
Xiao Ling berdiri di depan café. Dia sudah membuat janji dengan Michelle Liu untuk bertemu disana. Cukup lama dia hanya diam berdiri, ragu untuk masuk. Sampai akhirnya dia menarik napas dalam-dalam dan melangkahkan kakinya ke dalam café.
Xiao Ling melihat sekeliling café. Michelle Liu yang duduk di pojok melambaikan tangan. Wanita itu memakai mantel warna coklat dengan rambut diikat ke belakang. Dia terlihat jauh lebih cantik dan elegan dari foto yang selama ini dilihat Xiao Ling. Tak akan ada yang percaya bahwa wanita seanggun itu tega membuang bayinya.
Xiao Ling menghampiri Michelle Liu. “Maaf saya terlambat.” Ucapnya saat sampai di meja yang dipesan wanita itu.
“Tidak apa-apa. Aku juga baru sampai. Silahkan duduk.”
Xiao Ling duduk berhadapan dengan Michelle Liu. Dia bisa melihat binar bahagia dari manik mata wanita itu.
“Kau mau pesan apa?”
Xiao Ling melihat daftar menu. “Saya mau Americano.”
Michelle Liu memanggil seorang pramusaji. “I want Americano and Vanilla Latte.”
“Okay. Please wait a minute.” Ucap wanita berseragam kemudian berlalu pergi menyiapkan pesanan.
Michelle Liu memandang Xiao Ling yang hanya diam sambil menunduk. “Bagaimana kabar keluarga Xiao?” Tanyanya.
“Mereka baik-baik saja.”
“Kau tumbuh dengan baik, menjadi gadis yang cantik. Mereka pasti merawatmu dengan baik.”
Xiao Ling hanya mengangguk.
“Sejak kapan kau disini?”
Xiao Ling menahan suaranya karena parmusaji datang mengantar pesanan mereka.
“This is your order. Enjoy it.” Ucap wanita berseragam yang meletakkan dua buah cangkir di meja.
“Thank you.”
“Saya sudah empat bulan disini.” Ucap Xiao Ling setelah meneguk minumannya. “Mencari Anda.”
Michelle Liu memegang tangan Xiao Ling, namun secepat kilat gadis itu menarik tangannya dari genggaman Michelle Liu. Dia merasa mereka tidak sedekat itu untuk saling menggenggam tangan.
Michelle Liu sedikit kecewa dengan sikap Xiao Ling. Tapi dia bisa memahami perasaan putrinya itu. “Maafkan Ibu.”
“Karena sudah bertemu dengan Anda, saya ingin bertanya tentang banyak hal.”
__ADS_1
“Apa itu?”
Xiao Ling menarik napas panjang. Harus dari mana dia memulai? “Ceritakan saja tentang ayah dan ibuku.” Dia berbicara seolah-olah yang ada di depannya itu bukan ibunya, melainkan orang lain.
Michelle Liu melihat Xiao Ling. Haruskah dia menceritakan tentang masa lalunya yang suram? Sebaiknya dia bercerita karena Xiao Ling ingin tahu. Tentang bagaimana reaksinya, itu urusan nanti.
“Aku mengenal ayahmu saat umurku dua puluh satu tahun. Aku seorang yatim piatu, dan dia pria yang sangat baik. Setelah tiga tahun berpacaran ayahmu melamarku, aku sangat bahagia. Aku membayangkan akan hidup bahagia.” Michelle Liu menghela napas sebelum melanjutkan. “Awal-awal pernikahan, hidup kami baik-baik saja. Meskipun tidak kaya, tapi hidup kami tak pernah kekurangan. Ayahmu memiliki pekerjaan tetap. Setelah enam bulan pernikahan, tepatnya saat kau baru empat bulan dalam perutku, semua berubah menjadi sulit. Ayahmu kena PHK dan jadi pengangguran. Ayahmu berusaha untuk mencari pekerjaan lagi tapi itu sulit. Sampai akhirnya dia frustasi. Dia mulai mabuk dan berjudi. Dia juga menjadi pria yang kasar. Uang pesangon dari perusahaan habis untuk mabuk dan judi. Bahkan rumah pun terjual. Dia berubah, menjadi pria yang lain. Tidak seperti yang selama ini aku kenal.”
Michelle Liu kembali melihat Xiao Ling. Memastikan bahwa anaknya baik-baik saja dan siap mendengarkan cerita selanjutnya.
“Puncaknya saat aku hamil sembilan bulan, ayahmu pulang tengah malam dalam keadaan mabuk. Dia kalah berjudi dan sudah tak punya uang sepeser pun. Dia berkata jika anaknya lahir perempuan, dia akan menjualnya. Keesokan harinya aku memutuskan untuk pergi. Saat kau lahir, aku menjadi sangat takut. Takut ayahmu akan
berbuat jahat padamu. Karena itu aku memutuskan untuk menyerahkanmu pada keluarga Xiao.”
Xiao Ling memejamkan matanya. Semua pertanyaannya terjawab sudah. Tapi bukannya lega, melainkan dia merasakan sangat sakit di dadanya. Dia sekuat tenaga mencoba untuk tidak menangis.
“A-apa kau tak berniat untuk mengambilku kembali?” Suara Xiao Ling bergetar.
“Pernah sekali aku berniat menjemputmu. Saat itu usiamu sepuluh tahun. Aku ke sana bersama Daniel kecil. Aku menunggu di depan rumah keluarga Xiao. Aku melihatmu berjalan saat pulang sekolah bersama Xiao Lung. Saat melihat tawa riangmu, aku tahu kau sangat bahagia. Karena itu aku membatalkan niatku. Aku tak ingin hidupmu terguncang dengan mengetahui kebenarannya. Aku tak pernah membayangkan jika akhirnya kau tahu tentang kenyataannya.”
