
Xiao Ling berdiri di tepi pagar balkon dengan secangkir teh bunga krisant di tangannya. Matanya memandangi daun-daun yang menguning dan berserakan di tanah, jatuh dari dahannya. Musim gugur sudah datang. Musim gugur yang sangat jauh berbeda dari musim sebelumnya, yang telah merubah hidupnya. Musim yang telah membongkar
siapa dirinya sebenarnya. Musim gugur terberat yang harus dia hadapi.
“Selamat pagi, xiaojie.”
Suara Daniel Chang menyadarkan Xiao Ling dari lamunan. Pria itu berdiri di balkon apartemennya. Dia merentangkan kedua tangannya sambil menguap lebar. Bajunya terlihat kusut. Rambutnya acak-acakan tak karuan. Dia pasti baru bangun tidur.
“Bukankah ini pagi yang indah?”
Xiao Ling menjawabnya dengan anggukan dan sebuah senyuman ramah.
“Apa yang kau lakukan hari ini?” Daniel Chang beralih mengucek matanya dengan tangan. Membersihkan kotoran yang menempel di sudut matanya.
“Aku akan pergi keluar dengan Jane jie.”
“Kemana?” Daniel Chang sedikit melirik kearah Xiao Ling.
Xiao Ling hanya diam.
Gadis itu tidak menjawab. Sepertinya rahasia. “Kalau kau perlu bantuan dariku jangan sungkan.” Daniel Chang
mengganti topik pembicaraan mereka. “Atau kalau kau ingin pergi ke suatu tempat, katakan saja. Aku akan dengan senang hati mengantarmu.”
Xiao Ling kembali tersenyum. Mungkin itu hanya keramah-tamahan. Pria itu tidak bersungguh-sungguh, pikirnya.
“Aku serius.” Daniel Chang seolah membaca pikiran Xiao Ling. “Aku akan mengantarmu ke tempat-tempat yang bagus di San Fransisko. Kau tinggal bilang saja mau kemana. Sopir tampan ini akan mengantarmu kemanapun tujuanmu.”
“Bersihkan dulu liur di bibirmu itu Tuan baik hati.” Sela Jane Wang yang datang tiba-tiba dari dalam apartemen.
Daniel Chang sontak memegang bibirnya. Mengusap-usap dengan jarinya.
“Pergilah cuci muka dulu. Wajahmu sungguh tak berbentuk.” Lanjut Jane Wang.
“Ucapmu adalah perintah bagiku, Nona.” Canda Daniel Chang. “Aku masuk dulu Nona Ling.”
Xiao Ling tertawa kecil melihat Daniel Chang. Dia pria yang menyenangkan. Satu lagi penilaiannya pada pria itu
setelah kemarin dia menyebutnya baik.
“Hari ini kita kemana? Mumpung hari ini aku tidak ada latihan.” Jane Wang duduk dan menyeruput minuman dalam
__ADS_1
cangkirnya. Dari aroma yang menyebar di penjuru balkon, sudah bisa dipastikan itu kopi.
Jane Wang adalah seorang pemain teater. Meskipun bukan pemain utama, tapi dia cukup mahir dalam memainkan
setiap perannya. Dia biasa mengadakan pertunjukan dua atau tiga kali dalam setahun. Pertunjukannya berpindah dari satu kota ke kota yang lain di California. Dia juga pernah mengadakan pertunjukan di Sydney Opera House di
Australia. Biasanya sekali dalam setahun, kelompok teaternya mengadakan world tour diluar Amerika. Lebih sering ke negara-negara di Asia Timur, seperti Jepang, Korea dan China.
“Antarkan aku ke kelenteng.” Xiao Ling ikut duduk di sebelah sepupunya. “Kita mulai mencari ibuku disana.”
“Kelenteng mana?”
“Mama hanya bilang di Chinatown. Aku juga tak tahu dimana tepatnya.”
Jane Wang berpikir sejenak. “Sepertinya aku tahu tempatnya.” Dia yakin. “Hanya ada satu kelenteng disini. Pasti itu tempatnya.”
Jane Wang tampak ragu-ragu untuk berucap. “Apa ibumu jadi biksuni?”, tanyanya hati-hati.
“Aku juga tidak tahu. Aku kesini tanpa ada kepastian.” Xiao Ling menghela napas sambil menatap kosong kearah jauh.
“Apa ada sesuatu lain yang aku tak tahu?”
