Mid-Autumn In San Francisco

Mid-Autumn In San Francisco
Bab 11


__ADS_3

“Initempatnya.”


Jane Wang menghentikan mobilnya di depan sebuah kelenteng. “Kau masuklah. Aku tunggu disini. Aku sudah lama tak bersahabat dengan Dewa. Kau tahu kan?”


Xiao Ling mengerti maksud Jane Wang. Sepupunya itu sudah lama meninggalkan Dewa semenjak kematian


kedua orangtuanya. Dia memendam kemarahan pada Dewa karena sudah merenggut orang-orang yang paling dia sayangi, dan membuatnya menjadi sebatang kara di dunia.


Xiao Ling berjalan memasuki kelenteng yang kental dengan nuansa merah. Aroma dupa begitu tajam menyengat hidung ketika dia menginjakkan kaki di ruangan luas yang terdapat beberapa patung Dewa. Ada patung Budha, Dewi Quan Im, Dewa Kera, Dewa Erlang dan beberapa dewa lainnya. Suasana di dalam sangat hening. Beberapa orang sedang berdoa dengan khusyuknya.


“Amitabha.” Seorang biksu dengan jubah oranye menyapa Xiao Ling. “Ada yang bisa saya bantu?”, tanyanya sopan.


Xiao Ling meletakkan salah satu telapak tangannya di depan dada dan membungkuk membalas salam. “Saya mencari seseorang. Apakah ada biksu yang bernama Liu Yang disini?”


“Kalau saya boleh tahu, Anda siapa?”


“Saya kerabatnya dari China.”


“Maaf sekali, saudara Liu sudah meninggal tiga tahun yang lalu.”


Xiao Ling lemas. Satu-satunya orang yang tahu tentang ibunya sudah tidak ada lagi di dunia. Kemana lagi dia harus mencari ibunya? Tapi kemudian dia teringat sesuatu. Dia mengeluarkan dompetnya dari dalam tas. “Apa mungkin Anda kenal dengan wanita dalam foto ini?” Dia menunjukkan foto usang ibunya.


Biksu itu diam untuk mengingat-ngingat apakah pernah melihat wanita dalam foto. Tapi akhirnya dia hanya menggeleng dan berucap, “Maaf. Saya tidak tahu siapa dia.”


“Wanita ini tidak tinggal disini?”


“Tidak, Nona.”


Xiao Ling terdiam sesaat. Hanyut dalam pikirannya. Kemudian kembali berucap, “Baiklah. Terima kasih. Saya permisi.”


“Silahkan Nona. Amitabha.”


Xiao Ling pergi dengan kekecewaan. Pikirannya buntu. Dia tidak lagi punya petunjuk apapun untuk mencari ibunya. Rasanya sangat sulit jika mencari seseorang hanya bermodal sebuah foto.


Jane Wang sedang menggoyangkan badannya mengikuti alunan musik sambil menatap layar ponsel saat Xiao Ling masuk ke dalam mobil. Secepatnya dia menurunkan volume pemutar musiknya. “Bagaimana?” Dia begitu antusias.


Xiao Ling menjawab lesu. “Dia sudah meninggal.”


“Siapa? Ibumu?” Jane Wang membelalakkan kedua matanya. Tentu saja dia terkejut.


“Bukan. Sepupu Ibuku. Dia sudah meninggal.”


Jane Wang bernapas lega. Ternyata bukan ibu Xiao Ling yang meninggal.


Xiao Ling menarik napas panjang. Bahkan sangat panjang, dan menghebuskannya secara berlebihan. Pikirannya buntu. Dia tidak tahu lagi harus bagaimana.

__ADS_1


“Lalu… Bagaimana selanjutnya?” Jane Wang menyalakan mobil dan mulai menginjak gas.


“Entahlah.” Xiao Ling mengangkat bahu. Tangannya memegang foto ibunya. Dan terus memandanginya.


“Kau tahu? Mencari satu orang di kota sebesar ini seperti mencari jerami dalam tumpukan jarum. Bukan hanya terlalu sulit, mungkin kau juga akan terluka.” Jane Wang menghentikan mobilnya karena lampu merah.


“Aku tahu itu sulit. Setidaknya aku harus mencoba.”


Tanpa sadar Xiao Ling membuka laci mobil dan meletakkan foto ibunya disana.


Jane Wang kembali menginjak gas saat lampu berubah hijau. “Sekarang kita kemana? Pulang?”


Xiao Ling hanya mengangguk.


Pencarian hari ini sudah cukup. Xiao Ling ingin mengistirahatkan pikirannya dulu. Mencoba mencari rencana yang lain yang bisa dia lakukan untuk menemukan ibunya. Tapi kemudian terbesit sebuah pertanyaan, apakah alasannya ke sini benar-benar untuk mencari ibunya? Atau hanya untuk lari dari masalah antara dia, Li Yuan Bao dan Xiao Lung? Entahlah. Dia juga tidak yakin.


