
Xiao Ling menekan tombol panggil di ponselnya. Dia menghubungi kakaknya untuk menjelaskan masalah kemarin agar tidak terjadi kesalah-pahaman. Dia tidak ingin keluarganya berpikir yang macam-macam tentang dia dan Daniel Chang. Dan tentu agar mamanya berhenti mengkhawatirkan tentang dirinya. Dia bisa menjaga kepercayaan
keluarganya.
“Halo. Ling’er?” Suara riang Xiao Lung menembus gendang telinga Xiao Ling.
“Apa kabar Kak?”
“Baik. Bagaimana denganmu?”
“Aku juga baik-baik saja. Bagaimana dengan mama, papa dan nenek? Mereka sehat?”
“Tentu saja.”
“Jie jie… anu…” Xiao Ling terhenti. Dia ragu untuk melanjutkan. “Tentang… kemarin…”
“Benar. Siapa pria yang mengangkat teleponmu?” Interogasi Xiao Lung tanpa aba-aba.
“Dia… tetangga Jane jie.”
“Kenapa kalian bisa bersama?”
“Bukan bersama.” Xiao Ling menghela napas. “Dia kemarin datang untuk meminta gula saat aku sedang mandi dan kebetulan kakak menelpon, jadi aku minta tolong dia untuk mengangkat telepon.”
“Benarkah?”
“Tentu saja.” Xiao Ling menyilangkan jari telunjuk dan jari tengahnya. Berharap Dewa memaklumi kebohongannya.
“Kemana sepupu Jane?”
“Dia sudah tidak di rumah saat itu. Dia sudah pergi ke tempat latihan.”
“Jadi seperti itu.”
Alasan Xiao Ling kali ini sepertinya masuk akal. Keluarganya pasti tidak akan salah paham.
“Kau tahu? Mama kemarin sempat emosi. Dia berpikir yang macam-macam. Dia menyuruhmu untuk segera pulang.”
“Tidak seperti itu…”
“Tenang saja. Aku akan mengatakan pada mama apa yang terjadi agar mama berhenti berpikir yang aneh-aneh.”
“Terima kasih, jie. Tolong katakan pada Mama untuk tidak terlalu mengkhawatirkan aku. Aku akan menjaga diri dengan baik.”
“Tentu.”
“Jie,, aku harus pergi. Aku tutup teleponnya.”
“Kau mau pergi kemana?”
__ADS_1
“Aku akan mencari ibuku.”
“Dengan siapa? Jangan-jangan dengan pria kemarin?”
“Iya. Dia yang akan mengantarku.”
“Benarkah tak ada apa-apa antara kalian?” Xiao Lung mulai menyelidik.
“Tidak ada jie. Dia hanya membantuku.”
“Baiklah Ling’er. Semoga kau secepatnya menemukan ibumu. Aku menyayangimu.”
“Aku juga jie.” Xiao Ling duduk terdiam di tepi tempat tidur setelah menutup teleponnya. Dia melamun. Padahal dia sedang tidak memikirkan apapun. Mungkin dia hanya gugup karena akan pergi mencari ibunya. Dia sangat berharap, kali ini dia akan mendapatkan sesuatu yang baik.
“Ling’er, aku pergi sekarang.” Suara Jane Wang dari luar kamar menyadarkannya.
Xiao Ling keluar kamar dan mendapati sepupunya sudah menenteng tasnya dan bersiap pergi. “Kemana?”, tanyanya.
“Tempat latihan.”
Xiao Ling mengangguk mengerti.
“Mungkin aku pulang malam. Kau jangan lupa makan. Aku tidak mau kau pingsan lagi seperti kemarin. Aku tak kuat mengangkatmu.”
“Lalu siapa?” Xiao Ling penasaran. Walau dia sudah bisa menebak siapa orangnya.
“Tentu saja Daniel.”
Jane Wang mengambil kunci mobil di atas meja dekat televisi. “Kau makan saja. Tidak usah menungguku.” Pesannya.
“Iya jie.”
“Apa kau akan pergi ke suatu tempat?”
“Aku akan pergi bersama Daniel mencari ibuku.”
“Baguslah. Maaf karena aku sibuk sendiri. Tak bisa membantumu.”
“Tidak apa-apa.”
“Aku pergi sekarang.”
“Hati-hati jie.”
“Jangan melewatkan makan lagi!” Jane Wang mengulangi pesannya sebelum keluar dari pintu yang hanya dibalas senyuman oleh Xiao Ling.
Selepas Jane Wang pergi, Xiao Ling bersiap untuk pergi juga. Pria itu sudah setuju untuk mengantarnya. Dia tidak mau Daniel Chang menunggunya terlalu lama. Setelah siap, Xiao Ling pergi ke depan apartemen Daniel Chang.
