Mid-Autumn In San Francisco

Mid-Autumn In San Francisco
Bab 7


__ADS_3

Xiao Ling berada di dalam kamarnya sedang menata barang-barang yang akan dia bawa ke San Fransisko. Dia memasukkan beberapa baju ke dalam koper. Dia sudah mengantar surat pengunduran dirinya minggu kemarin. Tiket penerbangan juga sudah dia peroleh. Jadwalnya minggu depan. Dia sudah membeli buku wisata


Chinatown untuk memudahkannya saat berada disana nanti. Dia merasa tidak perlu kursus Bahasa Inggris, karena dia sudah sering berbincang dengan turis di galeri. Dia merasa Bahasa Inggrisnya lumayan. Sepertinya semuanya sudah siap.


Tok tok tok.Seseorang mengetuk pintu kamarnya.


“Masuk.”


Ternyata Xiao Lung yang ada di balik pintu. Dia masuk dan duduk di kursi yang berada di samping tempat tidur. Dia memperhatikan adiknya yang tengah sibuk mempersiapkan kepergiannya. “Apakah kau harus pergi, mei mei?”


“Tentu saja. Aku ingin tahu seperti apa wajah ibuku.”, jawab Xiao Ling yang terlihat sangat sibuk.


“Apa perlu aku menemanimu?”


“Tidak perlu.” Xiao Ling melihat kakaknya. “Bagaimana dengan pekerjaan jie jie kalau menemaniku? Bagaimana dengan Yuan Bao ge ge?”


Xiao Lung jadi salah tingkah. Dia tidak tahu kalau Xiao Ling tahu tentang perasaannya pada Li Yuan Bao. Seingatnya, dia belum pernah mengatakan itu pada adiknya. Lalu, darimana Xiao Ling tahu? Ah… mungkin dari mama atau dari nenek.


Xiao Lung mengambil sebuah buku di meja. Dia membuka-buka halaman buku itu. Pura-pura membacanya, namun matanya melirik adiknya. “Bagaimana kau tahu tentang Yuan Bao?”, tanyanya malu-malu.


Xiao Ling menghentikan kesibukannya dan duduk mendekati kakaknya. “Aku adikmu, pasti aku tahu apa yang kakak rasakan. Semua terlihat jelas di wajahmu.”


“Benarkah?” Xiao Lung memegang kedua pipinya. Apakah benar wajahnya memperlihatkan perasaannya? Bagaimana kalau selama ini Li Yuan Bao mengetahui perasaannya dari wajahnya? Dia pasti sangat malu. Tapi mungkin juga pria itu tidak tahu. Ah… terserah.


Xiao Ling memeluk kakaknya. “Aku mendoakan agar kakak bahagia bersama Yuan Bao ge ge.”


“Terima Kasih Ling’er.” Xiao Lung membalas pelukan Xiao Ling lebih erat. “Kau harus pulang dan menemaniku kalau nanti aku menikah dengan Yuan Bao.”

__ADS_1


Xiao Ling melepas pelukannya. Dia sebisa mungkin tersenyum, meski hatinya menangis. “Tentu saja.” Secepatnya, dia mengalihkan pandangannya. Dia kembali sibuk menata kopernya untuk menutupi perasaannya yang sebenarnya. Hatinya tentu masih sakit. Dia meredamnya sekuat tenaga agar tidak meneteskan airmata. Agar kakaknya tidak tahu.


“Oh ya, kakak hampir lupa. Sepupu Jane tinggal di Chinatown. Aku sudah mengirim email padanya. Aku mengatakan jika kau akan ke sana. Kau bisa tinggal bersama dia.”


“Apa tidak merepotkan?” Xiao Ling merasa tak enak kalau membebani orang lain.


“Tentu tidak. Dia sangat antusias menunggu kedatanganmu. Kau tidak perlu sungkan padanya.”


“Baiklah.”


Nanti aku berikan alamatnya padamu. Kau masih punya nomor teleponnya?”


Xiao Ling mengangguk. “Masih.”


“Silahkan lanjutkan kesibukanmu. Aku mau kembali ke kamarku.”


Xiao Ling memandangi punggung Xiao Lung yang berlalu. Dia kembali berpikir, apakah ini keputusan yang tepat? Haruskah dia mencari ibu yang tidak pernah dia kenal? Secepatnya dia menggeleng. Memang ini yang harus dia lakukan. Mencari ibu kandungnya hanya sebuah alasan. Dia hanya ingin menjauh dari Li Yuan Bao agar pria itu bisa bersama dengan kakaknya. Dia harus mengalah demi kebahagiaan Xiao Lung. Hanya itu.


