
Chinatown hari ini berwarna merah. Lampion tergantung di sepanjang jalan. Petasan berbunyi di sudut-sudut bangunan. Stand-stand berderet menjual berbagai macam barang, mulai dari makanan khas festival, ornamen, baju, sepatu dan lainnya. Alunan suara barongsai mulai menggema dari segala penjuru. Orang-orang turun ke jalan utuk menyaksikan keramaian festival.
Xiao Ling melihat keramaian Chinatown dari balkon apartemen. Sudah lama dia berdiri disana. Dia tersenyum ketika melihat anak-anak yang bermain dengan riangnya. Kegembiraan anak-anak dalam menyambut Moon festival menghangatkan hatinya.
“Kau tidak turun?” Suara Jane Wang mengalihkan perhatian Xiao Ling. “Ayo kita ikut merayakan festival.” Jane Wang sangat bersemangat. Dia sudah siap untuk menikmati keramaian di bawah.
“Aku melihat dari sini saja.” Xiao Ling tidak se-antusias sepupunya itu.
“Ayolah Ling’er. Jarang-jarang kau bisa menikmati festival seperti ini di luar.” Desak Jane Wang. “Ini akan sangat berbeda dari festival yang biasa kau lihat di China.”
“Baiklah.” Xiao Ling menuruti ajakan sepupunya itu. Tidak ada salahnya untuk melihat. “Aku ambil tas di kamar dulu.”, ucapnya beranjak dari balkon.
“Tunggu sebentar.” Jane Wang melihat Xiao Ling dengan seksama. “Kau pergi seperti ini?”
“Kenapa?”
“Lihatlah dirimu?” Jane Wang menunjuk sepupunya.
Xiao Ling ikut melihat pada dirinya sendiri. “Apa yang salah?” Dia tidak menemukan hal yang aneh pada dirinya.
“Kau akan pergi dengan pakaian seperti ini?” Jane Wang menunjuk pada baju lengan pendek dan celana panjang yang dipakai Xiao Ling. “Tidak bisa. Ayo ikut aku.”
Jane Wang menarik tangan Xiao Ling dan membawanya masuk ke kamar. “Duduklah.” Perintahnya sesaat sebelum dia membuka lemari. Dia diam sejenak kemudian mengeluarkan baju cheongsam berwarna merah. “Berdiri.” Dia
menempelkan baju di tubuh sepupunya. Bajunya terlihat cocok. “Ganti bajumu dengan ini.”
Xiao Ling menuruti semua perintah sepupunya itu. Dia membawa baju itu dan pergi ke kamar mandi untuk berganti pakaian. Lalu dia kembali ke kamar.
Disana, Jane Wang sudah mengeluarkan make up miliknya. “Duduklah di depan cermin.” Suruhnya pada Xiao Ling. Dia mulai memoles wajah Xiao Ling. Tak lupa dia menata rambut sepupunya juga. “Selesai.”
Xiao Ling melihat wajahnya di cermin. Dia tersenyum. “Terima kasih jie.”
“Kita harus terlihat cantik dan menjadi pusat perhatian hari ini.” Jelas Jane Wang. “Ayo berangkat.”
“Iya.”
Xiao Ling mengikuti Jane Wang keluar dari apartemen. Di luar pintu, mereka berpapasan dengan Daniel Chang yang hendak masuk ke apartemennya.
__ADS_1
“Kau tidak turun ke bawah melihat festival?”, tanya Jane Wang pada Daniel Chang.
Daniel Chang terpaku menatap Xiao Ling. Dia sampai tidak mendengar pertanyaan Jane Wang. Dia baru tersadar setelah tetangganya itu kembali memanggilnya.
“Hellooo… Daniel?”
“Ha?” Daniel Chang mengalihkan pandangannya pada Jane Wang yang berdiri di sebelah Xiao Ling. “Iya… Kau bilang apa?”
“Kau tidak ikut merayakan festival? Kau biasanya tidak pernah absen.”
“Nanti. Kalian duluan. Aku ada tamu.”
“Siapa?” Suara Jane Wang sedikit menggoda. “Pacar? Yang mana?”
“Bukan.” Jawab Daniel Chang mantap sambil memandang Xiao Ling. “Orangtuaku sedang berkunjung.”
“Oooo..” Jane Wang mengangguk-angguk. “Kalau begitu kami duluan.”
Jane Wang dan Xiao Ling berjalan menuju lift.
Jalan-jalan di penjuru Chinatown sudah ramai orang-orang yang begitu antusias menyambut festival yang diadakan setiap tanggal lima belas bulan ke delapan dalam kalender China itu. Festival ini diadakan setiap tahun sebagai ucapan terima kasih kepada Tuhan. Ini adalah sebuah tradisi turun menurun yang diwariskan dari generasi ke generasi.
