Mid-Autumn In San Francisco

Mid-Autumn In San Francisco
Bab 25


__ADS_3

Daniel Chang dan Xiao Ling berada di dalam mobil yang sedang melaju ke Oakland. Sebelumnya, mereka telah menemui tiga orang yang tinggal di Chinatown. Namun tak satu pun merupakan orang yang mereka cari. Sekarang hanya ada satu nama lagi, dan dia tinggal di Oakland.


Daniel Chang melirik gadis yang duduk sangat diam di sebelahnya. Sejak tadi pagi bertemu, Xiao Ling lebih banyak diam. Kalau dipikir-pikir, gadis itu belum mengucapkan sepatah kata pun padanya. Walaupun hanya sekedar basa-basi menyapanya.


“Sekarang kita berada di atas Golden Gate Bridge.” Daniel Chang mencoba menarik perhatian. “Jembatan ini adalah jembatan terpanjang di San Fransisko.” Dia bertingkah seolah-olah seorang pemandu wisata. Tapi gagal. Xiao Ling tidak menanggapinya. Xiao Ling hanya diam membisu.


“Apa kau marah?” Akhirnya Daniel Chang mengungkapkan yang ada dalam pikirannya.


“Tidak. Kenapa aku harus marah?” Jawab Xiao Ling datar, tanpa ekspresi.


“Mungkin… karena kejadian kemarin di depan apartemen.”


Xiao Ling melihat ke arah Daniel Chang, tapi secepat kilat berpaling. “Aku tak punya hak untuk melakukan itu.”


Daniel Chang menjadi frustrasi setelah mendengar jawaban singkat Xiao Ling. Dia benar-benar tidak mengerti ada apa sebenarnya dengan gadis ini. Akhirnya dia memutuskan untuk menceritakan semuanya. Jika benar Xiao Ling salah paham tentangnya, dia harus menjelaskan semuanya. “Aku dan Jessica hanya berteman.”


Xiao Ling mengerutkan keningnya, tak mengerti. “Siapa Jessica?”


“Gadis yang kau lihat kemarin.”


“Itu bukan urusanku.” Meskipun dalam hati Xiao Ling sangat ingin tahu banyak tentang Daniel Chang. Juga tentang hubungannya dengan gadis yang bernama Jessica itu.


“Pertama kali aku bertemu dengannya sekitar enam tahun yang lalu.” Daniel Chang terus saja menjelaskan. “Salah seorang teman kampusku mengenalkan kami. Dan sejak saat itu kami berteman.” Dia melihat Xiao Ling lagi. Gadis itu masih tetap diam. “Kemarin dia mabuk dan datang ke apartemenku.”


“Kenapa?” Akhirnya Xiao Ling menanggapi.


Wajah Daniel Chang seketika mengembang senyuman. “Aku juga tak tahu. Dia selalu begitu setiap kali mabuk.”


“Kenapa dia seperti itu?”


Daniel Chang mengangkat bahu. “Mungkin itu kebiasaannya saat mabuk. Seperti seseorang yang selalu menghubungi mantannya setiap kali mabuk. Semacam itulah.”


“Lalu?” Xiao Ling sangat penasaran tentang ini.

__ADS_1


“Lalu?” Daniel Chang mengulang pertanyaan Xiao Ling. Awalnya dia tidak mengerti, tapi saat melihat wajah penasaran gadis itu, dia tahu maksudnya. “Kami tidak melakukan apa-apa. Aku bersumpah. Dia hanya menginap di apartemenku.”


Xiao Ling menunduk. Hanya untuk menutupi senyum yang merekah di sudut bibirnya. Ternyata semua ucapan Jane Wang tentang Daniel Chang salah. Dia bukan pria seperti itu. Tapi tunggu. Kenapa Xiao Ling percaya begitu saja ucapan pria itu. Tak ada yang bisa menjamin kejujuran pria itu. Tapi entah kenapa tak ada keraguan sedikitpun


padanya. Xiao Ling percaya semua ucapan Daniel Chang begitu saja.


***


Daniel Chang menghentikan mobilnya di sebuah rumah di pinggiran Oakland. Dia memperhatikan dengan seksama rumah itu untuk memastikan bahwa dia tidak salah alamat. Setelah yakin, dia mengajak Xiao Ling turun.


Daniel Chang dan Xiao Ling berdiri di depan pintu setelah menekan bel. Menunggu seseorang membukakan pintu.


“Selamat siang.” Sapa Daniel Chang ramah. “Apa benar ini kediaman ibu Liu Yen?”


