
San Fransisko
Xiao Ling menyeret kopernya menyusuri lorong terminal kedatangan bandara Internasional San Fransisko. Dia baru saja mendarat dengan selamat. Dia merasa lelah setelah menempuh perjalanan lebih dari dua belas jam. Dan sekarang sudah tengah hari.
Xiao Ling berjalan keluar bandara menuju tempat pemberhentian taksi. Dia baru saja membuka pesan dari Jane Wang, jika sepupunya itu tidak bisa menjemputnya di bandara karena ada urusan mendadak. Sepupunya juga mengirim alamat apartemennya beserta kode pintu, untuk jaga-jaga jika dia belum selesai dengan urusannya saat Xiao Ling sampai di Chinatown.
Xiao Ling menghirup napas dalam-dalam ketika dia sudah berada di luar bandara. Udara San Fransisko terasa berbeda di dadanya. Dia memandangi langit biru yang membentang di cakrawala luas. Matahari bersinar begitu cerahnya tanpa awan yang menutupi. Cuaca yang hangat, menambah kesan pertama yang memikat hati gadis itu. Dia menyukai kota ini.
“Do you need a taxi, Miss?”
Suara seorang pria membuyarkan kekagumannya pada alam.
Saat Xiao Ling menoleh, sebuah taksi sudah berhenti tepat di sebelahnya. Pria yang ada di balik kemudi sudah menurunkan kaca mobilnya sambil tersenyum ramah. Xiao Ling mengangguk. Pria itu kemudian turun dan membantu Xiao Ling memasukkan barang-barangnya di bagasi belakang.
“Where are you going?” tanya pria itu ramah setelah Xiao Ling duduk di kursi penumpang belakang.
“Chinatown, please.”
Dan taksi pun mulai berjalan menyusuri jalanan padat kota San Fransisko.
Ada sesuatu yang ganjil. Hati Xiao Ling merasa tidak enak. Setiap kali dia melirik spion di atas kemudi, pria
di depannya itu sedang menatapnya dari sana. Beberapa kali mata mereka bertemu, dan secepat kilat pria itu mengalihkan pandangannya ke depan. Untuk kesekian kalinya, akhirnya Xiao Ling memberanikan bertanya. “Is there any problem?”
“Nothing. I’m just wondering if we ever met before?” tanya si pengemudi untuk mencairkan suasana.
Apakah ini sebuah alasan klasik seorang pria untuk menarik perhatian seorang wanita?
Pikir Xiao Ling. “No. This is my first time here.”
Pria di depan Xiao Ling mengangguk. Dia harus mencari topik yang lain untuk mengajak penumpangnya sekedar mengobrol. Bukan maksudnya untuk menggoda, hanya saja dia tidak suka jika harus saling diam di dalam mobil.
“May I know where are you going, Miss?”
Xiao Ling mengangkat sebelah alisnya. Heran. Bukankah tadi dia sudah mengatakan Chinatown dengan jelas. Apa pria itu tidak mendengar? “I said Chinatown.”
“I mean the exact place. Chinatown is so wide.” Jelas pria itu.
“Oh, I see” Xiao Ling mengerti. “East Point Apartments, Grant Avenue 153F, Chinatown.”
Tempat itu sangat tidak asing di telinga sang pengemudi. Tentu saja. Dia juga tinggal
disana. “I know that place. I also live there.”
__ADS_1
“Really?” Xiao Ling sedikit tak percaya.
“I’m in third floor. In room 303. And you?”
Kamar 303? Bukankah itu sebelah kamar sepupu Xiao Ling. Ini kebetulan sekali, pikirnya. “Do you know Jane Wang?”
“Sure. She is my neighbor. Do you know her?”
“She is my cousin. I will stay with her during my trip here.”
“What a coincidental. How long will you stay?”
“I’m not sure about that.”
“Do you speak Mandarin?” tanya pengemudi itu hati-hati.
“Yes, I do”
“Jadi kita bisa menggunakannya?” Pria itu sudah merubah bahasanya. “Aku Daniel. Daniel Chang.”
“Xiao Ling.” Jawabnya singkat.