“Ayo kita berjalan ke sana.” Jane Wang menarik tangan Xiao Ling dan membawa sepupunya itu melihat kerumunan di seberang jalan.
Ada atraksi barongsai dan tarian khas Moon festival. Jane Wang dan Xiao Ling bergabung di dalam kerumunan dan menyaksikan setiap atraksi. Mereka ikut terhanyut dalam suasana ramai yang hangat dan penuh kekeluargaan itu.
“Jie-jie ayo kita duduk disana.” Xiao Ling menunjuk sebuah bangku kosong di dekat sebuah stand makanan. Kakinya sudah terasa kaku karena terlalu lama berdiri.
“Ayo. Kakiku juga sudah mulai kram.”
Mereka pergi dari kerumunan dan berpindah duduk di bangku.
“Kau mau minum?” Tanya Jane Wang setelah mereka berada di bangku kosong.
“Aku mau air mineral saja.”
“Tunggu disini sebentar. Aku akan membeli minum dulu.” Ucap Jane Wang sambil berlalu ke stand yang menjual minuman. “Ini.” Dia memberikan sebotol air mineral setelah kembali ke bangku yang tadi.
__ADS_1
“Terima kasih.” Xiao Ling kemudian meminum beberapa teguk air dalam botol tersebut.
“Bagaimana festival disini? Apakah sama seperti di kampung halaman kita?”
Xiao Ling mengangguk. “Aku tidak menyangka disini juga seramai ini.”
“Tradisi disini sama seperti disana. Ini agar mereka tidak merasa kesepian atau pun melupakan semua tradisi dan adat istiadat dari nenek moyang terdahulu.”
“Kau betah disini?” Tanya Xiao Ling tanpa melihat sepupunya. Matanya mengikuti setiap gerakan atau pun kerumunan yang menarik perhatiannya.
“Tentu saja. Disini sama seperti kampung halamanku dalam versi mini. Jadi aku tidak pernah merasa terasing atau pun kesepian.” Jane Wang memanggil Xiao Ling untuk menarik perhatiannya. “Ling’er?”
Xiao Ling menoleh. “Apa?”
“Kau berniat menetap disini?”
“Entahlah. Aku belum memutuskan.”
“Bagaimana kalau kau tidak bisa menemukan ibumu? Kau akan kembali ke Guangzhou?”
Xiao Ling diam sejenak. Dia belum berpikir sejauh itu. “Aku belum tahu juga.” Dia kemudian melemparkan pandangannya jauh ke seberang. Sepertinya dia melihat seseorang yang dia tahu. “Jie-jie… aku pergi sebentar.” Dia segera berlari mengejar orang itu.
“Kau mau kemana?” Suara Jane Wang sedikit berteriak.
“Aku akan segera kembali.”
Xiao Ling berjalan cepat menembus kerumunan. Dia hanya berkata maaf sambil berlalu ketika tak sengaja menabrak seseorang. Dia harus lebih cepat agar tidak kehilangan jejak. Meskipun saat melihat tadi jaraknya tidak dekat, tapi dia yakin dengan penglihatannya. Orang yang dilihatnya itu adalah ibu yang selama ini dia cari.
Xiao Ling sudah berada di depan gedung tempat wanita tadi berdiri, tapi dia sudah tidak berada disana. Xiao Ling melihat sekeliling. Memperhatikan setiap orang yang lewat ataupun berjalan di sekitar tempat itu. Matanya tertuju pada sepasang laki-laki dan perempuan yang berjalan menuju gerbang keluar masuk area Chinatown. Tanpa pikir panjang, dia mengikuti mereka dengan tergesa-gesa.
Xiao Ling sampai di pinggir jalan raya di luar Chinatown. Dia melihat pasangan yang dia ikuti sejak tadi menyeberang jalan raya. Rupanya mobil mereka terparkir di seberang jalan karena tidak bisa dibawa masuk ke area Chinatown.
“Lao Ma… Lao Ma…” Xiao Ling berusaha memanggil agar salah satu dari pasangan itu menoleh padanya. Tapi apa daya, suara mobil yang lalu lalang mengalahkan suaranya. Entah dia sadar atau tidak, dia langsung menyeberang ke jalan raya itu. Langkahnya terhenti ketika suara keras klakson membengkakkan telinganya. Sebuah mobil silver berjalan ke arahnya dengan kecepatan yang cukup tinggi. Dia mematung disana. Pikirannya blank. Dia bahkan belum sadar jika dia berada di tengah-tengah jalan raya dua arah. Belum sempat berpikir apa-apa, tiba-tiba
seseorang meraih pergelangan tangannya dan menarik tubuhnya ke tepi. Dia terjatuh dalam dekapan seseorang. Badannya gemetar. Dengan kesadaran yang masih separuh, dia mendongakkan wajahnya untuk melihat siapa yang sudah menolongnya.
“Da…niel…” Panggilnya dengan suara parau.
__ADS_1