
Li Yuan Bao terlihat kesal. Panggilannya kali ini lagi-lagi tidak dijawab. Padahal sudah 146 kali dia melakukan panggilan dan 213 pesan yang dia kirim. Tapi tak satu pun yang mendapat balasan.
Sudah lebih dari dua minggu Li Yuan Bao merasa diabaikan oleh Xiao Ling, dan itu membuatnya hampir gila. Gadis itu seolah-olah menghindarinya, tanpa dia tahu apa penyebabnya. Setiap pagi, dia menunggu Xiao Ling di jalan besar tempat pertemuan mereka. Tapi lebih dari setengah jam gadis itu tidak juga muncul. Di sore hari, dia mencari Xiao Ling di galeri seni tapi teman kerjanya bilang gadis itu sudah pulang. Dia sempat bertanya pada Xiao Lung, dan jawabannya tidak ada apa-apa. Seolah-seolah mereka sepakat untuk menyembunyikan sesuatu darinya.
Waktu sudah menunjukkan pukul 22.30. Li Yuan Bao masih duduk di depan meja kerjanya. Kantor sudah sepi. Lampu-lampu sudah dipadamkan. Karyawan yang lain sudah pulang sejak dua jam yang lalu. Tapi dia masih belum ingin beranjak dari meja kerjanya, meski tak ada yang dia kerjakan.
Li Yuan Bao mencoba menghubungi Xiao Ling sekali lagi. Berharap gadis itu akan menjawab. Dan lagi-lagi dia kecewa. Dia meletakkan ponselnya di meja dengan lesu. Dia mencoba mengingat apakah dia melakukan suatu kesalahan. Berapa kali pun dia mengingat, dia tidak menemukan satu pun kesalahannya.
Li Yuan Bao memikirkan alasan lain yang mungkin terjadi. Mungkinkah Xiao Ling sudah bosan dengannya? Atau mungkin keluarganya sudah tahu tentang hubungan mereka dan menentangnya? Semua alasan itu sepertinya tidak mungkin. Xiao Ling tidak akan berpaling darinya dengan begitu mudahnya. Pun keluarganya, kenapa tidak merestui mereka? Sedangkan keluarganya sudah sangat mengenal Li Yuan Bao. Jadi kedua alasan itu dicoret dari kemungkinan. Lalu apa alasannya?
Suara getar ponsel di meja membuyarkan lamunan Li Yuan Bao. Dengan cepat dia meraih ponselnya. Senyum mengembang di wajahnya. Satu pesan dari Xiao Ling.
Ayo kita bertemu. Aku akan menunggumu di pinggir sungai Zhu Jiang jam tujuh malam besok.
***
Li Yuan Bao dan Xiao Ling duduk di dalam mobil di tepi sungai Zhu Jiang. Sudah cukup lama mereka disana, tapi sepatah kata pun belum keluar dari mulut keduanya. Mereka masih saling membisu.
Di luar mobil, suasana cukup ramai orang-orang berlalu lalang. Ada yang sedang berolahraga, berlari-lari kecil dengan earphone yang menempel di kedua daun telinga. Ada pula beberapa pasangan yang duduk di bangku pinggir sungai dan saling tertawa ataupun bercanda. Ada juga yang sedang berjalan-jalan bersama pasangan ataupun hewan kesayangannya.
Xiao Ling tertunduk sambil menautkan kedua ibu jari tangannya. Dia sangat bingung. Dia tidak tahu harus mulai dari mana. Apa yang harus dia katakan pada pria di sebelahnya. Mengatakan semuanya ternyata tidak semudah perkiraannya.
“Ada apa?”, suara Li Yuan Bao memecah keheningan.
Dengan kepala yang masih tertunduk, Xiao Ling bersuara. “Ayo kita putus.” Akhirnya kalimat itu yang terucap. “Aku mohon, kau menikahlah dengan kakakku.”
Pupil mata Li Yuan Bao membesar. Dia tidak bisa mencerna apa maksud ucapan Xiao Ling.
“Kenapa aku harus menikah dengan Xiao Lung?”
Xiao Ling tidak menjawab.
__ADS_1
Li Yuan Bao memegang pundak Xiao Ling. “Lihat aku!”
Xiao Ling mengangkat wajahnya perlahan. Dia menatap lekat kedua mata Li Yuan Bao. Yang akhirnya membuatnya tidak sanggup lagi menahan airmata. “Karena kakak menyukaimu.” Dia mulai meneteskan airmata.
“Tapi aku menyukaimu. Kau juga menyukaiku. Kenapa aku harus menikah dengan dia?”
“Karena aku akan pergi jauh. Aku tidak akan kembali ke sini.” Xiao Ling semakin terisak. Dia tidak bisa menguasai dirinya.
