Moon In Darkness

Moon In Darkness
Ch.20 Tangisan Sang Kakak


__ADS_3

Jiao Yun berlari hingga ia sampai ke dalam kamarnya, ia terus bergumam, matanya bergetar, dan terus menatap sebuah vas yang berada tidak jauh darinya.


Tak lama kemudian vas itu pecah, dan senyum Jiao Yun melebar.


"haha.. akhirnya."


Disisi lain para tamu masih berusaha untuk menikmati hiburan yang telah disediakan, tak terkecuali para tamu khusus. Tentu mereka harus menikmatinya, memangnya siapa yang mau meninggalkan ruangan seharga 500 dang¹? harga yang sama untuk menyewa beberapa wanita sekaligus.


Lalu, salah satu tamu khusus itu tiba tiba bangkit dari tempat duduknya.


"loh? mau kemana kau?" seorang pria bertopeng merah bertanya sembari cegukan.


"kamar mandi."


"haa?? kau bahkan tidak minum. Ngapain ke kamar mandi?"


Orang bertopeng merak itu hanya diam dan menatap tajam pada temannya, mengerti akan hal itu lelaki bertopeng merah hanya bisa menghela nafas dan menggeleng geleng kan kepala.


"dasar.. padahal aku membawanya kesini agar dia tidak terlalu kaku pada hidupnya.. Ngomong ngomong anginnya kencang ya? padahal festival." gumam lelaki itu dan meminum kembali arak di gelas yang ia genggam.


Riuh festival masih menggema di mana mana, lampion warna warni bersinar dengan terang mengalahkan cahaya bintang, terlihat juga dari atas, semua warga tampak sedang bersenang senang tanpa mengetahui jika badai akan datang.


"karena mayoritas orang awam, sepertinya mereka tak bisa merasakan badai yang akan datang, apa yang dilakukan orang itu dengan sihir buatannya?" Lelaki bertopeng merak itu bergumam seraya melihat ke arah bukit dibelakang kota.


Lelaki berambut perak, bermata hitam pekat dan bertopeng merak, sebuah perpaduan yang sangat cocok untuk lelaki itu. Seperti sebuah lukisan hidup yang tak bisa digambar ulang sama sekali.


...****************...


Malam semakin gelap, angin mulai berhembus sangat kencang dibanding sebelumnya. Tampak Ying yang sedang gelisah tengah mondar mandir di sebuah tanah lapang tepat di tengah bukit berada, dan sekali lagi tempat itu dekat dengan pohon besar.


Ying terus menerus berbisik, keringat dingin bermunculan di wajahnya,


"ba.. bagaimana ini? tidak akan ada yang terjadi kan?"


Ia terus berjalan seakan sedang menunggu sesuatu, lebih tepatnya seseorang.


"be.. benar, tak akan ada yang terjadi.. adik.. adik adikku akan bebas dan kami akan bersama lagi.."


Ying melirik seseorang yang ia bawa, seseorang yang terikat dan kepalanya ditutupi sebuah kain layaknya seorang mayat.


Tak lama, angin disekitar mulai berhembus kencang, seorang wanita berpakaian penari muncul dari balik angin kencang itu.


"kak Jiao!" seru Ying, ia lalu menghampiri Jiao Yun dengan terburu buru.

__ADS_1


Setelah jarak mereka dekat, Ying dapat melihat dengan jelas jika Jiao Yun menatapnya dengan tatapan menghina dan juga jijik,


"apa ini sikap seorang pelayan ketika berhadapan dengan tuannya?" cemooh Jiao Yun.


Ying segera berlutut, memukulkan kepalanya di tanah berulang kali dengan tubuh gemetar,


"mohon maafkan sikap pelayan mu ini, nona Yun.. saya.. sangat menyesali sikap tidak sopan saya."


"ha! kau memang pelayan yang tidak sopan, tapi kuakui kau cukup berguna." Jiao Yun kini menginjakkan kakinya di kepala Ying dengan kasar, kemudian matanya melirik bahagia kepada seseorang yang telah dibawakan Ying padanya.


Jiao Yun melewati Ying begitu saja dan mendekati mayat itu, ia tersenyum, dan tertawa seperti orang gila.


"hahaha! kau lihat sekarang? inilah balasan yang kau dapatkan ketika mengganggu seseorang seperti diriku ini!" Ia mengeluarkan sebuah belati dan ingin membuat lobang ditubuh mayat itu, tapi teriakan Ying membuat Jiao untuk menunda keinginan nya.


"A-anu nona.. tapi.. bukankah.. anda harus melepaskan adik adik saya.. dulu?" gagap Ying tak berani menatap mata Jiao Yun.


"ah.. benar. Makhluk kotor itu bukan?"


Mata Ying melebar, ia memang tau sikap Jiao Yun yang arogan dan kasar, karena dia juga sering menerima perlakuan itu.


bagaimana bisa dia sampai menghina adikku juga?' amarah mulai memenuhi hatinya, walau begitu Ying tetap sabar dan tak mau berbuat nekat. Jika ia berteriak sekarang, mungkin adik adiknya tak akan bisa kembali secara utuh.


