
Daniel Chang memutar balik mobilnya sesaat setelah mendengar ramalan cuaca. Menurut ramalan, malam nanti akan turun salju yang pertama. Salju pertama adalah hal yang sudah dia tunggu-tunggu. Dia berniat menyatakan perasaannya pada Xiao Ling saat salju pertama turun. Dia pernah mendengar bahwa seseorang yang menyatakan
perasaannya saat salju pertama, perasaannya itu akan terbalas dan dia akan bahagia bersama orang yang disukai.
Pertama-tama, Daniel Chang harus mengantarkan Xiao Ling kembali ke apartemen. Kemudian pergi ke pusat perbelanjaan untuk membeli hadiah yang akan dia berikan pada Xiao Ling untuk mewakili perasaannya.
Daniel Chang sedang serius memilih hadiah. Matanya sibuk melihat berbagai bentuk kalung yang di tunjukkan oleh karyawan aksesoris di pusat perbelanjaan. Sampai akhirnya dia tertarik dengan sebuah kalung dengan liontin kupu-kupu. Itu pasti cocok untuk Xiao Ling.
Daniel Chang memacu mobilnya dengan kecepatan tinggi. Dia tidak mau Xiao Ling menunggu terlalu lama. Benar kata ramalan. Saat dia memasuki Chinatown, salju mulai turun. Dia segera naik ke lantai tiga setelah memarkir mobilnya di basement.
“Apa yang kau lakukan?” Tanya Daniel Chang ketika masuk apartemennya. Dia melihat Xiao Ling berdiri di tepi balkon dengan merentangkan telapak tangannya keluar balkon. Menangkap salju yang turun dengan tangannya.
Xiao Ling menoleh. Dia begitu terpesona melihat salju yang sedang turun sampai tidak mendengar Daniel Chang masuk. Benda putih itu seperti kapas yang dingin, tapi sesaat setelah jatuh ke tangannya segera berubah menjadi butiran air. “Saljunya sangat indah.”
“Kau tidak pernah melihat salju turun?”
“Hmm. Di Guangzhou tidak ada salju.”
“Benarkah?” Daniel Chang baru mengetahui itu. “Aku kira disana juga ada musim dingin.”
“Benar. Tapi tidak turun salju saat musim dingin. Hanya hujan.” Xiao Ling masih tetap berdiri di balkon. Menikmati suasana bersalju.
Daniel Chang duduk di sofa. Tangannya merogoh kotak hadiah yang dia simpan di saku. Dia mengatur napas dan detak jantungnya yang entah kenapa mulai tak beraturan. Ini bukan pertama kalinya dia akan menyatakan cinta. Tapi kenapa dia merasa sangat gugup saat ini. Mungkin karena Xiao Ling gadis yang istimewa baginya. Berbeda dengan gadis-gadis lain yang pernah mampir di hatinya.
Daniel Chang sudah hendak berdiri menghampiri Xiao Ling ketika matanya melihat sebuah foto yang sobek di meja. Foto yang ditinggalkan Xiao Ling di situ saat salju mulai turun tadi.
“Ini foto siapa?” Daniel Chang yakin mengenal wanita dalam foto itu.
Xiao Ling menoleh ke arah Daniel Chang. “Itu foto ibuku.” Dia tahu Daniel Chang sedang memegangnya.
“Maksudmu… i-ibu yang selama ini kau cari?” Daniel Chang memastikan.
“Iya.”
Daniel Chang terduduk lemas. Pikirannya seketika kosong. Tapi kemudian dia merasakan sesak di dalam dadanya. Seperti terhimpit sesuatu yang… yang sangat berat. Dia memegang kepalanya, yang entah kenapa tiba-tiba dia merasa tubuhnya tak kuat menopang kepalanya.
Tunggu dulu, Daniel Chang harus memastikannya lagi. Dari sudut orang lain. Mungkin saja ini sebuah kesalahan. Dia tidak bisa percaya begitu saja.
“Xiao Ling, sepertinya aku harus pergi. Kau pulang saja.” Daniel Chang pergi begitu saja tanpa menjelaskan akan kemana.
__ADS_1
Xiao Ling terpaku di tempatnya. Dia tidak bisa mengerti kenapa Daniel Chang pergi lagi. Padahal pria itu yang tadi menyuruhnya untuk menunggu. Dan apa ini? Pria itu belum mengatakan apa-apa, tapi sudah pergi lagi.
Xiao Ling masih berdiri mematung. Sebaiknya dia tidak pulang dulu. Dia memutuskan untuk menunggu Daniel Chang kembali dan bertanya apa yang sebenarnya terjadi.
***
Daniel Chang melajukan mobilnya dengan kecepatan sangat tinggi. Dia bahkan tidak peduli jalanan yang licin karena salju. Dia hanya ingin segera sampai ke tempat tujuannya dan mengetahui kebenarannya.
Daniel Chang kembali memegang keningnya. Pikirannya kini dipenuhi banyak hal. Banyak pertanyaan yang bergelayut disana. Dia baru menyadari telah melewatkan satu hal. Michelle Liu. Wanita itu bermarga Liu. Kenapa sebelumnya tidak pernah terpikirkan olehnya?
Daniel Chang menginjak tuas gas lebih dalam lagi. Dia sudah melewati batas maksimum kecepatan. Dia tidak lagi peduli jika besok ada surat tilang yang dikirim untuknya.
