
Daniel Chang memarkirkan mobilnya di basement gedung apartemen. Dia melihat Xiao Ling sudah terlelap tidur. Karena tak tega membangunkan, dia kembali menggendong gadis itu naik ke lantai tiga.
Daniel Chang berdiri di ambang pintu apartemen Jane Wang dengan Xiao Ling yang masih dalam gendongannya. Dia tidak tahu kode pintu itu, jadi tidak tahu harus menekan angka berapa.
“Xiao Ling, berapa kode apartemen Jane?” Tanya Daniel Chang yang tak dapat jawaban apapun. Xiao Ling terlalu mabuk untuk bisa menjawab. Mungkin dia bahkan tak mendengar pertanyaan pria itu. Akhirnya Daniel Chang membawa Xiao Ling ke kamarnya.
Daniel Chang merebahkan tubuh Xiao Ling di atas kasur dan menyelimutinya. Dia merasa badannya sedikit lengket. Dia mengeluarkan banyak keringat karena melakukan angkat beban tadi. Dia memutuskan untuk mandi agar badannya kembali segar.
Selesai menyiram tubuhnya, Daniel Chang masuk lagi ke kamar. Samar-samar, dia mendengar suara getaran. Setelah ditelisik, ternyata suara itu berasal dari ponsel Xiao Ling yang ada di dalam tasnya. Daniel Chang mengambil ponsel Xiao Ling. Di layar, tertera nama kakaknya. Dia tentu masih ingat karena pernah sekali
berbicara dengannya. Dia meletakkan ponsel itu di meja. Dia tak berniat mengangkatnya.
Setelah beberapa saat berhenti, ponsel itu kembali bergetar. Daniel Chang cukup lama memandangi layar ponsel itu. Antara membiarkannya atau mengangkatnya, dan akhirnya dia menerima panggilan itu. Mungkin ada sesuatu yang penting, pikirnya.
***
Guangzhou, China
Xiao Lung memegang ponsel di tangannya. Jarinya ragu-ragu untuk menekan tombol panggil. Dia melihat jam. Pukul 14.00, yang berarti jam 11 malam di San Fransisko. Sudah terlalu malam untuk menghubungi adiknya. Tapi dia tidak bisa menunggu sampai besok. Dia harus membagi cerita tentang perkembangan hubungannya dengan Li Yuan Bao sekarang. Akhirnya dia menghubungi adiknya dan berharap adiknya masih terjaga.
Panggilan pertama diabaikan. Apa mungkin Xiao Ling sudah tertidur lelap sampai tidak mendengar panggilan ponselnya? Xiao Lung akan mencoba sekali lagi. Bila tak diangkat juga, dia akan kembali menghubungi adiknya esok hari.
“Hallo”
Akhirnya seseorang menjawabnya. Xiao Lung mengangkat sebelah alisnya. Kenapa yang mengangkat seorang pria lagi? “Hallo. Maaf anda siapa?” Kali ini dia harus tahu siapa pria ini.
__ADS_1
“Saya Daniel. Daniel Chang.”
“Tetangga dari Jane Wang?” Selidik Xiao Lung.
“Benar.”
Rasa penasaran Xiao Lung sedikit terjawab. Pria ini sama dengan pria yang dulu. “Bisa saya bicara dengan Ling’er?”
“Maaf, saat ini tidak bisa?”
“Kenapa?”
“Dia sudah tidur.”
“Benar. Besok kalau dia sudah sadar, akan saya sampaikan jika anda menghubunginya.”
“Bagai…” tut..tut..tut…
Sambungan terputus. Xiao Lung seketika diam tertegun. Pikirannya mulai liar berkenala. Antara tidak percaya dan penasaran. Apa yang adiknya lakukan bersama pria tadi? Kenapa Xiao Ling bisa ‘tidur’ ditemani seorang pria? Lalu muncul perasaan khawatir. Bagaimana kalau dia pria jahat? Tapi adiknya sudah dewasa. Dia sudah bisa membedakan mana yang baik dan mana yang buruk baginya. Xiao Lung hanya perlu menyembunyikan hal ini dari mamanya. Jika mamanya tahu, pasti terjadi kehebohan. Bisa juga terjadi kakacauan di rumahnya.
