Mid-Autumn In San Francisco

Mid-Autumn In San Francisco
Bab 36


__ADS_3

Xiao Ling menatap kaleng-kaleng bir di depannya dengan nanar. Dia tidak bisa menerima kenyataan. Tidak mungkin jika dia dan Daniel Chang memiliki ibu yang sama. Pasti ada kesalahan. Berulang kali dia menggelengkan kepalanya. Ini terlalu kejam untuknya. Kenapa ini bisa terjadi? Kenapa dia tidak bisa hidup bahagia seperti yang dia harapkan? Dia hanya ingin bersama Daniel Chang untuk waktu yang lama. Tertawa dan bersedih bersamanya. Melewati waktu berdua. Tapi semua harapan hanya tinggal angan yang tidak akan pernah terjadi.


***


Jane Wang malam ini pulang lebih larut dari biasanya. Latihannya tidak berjalan dengan mulus dan harus diulang-ulang. Dia sudah mengirim pesan pada Xiao Ling jika dia pulang terlambat, meskipun tak mendapat balasan.


Pukul 01.00 dini hari Jane Wang masuk ke dalam apartemen. Keadaannya gelap gulita. Dia berpikir Xiao Ling sedang bersama Daniel Chang setelah bertemu dengan ibunya. Betapa kagetnya saat dia menyalakan lampu. Kaleng-kaleng bir kosong berserakan di lantai. Ada sepuluh atau sebelas kaleng.


Xiao Ling duduk di lantai dengan menekuk kedua kakinya. Dia membenamkan wajahnya di atas tangan yang terlipat di lutut.


“Kau kenapa Ling’er?” Jane Wang mengoyang-goyangkan badan Xiao Ling.


Xiao Ling mengangkat wajahnya. Dia hanya diam, menatap Jane Wang yang terlihat bingung.


“Kau mabuk?” Jane Wang semakin cemas dan penasaran. Mungkinkah Xiao Ling menghabiskan semua bir dalam kaleng?


Xiao Ling memeluk Jane Wang setelah sadar siapa yang di depannya. “Aku harus bagaimana jie?” Pelukannya semakin erat.


Jane Wang merasakan basah di pundaknya. Tetesan air jatuh di atas bajunya dan meresap ke dalam kulit. Apakah Xiao Ling menangis? Tanyanya dalam hati.


“Apa yang terjadi?”


Xiao Ling hanya membisu.


“Ling’er apa yang terjadi padamu?” Desak Jane Wang dengan suara meninggi.


“Aku menyukainya. Aku benar-benar menyukainya.”


***


Mobil Daniel Chang terparkir di pinggir pantai. Dia sudah disana sejak matahari belum terbenam. Dia bersandar di pintu penumpang depan dengan sebotol bir di tangannya. Di bawah kakinya berserakan botol-botol bir yang lain. Entah sudah berapa botol yang dia habiskan.


Langit biru sudah berganti menjadi hitam pekat dengan taburan bintang-bintang. Deburan ombak berkejaran menuju tepi pantai. Hembusan angin laut menerpa tubuh Daniel Chang. Tatapannya terlempar jauh ke tengah laut. Itu hanyalah sebuah tatapan kosong. Dia tidak benar-benar melihat apapun. Pikirannya terlalu kacau untuk sekedar menikmati keindahan malam ini. Hatinya terlalu berat untuk menerima kenyataan yang ada di depan matanya. Kebenaran yang terlalu menyesakkan dada.


Daniel Chang berharap ada kemungkinan lain. Mungkin saja Michelle Liu bukanlah ibu kandung Xiao Ling. Atau mungkin saja dia bukan anak Michelle Liu. Mungkin dia anak dari David Chang dengan wanita lain. Tapi sepertinya itu tidak mungkin. Wanita itu tidak mau merawat anak kandungnya sendiri, mana mungkin sudi membesarkan anak orang lain.

