Mid-Autumn In San Francisco

Mid-Autumn In San Francisco
Bab 18


__ADS_3

Daniel Chang duduk tenang sambil memperhatikan kegiatan Xiao Ling di dapur. Dia mengagumi gadis itu. Bukan hanya cantik, tapi gadis itu juga bisa memasak. Benar-benar tipenya.


Daniel Chang hanya duduk bertopang dagu di atas meja tanpa bersuara sedikit pun. Sesekali bertemu pandang dengan Xiao Ling saat gadis itu melirik ke arahnya.


“Kau tunggulah di depan televisi.” Xiao Ling akhirnya bersuara. “Kalau sudah siap akan aku panggil.” Dia merasa kurang nyaman karena Daniel Chang terus memperhatikan dia memasak.


Daniel Chang tak bergeming. “Aku suka disini.”


“Tapi aku tidak nyaman.”


“Kenapa? Bukankah ini romantis? Kita seperti pasangan yang baru saja menikah. Aku dengan setia menunggu sang istri memasak.”


Xiao Ling menatap tajam ke arah Daniel Chang. “Ini tidak lucu Daniel.”


“Kenapa? Aku menyukai gadis yang pandai memasak. Menurutku itu seksi.” Daniel Chang berkata serius. Memang benar dia menyukai gadis yang pandai memasak.


Xiao Ling hanya diam. Dia tidak berniat menanggapi candaan pria itu, meskipun di dalam dadanya sedikit bergetar. Ada perasaan senang di sudut hati kecilnya.


“Apa yang kau masak?” Daniel Chang kembali bersuara setelah cukup lama diam.


“Siu Mie seafood.” Jawab Xiao Ling tanpa menoleh.


“Aku suka itu. Mamaku dulu sering membuatkan itu untukku.”


Xiao Ling baru tersadar jika selama mengenal Daniel Chang dia sedikitpun tidak tahu tentang keluarga pria itu. Mungkin karena dia tidak begitu perduli tentang latar belakangnya. Tapi entah kenapa, mulai saat ini dia sedikit tertarik. “Dimana orang tuamu?”


"Mereka tinggal di Oakland. Kau tahu tempat itu?”


Xiao Ling menggeleng.


“Tempatnya cukup jauh dari sini. Mungkin suatu hari akan aku ajak kau ke sana.”


Xiao Ling tersipu. “Kenapa aku harus ke sana?”

__ADS_1


“Siapa tahu, aku harus mengenalkanmu dengan mereka.”


Dada Xiao Ling semakin bergejolak. Perasaannya bercampur aduk tidak menentu. Ada perasaan bingung kenapa pria ini berkata seperti itu. Ada perasaan senang, tapi kemudian berubah menjadi galau. Mungkin ini sifat pria, yang suka menabur harapan pada setiap hati. Xiao Ling berusaha bersikap tenang tanpa menanggapi celotehan


Daniel Chang. Dia tidak yakin apakah pria itu serius atau hanya bercanda. Dia tidak bisa membedakannya.


“Halo.” Daniel Chang berbicara dengan seseorang di telepon. “Aku di apartemen. Kenapa?” Dia berdiri dan berjalan ke balkon.


Xiao Ling melihatnya berjalan menjauh. Mungkin Daniel Chang membicarakan sesuatu yang tidak ingin dirinya mendengar, pikirnya.


Xiao Ling melanjutkan pekerjaannya sambil terus berpikir siapa yang menghubungi Daniel Chang. Tebakannya tertuju pada wanita yang dia lihat di apartemen pria itu pagi tadi. Apa Daniel benar-benar memiliki hubungan dengan wanita itu? Tapi dia bilang hubungan mereka tidak ‘seperti’ itu. Siapa yang tahu? Mungkin saja Daniel Chang berbohong tentang wanita itu. Hei Xiao Ling, jangan terlalu polos sehingga mudah dipermainkan. Terlalu banyak hal dalam pikiran Xiao Ling. Dia sendiri juga tidak mengerti kenapa dia harus memikirkan sesuatu yang tidak bersangkutan dengannya. Dia menggelengkan kepalanya untuk membuang semua pikiran-pikiran yang sedang menari di dalam otaknya.


“Kau kenapa?” Daniel Chang melihat apa yang dilakukan Xiao Ling saat kembali masuk ke dapur. “Kepalamu pening?”


“Ti.. tidak.” Xiao Ling tergagap. Dia terkejut karena mendengar suara Daniel Chang yang tiba-tiba. “Mari makan. Makanan sudah siap.”


