
Daniel Chang merebahkan tubuhnya di atas kasur setelah mengantar Xiao Ling ke apartemennya. Matanya terus berkedip-kedip menatap langit kamarnya. Dia belum berniat untuk tidur. Dia hanya ingin seperti itu sejenak. Memikirkan apa yang baru saja dia lakukan. Dia terlalu jujur dengan berkata bahwa gadis itu cantik, walau sebenarnya dia memang cantik.
Daniel Chang mengambil ponselnya dari atas meja. Dia ingat jika memiliki nomor Xiao Ling. seharian bersama gadis itu ternyata masih kurang baginya. Dia masih ingin mendengar suara Xiao Ling.
Setelah cukup lama berbincang, Daniel Chang meletakkan ponselnya kembali ke tempatnya tadi. Beberapa
saat kemudian seseorang membunyikan bel. Dia bangkit dengan malas. Dia sudah bisa menduga siapa yang datang ke apartemennya selarut ini.
“Hai Daniel.”
Seperti dugaan Daniel Chang. Jessica berdiri bersandar tembok. Dan seperti malam-malam yang lalu, dia mabuk. Tanpa aba-aba, gadis itu langsung masuk ke kamar Daniel Chang dengan sempoyongan. Dia melepas baju dan celana panjang yang melekat di tubuhnya, lalu melemparkannya sembarangan di lantai. Kemudian masuk ke dalam
selimut dan tidur di tempat tidur Daniel Chang.
Daniel Chang hanya melihat semua tingkah temannya itu. Dia sudah terbiasa dengan ini. Hanya dia masih heran, kenapa Jessica selalu pulang ke apartemennya setiap kali mabuk. Padahal dia juga memiliki apartemen sendiri yang jauh lebih nyaman.
Daniel Chang mengambil satu bantal di sebelah kepala Jessica dan selimut dari dalam lemari. Seperti malam-malam yang lain, dia akan tidur di sofa depan televisi. Dia bukan pria brengsek yang mengambil keuntungan dari seorang gadis mabuk yang tidur di apartemennya hanya untuk memuaskan dirinya.
Daniel Chang mengerjap-ngerjapkan kelopak matanya saat sinar matahari yang menembus tirai jendela mengenai wajahnya. Dia bangun dan duduk terdiam sejenak untuk mengumpulkan semua kesadarannya. Setelah dirasa cukup, dia masuk kamar mandi dan bersiap.
Daniel Chang mengambil baju ganti di kamar. Dia menengok sejenak ke arah Jessica yang masih tertidur pulas di bawah selimut. Dia kembali masuk ke kamar mandi untuk berpakaian.
“Kau mau kemana?” Tanya Jessica dengan suara serak. Dia baru saja membuka matanya dan melihat Daniel Chang sedang menyisir rambutnya. Dia tahu jika pria itu akan pergi ke suatu tempat karena melihatnya sudah rapi dan mencium wangi parfum dari badan Daniel Chang.
“Aku mau mengunjungi orangtuaku.”
“Boleh aku ikut?”
“Tidak.” Jawab Daniel Chang tegas.
“Kenapa? Kau bisa mengenalkanku sebagai pacarmu.”
Daniel Chang terkekeh. “Aku tidak suka berbohong.”
Jessica kecewa. Padahal dia benar-benar ingin bertemu dan berkenalan dengan orangtua Daniel Chang.
“Pakai pakaianmu. Aku sudah membuatkan teh madu untukmu.”
Daniel Chang berjalan ke arah dapur. Duduk di kursi dan menikmati secangkir kopi. Tak lama Jessica datang dan duduk di depannya. Meminum teh yang sudah dibuatkan Daniel Chang untuk mengobati mabuknya.
“Semalam kau minum dengan siapa?” Tanya Daniel Chang tanpa melihat lawan bicaranya.
“Teman-temanku di klub.”
“Kau menyetir sendiri ke sini?” Dengan nada suara yang datar.
“Aku naik taksi. Aku meninggalkan mobilku di klub.”
“Kenapa kau ke sini? Kenapa tidak pulang ke apartemenmu sendiri?”
__ADS_1
Jessica tidak menjawab. Dia heran kenapa pagi ini Daniel Chang begitu cerewet, banyak pertanyaan. Bukankah sudah sering dia pulang ke apartemen pria ini? Dan Daniel Chang tidak mempermasalahkannya. Kenapa hari ini tidak begitu?
“Hallo, Papa.”Jessica berbicara di telepon. “Oh Tuhan aku lupa. Aku akan segera pulang.”
Jessica menghabiskan teh-nya dengan buru-buru.
“Kenapa?”
“Aku lupa kalau pagi ini aku akan sarapan bersama keluargaku.” Jessica berlari ke kamar mengambil tasnya. Kemudian berjalan cepat ke arah pintu keluar apartemen.
Daniel Chang mengikutinya. “Perlu aku antar ke klub untuk mengambil mobilmu?”
Jessica membuka pintu sambil menjawab, “Tidak perlu. Aku naik taksi saja.”
“Baiklah. Hati-hati.”
Daniel Chang melihat Jessica meninggalkan apartemennya dengan buru-buru. Saat dia akan menutup pintu dan kembali masuk, dia menoleh ke arah apartemen Jane Wang. Dia melihat Xiao Ling sedang berdiri di depan apartemen.