Jiao Yun menjentikkan jarinya dan lima orang berpakaian serba hitam muncul entah dari mana, mata Ying melebar kembali kala melihat apa yang dipegang oleh salah satu dari mereka.


itu.. kepala? '


Wajah Ying mulai dibanjiri air mata, seluruh emosi dalam dirinya seakan terbang ke segala arah, marah.. sedih.. putus asa.. benci.. bercampur menjadi satu didalamnya.


Ying mendekat secara perlahan, ia terduduk lemas dan mengambil kedua kepala itu dengan gemetar, ia memeluk erat keduanya dengan rasa bersalah yang amat dalam..


"ma.. maaf.. maafkan kakak.. maaf.." Ying masih terisak, tangisan yang ia keluarkan sangat memilukan. Jika mereka orang waras, mereka akan ikut merasakan kesedihan itu tapi, hal itu tak berlaku pada orang orang dihadapannya.


"sudah kan? aku telah melepaskan mereka.. oh ya, jika kau mencari sisa tubuhnya, itu tak berguna. Karena aku telah memberikannya pada peliharaan ku disekitar sini." seru Jiao Yun acuh tak acuh, ia saat ini sangat ingin menggunakan belati untuk menusuk mayat yang ada dibelakangnya.


"kau.. kau kejam! bukankah kau bilang akan melepaskan adik adikku?! kenapa kau membunuh mereka! apa salah mereka?!" Ying berteriak secara histeris, ia tak peduli lagi dengan sikapnya sekarang. Bagi Ying, tak ada gunanya hidup jika tak mempunyai keluarga.


Lantas Ying menyerang Jiao Yun menggunakan belati ditangannya, dengan amarah memuncak ia menyerang Jiao Yun secara membabi buta, namun sangat disayangkan, Ying bahkan tak bisa mengenai Jiao Yun sedikitpun.


"hei, kau tak waras ya? kau kira kau sebanding denganku? dasar idiot!"


Jiao Yun yang melihat kesempatan, menusuk perut Ying dengan cepat. Ia melepas belati nya, darah mengalir dengan cepat ke tanah, Ying terhuyung tapi masih belum tumbang.


menyusahkan saja!'

__ADS_1


Jiao lalu memerintahkan orangnya untuk meladeni Ying yang tengah kesakitan,


"urus dia, tapi jangan membunuhnya."


"baik!" kompak ketiga orang suruhannya itu.


Ketika Jiao Yun berbalik, betapa terkejutnya dia melihat mayat yang awalnya tergeletak menghilang tanpa jejak.


Ia murka dan bertanya pada kedua orang disampingnya, "Kalian! dimana orang itu?!"


Namun.. mata Jiao Yun terbelalak saat melihat kedua orangnya telah termutilasi tepat disampingnya sendiri.


a-apa?!


"siapa?! tunjukkan dirimu!" pekik Jiao Yun, tak bisa dipungkiri ia sedikit ketakutan saat ini. Ia berpikir siapa yang dapat memutilasi seseorang tanpa menghadirkan auranya sedikitpun?


"seorang pembunuh sejati, tak akan memperlihatkan punggungnya pada lawan." bisik seseorang dibelakang nya.


Karena kaget ia langsung berbalik dan menerima serangan kejutan dari seseorang yang tak pernah ia sadari. Dengan adanya keberuntungan, lehernya masih tetap menempel ditubuhnya dan hanya menimbulkan goresan.


"kau?!! bagaimana kau bisa hidup??" geram Jiao Yun pada gadis dengan aura membunuh didepannya.


"sama sepertimu, walau aku terbaring di tanah seperti tadi bukan berarti aku telah mati bukan?" An menjilat belati nya dan menatap Jiao Yun dengan ganas, seperti singa yang ingin menerkam rusa.


"nah.. bisakah kita bermain sekarang? aku sangat bosan karena mendengarkan omong kosong yang kau katakan." tubuh An mulai mengeluarkan aura yang sangat menekan.


Ketiga orang suruhan Jiao Yun yang tersisa kini merasakan sakit kepala yang luar biasa hebatnya, wajah mereka pucat dan keringat dingin keluar dari wajah mereka.


Terlihat juga bahwa tubuh Jiao Yun sedikit bergetar karena pancaran aura yang ia terima.


NOTE : DANG¹, ialah mata uang khusus dari Kekaisaran barat, satu Dang sama saja dengan satu koin emas, juga lima koin perak.


...•...


...•...


...•...


...•...


...[ MOHON MAAF APABILA ADA KESALAHAN KATA MAUPUN TANDA BACA.]...


...[ TERIMA KASIH TELAH MEMBACA NOVEL INI~]...

__ADS_1


...[ SAMPAI JUMPA DI CHAPTER BERIKUTNYA SEMUA! <3 ]...


^^^@Thara_tta (๑'ᴗ')ゞ^^^


__ADS_2