Mid-Autumn In San Francisco

Mid-Autumn In San Francisco
Bab 23


__ADS_3

‘KAU CANTIK’


Kata itu terus terngiang di pikiran Xiao Ling.


Dua jam yang lalu dia pulang ke apartemen. Dia sudah mandi dan berganti piyama. Sekarang dia terbaring di atas kasur sambil memandang langit-langit kamar. Dalam pikirannya hanya ada kata ‘kau cantik’ yang terulang-ulang. Dia ingin menerka apa maksud pria itu dengan mengatakannya, tapi dia takut mengambil kesimpulan yang salah. Dia tak tahu pasti apa isi hati Daniel Chang.


Drrrtt…drrttt


Ponsel Xiao Ling bergetar. Ada satu pesan masuk.


Sudah tidur? Daniel


Senyum mengembang di sudut bibir Xiao Ling setelah membaca pesan itu. Hanya karena sebuah tulisan bisa membuat dadanya kembali berdebar. Dia kemudian mengetik balasan.


Belum. Kau?


Xiao Ling terus melototi layar ponselnya. Tak sabar menunggu balasan pesannya. Tak berapa lama, ponselnya berbunyi. Daniel Chang menghubunginya.


Xiao Ling tersentak. Dia menarik napas dalam dan menghembuskannya perlahan, untuk mengatur debaran hatinya. Agar suaranya terdengar biasa.


“Halo. Ada apa?”


“Tak apa-apa. Hanya saja aku tidak bisa tidur. Kau sendiri kenapa belum tidur?”


“Aku juga tidak bisa tidur.”


“Apa yang kau pikirkan? Apa kau memikirkan aku?”


“Kenapa aku harus memikirkanmu?”


Xiao Ling berbohong. Jelas dia sedang memikirkan pria itu. Dia hanya enggan mengatakannya. Dia terlalu malu.


“Aku masih menunggu Jane jie. Dia belum pulang.”


“Dia kemana?”


“Aku tak tahu. Tadi sore aku meninggalkannya di festival.”


“Mungkin dia sedang bersama teman-temannya.”


“Mungkin juga.”


Suasana hening sejenak. Baik Xiao Ling ataupun Daniel Chang saling terdiam. Lima detik. Sepuluh detik. Dua puluh detik. Sampai akhirnya Daniel Chang kembali bersuara.


“Apa aku perlu kesitu? Menemanimu menunggu Jane?”

__ADS_1


Xiao Ling ingin mengatakan iya, tapi bibirnya berucap sebaliknya. “Tidak perlu. Ini sudah terlalu malam.”


“Aku tidak apa-apa. Apa kau saja yang kesini?”


Xiao Ling mengerutkan kening. Hatinya ingin meng-iya-kan, tapi logikanya mencegahnya. “Bagaimana kau bisa tahu nomorku?” Dia hanya bisa mengalihkan pembicaraan.


“Kau tak ingat? Waktu itu aku meminjam ponselmu untuk menghubungi nomorku saat ponselku ketinggalan di kafe.”


“Oh waktu itu? Aku ingat. Kau menyimpannya?”


“Iya. Aku tahu akan membutuhkannya, makanya aku simpan.”


“Untuk apa?”


“Tentu saja untuk menghubungimu. Untuk mengatakan aku akan mengantarmu lusa.”


“Mengantar…ku?” Xiao Ling hampir lupa tentang itu. tapi kemudian dia paham. “Besok kau ada acara?”


“Iya. Aku ada sedikit urusan.”


“Baiklah. Lusa juga tak apa. Aku tutup teleponnya.”


“Oke. Selamat malam.”


Xiao Ling meletakkan ponselnya di atas nakas dan mencoba untuk memejamkan mata. Tapi sulit sekali. Dia hanya berguling-guling, mengubah posisi tidurnya. Sampai akhirnya dia mendengar seseorang membuka pintu apartemen.


Terdengar pintu apartemen yang terbuka. Xiao Ling melirik jam di dinding. Pukul 01.15. Itu pasti Jane Wang. Dia segera bangkit dari tempat tidur dan berjalan keluar kamar.


“Kau baru pulang jie?”


Suara Xiao Ling membuat Jane Wang terloncat kaget. “Kau belum tidur?”


“Belum bisa tidur.” Xiao Ling duduk di sofa depan televisi. “Kau dari mana? Kenapa pulang selarut ini?”


Jane Wang melihat jam di pergelangan tangannya. Memang sudah malam. “Aku tadi pergi ke bar bersama teman-temanku.” Dia merebahkan tubuhnya ke sofa. “Tadi aku mencarimu kemana-mana. Hampir satu jam aku berkililing di festival mencarimu. Aku juga mencarimu ke apartemen sore tadi, tapi tak juga ketemu. Akhirnya aku pergi


saja bersama teman-teman.”