Sudah tiga kali Xiao Ling menekan bel apartemen Daniel Chang, tapi tak juga dibuka. Cukup lama dia berdiri disana. Apa mungkin pria itu tidak dirumah? Apakah dia lupa jika hari ini akan pergi dengannya? Xiao Ling sudah berbalik badan ketika terdengar suara pintu terbuka.
__ADS_1
“Maaf, aku sedang mandi tadi.” Ucap pria yang membuka pintu.
Daniel Chang hanya mengenakan handuk yang menutupi tubuh bagian bawahnya. Dadanya terlihat bidang dan berotot. Butiran-butiran air jatuh dari rambutnya yang masih basah dan menetes di badannya. Tercium wangi aroma sabun. Entah kenapa pria itu terlihat lebih tampan saat ini. Melihatnya, membuat Xiao Ling berdegup. Dadanya
bergemuruh tak karuan. Jujur, baru kali ini dia melihat seorang pria yang bertelanjang dada. Pipinya jadi merona merah. Dia jadi kikuk, tak tahu harus melihatnya atau memalingkan wajahnya.
“Siapa?” Suara seorang wanita terdengar dari dalam apartemen. Wanita itu memakai jubah mandi berwarna putih. Rambut panjangnya basah dan tergerai di pundak.
Xiao Ling bisa melihatnya dengan jelas karena pintu apartemen terbuka lebar. Sekali lihat, dia bisa paham situasi seperti ini. Walaupun dia seorang yang polos dan lugu dengan hal-hal semacam itu, tapi dia mengerti kejadian apa yang baru saja terjadi. Dia sudah cukup dewasa untuk memahaminya. Dia jadi merasa malu karena sepertinya
menganggu kedua sejoli ini.
“Aku bersiap dulu. Tunggulah di bawah lima menit. Aku akan segera turun.” Pinta Daniel Chang.
Xiao Ling menurut. Dia turun dan menunggu pria itu di lantai dasar apartemen. Dia beruntung bisa segera pergi dari sana karena dia merasa serba salah disana.
“Siapa?” Jessica mengulang pertanyaannya yang belum terjawab.
“Tetangga sebelah.”
"Benarkah? Tapi aku baru sekali ini melihatnya."
Daniel Chang tak menjawab. Dia membuka lemari untuk mengambil kaos oblong lengan panjang dan celana panjang yang sobek dibagian kedua lutut. Kemudian masuk kamar mandi untuk memakainya.
“Kalau kau sudah selesai, langsung pulang saja. Aku harus pergi.”
“Kau mau pergi kemana?” Selidik Jessica.
“Aku akan pergi bersama gadis yang tadi.” Daniel Chang mengikat tali sepatu dan keluar dari apartemennya. Dengan cepat Jessica menghentikannya dengan memegang pergelangan tangannya.
“Kau mau kemana?” Jessica mengulangi pertanyaanya karena tidak puas dengan jawaban Daniel Chang.
“Gadis tadi ada sedikit urusan. Aku akan menemaninya.”
“Urusan apa?”
“Ada. Sesuatu.” Daniel Chang tak berani cerita lebih jauh. Ini tentang hal pribadi Xiao Ling.
dia tak punya hak untuk mengatakannya.
Jessica merasa Daniel Chang menyembunyikan sesuatu. Terlihat dari jawabannya yang hanya ‘sebatas’ itu. “Dia wanita barumu?” Dia menjadi benar-benar penasaran.
Daniel Chang terkekeh. “Kau cemburu?” Dia menyentuh dagu Jessica, menggodanya.
“Bagaimana denganku?”
“Maaf, tapi kau harus pulang sendiri. Aku tak bisa mengantarmu. Mungkin lain kali.” Daniel Chang berjalan ke arah pintu. “Aku pergi dulu.” Ucapnya sebelum menghilang di balik pintu.
“Bagaimana denganku?” Lirih Jessica. “Apa artinya aku bagimu selama ini. Tak bisakah kau melihatku?”
__ADS_1
Jessica cukup lama berdiri mematung, larut dalam pikirannya sendiri. Sampai akhirnya dia tersadar. Dia memakai pakaiannya dan pergi dari sana.
Jessica pergi dengan kekecewaan untuk kesekian kalinya. Tapi bukankah sudah biasa seperti ini? Tidak apa-apa. Dia masih punya banyak kesempatan lainnya. Jalan di depan masih panjang. Dia menyemangati dirinya sendiri. Dia tak boleh menyerah disini. Bukan Jessica jika dia mundur begitu saja.