Mid-Autumn In San Francisco

Mid-Autumn In San Francisco
Bab 26


__ADS_3

Daniel Chang memarkirkan mobilnya di pinggir pantai Baker. Dia sengaja membawa Xiao Ling ke sana, tanpa meminta persetujuannya. Dia merasa gadis itu butuh udara segar untuk menghilangkan beban dalam hatinya. Atau hanya sekedar menjernihkan pikirannya.


“Ayo keluar.” Ajak Daniel Chang untuk turun dari mobil.


“Kenapa kita ke sini?”


Xiao Ling tidak mengerti kenapa Daniel Chang mengajaknya ke pantai. Apakah ini kencan? Bukankah waktunya tidak tepat untuk itu? Namun akhirnya, dia hanya menuruti kata pria itu. Dia berjalan mendekat ke arah laut dan duduk di atas hamparan pasir coklat. Di samping Daniel Chang yang sudah lebih dulu duduk disana.


Langit jingga mulai nampak membentang di atas lautan. Matahari hendak menenggelamkan wujudnya di ujung langit barat. Deburan ombak saling berlarian ke pantai. Angin laut berhembus dengan kencangnya menerpa kulit. Malam akan segera datang untuk menggantikan siang.


“Disini adalah tempat terbaik untuk melihat matahari terbenam.” Daniel Chang memandang jauh ke tengah lautan.


Xiao Ling membenarkan ucapan Daniel Chang. Langit sore di pantai itu sangat indah. Senja di ujung barat yang terlihat benar-benar membuatnya terpukau. Awan kelabu yang menggantikan langit biru. Deburan ombak. Desiran angin. Semuanya, benar-benar membuainya. Menenggelamkan hatinya pada ciptaan Tuhan itu.


“Aku mengajakmu ke sini agar kau tidak terlalu tertekan. Nikmatilah keindahan alam ini.”


“Terima kasih, Daniel.”


Xiao Ling menghirup napas dalam. Membiarkan udara pantai memenuhi rongga dadanya. Kemudian, dengan perlahan menghembuskannya. Seketika beban di hatinya menjadi berkurang. Kekecewaan yang dia rasakan pun sedikit menghilang.


“Kau sudah berusaha semaksimal yang kau bisa. Memang tidak mudah untuk menemukan orang yang bahkan belum pernah kau kenal sebelumnya.”


“Setidaknya aku sudah mencoba.” Ucap Xiao Ling lirih.


“Bagaimana dengan foto itu?”

__ADS_1


“Jane jie sudah mencarinya di mobil, tapi tidak ada.” Ucap Xiao Ling lesu. “Tapi dia akan mencoba bertanya pada temannya yang meminjam mobilnya tiga hari lalu.” Dia sebenarnya sudah pesimis foto itu bisa ditemukan. Dia ingin menyerah saja. Dia sudah tidak punya petunjuk apapun untuk melanjutkan pencarian.


Daniel Chang melihat wajah kecewa gadis yang duduk di sebelahnya. Jujur, saat ini dia bingung harus berbuat apa. Haruskah dia memeluknya? Ataukah menggenggam tangannya? Atau mengelus rambut panjangnya? Dan akhirnya dia tidak melakukan apa-apa. Hanya duduk diam disana. Dia ingin bertanya sesuatu, tapi dia takut akan membuat Xiao Ling sedih. Tapi setidaknya dia harus tahu itu. “Xiao Ling… kenapa kau ingin sekali menemukan ibumu?”


Xiao Ling memandang Daniel Chang. Dia menarik napas dan menghembuskannya lemah sebelum berucap. “Aku ingin tahu kenapa orang tuaku berpisah. Aku ingin tahu kenapa ibuku menelantarkan aku. Aku ingin tahu kenapa dia tidak pernah mencariku. Aku ingin tahu apakah dia masih hidup...” Benar. Kenapa tidak pernah terpikir olehnya kemungkinan itu. Apakah ibunya masih hidup ataukah sudah mati?


Daniel Chang mengerutkan kening karena tiba-tiba Xiao Ling berhenti berucap. “Kenapa?”


“Daniel…” Xiao Ling ragu untuk melanjutkan. “Apa mungkin ibuku sudah meninggal?”


“Itu… bisa saja terjadi” Ucap Daniel Chang hati-hati.


Xiao Ling menunduk. Tangannya meremas-remas pasir di bawahnya. Dia ingin menerima kenyataan itu. Yang berarti dia tidak akan pernah mendapat jawaban atas semua pertanyaannya. Tapi mungkin itu juga lebih baik daripada dia berpikir ibunya masih hidup tapi tak dapat menemukannya.