“Maaf, aku tadi meninggalkanmu begitu saja. Aku tadi seperti melihat ibuku. Kemudian aku bertemu Daniel dan akhirnya pergi bersamanya.” Xiao Ling tidak menceritakan kejadian saat dia hampir tertabrak. Dia hanya tak ingin sepupunya khawatir.


“Benarkah kau melihat ibumu?”


“Aku juga tak yakin. Mungkin aku salah lihat.”


“Oh… Lalu kau pergi kemana bersama Daniel?”

__ADS_1


“Ke atap gedung lantai 24. Melihat cahaya bulan.”


Jane Wang merubah posisinya menjadi duduk. “Berdua?”


Xiao Ling mengangguk.


Jane Wang mencoba menduga-duga ada apa diantara Xiao Ling dan Daniel Chang. Tak begitu yakin, dia bertanya. “Kau berkencan dengan Daniel? Secepat itu?”


“Bukan seperti itu.” Xiao Ling mengerak-gerakkan telapak tangannya. Menyangkal. “Kami hanya berteman.”


“Tak masalah jika kalian berkencan.”


Dalam hati Xiao Ling, dia juga tak ada masalah jika benar-benar berkencan dengan Daniel Chang. Dia pria yang baik.


“Ngomong-ngomong… apa rencanamu selanjutnya? Tentang mencari ibumu.”


“Aku akan mencarinya lagi. Daniel akan menemaniku.”


“Syukurlah, ada yang menemanimu.” Jane Wang menatap Xiao Ling sayu. “Aku minta maaf tidak bisa membantumu. Aku sangat sibuk karena pertunjukan bulan depan.”


“Tidak apa-apa jie. Pertunjukanmu jauh lebih penting.” Xiao Ling memaklumi itu.


Tak lama, Jane Wang mulai menguap. Matanya sudah meminta untuk dipejamkan. “Ayo kita tidur.” Dia berjalan masuk ke kamar. Diikuti Xiao Ling di belakang.


Lima belas menit kemudian, Xiao Ling menengok Jane Wang yang tidur di sebelahnya. Sepupunya itu sudah terlelap tidur. Sedangkan dirinya masih mengedip-kedipkan matanya. Entah kenapa matanya sangat sulit terpejam mala mini. Hati dan pikirannya dipenuhi oleh Daniel Chang.


***


“Ling’er… ayo kita makan di luar.”


Jane Wang mengetuk pintu kamar mandi agar sepupunya cepat keluar. Sudah lebih dari dua puluh menit Xiao Ling di dalam sana. Jane Wang sampai heran sebenarnya apa yang dilakukan sepupunya sampai selama itu.


“Aku sudah sangat lapar.” Teriak Jane Wang lagi. Perutnya sudah keroncongan sejak tadi. Semalam dia lupa makan malam karena terlalu asyik berkumpul bersama teman-temannya. Dia hanya mengisi perutnya dengan segelas bir semalam.


Krek. Suara pintu terbuka. Xiao Ling keluar dengan kepala yang terbalut handuk.


“Ayo makan di luar.” Ulang Jane Wang. “Aku ingin makan sup tauge.” Dia butuh itu untuk menghilangkan pengarnya karena alkohol semalam.


“Tunggu aku ganti baju sebentar.” Xiao Ling masuk ke kamar, tak berapa lama dia sudah siap untuk pergi. “Ayo jie.”


Jane Wang menyambar tas di sofa dan siap keluar apartemen. “Tunggu dulu.” Dia memegangi perutnya. “Aku harus ke toilet dulu. Kau tunggulah di luar apartemen.” Dia segera berlari masuk toilet karena panggilan alam.


Xiao Ling menuruti ucapan sepupunya. Dia berdiri di depan apartemen. Sesekali dia melihat kekanan dan kiri lorong apartemen. Memperhatikan suasana apartemen yang sepi. Dia menoleh ketika mendengar pintu apartemen di sebelahnya terbuka. Seorang wanita keluar dari sana. Wanita yang dulu pernah dia lihat juga.


Tak lama, Daniel Chang juga terlihat. Dia berdiri di pinggiran pintu yang terbuka. Entah berucap apa, dan wanita itu pergi. Saat akan menutup pintu, dia menoleh ke arah Xiao Ling. Kedua mata mereka pun bertemu.

__ADS_1


Timbul sesuatu… yang membuat hati Xiao Ling menjadi sangat kesal, juga kecewa. Inikah yang dilakukan pria yang semalaman dia pikirkan? Sampai membuatnya sulit tidur. Dia menatap tajam ke dalam bola mata Daniel Chang. Tatapan yang membuat orang merinding bila melihatnya.


__ADS_2