***
Daniel Chang memasukkan ponsel Xiao Ling ke dalam tas lagi. Bukannya dia berlaku tak sopan dengan menutup panggilan begitu saja. Dia hanya tak tahu harus mengatakan apa. Bagaimana dia menjelaskan keadaan saat ini. Dia hanya tak mau salah bicara.
Daniel Chang memandangi wajah Xiao Ling yang sudah tertidur pulas. Pipi gadis itu masih merona merah karena alkohol. Tangan Daniel Chang membelai lembut pipi Xiao Ling. Beralih membelai lembut rambut di pucuk kepalanya. Dimatanya, gadis itu begitu cantik bahkan saat terlelap. Wangi lavender tercium di ujung hidung Daniel Chang, parfum dari Xiao Ling. Entah kenapa, aroma tubuh gadis itu membangkitkan gairah dalam jiwanya.
__ADS_1
Daniel Chang tak ingin berlama-lama disana. Itu terlalu berbahaya bagi mereka. Dia segera keluar dari kamar. Dia mengambil sebotol air mineral dan meneguknya tanpa jeda. Air putih akan kembali menjernihkan akal sehatnya.
***
Pukul 23.30. Mata Daniel Chang berkedip-kedip. Dia berbaring di sofa di depan televisi, mencoba meredam gejolak dalam dadanya. Jantungnya berpacu lebih cepat. Panas dalam dirinya keluar bersama hembusan napasnya yang berat. Xiao Ling bukan gadis mabuk pertama yang tidur di kamarnya. Tapi entah kenapa dia bisa seperti itu. Gemuruh dalam dadanya terasa menyiksanya. Hasrat dalam dadanya begitu menggebu, karena sudah beberapa bulan ini dia tidak berhubungan dengan wanita manapun.
***
Pukul 24.00. Mata Daniel Chang belum juga terpejam. Dia melirik kamarnya yang remang, karena hanya lampu tidur yang menyala. Dia bangkit dan berdiri di ambang pintu kamar. Bermenit-menit dia terpaku disana, ragu. Dia pria muda yang sangat sehat. Gejolak dalam dirinya semakin tak tertahan. Tapi akal sehatnya masih mendominasi. Dia bersumpah pada dirinya sendiri. Tak akan menyentuh seujung rambut gadis itu tanpa seijin Xiao Ling. Akhirnya, dia hanya menutup pintu kamar dan kembali berbaring di sofa. Sebisa mungkin meredam gejolak dalam jiwanya.
***
Pukul 01.00. Daniel Chang kembali bangkit. Dia berjalan ke dapur, mengambil sebotol whiskey, memutar tutupnya dan siap meneguknya. Berharap alkohol bisa membantunya tertidur. Leher botol itu tertahan di bibirnya. Alkohol juga berbahaya. Dia tidak bisa memastikan apa yang akan dia perbuat jika mabuk. Dia harus tetap menjaga kesadarannya. Dia menutup botol itu dan meletakkannya begitu saja di atas meja.
***
Pukul 01.30. Daniel Chang berdiri di pinggir balkon apartemennya. Menghirup udara malam, berharap segarnya udara membuatnya tetap berpikir jernih. Dia melihat jalanan diluar sudah sangat sepi. Lampu-lampu kamar apartemen sudah padam. Cukup lama dia berdiri menikmati suasana sendiri, sampai dinginnya hembusan angin musim gugur mulai menusuk kulitnya. Dia kemudian masuk ke dalam apartemen karena sudah tak menahan hawa dingin angina malam.
***
Pukul 02.00. Mata Daniel Chang masih terbuka lebar. Dia turun dari sofa dan melakukan sedikit gerakan. Push up, sit up dan melakukan peregangan otot. Berharap dia akan merasa lelah dan segera tertidur. Dia melakukan olahraga ringan selama kurang lebih dua puluh menit. Setelahnya, dia kembali ke dapur untuk mengambil air mineral dan meneguknya.
***
Pukul 02.45. Kantuk tak juga mejangkiti Daniel Chang. Dia hanya berbaring tak berdaya di sofa. Dia sudah menyalakan televisi untuk membantunya cepat tertidur, tapi hasilnya nihil. Meski pandangannya tertuju pada layar televisi, tapi pikirannya berkelana ke dalam kamar dimana Xiao Ling tertidur. Malam ini benar-benar menjadi malam yang sangat panjang bagi Daniel Chang.
__ADS_1