“Tapi coba ambil hikmah dari semua ini.” Daniel Chang mencoba mencairkan suasana. Dia ingin menghibur Xiao Ling yang sedang kecewa.


“Meskipun tidak bisa menemukan ibumu, tapi kau bisa bertemu denganku.” Ucap Daniel Chang penuh percaya diri dengan senyum lebar di wajahnya. “Anggap saja aku anugerah Dewa yang dikirim untukmu.”


Xiao Ling tidak bisa menyembunyikan senyumnya mendengar ucapan Daniel Chang. Bertemu dengan Daniel Chang memang suatu anugerah baginya. Pria ini memang dikirim Dewa untuknya. Untuk sejenak melupakan takdir hidupnya yang begitu rumit. Untuk membantunya melupakan Li Yuan Bao. Memang benar kata pepatah. Jika kau ingin melupakan seseorang, kau butuh seseorang yang lain untuk menggantikan tempatnya di hatimu. Dan saat ini, Li Yuan Bao telah benar-benar pergi dari hatinya.


“Kau benar. Serahkan saja semua pada Dewa. Jika memang ibuku masih hidup. Dan jika takdir mengijinkan, aku pasti akan bertemu dengannya.”


Xiao Ling memandang Daniel Chang, begitupun sebaliknya. Mereka saling tersenyum.


Hari semakin gelap. Langit jingga sudah berganti menjadi abu pekat. Sinar matahari sudah benar-benar hilang ditelan langit malam. Angin laut semakin kencang bertiup. Udara menjadi semakin dingin. Ombak menggulung semakin tinggi. Dan tentu saja Pantai sudah sepi. Hanya tersisa beberapa pengunjung yang masih menikmati suasana.

__ADS_1


Xiao Ling mengusap-usap lengannya dengan telapak tangannya. Angin yang berhembus terasa begitu dingin menyentuh kulitnya.


“Ayo kita pulang. Sebelum kau membeku kedinginan.” Ajak Daniel Chang yang juga merasakan hawa dingin pantai. Dia sudah berdiri dan hendak beranjak dari tempatnya.


“Sebentar lagi. Aku masih ingin berada disini.”


“Tapi kau sudah kedinginan. Kau bisa terkena flu.”


“Sebentar. Sebentar saja.” Pinta Xiao Ling yang lebih seperti perintah.


Daniel Chang tak punya pilihan lain kecuali menuruti keinginan Xiao Ling. Dia kembali duduk di atas hamparan pasir. Dia lalu melepas kemeja panjang yang dipakai dan menyelimutkannya ke badan Xiao Ling, meski tidak banyak membantu untuk mengusir rasa dingin. Kini, dia yang merasakan hawa lebih dingin karena hanya memakai kaos hitam pendek. Dia mengusap-usapkan kedua telapak tangannya serta meniupnya. Tapi tak ada gunanya. Dia tetap merasa kedinginan.


Xiao Ling melihat semua yang dilakukan Daniel Chang. Dia melepas kemeja dan berniat mengembalikan pada pemiliknya. “Pakailah. Aku tak apa-apa.”


Daniel Chang menolak. “Kau saja yang pakai. Mana mungkin seorang pria kalah dengan angin dingin.”


“Aku baik-baik saja. Kau saja yang pakai.” Xiao Ling memberikan kemeja kepada Daniel Chang. Dan sebaliknya, Daniel Chang memakaikan lagi kemejanya ke badan Xiao Ling. Mereka benar-benar seperti anak kecil. Bukan saling berebut, melainkan saling mengalah.


“Bagaimana kalau kita berciuman untuk menghangatkan tubuh.” Kalimat itu tiba-tiba keluar dari mulut Daniel Chang tanpa kontrol.


Xiao Ling memelototi Daniel Chang dan langsung menutup bibirnya dengan telapak tangan.


Daniel Chang tertawa riang. “Aku hanya bercanda. Kau pakai saja kemejaku.”


Xiao Ling akhirnya memakai kembali baju panjang warna abu dengan motif kotak-kotak itu.

__ADS_1


Malam semakin larut. Bulan sudah nampak di langit. Kegelapan menyelimuti laut. Hanya redup sinar rembulan yang menyirani. Cuaca juga semakin dingin.


Daniel Chang sudah tidak tahan lagi berada di tempat itu lebih lama. “Ayo kita pulang. Sebelum aku melakukan sesuatu diluar batas.”


__ADS_2