Mid-Autumn In San Francisco

Mid-Autumn In San Francisco
Bab 20


__ADS_3

Daniel Chang bertemu dengan Xiao Ling dan Jane Wang di depan pintu apartemennya. Dia baru saja kembali dari lantai bawah menjemput kedua orangtuanya yang datang berkunjung. Sesaat setelah orantuanya masuk ke dalam apartemennya, dia mendengar pintu apartemen sebelah terbuka dan kedua gadis itu keluar.


Daniel Chang tak henti memandangi Xiao Ling. Gadis itu terlihat begitu mempesona dengan gaun cheongsam merah selutut yang terbelah di kedua sisinya. Eye liner tipis, blush on yang memerah-i pipinya, serta lipstick semu merah yang melekat di bibir tipisnya. Rambut panjangnya dikepang dan didaratkan di bahu kanannya. Serta sepatu balet tanpa hak. Semua itu membuat hati Daniel Chang tergetar. Hari ini, dia melihat Xiao Ling dengan tatapan mata yang berbeda. Ini adalah tatapan seorang pria pada seorang wanita.


“Hello…Daniel!” Suara keras Jane Wang membuyarkan kekaguman Daniel Chang pada gadis yang berada


di depan matanya.


“Iya… Kau bilang apa?” Daniel Chang tidak mendengar apapun yang dikatakan Jane Wang. Penglihatan


dan pendengarannya seakan lumpuh karena kecantikan gadis di depannya.


“Kau tidak ikut merayakan festival? Kau biasanya tidak pernah absen.”


“Nanti. Kalian duluan. Aku ada tamu.”


“Siapa? Pacar? Yang mana?”


Daniel Chang tidak menyukai nada suara tetangganya itu. “Bukan.” Jawabnya mantap. Dia tidak ingin gadis cantik di hadapannya itu menjadi salah paham. “Orangtuaku sedang berkunjung.”


“Oooo..” Jane Wang mengangguk-angguk. “Kalau begitu kami duluan.”


Daniel Chang memandang punggung Xiao Ling ketika gadis itu berjalan menuju lift. Dia terpaku di depan pintu, bahkan saat gadis itu telah menghilang dari pandangannya. Dia begitu terpesona sampai tak sadar seseorang sudah berada di belakangnya.


“Kau sedang apa?” Suara Michelle Liu, mama Daniel Chang menyadarkannya untuk kembali ke dunia nyata.


“Tidak ada. Ayo masuk, Ma.”


Kedua orangtua Daniel Chang duduk bersebelahan di sofa.


“Kalian mau minum apa?” Daniel Chang membuka lemari es dan melihat apakah ada sesuatu yang bisa diminum. “Soda?”

__ADS_1


“Boleh.”


Daniel Chang meletakkan dua kaleng soda di meja. Dia membuka satu kaleng untuk dirinya sendiri. Dan kemudian ikut duduk di sofa. “Kenapa ke sini?” ucapnya setelah meneguk setengah isi kaleng di tangannya.


“Karena kau tidak pulang mengunjungi kami.” Wajah Michelle Liu terlihat sedikit kesal. “Kenapa kau jarang sekali pulang? Sudah lupa jika masih punya orangtua?”


Daniel Chang merasakan suasana yang tidak menyenangkan. Dia melirik David Chang, papanya, yang sedang serius menatap layar ponselnya. Beralih melirik wanita paruh baya yang sudah melahirkannya. Raut wajah Michelle Liu sungguh tidak mengenakkan. Suasana hatinya pasti sedang buruk. Daniel Chang harus berhati-hati dalam berkata. Jika tidak, sesuatu yang buruk akan terjadi padanya.


“Ayolah… Ma.” Daniel Chang mengambil sekaleng soda, membuka tutupnya, dan memberikannya pada Michelle Liu. “Aku sering pulang. Apa mama lupa?”


“Kapan?” Michelle Liu meletakkan kaleng kembali ke meja dengan keras. Sampai sebagian isinya menyembur di atas meja.


 Daniel Chang sudah salah berkata. Dia baru teringat kalau sudah sebulan dia tidak mengunjungi orangtuanya. “Maaf.” Dia duduk di samping Michelle Liu dan memegang tangan mamanya. “Mama tahu? Aku sibuk. Jadi tidak bisa sering berkunjung.” Dia tidak mau wanita ini lebih kesal lagi. Ceritanya akan sangat panjang jika itu terjadi. Bisa sampai malam hari.


“Kau sibuk apa?”


“Tentu saja sibuk dengan pekerjaaanku. Aku sedang mengembangkan game baru.”