__ADS_1


Daniel Chang memikirkan banyak hal lain yang mustahil. Dia hanya tidak mau mengakui jika dia dan Xiao Ling bersaudara.


Botol di tangan Daniel Chang kembali kosong. Dia menggenggam erat botol itu, kemudian melemparkannya ke laut. Dia menjerit sekuatnya. Berulang-ulang. Sampai merasa sakit di tenggorokannya. Dia terduduk lemas. Menekuk lututnya dan menyandarkan kepalanya di pintu mobil. Butiran bening mulai mengembang di sudut kedua


matanya. Ini adalah hari terkelam dalam hidupnya.


***


Jane Wang membuka pintu kamar dan mendapati Xiao Ling masih terlelap di sofa. Keadaannya sangat kacau. Semalaman gadis itu menangis. Setiap kali Jane Wang bertanya ada apa, Xiao Ling hanya memandangnya dengan mulut yang terkunci rapat. Itu membuatnya penasaran dan frustasi. Entah apa yang terjadi pada sepupunya itu.


Kemarin saat mereka terakhir bertemu, Xiao Ling mengatakan akan bertemu dengan ibunya. Apa mungkin pertemuannya tak berjalan lancar? Jane Wang hanya bisa mendesah tanpa tahu jawabannya. Dia akan bertanya lagi saat gadis itu sudah lebih baik.


Jane Wang masuk ke kamar mandi. Dia harus bersiap dan pergi ke tempat latihan. Hari ini pengumuman judul pertunjukan yang akan ditampilkan selanjutnya, juga pembagian peran.


Jane Wang sekali lagi melihat keadaan Xiao Ling sebelum pergi. Gadis itu masih tidur dengan posisi yang tak berubah. Tanpa sadar, dia kembali menghela napas.


Di depan apartemen, Jane Wang melihat Daniel Chang keluar dari dalam lift dengan keadaan yang sangat kacau. Wajahnya sayu, lingkar hitam menghiasi kedua matanya, rambutnya acak-acakkan, dan pakainnya juga berantakan. Dia menggeleng pelan, ada apa dengan dua orang ini?


“Kau tidur di luar Daniel?” Jane Wang menyapa. Pria itu juga bau alkohol. Entah berapa banyak alkohol yang telah dia habiskan.


“Hmmm.” Jawab Daniel Chang singkat.


“Iya. Ibunya adalah Mamaku.” Daniel Chang masuk ke dalam apartemennya setelah mengucapkan itu.


Jane Wang mematung di tempat dia berdiri. Apakah dia salah dengar? Tidak. Daniel Chang mengatakannya dengan sangat jelas. Tentu saja itu juga bukan sebuah lelucon. Otaknya berusaha mencerna kata-kata Daniel Chang tadi. Setelahnya, dia baru bisa memahami kenapa dua orang itu terlihat sangat kacau. Dia memegang keningnya. Dia merasa kasihan pada Xiao Ling dan Daniel Chang. Dia bisa membayangkan bagaimana perasaan kedua orang itu saat ini.


***


Daniel Chang masuk ke dalam apartemennya. Cukup lama dia berdiri di balik pintu. Dia merasakan kamar apartemennya pengap dan gelap. Ruangan itu terasa sempit dan sesak. Membuatnya sulit bernapas.


Daniel Chang menyeret langkahnya ke dapur. Mengambil sebotol whiskey dan meneguknya tanpa jeda. Kerasnya alkohol tak terasa di lidahnya. Indera perasanya seolah mati, seperti hatinya yang mati rasa.


Daniel Chang mengambil alkohol lagi dan meminumnya tanpa henti. Hanya alkohol yang bisa menemaninya. Melupakan pahitnya kenyataan yang harus dia hadapi. Dia tidak peduli jika alkohol meracuni tubuhnya.