***


Jane Wang menghentikan mobilnya di depan apartemen.


“Kau masuklah. Aku harus pergi ke tempat latihan.”


“Baiklah.” Xiao Ling melangkahkan kakinya dengan gontai menuju depan lift. Setelah pintu lift terbuka, dia langsung masuk. Tanpa melihat siapa yang sudah ada di dalam lift. Kepalanya hanya menunduk menatap langkah kakinya sendiri.


“Apa ada sesuatu di sepatumu, Nona?”


“Kau darimana?”


“Dari luar?” Mau tak mau Xiao Ling harus menjawab pertanyaan pria itu. Walau hanya jawaban


singkat.


“Dimana Jane? Kau tidak pergi bersamanya?”


Oh Tuhan… Kenapa pria ini terus bertanya? Tidakkah dia paham jika Xiao Ling sedang tidak ingin berucap?


“Dia pergi setelah menurunkan aku di depan.” Nada suara Xiao Ling mulai terdengar agak kesal. Begitupun hatinya. Rasa kecewa karena pencariannya tidak membuahkan hasil sama sekali berubah menjadi kekesalan setelah bertemu dengan Daniel Chang. Sebenarnya, bukan salah pria itu. Dia hanya ingin menyapa seseorang yang dia kenal. Tapi mungkin waktunya saja yang tidak tepat.


“Kalian darimana? Jalan-jalan? Kenapa tidak mengajakku?”


Xiao Ling mulai bosan mendengar suara pria itu. Saat ini, suaranya begitu menganggu pendengaran. Tidak bisakah pria ini diam? Beruntungnya pintu lift terbuka di lantai tiga.


“Aku masuk dulu.”


Xiao Ling segera keluar dari lift dan berjalan cepat masuk ke apartemen Jane Wang tanpa menunggu pria itu membalas ucapannya. Dia hanya ingin segera berlalu dari hadapan Daniel Chang. Entah apa yang pria itu pikirkan tentangnya. Gadis judes? Ataukah sombong? Dia tidak perduli.

__ADS_1


Xiao Ling membuka pintu lemari pendingin setelah berada di dalam apartemen. Dia meneguk air dingin dari dalam botol. Berharap bisa menjernihkan sekaligus mendinginkan hati dan pikirannya. Separuh isi botol telah berpindah ke dalam perutnya. Dia menghela napas, kemudian menyandarkan tubuhnya di sandaran sofa. Dia ingin menenangkan


pikirannya, tapi tetap saja tidak bisa. Dia masih memikirkan tentang ibunya.


Ting Tong


Suara bel apartemen berbunyi. Dia berjalan dengan malas untuk membuka pintu.


“Maaf, Nona. Bolehkah aku meminjam ponselmu?”


Pria ini lagi. Sepertinya Xiao Ling harus bisa membiasakan diri bertemu dengan Daniel Chang kapanpun dan dimanapun.


“Untuk apa?”


“Aku lupa dimana meninggalkan ponselku. Jadi aku butuh ponselmu untuk menghubungi nomorku.”


“Tunggu sebentar. Aku ambilkan dulu.”


“Oke.”


Xiao Ling masuk lagi untuk mengambil ponselnya dari dalam tas yang dia letakkan di atas sofa. “Ini.” Dia memberikannya pada Daniel Chang.


Daniel Chang memencet nomornya sendiri. Berharap seseorang mengangkat panggilannya.


“Halo?”


Seseorang berbicara dari seberang sana.


“Ini siapa?”


“Oh terima kasih. Aku tadi lupa meninggalkan ponselku. Aku akan kesana untuk mengambilnya.”


“Terima kasih.” Ucap Daniel Chang sembari mengembalikan ponsel Xiao Ling.


“Dimana kau meninggalkannya?”


“Di kafe. Saat tadi aku menemui seseorang.”


“Oh…”


“Kau mau ikut aku mengambilnya?”


“Tidak, terima kasih.” Ucap Xiao Ling cepat tanpa berpikir. Mereka belum sedekat itu untuk pergi bersama. Pasti akan terasa canggung antara mereka. Dan lagi, Xiao Ling merasa lelah. Tidak ingin kemana-mana. Hanya ingin berdiam diri di apartemen.


“Baiklah. Aku pergi. Sekali lagi terima kasih.”

__ADS_1


"Sama-sama."


Xiao Ling kembali menyandarkan diri di sofa. Dia memejamkan mata untuk mengusir perasaan hatinya. Tanpa sadar, kantuk menyerangnya. Dan akhirnya dia tertidur.


__ADS_2