
Xiao Ling langsung berlari menaiki tangga dan menuju ruang rawat kakaknya. Tanpa mengetuk pintu, dia berhambur masuk dan memeluk kakaknya yang sedang tiduran di ranjang.
“Kakak baik-baik saja?”, tanya Xiao Ling sambil memperhatikan setiap inci tubuh Xiao Lung mulai dari ujung kepala sampai ujung kaki. Sepertinya tidak ada yang serius. Hanya kaki kanan Xiao Lung yang terlilit perban putih.
“Aku tidak apa-apa. Hanya sedikit luka di kakiku.”
“Syukurlah.”
“Kau kesini dengan siapa?”
“Yuan Bao ge ge. Dia sedang memarkir mobilnya di bawah. Sebentar lagi juga kesini.”
Wajah Xiao Lung bersemu merah setelah mendengar kata Li Yuan Bao. Dadanya sedikit berdebar. Dia menjadi salah tingkah. Kenapa Yuan Bao harus datang ke sini? Saat ini wajah Xiao Lung begitu pucat tanpa make up. Rambutnya juga kusut karena dia tiduran saja sejak tadi. Belum lagi dia tidak percaya diri untuk menemui Yuan Bao dalam keadaan seperti ini.
“Mama dimana?” Mata Xiao Ling mencari di setiap sudut kamar tapi tidak melihat mamanya disana. Dia tidak sadar perubahan ekspresi wajah dan polah kakaknya.
“Mama ke bawah beli kopi,” jawab Xiao Lung sekenanya.
“Tapi mama tidak minum ko…”
Belum selesai Xiao Ling berucap, Xiao Lung sudah mendorong tubuhnya dan memintanya untuk pulang bersama Li Yuan Bao.
“Sudah malam, kau pulang saja bersama Yuan Bao.” Xiao Lung mengusir adiknya hanya agar Li Yuan Bao tidak menemuinya dalam keadaan sekarang.
“Tapi kenapa?”
“Tidak baik seorang gadis pulang terlalu larut malam.” Alasan Xiao Lung.
Baru saja Xiao Ling berdiri, Li Yuan Bao sudah masuk ke kamar rawat bersama Shi Yen Xing. Xiao Lung pasrah.
Pada akhirnya Li Yuan Bao melihat dirinya yang begitu berantakan.
“Mama tadi bertemu Yuan Bao di bawah. Katanya, dia mengantar Xiao Ling ke sini.”
“Iya.” Ucap Xiao Lung lesu.
Li Yuan Bao mendekat dan berdiri di sisi kanan ranjang pasien. “Kau baik-baik saja?, tanyanya pada Xiao Lung.
Xiao Lung menjawab dengan anggukan.
__ADS_1
Xiao Ling menyingkir, beranjak duduk di sofa bersama mama. Dia memberi ruang untuk Li Yuan Bao dan kakaknya mengobrol santai.
“Papa kemana?”
“Papa ke Beijing. Ada urusan kantor. Disana selama seminggu.”
“Kau tadi dari mana sama Yuan Bao?”
Xiao Ling sedikit gugup, harus menjawab apa. Keluarganya belum tahu hubungannya dengan Li Yuan Bao. Dia belum siap mengatakan. Lagipula hubungannya baru berjalan dua bulan.
“Aku…”
“Maaf… waktu berkunjung sudah habis. Biarkan pasien beristirahat.” Seorang perawat masuk ruangan. Dia adalah penyelamat bagi Xiao Ling, setidaknya untuk saat ini
Li Yuan Bao segera berpamitan pada Xiao Lung dan Shi Yen Xing.
“Tolong antar Ling'er pulang. Hati-hati di jalan.” Pesan Shi Yen Xing.
“Baik lao ma.”
***
“Benarkah? Jadi hari ini aku bisa mengantarmu sampai rumah?”
Xiao Ling hanya menjawabnya dengan senyuman. Dia dan Li Yuan Bao dalam perjalanan pulang dari kantor. Setiap hari mereka berangkat dan pulang bersama, meskipun kantor mereka berbeda. Li Yuan Bao bekerja di sebuah perusahaan konstruksi baja sebagai senior akuntan. Sedangkan Xiao Ling bekerja di sebuah galeri seni.
Setiap pagi, Li Yuan Bao menjemput Xiao Ling di jalan masuk gang dari rumahnya dan kembali menurunkannya disana di sore harinya. Mereka belum siap menunjukkan hubungan mereka pada keluarga Xiao Ling secara terang-terangan. Bisa dikatakan, saat ini mereka menjalani hubungan diam-diam.
Rumah Xiao Ling berada di sebuah kompleks padat tidak jauh dari pusat kota Guangzhou. Kompleks dengan deretan rumah yang kebanyakan terdiri dari dua lantai dengan jalan selebar tujuh meter di depannya. Di kompleks juga terdapat beberapa toko kelontong, apotek, rumah makan dan game corner.