Sesaat kemudian Xiao Ling tersadar ada sesuatu yang aneh. Saat dia melihat kartu nama yang terpampang di dashboard mobil, dia sangat yakin jika nama yang tertulis disana adalah Mike Law. Lalu kenapa pengemudi ini bernama Daniel Chang? Dia memperhatikan wajah antara pengemudi dan wajah yang ada dalam foto. Wajah
Terbesit kecurigaan dalam hati Xiao Ling. Bagaimana kalau pria ini adalah orang jahat yang sudah mencuri taksi ini? Bagaimana kalau pria ini ingin menculiknya? Atau bahkan membunuhnya dan membuang jasadnya di jalan? Sepeti berita yang pernah dia dengar. Seorang spikopat. Bulu kuduknya seketika merinding. Tapi tunggu. Pria ini kenal sepupunya. Dia tinggal di apartemen yang sama dengan sepupunya. Tapi bisa juga dia berbohong.
Pikiran aneh mulai memenuhi kepala Xiao Ling. Agar tidak penasaran, dia memberanikan bertanya. “Siapa Mike Law?”
“Dia temanku.” Daniel Chang menjawab santai.
“Apa boleh mengemudikan taksi milik orang seperti ini?”
Daniel Chang tertawa kecil. “Tentu saja tidak.”
“Lalu?”
“Istrinya masuk rumah sakit. Dia minta tolong padaku untuk mengemudikan taksinya, karena sudah terlalu lama dia tidak bekerja. Dia takut akan terkena pemutusan kerja. Kau tahu? Cukup sulit untuk mendapat pekerjaan akhir akhir ini.”
Xiao Ling mengangguk mengerti. Memang benar semua ucapan pria itu. Dari kesan pertama itu, Xiao Ling berada pada kesimpulan bahwa Daniel Chang seorang yang baik. Walaupun dia sedang melanggar hukum.
“Kalau boleh tahu, kau berasal dari mana?”
“Guangzhou.” Jawab Xiao Ling singkat. “Kau?”
__ADS_1
“Aku tidak dari mana-mana.”
“Kau bukan pendatang?”
“Bukan. Aku rasa.” Ucap Daniel Chang sambil terus berkonsentrasi pada kemudi. “Apa kau sedang berlibur atau memang ada urusan di San Fransisko?”
Xiao Ling diam tak menjawab. Dia hanya tersenyum. Daniel Chang bisa melihatnya dari spion di atas kemudi. Mungkin itu rahasia, pikir pria itu.
Perjalanan dari bandara terasa menyenangkan. Bertemu dengan orang satu etnis di negeri yang jauh dari kampung halaman menjadi kesenangan tersendiri bagi Xiao Ling. Dia merasa bukan orang asing lagi setelah berkenalan dengan Daniel Chang. Betapa menyenangkannya.
“Bukankah itu Jane?” Daniel Chang menunjuk seorang gadis yang sedang berdiri di tepi jalan.
Xiao Ling melihat ke arah jari telunjuk Daniel Chang. “Itu memang dia.”, jawabnya mantap. Meski agak jauh tapi
dia yakin jika orang itu sepupunya.
Daniel Chang menepikan mobil. Iseng, dia membunyikan klakson yang membuat gadis itu meloncat kaget. “Apa yang kau lakukan di situ?” sapanya menahan tawa.
Jane Wang mengumpat. Dia ingin membuat perhitungan, tapi urung dilakukan saat tahu orang yang menyapanya dari dalam mobil. Tak lain adalah tetangga apartemennya. “Bukan urusanmu.”, jawabnya ketus.
“Dimana mobilmu?”
“Di bengkel.” Jawab Jane Wang singkat tanpa melihat lawan bicaranya.
“Kau menunggu seseorang? Apakah yang kau tunggu ada didalam mobil ini?”
Jane Wang melihat ke dalam mobil. Benar, dia menunggunya. Dia memeluk Xiao Ling ketika sepupunya itu sudah turun dari mobil. “Maaf tidak bisa menjemputmu.”
“Tidak apa-apa, jie.”
“Bagaimana perjalananmu? Melelahkan?”
“Tidak terlalu melelahkan.”
“Maaf nona-nona.”, sela Daniel Chang. “Haruskah aku membuang koper ini atau menjualnya?” Dia memegang koper
yang baru saja diturunkan dari dalam bagasi.
“Oh iya. Maaf.” Xiao Ling mengambil kopernya.
Jane Wang sedikit bingung. Apakah Daniel Chang sudah mengenal sepupunya? “Kalian sudah saling kenal? Bagaimana bisa?”, tanyanya penasaran.
“Kami kebetulan bertemu dan sedikit mengobrol tadi.” Daniel Chang masuk kembali ke dalam mobil. “Aku pergi. Sampai jumpa lagi nona-nona.”
__ADS_1
“Sie sie Daniel”