
“Apa kau sudah bosan hidup?”
Suara keras Daniel Chang menyadarkan Xiao Ling. Dia masih berada dalam dekapan pria itu. Jantungnya berdetak tak beraturan. Dirinya masih begitu terkejut. Dia pasti sudah terluka jika Daniel Chang tidak menyelamatkannya tepat waktu.
“Kau baik-baik saja?”
Xiao Ling melepaskan diri dari pelukan Daniel Chang. Dia berusaha berdiri, tapi kakinya masih lemas. Badannya sempoyongan. Dengan sigap Daniel Chang memegang tangannya saat hampir jatuh.
“Aku tidak apa-apa.”
“Ayo kita duduk disana.” Daniel Chang menunjuk bangku di taman yang tidak jauh dari mereka berdiri. Dia masih memegangi tangan Xiao Ling, berjaga-jaga bila gadis itu hilang keseimbangan.
“Aku bisa sendiri.” Xiao Ling melepaskan tangannya dan berjalan sendiri. Daniel Chang mengikutinya dari samping, bersiap jika langkah gadis itu goyah.
“Kau tunggulah disini. Aku akan membeli air minum.” Ucap Daniel Chang saat gadis itu sudah duduk. Dia pergi ke toko di seberang, tak lama dia sudah kembali lagi. “Minumlah. Supaya kau lebih tenang.” Dia memberikan sebotol air mineral.
“Terima kasih.”
“Apa yang kau lakukan tadi?” Daniel Chang duduk di sebelah Xiao Ling. Dia meneguk air soda yang juga dia beli tadi. “Kau berniat bunuh diri?”
“Tentu tidak. Kenapa aku harus seperti itu?”
“Lalu apa?”
Xiao Ling kembali meneguk air dalam botol. “Aku sepertinya melihat seseorang. Jadi aku mengikutinya.”
“Siapa?” Daniel Chang penasaran.
“Ibuku.” Xiao Ling menghela napas. “Tapi mungkin aku salah lihat.”
Daniel Chang melihat rasa kecewa yang terpancar dari mimik wajah Xiao Ling. Dia belum tahu alasan dibalik pencarian gadis itu. Dan saat ini dia ingin tahu. “Kenapa kau ingin sekali menemukan ibumu?”
Xiao Ling terdiam. Jawaban apa yang harus dia berikan, sedangkan dia sendiri tidak begitu yakin kenapa dia ingin menemukan ibu kandungnya. “Entahlah.”
Daniel Chang mengernyitkan keningnya.
“Mungkin aku ingin tahu, kenapa dia menelantarkan aku.” Lanjut Xiao Ling. “Apa alasannya membiarkan aku dirawat oleh keluarga lain. Atau mungkin aku ingin tahu latar belakangku. Aku juga tak yakin.”
Daniel Chang sedikit heran dengan semua penjelasan Xiao Ling.
Seakan tahu yang pria ini pikirkan, Xiao Ling kembali berucap. “Bukankah ini lucu? Aku saja tidak yakin alasanku, kenapa aku jauh-jauh mencarinya sampai ke sini.”
Daniel Chang menggeleng pelan. Meskipun gadis ini sedikit tidak masuk akal, dia masih ingin mengenalnya lebih jauh.
“Sejak kapan ibumu meninggalkanmu?”
__ADS_1
“Sejak aku dilahirkan. Dia memberikanku pada keluarga Xiao.”
“Lalu… sejak kapan kau tahu tentang keluargamu yang sebenarnya?”
Xiao Ling memandang Daniel Chang, heran. Kenapa hari ini pria ini banyak pertanyaan tentang dirinya? Bukankah awalnya dia tidak peduli. Bukankah dia hanya membantunya tanpa tahu alasan di balik itu semua. “Kenapa kau ingin tahu semua itu sekarang?”
“Aku hanya ingin lebih tahu semua tentangmu.”
“Kenapa?”
Daniel Chang menatap mata Xiao Ling. “Mungkin … karena aku ingin lebih dekat denganmu.”
Xiao Ling dan Daniel Chang saling mengunci pandangan cukup lama. Bayangan wajah mereka terlihat di dalam bola mata masing-masing. Entah apa yang dirasakan Daniel Chang, tapi Xiao Ling merasa hatinya berdebar begitu hebat. Dia segera memalingkan pandangannya, takut pada perasaannya sendiri.
“Aku ingin kita menjadi teman yang saling berbagi cerita.” Daniel Chang tidak ingin terburu-buru mengambil kesimpulan tentang perasaannya. Dia juga ingin pelan-pelan mendekati dan mengambil hati Xiao Ling.
“Baiklah. Aku tidak keberatan untuk berteman denganmu.” Xiao Ling tersenyum.
Daniel Chang pun ikut tersenyum. Dia kemudian berdiri. “Ayo kita kembali. Hari sudah mulai sore. Kita harus melihat festival sampai selesai.”
Daniel Chang dan Xiao Ling bergabung dengan keramaian. Mereka berdiri di tengah kerumunan untuk menyaksikan setiap pertunjukan. Kemudian beralih ke pertunjukan yang lain. Daniel Chang menggandeng tangan Xiao Ling, agar mereka tidak terpisah ditengah keramaian.