Li Yuan Bao menghentikan laju mobilnya di depan rumah dua lantai dengan nuansa biru laut yang mendominasi. Rumah dengan luas 96 m2, cukup untuk ditempati lima orang, anggota keluarga Xiao. Keluarga Xiao tidak memiliki asisten rumah tangga. Shi Yen Xing yang mengurus semua pekerjaan rumah tangga, dibantu oleh nenek Xiao. Rumah itu terdiri dari empat kamar tidurdengan masing-masing kamar mandi di dalam serta satu kamar mandi di dekat dapur, ruang makan, ruang keluarga, ruang tamu, dapur, garasi dan satu set kursi berada di teras depan. Memasuki area rumah, terdapat kebun kecil di sudut halaman rumah. Shi Yen Xing senang berkebun. Dia menanam beberapa bunga disana.
“Ayo masuk”, ajak Xiao Ling.
Saat Xiao Ling dan Li Yuan Bao masuk, Xiao Lung sedang tiduran santai sambil menonton televisi. Dia kaget saat tahu siapa yang berkunjung ke rumahnya. Dia hanya mengenakan kaos longgar berwarna putih dan celana kain selutut dengan rambut diikat seadanya. Dia jauh dari kesan cantik ataupun seksi. “Kenapa dia selalu datang disaat aku berantakan?”, gerutunya.
“Aku pulang”, ucap Xiao Ling. “Yuan Bao ge ge juga datang ingin menjenguk kakak.”
Xiao Lung hanya tersenyum kecut. Meski dalam dadanya bergemuruh yang membuat detak jantungnya tidak karuan, sebisa mungkin dia bertingkah sewajarnya. “Kenapa kalian bisa bersama?”
__ADS_1
“Tadi ketemu di jalan depan.” Xiao Ling berbohong.
“Mama dimana?”
“Sedang memasak di dapur”.
“Ge ge duduklah”. Xiao Ling mempersilahkan Li Yuan Bao untuk duduk. “Aku mau ke kamar. Kalian silahkan mengobrol”.
Xiao Ling berlalu dan menaiki tangga menuju kamarnya di lantai dua.
“Kakimu sudah sembuh?” tanya Li Yuan Bao setelah duduk di sebelah Xiao Lung.
“Masih diperban.” Xiao Lung menunjuk kaki kanannya. “Bagaimana keadaan kantor?”
“Seperti biasa. Kau tidak perlu khawatir. Kesibukan kantor akan tetap berjalan meski tanpa dirimu.” Ejek Li Yuan Bao sambil tersenyum.
Melihat senyum Li Yuan Bao membuat hati Xiao Lung semakin berdebar. Wajahnya tiba-tiba terasa panas. Dia tidak pernah berada sedekat ini dengan pria itu. Pria yang sudah benar-benar memenangkan hatinya berada tepat disampingnya. Sesekali dia mencuri pandang. Pria itu menatap layar televisi tanpa ekspresi. Hanya seperti itu saja bisa membuatnya tergila-gila.
“Sepertinya aku harus pulang.” Li Yuan Bao melihat jam tangannya. “Aku hanya mampir untuk melihat keadaanmu.”
“Ikutlah makan malam disini.” Suara Shi Yen Xing terdengar dari dapur. Dia sudah tahu sejak tadi kalau Li Yuan Bao datang, tapi tidak sempat menyapa karena terlalu sibuk di dapur.
“Terima kasih lao ma, tapi..”
“Makanlah disini.” Sela Xiao Lung. “Tak ada yang menunggumu di rumah.”
Li Yuan Bao akhirnya meng-iyakan ajakan makan malam keluarga Xiao.
Di meja sudah terhidang berbagai macam makanan. Ada bebek peking, sayur pok-choi, cap cay, pangsit, dan ikan. Semua anggota keluarga Xiao, kecuali Xiao Guo yang masih di Beijing untuk urusan pekerjaan, sudah duduk dan siap menikmati makan malam. Yuan Bao duduk berhadapan dengan Xiao Lung, dan di sebelahnya ada nenek. Sedangkan Xiao Ling berada di tengah antara Xiao Lung dan Shi Yen Xing.
Selama acara makan malam, Xiao Lung, sesekali memandang ke arah Li Yuan Bao. Cukup lama dia hanya diam dan menatap wajah Li Yuan Bao, kemudian tersenyum sendiri. Dia tidak begitu menikmati makanannya, karena baginya wajah Li Yuan Bao sudah cukup untuk mengobati rasa laparnya. Tanpa dia sadari, nenek sedari tadi memperhatikan tingkah polahnya.
Selesai makan malam, Li Yuan Bao pamit pulang pada mama dan Xiao Ling. Xiao Lung sudah naik ke kamarnya untuk minum obat dan nenek mengikutinya beberapa waktu lalu. Xiao Ling mengantar Li Yuan Bao sampai teras
depan.
Li Yuan Bao memegang tangan Xiao Ling. “Aku pulang. Besok aku jemput di tempat biasa.”. Dia mengecup pipi Xiao Ling kemudian berjalan keluar menuju mobilnya yang masih terparkir di depan rumah.
Xiao Ling melambaikan tangan sesaat sebelum Li Yuan Bao keluar gerbang. Setelah melihat mobil Li Yuan Bao mulai berjalan, dia berbalik untuk masuk ke dalam. Dia terkaget ketika tangannya ditarik dengan kasar dan diminta untuk mengikuti orang yang menariknya. Nenek.
__ADS_1