Untuk beberapa saat, Daniel Chang dan Xiao Ling saling memandang. Daniel Chang merasakan ada yang lain dari tatapan gadis itu. Pandangannya lebih seperti sebuah kilatan.
Daniel Chang mulai menebak arti dari tatapan tajam dari gadis yang sedang berdiri itu. Xiao Ling pasti berpikir dirinya sedang mempermainkannya. Benar saja. Semalam dia mengatakan bahwa Xiao Ling cantik. Dan pagi harinya seorang wanita lain keluar dari dalam apartemennya. Sekali lagi, Xiao Ling salah paham terhadapnya.
“Selamat pagi Daniel.” Jane Wang tiba-tiba keluar dari apartemennya. Dia dan Xiao Ling berjalan ke arah Daniel Chang. “Kau akan pergi?”
“Iya.” Mata Daniel Chang tak lepas dari Xiao Ling. Dan gadis itu hanya diam membisu tanpa senyum di wajahnya.
“Kemana?”
Xiao Ling bukannya tidak tahu jika Daniel Chang memandangnya sejak tadi. Hanya saja dia sedang tidak ingin berbicara dengan pria itu. Dia kemudian memalingkan wajahnya.
“Aku dengar kau akan mengantar Xiao Ling mencari ibunya?”
“Iya. Besok.” Daniel Chang merasa jika Xiao Ling tidak nyaman karena terus dia pandangi, dia pun beralih menatap Jane Wang. “Kalian mau kemana?”
“Kami mau makan di luar. Kau mau bergabung sebelum pergi?”
“Tidak, terima kasih. Mamaku pasti sudah memasak untukku.”
“Baiklah. Oh ya, terima kasih karena mau membantu Ling’er. Akan aku beri tiket gratis untuk pertunjukanku bulan depan.”
“Dimana?”
“Di gedung teater Chinatown. Kami akan menampilkan cerita Sampek Engtay.”
“Benarkah?” Daniel Chang tersenyum. “Aku pasti akan menggunakan tiket gratis darimu dengan baik.”
“Kau butuh dua tiket? Ingin mengajak seseorang mungkin?” Nada Jane Wang sedikit menggoda.
Tentu saja Daniel Chang sangat paham arti kata ‘seseorang yang dimaksud Jane Wang. “Satu saja cukup. Aku akan pergi dengan sepupumu.”
__ADS_1
Jane Wang merasakan getaran aneh antara dua orang di dekatnya. Tapi sudahlah. Mereka sudah sama-sama dewasa. “Kalau begitu kami pergi dulu.”
Xiao Ling berlalu dari hadapan Daniel Chang tanpa menoleh kepadanya.
***
Xiao Ling sejak tadi hanya memandangi sambil mengaduk mangkuk di depannya. Dia sedang kesal. Dia merasa dipermainkan oleh Daniel Chang. Meskipun tidak semuanya murni kesalahan pria itu. Dia juga bersalah, kenapa begitu mudahnya terbawa perasaan hanya karena kata ‘cantik’. Tapi sebentar, jika seorang pria memujinya bukankah pria itu merasakan sesuatu terhadapnya. Bukankah pria itu memiliki perasaan padanya. Walau sebatas tertarik.
Xiao Ling menghela napas. Dia benar-benar tidak mengerti apa yang ada dalam pikiran Daniel Chang.
“Kau kenapa?” Jane Wang melihat Xiao Ling hanya memandangi sup nya. Sepupunya itu tidak memakannya sedikitpun. “Apa yang kau pikirkan?”
“Tak ada.” Jawab Xiao Ling datar.
“Kalau tak ada, cepat makan supmu. Sebelum dingin.”
Xiao Ling memasukkan sesendok ke dalam mulutnya sambil terus berpikir. Mungkin dia perlu
menceritakan ini pada sepupunya. “Jie…”
“Hmm”
Xiao Ling diam. Hatinya maju mundur apakah perlu bercerita atau tidak.
“Menurutmu… kalau seorang pria mengatakan cantik pada seorang wanita, apa maksudnya itu?”
“Dia menyukai wanita itu.” Jawab Jane Wang ringan.
“Tapi… kemudian, pria itu bersama wanita lain.”
“Siapa? Jane Wang memandang sepupunya. “Pria itu Daniel? Tebak Jane Wang.
“Bukan.” Xiao Ling menutupi. “Bukan dia.”
“Lalu siapa yang berkata seperti itu padamu?”
Xiao Ling tidak menjawab.
“Sebaiknya kau jangan berhubungan dengan pria seperti itu. Dia hanya akan membuatmu patah hati. Mengerti?”
Xiao Ling mengangguk. Mungkin benar apa yang dikatakan sepupunya. Lebih baik dia tidak terlalu memikirkan Daniel Chang.
“Ngomong-ngomong, kau lihat foto ibuku?” Xiao Ling teringat akan hal itu. Foto itu akan berguna besok, saat dia kembali mencari ibunya.
“Tidak. Dimana kau meletakkannya?”
“Seingatku di laci dalam mobilmu.”
“Coba nanti aku cari di mobil.”
__ADS_1
“Iya. Terima kasih.”