“Lelah?” Daniel Chang bertanya pada Xiao Ling. Mereka sudah duduk di bangku taman setelah berkeliling melihat festival.
Daniel Chang mengangguk. “Aku sangat menyukai festival bulan. Aku tak pernah melewatkannya.”
“Kenapa?”
“Ehm…” Daniel Chang diam sejenak. “Karena ini tradisi nenek moyang. Selain itu, aku bisa bertemu banyak orang. Meskipun tak saling kenal, mereka saling menyapa dan berkumpul. Karena mereka satu, berasal dari tempat yang sama.”
“Sejak kapan kau tinggal disini?”
“Dimana? Chinatown?” Daniel Chang memperjelas pertanyaan Xiao Ling.
“Iya.”
“Aku lahir di San Fransisko. Dan dua tahun yang lalu aku pindah ke Chinatown.”
“Aku kira kau lahir di China.”
“Tidak. Sebenarnya aku ingin sekali tinggal disana. Tapi orangtuaku tidak mengijinkan.”
“Kenapa?”
Daniel Chang melihat gadis yang duduk di sampingnya. Sepertinya Xiao Ling mulai ingin tahu banyak tentangnya, dan dia tidak keberatan. Inilah alasannya berteman dengan gadis ini. “Karena aku putra tunggal. Mereka tidak ingin aku jauh dari mereka.”
__ADS_1
Xiao Ling mendengarkan Daniel Chang bercerita dengan seksama.
“Untuk tinggal disini saja butuh perjuangan yang tidak sedikit. Aku harus merayu dan berkali-kali meminta persetujuan mereka. Sampai akhirnya mereka mengatakan boleh.”
“Kenapa kau ingin tinggal sendiri? Bukankah lebih menyenangkan tinggal bersama keluargamu?” Xiao Ling terbesit satu kemungkinan. “Apa mungkin kau ingin hidup bebas tanpa aturan orangtua?”
Daniel Chang menangkap maksud kata ‘bebas’ yang dimaksud Xiao Ling. “Jika maksudmu dengan hidup sendiri aku bisa bebas membawa gadis ke kamar, bukan seperti itu.”
Xiao Ling tidak percaya. “Lalu?”
“Aku hanya ingin hidup dengan caraku sendiri. Papaku selalu memaksaku untuk bekerja di perusahaan. Aku hanya berpikir belum saatnya. Aku masih ingin menikmati hidup. Tidak terlalu memusingkan pekerjaan.”
“Bukankah bagus untuk bekerja dan mempersiapkan masa depan dengan matang?”
“Kau pikir aku pengangguran?” Daniel Chang mengangkat sebelah alisnya. “Aku seorang programer di sebuah perusahaan game. Aku tidak suka terikat dengan jam kerja, jadi aku memilih bekerja dari rumah.”
Xiao Ling mengangguk mengerti. Dia baru sadar jika dia sama sekali tidak tahu apapun tentang Daniel Chang. Sejak awal dia salah menyimpulkan tentang pria itu.
“Aku suka hidup lepas. Pergi kemanapun yang aku mau. Ke tempat-tempat bagus. Bali. Yunani. Swiss. Korea. Jepang. Dan juga tempat leluhurku, China.”
“Kau belum pernah ke China?”
“Pernah, sekali.” Daniel Chang melirik Xiao Ling yang sedang serius mendengarkan ceritanya. “Saat aku umur enam atau tujuh tahun. Mama mengajakku ke China, entah dimana tepatnya.”
“Kau mengunjungi keluarga mamamu?”
“Tidak.” Daniel Chang menghela napas. “Kami hanya berdiri di depan sebuah rumah. Dan saat ada dua anak perempuan datang, kami bersembunyi. Mama terus memandang salah satu anak perempuan itu. Dan dia menangis.”
“Kenapa?”
“Aku juga tak tahu.” Daniel Chang benar-benar tak tahu alasannya. Hanya saja kejadian itu masih terekam jelas dalam ingatannya. Kesedihan yang terpancar dari wajah mamanya, masih teringat jelas dalam hatinya.
Tanpa mereka sadari, hari mulai gelap. Keramaian juga berangsur sepi. Orang-orang mulai bergerak pulang ke rumah masing-masing. Satu per satu stand mulai dirapikan. Pertunjukan demi pertunjukan telah selesai digelar. Perayaan bulan telah usai.
“Ayo kita pulang.” Ajak Xiao Ling.
Daniel Chang melihat sekeliling, sudah sepi. Dia tak sadar jika sudah berjam-jam duduk disana. Berbagi cerita dengan teman ‘barunya’. “Acara belum selesai.”, ucapnya.
“Apa maksudmu?” Xiao Ling tidak mengerti. “Lihatlah. Semua sudah dibereskan.” Dia menunjuk sekeliling.
“Masih ada satu acara yang menarik.”
“Apa?” Xiao Ling penasaran.
“Kau juga akan tahu.” Daniel Chang mengedarkan pandangannya, mencari sesuatu sambil berucap, “Tapi kita butuh sesuatu…. Itu.” Dia menunjuk stand makanan yang sedang dirapikan. “Kita butuh kue bulan.” Dia mengajak Xiao Ling membeli kue bulan dan berpindah tempat untuk acara selanjutnya.
__ADS_1