“Maksudnya?” Xiao Ling mengangkat sebelah alis. Apa mungkin sepupunya tahu tentang alasan lain dirinya pergi dari rumah? Tentang dia dan Li Yuan Bao? Tapi tidak mungkin. Kakaknya saja tidak tahu, apalagi Jane Wang.
Xiao Ling terdiam. Dia kembali menyesap teh di cangkirnya. Sedangkan Jane Wang bermain dengan ponselnya
setelah pertanyaannya tidak mendapat tanggapan.
“Jie jie, apakah Daniel tinggal sendiri?” Xiao Ling merubah arah pembicaraan. Dia juga sedikit penasaran. Dia
biasanya tidak perduli dengan kehidupan orang lain. Entah kenapa dia ingin bertanya tentang pria itu.
“Iya. Kenapa?” Jane Wang terus memandangi layar ponselnya. “Apa kau tertarik padanya?”
Tertarik? Tidak semudah itu bagi Xiao Ling untuk merubah hatinya. Dan lagi, baru kemarin mereka berkenalan.
Tidak secepat itu untuk saling tertarik. Meskipun tak ada salahnya karena saat ini Xiao Ling sedang sendiri, tapi dia butuh waktu. Rasa sakit karena perpisahannya dengan Li Yuan Bao masih sangat terasa di hatinya.
“Tidak. Aku hanya ingin tahu.”
“Tak apa kalau kau tertarik. Dia memang pria yang menarik dan tampan.”
__ADS_1
Dia cukup tampan, ucap Xiao Ling dalam hati.
Sekali melihat, Daniel Chang memang pria yang tampan. Postur tubuh yang tinggi tegap dengan kulit coklat, sedikit berbeda dengan kebanyakan orang oriental, serta mata coklat dan alis tebal memberi kesan macho setiap kali memandangnya. Kepribadiannya yang dikenal baik dan mudah bergaul merupakan nilai lebih untuknya.
“Banyak temanku yang merengek minta dikenalkan saat tak sengaja bertemu dengannya.” Lanjut Jane Wang. “Tapi satu pesanku, kau harus hati-hati dengannya kalau tak mau sakit hati.”
“Kenapa?” Xiao Ling penasaran. Tapi benar juga. Pria tampan lebih sering membuat sakit hati.
“Dia seorang playboy.”
“Benarkah?” Xiao Ling seperti tidak percaya. Tapi mungkin juga seperti itu. Dia belum tahu banyak tentang pria itu.
“Dia sering membawa pulang wanita ke apartemennya. Kau jangan kaget kalau suatu hari ada wanita yang keluar dari kamarnya di pagi hari.” Jelas Jane Wang.
“Jane jie… apa mungkin kau menyukainya?” Ini membuat Xiao Ling lebih penasaran.
Jane Wang mengangkat wajahnya untuk melihat Xiao Ling. “Aku?” Dia tertawa ringan. “Tidak mungkin. Dia bukan tipeku. Lagipula aku tidak suka pria yang lebih muda.”
Xiao Ling mengangkat sebelah alisnya. Kurang paham.
“Dia enam tahun lebih muda dariku Ling’er.”
“Oh…Aku pikir dia seumuran.”
“Wajahnya memang boros.” Ejek Jane Wang. “Asal kau tahu, aku lebih menyukai pria yang lebih dewasa. Yang bisa berkomitmen.”
Xiao Ling mengangguk paham. “Kau sudah punya pacar, jie?”
“Ehm… menurutmu?”
“Entahlah.” Xiao Ling tak punya petunjuk apapun.
“Sudah cukup membicarakanku. Bagaimana denganmu? Kau punya kekasih?”
Xiao Ling enggan menjawab. Lebih tepatnya dia bingung harus menjawab apa. Dia tidak mungkin menjawab kalau kekasihnya disukai oleh kakaknya. “Tidak ada.” Jawabnya kemudian.
“Benarkah? Bagimana dengan Lung’er? Dia punya kekasih?”
“Entahlah.” Jawab Xiao Ling ragu.
“Sudahlah. Kalau kau tak mau menjawab.” Jane Wang mulai Lelah bertanya tanpa jawaban yang memuaskan.
__ADS_1
”Pergilah mandi lebih dulu. Ayo cepat kita berangkat.” Perintahnya yang diikuti langkah kaki Xiao Ling masuk ke dalam apartemen. Sedang dia masih menikmati secangkir kopi hitam di tangannya. Sambil jarinya men-scroll layar ponselnya. Mencari-cari sesuatu yang menarik untuk dibaca. Entah itu berita atau gosip artis terkini. Kemudian beralih ke sosial media miliknya. Melihat gambar yang bermunculan di beranda.