Mobil Daniel Chang memasuki kompleks perumahan mewah di Oakland. Dia menghentikan mobilnya di depan rumah besar bertingkat dua. Rumah itu terlihat sangat mewah. Dia memencet bel rumah dengan tidak sabar. Berulang-ulang tanpa jeda, sampai seseorang membukakan pintu.
“Selamat malam tuan muda.”
Daniel Chang bahkan tidak menanggapi sapaan dari asisten rumah tangga yang membuka pintu. Dia langsung masuk dan menuju ruang keluarga dimana kedua orangtuanya berada.
“Daniel, apa yang membawamu ke sini malam-malam?” Pertanyaan David Chang juga diabaikan oleh Daniel Chang. Dia punya banyak pertanyaan sendiri. Dia tidak punya waktu untuk menjawab pertanyaan orang lain.
“Kau sudah makan?”
Michelle Liu terlihat sangat terkejut. Pupil matanya membesar. “Da-darimana kau tahu?” Seingatnya dia tidak pernah bercerita tentang itu pada Daniel Chang. Tidak mungkin juga David Chang yang menceritakannya.
“Jawab saja pertanyaanku!” Daniel Chang berteriak. Dia lepas kendali. Dia tidak pernah berteriak seperti itu sebelumnya.
“Jaga sikapmu Daniel.” David Chang memperingatkan.
“Kenapa Mama diam saja. Jawab aku!” Masih dengan suara lantang.
David Chang yang sudah tersulut emosi meraih kerah baju Daniel Chang. “Dimana sopan santunmu pada orang tua?” Tangannya yang mengepal sudah terangkat. Siap memberikan pelajaran pada anaknya.
Belum sempat David Chang melayangkan tinju, Daniel Chang sudah menjatuhkan badannya ke lantai. Dia terduduk disana.
Michelle Liu ikut terduduk di lantai. Dia meraih tangan Daniel Chang dan menggenggamnya erat. “Maafkan Mama. Bukan maksud Mama merahasiakannya. Mama hanya belum menemukan waktu yang tepat untuk bercerita.”
“Kenapa harus dia? Kenapa bukan orang lain?” Suara lirih Daniel Chang hampir tak terdengar.
Michelle Liu memeluk putranya. Air mata mulai mengalir di pipinya. “Maafkan Mama.” Bisiknya pelan.
__ADS_1
Daniel Chang terkulai lemas, tak punya daya. Dia diam mematung disana untuk waktu yang cukup lama. Sampai dia merasa harus kembali berucap. Dia menarik napas sedalam-dalamnya sambil memejamkan mata. “Besok datanglah ke Chinatown. Ada seseorang yang ingin bertemu denganmu.”
“Siapa?”
“Putrimu.” Daniel Chang melepas pelukan Michelle Liu kemudian berdiri dan pergi begitu saja tanpa pamit.
***
Daniel Chang masuk ke dalam apartemennya dengan gontai. Dia terguncang mendapati kenyataan. Ternyata Xiao Ling masih di apartemennnya. Gadis itu sudah tertidur di sofa. Dia pasti lelah menunggu kedatangan Daniel Chang.
Daniel Chang mendekati Xiao Ling dan duduk di lantai di samping sofa. Dia menatap wajah gadis itu. Dadanya menjadi sesak. Terasa sangat sulit untuknya bernapas.
“Kau sudah pulang?” Xiao Ling membuka matanya karena merasakan kehadiran seseorang.
Daniel Chang memberikan senyuman palsu untuk menutupi perasaannya yang sebenarnya.
“Kau belum pulang?”
“Aku menunggumu. Kau dari mana?”
“Oakland. Menemui orangtuaku.”
“Apa ada sesuatu yang terjadi dengan mereka?”
“Tidak ada. Hanya…” Daniel Chang menghentikan ucapannya. Dia ingin mengatakan yang sebenarnya, tapi dia belum siap. Setidaknya jangan malam ini. Dia harus menata hatinya dulu.
“Hanya apa?”
“Bukan apa-apa.” Daniel Chang diam sesaat. “Sepertinya aku tahu wanita yang di foto tadi.”
“Benarkah?” Sorot mata Xiao Ling berbinar.
“Sebaiknya kau menemuinya besok untuk memastikan. Sekarang kau pulanglah. Ini sudah sangat larut.”
Apa ini? Kenapa Daniel Chang sangat datar tanpa ekspresi apapun. Padahal dia sudah menemukan ibu Xiao Ling. Xiao Ling sedikit heran. Tapi mungkin Daniel Chang hanya merasa capek. Lebih baik Xiao Ling pulang dan membiarkan pria itu beristirahat. “Baiklah. Selamat malam Daniel.”
Daniel Chang diam terpaku melihat Xiao Ling keluar dari apartemennya. Hatinya berkecamuk. Pikirannya sangat kacau saat ini. Dia mengeluarkan kalung yang dibelinya tadi. Menggenggamnya sangat erat sampai sudut liontin kupu-kupu melukai telapak tangannya. Darah segar menetes ke lantai. Bagaimana mungkin semuanya berakhir seperti ini? Bahkan dia belum memulainya.
Daniel Chang menyadari satu hal. Jika perasaanmu tak terwujud saat salju pertama, maka itu akan menjadi sebuah kisah yang tragis. Yang tidak pernah terbayangkan olehnya.
__ADS_1