Daniel Chang terduduk lesu di lantai. Menekuk lutut dan bersandar di dinding. Menatap kosong. Hatinya juga kosong, tapi terasa sangat sakit di dalam sana. Berulang kali dia bertanya kenapa semua ini terjadi? Kenapa harus gadis itu? Dan untuk kesekian kalinya dia hanya merasa sesak di dadanya.

__ADS_1


***


Xiao Ling menatap kosong ke luar balkon. Matanya bengkak dan sembab, terlihat jelas berapa banyak dia mengeluarkan airmata. Saat ini pun dia belum bisa menghentikan tangisnya setiap teringat betapa kejamnya takdir mempermainkan hidupnya sedemikian rupa. Tak ada yang bisa membayangkan betapa hancur hatinya saat ini.


Salju mulai turun di luar. Sejak hari itu, Xiao Ling membenci salju. Musim dingin ini telah membekukan harapannya, satu-satunya hal yang dia miliki. Daniel Chang, adalah satu-satunya harapan baginya untuk tetap berjalan menapaki hidup. Satu-satunya pegangan agar dia tak tersesat di dunia ini. Tapi itu pun telah pupus. Semua


telah berakhir bagi dia dan pria itu. Perasaannya harus terkubur bersama kenyataan, tanpa bisa dia ungkapkan.


***


“Kau baik-baik saja?” Jane Wang tahu jika Xiao Ling tidak benar-benar baik-baik saja. Sudah seminggu berlalu. Dia tahu setiap tengah malam Xiao Ling terbangun dan menangis seorang diri. Dia bisa mendengar isakannya, tapi tetap berpura-pura tidur. Dia membiarkan sepupunya sendiri, karena mungkin itu yang gadis itu butuhkan.


Xiao Ling hanya mengangguk lemah. Dia sedang duduk melamun di balkon. Melamun, adalah kegiatan sehari-hari gadis itu selain menangis.


Jane Wang duduk di sebelah Xiao Ling. “Apa yang akan kau lakukan sekarang?”


Xiao Ling mendesah. “Aku akan menemui ibuku. Aku masih ingin tahu tentang latar belakangku. Tentang ayahku.”


“Kapan kau akan bertemu dengannya?”


“Mungkin besok.”


Suasana jadi hening. Baik Jane Wang dan Xiao Ling saling diam. Larut dalam pikiran masing-masing.


“Bagaimana dengan Daniel?” Xiao Ling kembali membuka suara. Sejak hari itu di café, dia belum bertemu dengan Daniel Chang lagi. Seminggu ini dia mengurung diri di dalam apartemen. Belum pernah sekalipun keluar.


“Dia sangat kacau. Sama sepertimu.” Jane Wang melihat wajah Xiao Ling menjadi muram mendengar ucapannya. Bagaimana mungkin gadis itu masih memikirkan orang lain di saat seperti ini? “Kau tak perlu khawatir tentang dia. Dia pasti segera merayu gadis-gadis lagi. Jangan terlalu memikirkan tentang dia.”


Xiao Ling memaksakan tersenyum. “Aku berharap dia menemukan kebahagiaan. Dia pria yang baik.” Butiran bening mulai menetes. Dia tak sanggup lagi menahan tangis ketika mengingat Daniel Chang.


Jane Wang menjadi bingung harus berbuat apa. Dia ingin menghibur Xiao Ling, tapi dengan apa? “Ling’er, nanti malam ayo kita ke klub. Ayo kita bersenang-senang. Lupakan sejenak kenyataan ini.” Hanya itu yang melintas di pikirannya.


“Kau saja yang pergi, jie. Aku di rumah saja.”


“Atau kau ikut aku latihan? Aku kenalkan dengan teman-temanku. Samuel masih sering menanyakanmu.”

__ADS_1


“Aku sedang tak ingin kemana-mana.”


Jane Wang mendesah keras. Dia menyerah. Dia tak tahu lagi harus berbuat apa untuk sekedar membuat sepupunya tersenyum. Jika seperti ini terus, gadis itu bisa sakit.


__ADS_2