Li Yuan Bao memeluk tubuh Xiao Ling erat. Tangannya membelai rambut panjang milik gadis itu. “Kau akan pergi kemana? Aku akan menemanimu. Kemana pun itu.”
Tangis Xiao Ling semakin tak terbendung. Li Yuan Bao semakin erat memeluknya. Xiao Ling menumpahkan semua airmatanya. Cukup lama mereka seperti itu. Sampai Xiao Ling merasa siap untuk melanjutkan percakapan mereka. Bagaimanapun, perpisahan yang akan terjadi. Dan tentu saja itu terasa sulit bagi Xiao Ling.
“Aku ingin mencari ibu kandungku.” Lanjut Xiao Ling setelah dia sudah kembali tenang. Sudah tak lagi menangis.
Li Yuan Bao kembali tersentak. Sepertinya malam ini dia harus menyiapkan mentalnya untuk menerima banyak kejutan.
“Aku bukan anak kandung dari keluarga Xiao. Aku hanya anak angkat.”
Li Yuan Bao diam tanpa berkata. Dia mendengarkan semua penjelasan Xiao Ling sampai selesai.
“Kemana kau akan mencarinya?”
“Mama bilang ibuku di San Fransisko. Aku akan mencarinya ke sana.”
“Aku akan menemanimu kesana. Aku akan ikut mencari ibumu.”
“Tidak ge ge. Aku ingin kau menikah dengan kakakku.”
Li Yuan Bao mengusap kasar wajahnya dengan telapak tangan. Dia masih tidak mengerti. Kenapa Xiao Ling bersikeras memaksanya menikah dengan Xiao Lung. “Kenapa aku harus menikah dengannya?”
“Karena aku ingin kakakku bahagia?”
__ADS_1
“Lalu aku? Bagaimana denganku? Apa kau pikir aku bisa bahagia jika menikah dengan orang yang tidak aku cintai? Apa kau pikir kakakmu akan bahagia?”
“Maka dari itu, aku mohon padamu bahagiakan kakakku. Tolong cintai dia.” Xiao Ling memegang telapak tangan Yuan Bao. “Aku mohon ge ge.”
Li Yuan Bao balas menggenggam tangan Xiao Ling. “Ayo kita ke rumahmu. Aku akan mengatakan pada keluargamu bahwa aku mencintaimu. Aku akan melamarmu. Mereka pasti mengerti.”
“Tidak ge ge.”
“Kenapa?” suara Li Yuan Bao meninggi. Dia merasa frustasi. “Kenapa kau harus melakukan ini?”
“Setidaknya aku harus berkorban untuk keluarga yang sudah merawatku dengan tulus. Setidaknya aku bisa berterima kasih pada mereka.”
“Apa keluargamu yang memaksamu untuk melakukan ini?”
“Tidak. Ini semua keinginanku sendiri.”
“Apa kau sudah tidak mencintaiku lagi?”
“Aku mencintaimu, tapi aku lebih menyayangi keluargaku. Aku mohon mengertilah.”
“Bagaimana jika aku hanya bisa mencintaimu? Bagaimana jika aku tidak bisa mencintai Xiao Lung?” Li Yuan Bao berusaha mempengaruhi Xiao Ling agar berubah pikiran.
“Kumohon berusahalah ge ge. Cintai kakakku. Dan perlahan cobalah untuk melupakan aku. Aku yakin cinta ini akan memudar seiring berjalannya waktu. Aku juga akan melupakanmu.”
Li Yuan Bao kesal tapi dia tidak bisa berbuat apapun. Dia tidak bisa merubah keputusan Xiao Ling. Tekad gadis itu begitu kuat. “Baiklah. Aku akan melakukan keinginanmu. Aku akan berusaha, jika kau berjanji satu hal, kau harus hidup bahagia dimanapun kau berada.”
Xiao Ling mengangguk. “Terima kasih ge ge. Aku pulang sekarang.”
“Aku akan mengantarmu.”
“Tidak perlu. Aku pulang sendiri saja.”
__ADS_1
Xiao Ling keluar dari mobil dan pergi meninggalkan Li Yuan Bao sendiri dengan semua gemuruh dalam dadanya. Dia masih diam di dalam mobilnya. Pikirannya kacau. Hatinya sedih, jika harus berpisah seperti ini. Perpisahan ini sama sekali bukan keinginannya. Tapi tak ada jalan lain baginya. Jika seperti itu keinginan gadis yang dia cintai, dia akan berusaha untuk melakukannya. Dia melepas bebannya dengan memukul kemudi dengan kedua tangannya dan berteriak.
“Aaaaaaarrrrrrgh.”