Xiao Ling duduk berhadapan dengan Daniel Chang di meja makan. Sesekali dia melirik pria yang sedang menikmati makanan yang ada di hadapannya. Pria itu memakan makanannya dengan lahap. Muncul seulas senyum di bibir Xiao Ling melihat Daniel Chang. Dia senang pria itu menyukai masakannya. Entah kenapa dadanya mulai berdegup, lagi.  Apa yang sebenarnya terjadi padamu, Xiao Ling? Perasaanmu begitu mudah terbawa arus suasana.


“Kapan kau akan mulai mencari ibumu lagi?” Daniel Chang memulai percakapan setelah dia menghabiskan makan siangnya. “Mencari orang-orang dalam daftar tadi.”


“Aku juga berpikir seperti itu. Setelah besok aku bisa membantumu.”


Xiao Ling mengangkat sebelah alisnya. “Kenapa?”


“Besok jelas aku akan melihat perayaan.” Tersungging seringai senyum di sudut bibir Daniel Chang. “Kau tahu? Besok akan ada banyak sekali wanita cantik di festival. Tentu aku tidak boleh melewatkannya.”


Xiao Ling mendengus. “Dasar buaya.”


Daniel Chang tersenyum. Tak ada yang salah dari pemikirannya itu. “Apa yang salah dari perkataanku? Memang benar kan pria menyukai wanita cantik? Apa aku harus menyukai pria? Hahaha…”


“Tidak lucu Daniel.”


“Aku tidak sedang melawak, Nona.”

__ADS_1


“Sebenarnya… Aku bisa mencari ibuku sendiri. Kalau kau sibuk…” Ucap Xiao Ling hati-hati.


“Tidak.” Sela Daniel Chang. “Aku tidak pernah sibuk.”


“Kau tidak bekerja?”


Daniel Chang hanya mengangkat bahu. Itu tidak menjawab pertanyaan Xiao Ling, tapi dia tidak melanjutkannya. Dia berpikir Daniel Chang tidak mau membahas tentang pekerjaan. “Jika kau ingin membantuku, tentu aku akan sangat berterima kasih. Aku juga tak begitu mengenal daerah ini.”


Xiao Ling kembali melahap makanannya. Sedangkan mangkuk Daniel Chang sudah kosong sejak tadi. Entah kenapa pria ini masih duduk menunggui Xiao Ling menghabiskan makanannya.


“Kau masih lapar? Mau makan lagi?”


“Tidak, terima kasih.” Daniel Chang terpikir sesuatu. “Kau punya sesuatu sebagai petunjuk? Mungkin foto atau semacamnya.”


Xiao Ling menelan makan siang terakhirnya sebelum menjawab. “Aku punya foto ibuku.”


“Boleh aku melihatnya?”


“Tentu. Sebentar aku ambilkan.” Xiao Ling berdiri ingin mengambil dompetnya di kamar. Tapi kemudian ingat jika dia meletakkan foto itu di mobil Jane Wang. “Aku menaruhnya di laci mobil Jane jie. Aku lupa belum mengambilnya kembali.” Dia mendesah. Merutuki dirinya sendiri yang begitu pelupa.


“Tidak apa-apa. Lain kali saja aku melihatnya.”


Xiao Ling mengambil mangkuk di depan Daniel Chang dan membereskannya. “Kau mau disini terus?”, tanyanya karena melihat Daniel Chang yang belum bergerak dari kursinya. Makan siang sudah selesai tapi pria ini masih saja disana, tidak kembali ke apartemennya.


“Kau keberatan?”


“Bukan seperti itu. Tapi…”


“Baiklah. Aku pulang.” Daniel Chang berdiri dengan malas. Sebenarnya dia masih nyaman berada di apartemen bersama Xiao Ling. “Kalau kau ingin membuat makanan lagi, beri tahu aku.”


“Kenapa?”


“Masakanmu enak. Tentu aku ingin memakannya lagi. Denganmu.”

__ADS_1


Daniel Chang kemudian berjalan keluar dari apartemen Jane Wang. Sedangkan tanpa sadar, Xiao Ling lagi-lagi tersenyum mendengar perkataan pria itu. Daniel Chang sering sekali membuatnya tersenyum akhir-akhir ini. Hari-hari Xiao Ling lebih mudah untuk dijalani berkat pria itu. Dia bahkan tak lagi mengingat kejadian pahit yang membuatnya pergi meninggalkan keluarganya. Dia merasa sangat beruntung bertemu dengan pria sebaik Daniel Chang.


__ADS_2