Xiao Ling pernah mendengar cerita itu. Daniel Chang pernah bercerita tentang dia dan ibunya saat pergi ke China.
Michelle Liu berhenti bercerita. Semuanya sudah dia ceritakan pada Xiao Ling. Dia melihat Xiao Ling hanya diam, sesekali meneguk minuman dalam cangkir. “Apa ada yang ingin kau dengar lagi?”
Sepuluh menit sudah berlalu. Xiao Ling belum keluar dari toilet. Dia memutuskan untuk tidak menemui Michelle Liu lagi. Dia mengirim pesan pada wanita itu.
Maaf, saya ada urusan mendadak. Saya pulang tanpa berpamitan.
Michelle Liu membuka pesan dari Xiao Ling. Dia mendesah dengan suara berat. Sepertinya, Xiao Ling belum membuka hatinya untuknya. Dia bisa mengerti, pasti tidak mudah untuk gadis itu setelah ditelantarkan selama dua puluh delapan tahun. Dia akan mencoba lagi nanti. Dia akan menemui Xiao Ling lagi.
***
Wajah Xiao Ling berubah sendu setelah menerima pesan dari Michelle Liu. Wanita itu mengajak makan siang di restoran dekat apartemen Jane Wang. Xiao Ling menghela napas. Dia merasa tak ada lagi alasan untuknya bertemu dengan wanita itu. Semua pertanyaan dalam hatinya sudah terjawab ketika mereka bertemu empat hari yang lalu. Sebenarnya, bukan salah Michelle Liu jika akhirnya dia dan Daniel Chang menjadi seperti ini. Dia hanya tak tahu harus menyalahkan siapa lagi.
“Kau kenapa?” Jane Wang melihat Xiao Ling hanya memandangi layar ponselnya.
“Nyonya Liu mengajakku makan siang?”
“Nyonya?” Jane Wang mengernyitkan dahi. “Bukankah dia ibumu? Kenapa kau memanggilnya Nyonya?”
Xiao Ling mendesah. “Aku tak tahu harus memanggilnya apa? Rasanya aneh jika aku dan Daniel berbagi seorang ibu.”
__ADS_1
Jane Wang melihat ekspresi wajah Xiao Ling berubah setiap kali menyebut nama Daniel Chang. Dia harus berbuat sesuatu sebelum sepupunya menangis, lagi. “Perlu aku temani? Bertemu dengan Nyonya Liu?”
Xiao Ling menggeleng pelan. “Aku bisa sendiri.”
“Kau yakin?”
“Tentu saja. Aku tak akan lama” Xiao Ling mengambil slingbagnya dan berjalan keluar apartemen.
***
Xiao Ling berjalan menghampiri Michelle Liu. Wanita itu bersama seorang lelaki. Wajahnya mirip dengan Daniel Chang, pasti itu papanya. Dia sudah bisa menebak maksud pertemuan hari ini. Ibunya pasti ingin mengenalkan keluarganya. Tapi untuk apa?
“Anda sudah menunggu lama?” Sapa Xiao Ling saat sampai di meja yang dipesan Michelle Liu.
“Tidak. Kami juga baru sampai.” Michelle Liu berdiri, diikuti David Chang. “Xiao Ling, perkenalkan ini suamiku, David Chang.”
“David Chang.” Ucapnya sambil mengulurkan tangan.
Xiao Ling menjabat tangan David Chang. “Xiao Ling.”
Mereka bertiga duduk di kursi masing-masing setelah saling berkenalan.
“Kau ingin pesan apa?” Tanya Michelle Liu sambil melihat daftar menu.
“Tidak terima kasih. Saya sudah makan.” Xiao Ling berbohong. Dia hanya tidak ingin berlama-lama disana.
“Atau kau ingin minum?”
Xiao Ling menggeleng. “Ada apa Anda mengajak saya bertemu?”
Michelle Liu melihat ke arah David Chang, kemudian berganti menatap Xiao Ling. “Aku ingin memintamu untuk tinggal bersama kami.” Ucapnya hati-hati. “Aku tahu, kesalahanku dulu tidak bisa dimaafkan. Aku mengerti jika kau membenciku. Maka dari itu, aku ingin menebus semua kesalahanku itu.”
“Jika kau tak mau tinggal dengan kami di Oakland, kami akan membelikanmu apartemen. Di gedung yang sama dengan Daniel. Atau kau mau apartemen yang lain? Katakan saja.” David Chang menimpali.
“Tidak. Terima kasih.” Jawab Xiao Ling tegas. “Saya mencari Nyonya bukan untuk menjadi keluarga Anda. Saya hanya ingin mengetahui latar belakang saya. Karena sekarang saya sudah tahu, saya akan kembali kepada keluarga saya di China.”
“Tapi Xiao Ling...”
“Jika sudah tidak ada yang lain, saya permisi.” Xiao Ling pergi begitu saja tanpa menoleh. Alasannya tidak menerima tawaran Michelle Liu semata-mata karena Daniel Chang. Tidak mungkin dia bisa menjadi satu keluarga dengannya. Jika saja Daniel Chang bukan anak mereka, dia pasti mempertimbangkan tawaran itu.
Michelle Liu menatap punggung Xiao Ling yang menjauh. Airmata mulai turun di pipinya. Hatinya merana, putrinya itu tidak bisa memaafkannya. Bahkan Xiao Ling tidak memberinya kesempatan untuk sekedar menjadi ibunya.
__ADS_1
David Chang menggenggam tangan istrinya sangat erat. Memberi kekuatan untuknya. Dia juga menghapus airmata di pipi Michelle Liu. Dia seorang lelaki yang sangat mencintai istrinya. Tak perduli seburuk apa masa lalunya.