Mid-Autumn In San Francisco

Mid-Autumn In San Francisco
Bab 39


__ADS_3

Guangzhou, China


Satu bulan sudah berlalu. Xiao Ling membuka lembaran baru hidupnya. Menjalani hari-harinya seperti biasa. Dan itu tidak mudah. Rasa sakit itu masih membekas. Setidaknya dia memiliki keluarga yang menyayanginya, menjaganya dengan tulus.


“Kau baik-baik saja?” Tanya Shi Yen Xing suatu sore di teras. Dia menyadari ada yang berubah dari putri bungsunya itu. Semenjak pulang dari San Fransisko, Xiao Ling sering menyendiri dan melamun.


“Aku baik-baik saja.” Ucap Xiao Ling sambil tersenyum.


“Ceritakan padaku. Apa… kau menemukan ibumu?” Shi Yen Xing bertanya dengan hati-hati.


Xiao Ling hanya mengangguk.


“Apa yangibumu katakan? Dia mengenalimu?”


“Iya.” Jawab Xiao Ling pelan. Sebenarnya, dia tak mau membahas tentang ibunya atau semua yang berhubungan dengan wanita itu. Itu hanya akan mengingatkan Xiao Ling pada Daniel Chang. Sekuat tenaga, dia berusaha untuk melupakan tentang pria itu. Tentang perasaan terlarangnya.


“Maaf Ma, aku masuk kamar dulu.” Hanya itu hal bisa Xiao Ling lakukan untuk menghindar. Dia tak ingin bercerita juga tak ingin menjawab pertanyaan apapun tentangnya selama di San Fransisko.


“Iya. Istirahatlah.”


Shi Yen Xing mendesah. Dia semakin khawatir pada Xiao Ling. Gadis itu tak bercerita apapun sejak kepulangannya. Itu membuatnya bertanya-tanya, apa yang terjadi pada Xiao Ling? Apa yang dia lalui selama disana? Kenapa sepertinya itu sangat membebani hatinya? Sekali lagi Shi Yen Xing hanya mendesah. Tak bisa berbuat apa-apa.


***


“Kau sedang apa?” Xiao Lung keluar dari dalam rumah dan duduk di sebelah Xiao Ling di teras. Hari ini dia tidak bekerja, karena akhir pekan. Dia akan pergi dengan Li Yuan Bao. Dia sedang menunggunya.


“Tidak ada. Hanya…”


“Melamun?” Xiao Lung memotong ucapan adiknya. “Ceritakan padaku. Apa yang terjadi padamu.” Dia menatap Xiao Ling lekat. Menunggu adiknya bercerita.


Xiao Ling melirik sekilas ke arah kakaknya. Dia tak berniat menceritakan apapun. “Tak ada jie.” Ucapnya sambil tersenyum.


“Jangan bohong.”


“Aku tidak bohong.”


Xiao Lung menghela napas. Sedikit frustrasi. Sejak adiknya pulang, hanya melamun yang dilakukan. Dia yakin adiknya itu pasti juga sering menangis. Dia pernah melihat mata Xiao Ling bengkak ketika bangun tidur. Mungkin adiknya itu menangis semalaman.


“Ling’er… a-apa ini mengenai pria yang ditelepon? Da-Daniel?” Xiao Lung masih mengingat namanya.


Xiao Ling menatap Xiao Lung dengan bola mata bergetar. Hatinya pun ikut bergetar. Tapi dia hanya diam membisu. Matanya berkaca-kaca.


“Baiklah. Jangan cerita apapun.” Xiao Lung tak ingin melihat adiknya menangis. Tidak untuk hari ini. “Jangan sekarang. Ceritakan nanti saat kau sudah siap. Oke?”


Xiao Ling mengangguk lemah.


“Apa kabar Ling’er?” Suara Li Yuan Bao tiba-tiba terdengar. Dia sudah berdiri di depan teras.


“Kau sudah datang?” Tanya Xiao Lung.

