Mid-Autumn In San Francisco

Mid-Autumn In San Francisco
Bab 13


__ADS_3

Guangzhou, China


Xiao Lung sedang duduk di teras rumahnya. Dia berniat menghubungi Xiao Ling. Sudah dua minggu sejak kepergian adiknya ke San Fransisko, tapi adiknya itu baru sekali memberi kabar, saat dia baru sampai disana. Dia memencet nomer adiknya. Setelah empat kali bunyi ‘tut’ akhirnya seseorang menjawab di ujung telepon.


“Halo”


Xiao Lung sedikit bingung karena yang dia dengar adalah suara seorang pria. Apakah dia salah memencet nomer? Dia melihat ke ponselnya. ‘Xiao Ling mei mei’ yang tampak di layar. Berarti dia tidak salah nomer.


“Halo” Suara itu diulang.


“Halo. Bukankah ini ponsel milik Nona Xiao Ling?” Tanya Xiao Lung hati-hati.


“Benar.”


“Bisa saya berbicara dengan Xiao Ling.”


“Maaf, tapi saat ini Xiao Ling belum bisa menerima telepon.”


“Kenapa?”


“Dia sedang mandi. Nanti kalau sudah selesai, akan aku katakan kalau Anda menghubunginya.”


Tut… tut… tut….


Sambungan terputus.


Xiao Lung terpaku dengan ponsel yang masih menempel di telinga kanannya. Wajahnya terlihat bingung. Mandi? Apa maksudnya? Adiknya mandi saat ada seorang pria disana? Apa dia salah dengar? Yang dia tahu, adiknya itu sangat pemalu. Dia saja diusir dari kamar saat adiknya itu hendak mandi. Dan sekarang. Adiknya itu mandi ‘ditemani’ seorang pria?


“Kau kenapa?” Shi Yen Xing melihat Xiao Lung yang sedang termangu.


“A-aku… tidak… apa-apa.” Xiao Lung terbata.


“Ada apa?” Shi Yen Xing penasaran melihat tingkah anak sulungnya yang terlihat aneh.


“Aku baru saja menghubungi Ling’er.”


“Terus?”


“Tapi yang mengangkat seorang pria.” Xiao Lung terhenti. Haruskah dia mengatakan apa yang baru saja dia dengar.


“Dia bilang… Ling’er… sedang mandi.”


“APA?” Suara Shi Yen Xing tersentak yang membuat Xiao Lung terkejut.


“Siapa laki-laki itu?” Shi Yen Xing tersulut emosi. Benar saja. Selama ini dia selalu menjaga kedua putrinya dengan sangat hati-hati, agar mereka tidak salah pergaulan. Tapi ini? Baru dua minggu Xiao Ling pergi, dia sudah ‘serumah’


dengan seorang pria yang sama sekali tidak diketahui bagaimana rupa ataupun sifatnya, apalagi asal-usulnya. Mungkin Shi Yen Xing terlihat kolot. Tapi itu semua karena dia sangat menyayangi kedua putrinya.


“Aku tidak tahu.” Jawab Xiao Lung pelan. Dia takut akan terkena amarah mamanya, padahal dia juga tidak tahu apa-apa.


“Kau telepon adikmu lagi. Suruh dia segera pulang.”


Xiao Lung hanya mengangguk.

__ADS_1


***


Chinatown, San Fransisko


“Halo”


Daniel Chang mengangkat telepon Xiao Ling. Tapi kenapa orang yang menelpon diam saja? “Halo”. Dia mengulangi ucapannya.


“Halo. Bukankah ini ponsel milik Nona Xiao Ling?”


“Benar.”


“Bisa saya berbicara dengan Xiao Ling.”


Daniel Chang bingung harus mengatakan apa. “Maaf, tapi saat ini Xiao Ling belum bisa menerima telepon.” Hanya itu kalimat yang melintas di otaknya.


“Kenapa?”


“Dia sedang mandi.” Jawab Daniel Chang sekenanya. Jika dia mengatakan apa yang terjadi sebenarnya, dia khawatir keluarga Xiao Ling akan cemas. “Nanti kalau sudah selesai, akan aku katakan kalau Anda menghubunginya.” Dia langsung mengakhiri panggilan. Dia tidak tahu harus menjawab apa lagi jika meneruskan telepon itu.


Daniel Chang kembali duduk di sofa di depan televisi setelah meletakkan ponsel Xiao Ling di atas meja. Dia kembali memencet tombol remote sambil menunggu gadis itu sadar.


***


Xiao Ling membuka matanya perlahan. Kepalanya terasa pusing. Dia melihat sekeliling. Sepi. Kenapa dia ada di atas tempat tidur? Dia mencoba mengingat apa yang terjadi. Dia baru saja selesai mandi. Kemudian dia hendak masuk ke kamar. Tak sengaja, sikunya menghamtam tembok. Dan tiba-tiba semuanya menjadi gelap. Dia hanya ingat sampai di situ. Apa dia pingsan?


