak ada lagi yang menghalangi bulan untuk menyinari bumi. Sinarnya yang indah menyinari wajah gadis yang sedang bercerita itu.


Konsentrasi Daniel Chang sudah buyar. Dia tak lagi mendengar apapun yang keluar dari bibir gadis di depannya. Yang dia dengar hanya suara jantungnya yang berdentum. Wajah manis gadis di depannya yang tersinari cahaya bulan purnama membuatnya terpikat. Gadis itu telah memikat hatinya. “Kau cantik.” Suaranya terdengar ditengah-tengah cerita Xiao Ling.


Xiao Ling menatap ke arah Daniel Chang. Mata kedua orang itu saling bertemu dan mengunci pandangan. Tak berkedip.


Suasana hening. Kedua orang itu saling diam, tanpa suara. Hanya detak jantung keduanya yang saling bersahutan yang didengar keduanya. Gemuruh di dada Daniel Chang semakin terpacu, sulit dikendalikan. Debaran jantungnya semakin terpacu. Apa yang terjadi pada dirinya?


Untuk beberapa saat, Xiao Ling baru tersadar. Dengan suara lirih, dia berucap untuk memastikan apa yang baru saja dikatakan Daniel Chang. “Apa kau bilang?”


Masih terus menatap manik mata Xiao Ling, Daniel Chang kembali berucap. “Kau sangat cantik.”


Xiao Ling seketika terdiam, tak mampu berucap apapun. Dia tak tahu harus bersikap seperti apa. Haruskah dia tertawa dan menganggap ucapan Daniel Chang hanya gurauan? Ataukah dia harus menanggapinya sebagai pujian? Entahlah. Yang dia tahu, di dalam dadanya terbesit secuil kebahagiaan. Seperti ada kupu-kupu yang sedang menari dalam hatinya. Ada perasaan ingin memiliki yang mulai tumbuh disana.

__ADS_1


Bolehkah dia berharap? Bersama dengan pria ini?


__ADS_2