__ADS_1


“Iya.”


“Ling’er, ikutlah kami ke Beijing Road Shopping District. Kita jalan-jalan. Apa kau tidak bosan di rumah terus?” Ajak Xiao Lung.


“Tidak jie. Aku tidak mau menganggu kencan kalian.”


“Tidak apa-apa ikut. Benar kan Yuan Bao?”


Li Yuan Bao menatap Xiao Ling, tapi gadis itu mengalihkan pandangan. “Iya.”


“Tidak. Aku di rumah saja.”


“Baiklah.” Xiao Lung beralih berbicara dengan Li Yuan Bao. “Tunggu sebentar. Aku masuk dulu untuk bersiap.”


“Iya.” Li Yuan Bao kemudian duduk di kursi. Dia melirik Xiao Ling yang masih tetap tak melihat dirinya. “Kapan kau kembali?”


“Sudah sebulan yang lalu.”


“Kau bertemu ibumu?”


“Hmm..” Xiao Ling mengangguk pelan.


“Kenapa kau kembali? Kau bilang tak akan kembali lagi kesini?”


Xiao Ling diam membisu.


“Apa kau hanya menipuku? Kau hanya mempermainkanku?”


Li Yuan Bao memegang telapak tangan Xiao Ling. “Bukankah kau kembali karena aku? Ayo kita mulai dari awal lagi. Aku masih mencintaimu. Aku sangat merindukanmu.”


Secepatnya Xiao Ling menepis tangan Li Yuan Bao. “Bagaimana dengan kakakku? Kau sudah berjanji padaku untuk bersamanya.”


“Lalu bagaimana dengan janjimu? Apa kau hidup bahagia?”


Xiao Ling menunduk. Diam tak berkata.


“Karena kau sudah kembali, aku tak akan melepasmu lagi.”


Xiao Ling kembali menatap ke dalam bola mata Li Yuan Bao. Penuh percaya diri, dia berkata “Aku sudah melupakanmu. Kau bukan lagi pemilik hatiku.”


Li Yuan Bao yang melihat keteguhan hati dari dalam mata Xiao Ling hanya bisa menghela napas lemah. Mata gadis itu tak berbohong. Perasaan Xiao Ling sudah berubah. Binar mata yang terpancar setiap gadis itu memandang Li Yuan Bao kini telah hilang. Dia sudah tak mencintainya lagi.


Xiao Ling masuk ke dalam rumah meninggalkan Li Yuan Bao sendiri di teras. Dia menuju dapur untuk mengambil air minum. Di dapur, dia bertemu dengan nenek yang sedang mengupas sayuran yang akan dimasak nanti. Xiao Ling berdiri di depan lemari es, mengambil sebotol air mineral dan meneguknya.


“Kenapa kau pulang?” Suara tak ramah Nenek menyapanya. “Bukankah kau bilang ingin mencari ibumu?” Meski sudah sebulan Xiao Ling di rumah, tapi belum pernah mereka berbicara hanya berdua. Baru kali ini mereka berada di satu ruangan berdua.


Xiao Ling hanya tersenyum, meski tak terlihat oleh nenek yang tak memandangnya. Dia tak tahu harus menjawab apa.


“Apa kau berniat merebut Yuan Bao dari Lung’er?”

__ADS_1


“Ti-tidak Nek. Aku tak akan melakukan itu.”


“Baguslah kalau sadar diri. Tak sepantasnya seorang anak angkat mengambil milik anak kandung.”


Kalimat nenek itu menggores luka di hati Xiao Ling.


“Apa kau pulang karena ibumu tak mengakuimu?” Nenek tertawa sinis. “Sudah aku duga. Kau memang anak sial. Mana mungkin ibumu mau menerimamu menjadi anak. Dia sendiri yang sudah membuangmu.”


Kata-kata nenek itu lebih tajam dari belati yang menyayat perasaan Xiao Ling. Dia sadar, jika nenek sangat membencinya. Tapi haruskah nenek berkata sedemikian jahat?