“Papamu benar.”


Daniel Chang menghela napas. Kedua orangtuanya sangat kompak kalau soal seperti ini. Inilah kenapa dia malas sering-sering pulang ke rumah. Papanya selalu memaksanya untuk berhenti dari pekerjaannya sekarang dan mulai ikut menjalankan bisnis keluarga.


“Sudah waktunya kau terjun dalam bisnis. Kau adalah satu-satunya pewaris perusahaan Papa kelak.” Lanjut David Chang.


“Belum waktunya.” Daniel Chang sebenarnya malas untuk membahas ini. Setiap dia bertemu David Chang selalu hal itu yang jadi pembicaraan.


“Lalu kapan?”


“Nanti. Aku pasti akan mengikuti jejak Papa.” Berharap David Chang menyudahi pembicaraan mereka tentang ‘bisnis’.


“Kau mau berjanji?”

__ADS_1


Daniel Chang mengangguk lemah. “Tentu.”


David Chang tidak memperpanjang masalah ini. Dia akan melepaskan putranya kali ini. Dia tahu kata-kata Daniel Chang bisa dipegang. Meski kapan waktunya itu tidak pasti. Dia hanya berpikir mungkin nanti kalau Daniel Chang sudah lebih dewasa, dia akan menepatinya.


“Apa perlu Papa menjodohkanmu dengan seseorang?”


Daniel Chang terkejut. “Maksud Papa?” Dia mengorek telinganya, merasa dia salah dengar.


“Mungkin kalau kau sudah berkeluarga, kau jadi punya tanggung-jawab untuk bekerja lebih serius. Bukan hanya bermain game.” David Chang sebenarnya tidak serius tentang itu. Siapa tahu itu malah berhasil.


“Tidak perlu. Terima kasih. Aku masih bisa mencari gadis cantik sendiri. Jangan seperti orangtua kolot.” Daniel Chang merasa tersinggung dengan ide papanya, yang menurutnya sangat tidak masuk akal. Ini bukan lagi jaman dinasti Ming. Apa? Perjodohan? “Aku juga tidak sedang main-main. Aku juga bekerja menghasilkan uang.”


“Sudah-sudah. Kalau kau belum mau kerja di perusahaan tidak apa-apa.” Michelle Liu menengahi.  “Tapi kau harus pulang.” Pintanya dengan wajah sendu.


Daniel Chang menepuk punggung telapak tangan mamanya. “Iya, Ma. Besok aku akan pulang.”


“Benarkah?” Michelle Liu tersenyum cerah.


Daniel Chang mengangguk. “Besok Mama masak yang enak. Aku akan datang.”


“Baiklah.”


Michelle Liu memanggil suaminya dan mengajaknya pulang. Maksud kedatangan mereka sudah terlaksana. Mereka tidak ingin berlama-lama disana.


“Kalian pulang sekarang? Kenapa buru-buru?” Basa-basi Daniel Chang. Di dalam pikirannya dia senang. Dia ingin secepatnya mencari Xiao Ling untuk melihat festival bersama. Atau bisa dibilang kencan?


“Kami tahu, kau sangat menyukai festival ini. Kami tidak akan mengganggumu lebih lama.”


Daniel Chang mengantar kedua orangtuanya sampai pintu. Dia kemudian masuk kamar untuk berganti kaos. Tak lupa menyemprotkan parfum ke badannya, dan segera keluar dari apartemen.


Daniel Chang melihat sekeliling. Dia mendekati setiap keramaian di sekitar apartemennya. Sudah setengah jam dia berjalan. Berpindah dari satu pertunjukan ke pertunjukan lain. Tapi belum juga menemukan Xiao Ling. Sampai akhirnya, dia melihat gadis itu sedang duduk mengobrol dengan sepupunya. Baru saja Daniel Chang berniat mendekat dan menyapanya, Xiao Ling sudah pergi dengan tergesa-gesa. Gadis itu seperti mengikuti seseorang, tapi entah siapa.

__ADS_1


Daniel Chang mengikuti Xiao Ling dari belakang. Dia berusaha memanggil, tapi suaranya tertelan keramaian. Gadis itu terus berjalan hingga keluar area Chinatown. Daniel Chang mempercepat langkahnya ketika melihat gadis itu dengan bodohnya berjalan ke tengah jalan raya tanpa melihat kanan-kiri. Sebuah mobil bergerak cepat ke arah Xiao Ling dengan membunyikan klakson. Dia segera berlari dan meraih tangan Xiao Ling. Dengan satu hentakan, gadis itu pun jatuh ke dalam pelukannya.


__ADS_2