Seorang gadis muda berdiri di pinggir pintu yang terbuka. Melihat dari seragam yang dipakai, dia pasti asisten rumah tangga di rumah itu.


“Benar. Anda siapa?” Ucap gadis muda itu.


“Bisa kami bertemu dengan beliau.”


itu. “Akan saya panggilkan Nyonya besar. Silahkan duduk dulu.” Dia menunjuk kursi yang ada di teras rumah.


Daniel Chang dan Xiao Ling duduk di kursi seperti yang diminta. Pandangan mereka memutar, mengamati apapun yang ada di sekitar sana. Tak berapa lama seseorang datang.


“Apa kalian yang mencari Liu Yen?” Seorang wanita berumur, mungkin tujuh puluh atau delapan puluh tahun, muncul dari dalam rumah.


“Be..Benar.” Suara Xiao Ling terbata. Dia ragu apa mungkin nenek ini Liu Yen, orang yang selama dua bulan ini dia cari. Jika benar, bukankah nenek ini terlalu tua untuk menjadi ibunya. Rasanya tidak mungkin.


“Kenapa kalian mencari menantu saya?”


“Bisa saya bertemu dengan beliau?”


Wanita tua itu bergantian melihat Xiao Ling dan Daniel Chang. Mimik wajahnya berubah. “Dia sudah meninggal dua bulan yang lalu. Kecelakaan bersama putraku.” Wajahnya seketika menjadi mendung. Kesedihan tampak dari sorot matanya.

__ADS_1


Raut wajah Xiao Ling pun ikut berubah. Bukan sedih, tapi kekecewaan yang dia rasakan. Kemungkinannya bertemu dengan ibunya semakin tipis. Bahkan hampir mustahil.


“Nenek… apa mungkin ibu Liu Yen memiliki putri di China?” Daniel Chang mengambil alih keadaan.


Wanita itu terdiam sejenak. “Itu tidak mungkin. Karena menantuku tidak bisa memiliki anak.” Jawab wanita itu yakin. “Sejak menikah dengan putraku dua puluh tahun yang lalu, dia belum pernah hamil. Kata dokter dia tidak bisa memiliki anak.”


“Maaf Nenek, apa boleh kami melihat foto dari menantu Anda?” Daniel Chang ingin memastikan bahwa wanita yang dimaksud benar-benar bukan orang yang mereka cari.


“Kalau boleh tahu, apa alasan kalian mencari menantuku?”


“Saya sedang mencari ibu kandung saya. Saya belum pernah bertemu dengannya. Saya hanya tahu nama beliau Liu Yen.”


“Seperti itu.” Wanita tua itu memandang Xiao Ling. Dia merasa iba. “Tunggulah sebentar. Akan aku ambilkan fotonya di dalam.”


“Terima kasih.” Daniel Chang dan Xiao Ling berucap bersamaan.


Wanita tua itu berjalan masuk ke dalam rumah. Tak berapa lama dia kembali ke teras lagi dengan membawa sebuah bingkai foto berukuran kecil.


“Ini.” Wanita itu memberikan foto yang dibawanya kepada Xiao Ling.


Terdapat seorang laki-laki dan perempuan dalam foto itu. Xiao Ling memperhatikan wajah wanita dalam foto itu.


“Apa dia orangnya?” Tanya Daniel Chang cepat.


“Bukan.” Jawab Xiao Ling yakin. Wajah wanita dalam foto itu tidak sama dengan wajah ibunya. Dia masih ingat wajah ibunya dalam foto usang miliknya.


"Apa kau yakin?" Daniel Chang ingin memastikannya.


Xiao Ling mengangguk mantap. Karena wanita dalam foto memang bukan orang yang dia cari.


“Ini fotonya.” Xiao Ling mengembalikan foto itu pada wanita tua tadi. “Dia bukan orang yang saya cari.” Setelah itu, dia dan Daniel Chang pamit pulang.


“Semoga kamu segera menemukan ibumu.” Ucap wanita tua itu.

__ADS_1


“Terima kasih Nek.”


Pencarian hari ini selesai tanpa hasil yang membuat Xiao Ling merasa terpuruk. Orang terakhir yang menjadi kemungkinan sudah jelas bukan ibunya. Kini, dia harus mencari ibunya kemana lagi? Haruskah dia berkeliling San Fransisko untuk mencari. Atau dia serahkan saja semuanya pada Dewa. Biarkan Dewa yang memutuskan. Jika takdir mempertemukan dia dengan ibunya, entah bagaimana caranya, mereka pasti akan bertemu.


__ADS_2