Xiao Ling berlari keluar dari dapur. Dia naik ke lantai dua dan masuk ke kamarnya. Dia tengkurap di atas ranjang dan menangis. Dia merasa jika dia hidup seorang diri. Keluarga disini bukanlah keluarganya. Dan keluarga ibunya, dia tidak bisa menjadi bagian dari keluarga itu. Tidak pernah bisa.


***


Shi Yen Xing melihat Xiao Ling berlari naik ke lantai dua. Dia segera menyusulnya, dan mendapati anak bungsunya itu sedang menangis di kamarnya. Dia mendekati dan menyentuh pundaknya lembut.


“Ada apa Ling’er?”


Xiao Ling bangkit dan segera memeluk mamanya, tak bersuara. Hanya isakan tangisnya yang menggema di ruangan kecil itu.


“Katakan pada Mama. Apa yang terjadi?”


“Ke-kenapa… kenapa ibuku bisa hidup bahagia?” Xiao Ling berucap dengan suara parau dan terbata. “Harusnya dia tidak boleh bahagia setelah meninggalkan anaknya pada orang lain.”


Shi Yen Xing membelai rambut Xiao Ling. Dia berbisik di telinga Xiao Ling. “Kenapa kau berkata seperti itu? Ibumu wanita yang baik. Dia terpaksa melakukan itu. Dia tidak meninggalkanmu pada orang asing. Kami keluargamu. Dia memberikanmu pada keluargamu yang lain. Yang lebih bisa merawatmu dan menyayangimu.”


Xiao Ling masih terus menangis. Tapi hatinya sudah merasa lebih baik. Semua kata-kata Shi Yen Xing memberi sedikit ketenangan padanya. Ucapan mamanya memberi kehangatan.


“Terima kasih Ma.” Xiao Ling mengeratkan pelukannya.


Shi Yen Xing menepuk pelan pundak Xiao Ling. Dia melepaskan pelukan dan menghapus air mata di pipi Xiao Ling dengan jari-jarinya.


“Ceritakan padaku apa yang terjadi selama kau disana?” Shi Yen Xing memegang telapak tangan Xiao Ling. Menepuk-nepuk punggung tangannya pelan.


“Aku bertemu dengan ibuku. Dia memiliki suami dan seorang putra yang sudah dewasa.”


“Lalu? Dia mengenalimu?”


Xiao Ling mengangguk. “Dia meminta maaf dan mengajakku untuk tinggal bersamanya. Dia ingin menebus kesalahannya padaku karena sudah meninggalkanku dulu.” Mata Xiao Ling kembali berkaca-kaca. Dia teringat Daniel Chang setiap kali mengingat keluarga ibunya. “Aku bilang aku tak bisa. Aku akan kembali pada keluarga yang sudah merawatku.” Butiran bening kembali membasahi wajahnya.


Shi Yen Xing kembali mengusap airmata Xiao Ling. “Disini juga keluargamu. Kau tahu itu kan?”


“Iya Ma.”


“Kalau kau tidak ingin bersama ibumu tidak apa-apa. Tapi jangan membencinya. Dia pasti sangat menyesal karena sudah meninggalkanmu.”


Xiao Ling menatap wajah Shi Yen Xing. Wanita di depannya ini sangat hebat. Dia menyayangi Xiao Ling yang bukan anak kandungnya dengan tulus. Ketulusan itu terpancar jelas dari kedua matanya. Xiao Ling merasa sangat beruntung.


“Ayo ikut Mama di dapur. Bantu Mama memasak untuk makan malam.” Shi Yen Xing tidak ingin meninggalkan Xiao Ling sendiri di kamar. Dia yakin anaknya itu akan menangis lagi jika ditinggal sendiri.

__ADS_1


Shi Yen Xing menggandeng tangan Xiao Ling dan mengajaknya ke dapur tanpa menunggu jawaban Xiao Ling.


__ADS_2