Xiao Ling memijat-mijat pelipisnya dengan jarinya. Kepalanya berdenyut. Sudah beberapa hari ini, tepatnya setelah dia pergi mencari ibunya yang tanpa hasil, dia tidak bisa tidur. Dan semalam, dia hanya bisa terpejam selama dua jam. Kepalanya terlalu banyak memikirkan sesuatu.


Xiao Ling menyingkap selimut di tubuhnya dan turun dari tempat tidur. Dia berjalan keluar kamar dan melihat seseorang sedang asyik menatap layar televisi. Seorang pria. Apa yang dia lakukan disini? Siapa dia?


Pria itu menoleh. “Kau sudah sadar.” Daniel Chang berdiri dan berjalan ke arah lemari es untuk mengambil sebotol air mineral. “Minumlah.” Dia menyodorkan gelas yang telah terisi air tadi pada Xiao Ling dan kembali duduk di sofa.


“Terima kasih.” Xiao Ling meneguk air sampai habis.


Daniel Chang melihatnya dengan heran. Gadis ini benar-benar kehausan. Apa dia baru saja ikut lomba lari maraton?


“Apa yang kau lakukan disini?”


“Menjagamu.” Jawab Daniel Chang ringan.


Apa maksudnya menjaga? Xiao Ling sedikit linglung. Dia tidak ingin salah mengartikan kata ‘menjaga’ itu. Sejauh mungkin, dia membuang pikiran macam-macam. Dia tidak ingin terhanyut terbawa perasaan semu.


“Kemana Jane jie?”


“Dia pergi ke tempat latihan. Sebelum malam dia pulang.”


Xiao Ling mengangguk mengerti.


“Kenapa kau bisa sampai pingsan?” Selidik Daniel Chang. “Apa yang kau pikirkan? Dokter bilang kau stress.”


Xiao Ling diam. Apa dia perlu menceritakan masalahnya pada pria ini? Ini tentu saja bukan urusannya. Tapi pria ini pernah menawarkan bantuan padanya. Siapa tahu, dengan bantuan Daniel Chang, dia bisa mendapat sedikit petunjuk tentang ibunya.


“Katakan saja jangan sungkan.” Daniel Chang seolah bisa menebak pikiran Xiao Ling.

__ADS_1


“Sebenarnya… Aku sedang mencari seseorang.”


“Siapa?”


“Aku sedang mencari ibuku.”


“Bukankah dia berada di China?”


“Bukan yang itu.”


“Lalu? Yang mana?”


“Ibu kandungku.”


Daniel Chang tidak terkejut sama sekali. Itu bukanlah urusannya. Dia juga tidak tertarik dengan kehidupan pribadi Xiao Ling. Tapi, jika ada yang bisa dia lakukan untuk membantu gadis ini, dia akan melakukannya dengan senang hati.


“Dimana kau sudah mencarinya?”


“Di kelenteng.”


Daniel Chang menahan tawa. Apa yang ada dalam benak gadis ini? Mencari seseorang di kelenteng? Apakah orang yang dicarinya seorang biksu? Atau gadis ini ingin mencari seseorang dengan berdoa? Kemudian sang Dewa akan tersentuh dan menunjukkan ‘inilah ibu kandungmu’. Skenario ini terlalu lucu baginya.


“Kau sudah mencarinya di kantor catatan sipil?” Daniel Chang memberi alternatif yang mungkin.


Benar. Kenapa tidak terpikir oleh Xiao Ling untuk bertanya tentang ibunya disana? Mereka pasti punya data tentang orang-orang yang pernah tinggal dan menetap disini.


“Kau tahu tempatnya? Boleh aku minta tolong diantar kesana?”


“Tentu.” Ucap Daniel Chang ringan. “Besok aku antar kau ke sana. Aku punya seorang teman yang


bekerja disana.”


“Terima kasih.”


Xiao Ling sedikit merasa lega. Masih ada harapan untuk menemukan ibunya.


“Oh ya… tadi keluargamu menghubungimu saat kau pingsan.” Daniel Chang hampir lupa tentang telepon tadi.


“Siapa?” Xiao Ling masuk ke kamar untuk mengambil ponselnya.


“Mungkin adikmu atau kakakmu. Nama depan kalian sama.”


“Itu kakakku.” Jelas Xiao Ling setelah memeriksa histori panggilan. “Apa yang kau katakan padanya?”


“Aku bilang kau sedang mandi?”


“Apa?” Apakah pria ini sudah gila? Bagaimana bisa dia mengatakannya semudah itu? Apa yang akan dipikirkan kakaknya? Xiao Ling merasa malu sendiri.


“Haruskah aku katakan kau pingsan dan membuat mereka khawatir?”


Dia ada benarnya juga. Tapi…


“Kau bisa menjelaskan semua pada keluargamu nanti. Sekarang bersiaplah. Ayo kita pergi.”

__ADS_1


“Kemana?” Xiao Ling kurang mengerti. Bukankah baru besok mereka akan pergi?


“Kita makan di luar. Kau tahu? Aku tidak bisa memasak.” Daniel Chang berdiri. “Aku ambil kunci mobil dulu di kamarku. Aku tunggu di depan kamarku. Jangan lama-lama.”


__ADS_2