***


Xiao Ling sudah berada di bandara dan siap untuk terbang ke San Fransisko. Seluruh anggota keluarga mengantarnya, kecuali nenek. Xiao Lung sebenarnya sudah mengajak nenek, tapi beliau tetap tidak mau ikut. Akhirnya mereka hanya pergi berempat. Xiao Ling memeluk keluarganya satu per satu.


“Hati-hati sayang. Cepatlah pulang.” bisik Shi Yen Xing di telinga Xiao Ling.


“Jaga kesehatan. Jangan melewatkan waktu makan.” Pesan Xiao Guo sambil mencium puncak kepala putrinya.


“Aku sangat menyayangimu, Ling’er. Aku akan menyusulmu nanti.” Ucap Xiao Lung.

__ADS_1


Xiao Ling memandang satu per satu anggota keluarganya dengan senyuman. “Aku akan baik-baik saja. Tetap jaga kesehatan. Aku akan sangat merindukan kalian.”


Xiao Ling berjalan masuk ke pintu check in. Tepat di depan pintu, dia berhenti sejenak dan melambaikan tangan pada keluarganya. Keluarganya membalas lambaian tangan dengan wajah sendu. Mama terlihat sudah meneteskan airmata. Xiao Ling tidak tahan melihatnya, dia  kemudian kembali berjalan dan menghilang di tengah kerumunan penumpang lain.


Setelah check in, dia duduk di kursi ruang tunggu sambil menunggu panggilan untuk masuk ke dalam pesawat. Jadwal penerbangannya sekitar empat puluh lima menit lagi. Dia mengambil ponsel dari dalam sling bagnya. Cukup lama dia hanya memandangi layar ponselnya. Dia ingin menghubungi Li Yuan Bao, tapi hatinya menolak. Dia takut akan goyah bila mendengar suara pria itu. Dia menghela napas. Dan akhirnya, dia mengirim pesan pada Li Yuan Bao. Setidaknya, dia harus mengucapkan selamat tinggal.


Aku pergi ge ge.


***


Li Yuan Bao berada di ruang tunggu keberangkatan bandara sejak satu setengah jam yang lalu. Dia sengaja datang lebih awal untuk melihat wajah Xiao Ling untuk yang terakhir kali. Karena mungkin dia tidak bisa bertemu dengan gadis itu di kemudian hari.


Setelah menunggu selama tiga puluh menit, Li Yuan Bao melihat Xiao Ling datang bersama keluarganya. Dia berniat menyapanya, tapi urung dilakukan. Dia takut akan mengaku bahwa dia mencintai gadis itu dan melamarnya. Atau dia akan meraih tangan gadis itu dan membawanya kabur. Karena sesungguhnya, jauh dalam


lubuk hatinya dia tidak pernah merelakan gadis itu pergi. Pun dia tidak pernah berniat melepaskannya.


Tapi janji tetaplah janji. Li Yuan Bao sudah berjanji. Dan sebagai pria sejati sudah sepatutnya dia menepatinya. Jika dia memaksakan keinginannya, dia takut Xiao Ling malah akan membencinya. Sementara ini, dia akan membiarkan semuanya berjalan seperti kehendak Xiao Ling.


Li Yuan Bao menyaksikan adegan demi adegan dari kejauhan. Mulai dari Xiao Ling berpelukan dengan keluarganya. Lambaian tangannya. Dan menghilangnya gadis itu di tengah keramaian.


Li Yuan Bao menghela napasnya dengan berat. Saat beranjak dari duduknya, dia merasakan getaran dari saku celananya. Dia membuka satu pesan yang masuk keponselnya.


Aku pergi ge ge


Pesan itu dari Xiao Ling.


Hati-hati. Aku masih menunggumu seandainya kau berubah pikiran. Balas Yuan Bao.

__ADS_1


Jangan menungguku. Pastikan saja kau menepati janjimu padaku.


Li Yuan Bao tidak lagi membalas pesan Xiao Ling. Dia mengembalikan ponselnya ke dalam saku celana dan berjalan keluar dari ruang bandara. Dia memutuskan untuk pulang. Dia sadar, saat ini dia tidak punya kesempatan untuk bersama Xiao Ling. Dia akan menunggu, seandainya waktu yang berlalu akan berkata lain. Dia tetap berharap dia bisa bersama gadis itu di lain hari. Saat kesempatan itu tiba, dia bertekad untuk membuat Xiao Ling tetap berada disisinya. Dia tidak akan melepaskan gadis itu pergi dari hidupnya. Semoga kesempatan itu datang padanya.


__ADS_2