
...[ Gāoguì de rén¹ ]...
"gaogi.. apaan? astaga ini kalimat yang aneh.." An terus menatap kertas itu, ketika jalan yang ia lewati sudah mulai terasa ramai ia menyimpannya dan berjalan dengan menggaruk garuk kepalanya, ia juga telah selesai membeli keperluan dan memasuki kedai.
Tak terasa, langit yang awalnya kebiruan menjadi oranye kemerahan, sewaktu ia sampai Jie pun mendekatinya dan menginterogasi dengan cepat.
"darimana kau?"
"belanja."
"kudengar kau ke pasar dengan Nuan, apa itu benar?" Jie melipat tangannya kesal.
"benar kok, nih aku belanja. Ketika aku kembali kak Nuan sudah hilang.. "
Jie melirik dua keranjang belanjaan yang dipegang oleh An.
"lalu kenapa kau tak langsung pulang hah? mau bikin masalah lagi?"
"aku bosan." An memutar netra nya dan menatap Jie dengan wajah tidak bersalah.
"hahh.. sudahlah sana mandi dan bantu kakak kakakmu yang lain. Kau benar benar membuatku pusing.. " gumam Jie sembari memijat kepalanya.
"baik~" An langsung ke dapur, menaruh satu keranjang belanjaannya dan bergegas kembali ke kamar.
Sewaktu menaiki tangga, ia bertemu dengan Jiao Yun yang menatapnya seperti mayat hidup. apa apaan dia? kenapa menatapku begitu? ' batin An.
Ketika itu juga, Jiao Yun menundukkan kepalanya dan menuju ke lantai bawah. An hanya meliriknya dengan bertanya tanya,
"sebenarnya apa yang terjadi malam itu?" gumam An.
Setelah malam itu, bukan hanya sifat Jiao Yun yang menjadi aneh, bukit tempat dia berlatih pun telah dikunjungi banyak monster, walau itu menjadi bagus untuk latihan tetap saja aneh.
Ying yang berhenti karena alasan pulang kampung dia tahu sebabnya, tapi.. kasus orang hilang yang muncul dari seminggu yang lalu adalah yang 'teraneh'.
Kota Chengse dikenal sebagai Kota Kupu Kupu malam, juga sebagai Kota yang damai. Sangat jarang adanya serangan monster dan siluman, apalagi teror orang hilang.
An kini telah sampai di kamar, ia lalu menaruh keranjang belanjaannya di meja dan segera membaringkan tubuh di ranjang miliknya. An menatap langit langit ruangan itu, ia melamun sejenak dan tersenyum senang.
"hm hm~ kalau begitu aku akan bersiap untuk malam yang menyenangkan.." An bangun, bersiap untuk mandi dan turun membantu kakak kakaknya.
__ADS_1
"Terima kasih! silahkan datang kembali!" seru beberapa pelayan pada para tamu yang berangsur pergi.
"benar benar melelahkan, kenapa masih banyak tamu sih?!" An menggenggam kuat sapu di tangannya.
"ada apa An?" Jie mendekat kearah An yang sedang bergumam gumam.
"ah.. kak.. aku benar benar lelah.. tak bisakah aku selesai?" pinta An memelas, berharap Jie mengabulkan permintaannya.
"hm.. benar juga.. tiga hari lagi akan ada festival dan kau harus menjaga stamina mu," Jie melihat jam yang telah menunjuk tengah malam.
"sana istirahat, jangan sampai ada kantung mata di wajahmu itu!"
An lalu memberikan sapu yang ia pegang pada Jie dan langsung berlari menuju kamarnya.
"kalau begitu Terima kasih kak!"
"ya.. "
katanya lelah, kok larinya kencang sekali? ’
Ketika sampai, An menutup pintu dan menguncinya dengan cepat. An mengganti pakaian yang sudah ia siapkan dan mematikan lampu kamarnya.
Jendela kamar dibuka, angin dingin malam mulai masuk dan menyerang kamar itu.
Karena selama ini An hanya memakai rok untuk sehari hari, ia membeli celana untuk rencananya hari ini, dan rencana seterusnya akan terus seperti itu.
"sudah kuduga, celana lebih baik dibanding rok itu! sudah tipis hanya sebatas lutut lagi. Memangnya semua pelayan itu wanita penggoda apa? tidak etis sekali." oceh An yang masih meloncat dari satu atap ke atap lain.
Kemudian An sampai di [ Air mancur tua Kota Chengse ] tak butuh waktu lama untuk sampai kesana, mungkin hanya sekitar lima menit.
An berdiri di atas atap tepat didekat air mancur itu berada, tak mungkin ia turun dengan pakaian seperti ini karena di sana sangat ramai.
"sialan, aku tak memperkirakan akan seramai ini.. pokoknya aku tak boleh mencuri perhatian." An merogoh sakunya dan mengambil koin perak yang ia dapat dari meminta secara halus pada kedua anak tadi siang, ia kemudian menjulurkan lengannya ke depan dan membalut sedikit chi pada koin itu.
Gadis itu lalu melempar koinnya dan koin itu tepat masuk ke dalam air mancur, "berhasil!" gumamnya.
Tapi, tak terjadi apapun di sana.
"apa.. yang terjadi?!" Aku menggenggam kuat tanganku dan menatap air mancur itu lekat.
__ADS_1
Apa kedua bocah itu menipuku?! mereka tak akan ku maafkan. Aku pun turun untuk memastikan keadaan di sana, setelah turun keramaian dari orang orang perlahan menghilang.
"loh? kenapa tiba tiba suara disini menghilang setengahnya?" aku bergumam keheranan, ketika sudah keluar dari gang pemandangan yang awalnya meriah kini berubah menjadi suram, ah.. ternyata harus berada sedekat ini dengan air mancur agar bisa masuk ya.
Aku berjalan dan melirik sekitar ku, pasar malam yang biasanya penuh warna, menjadi kelabu. Benar benar pasar malam kelabu..
"ternyata sama saja." tak ada yang berbeda, toko penjual senjata, obat-obatan terlarang, barang curian, hingga barang resmi yang dijual secara gelap untuk menghindari pembayaran pajak, bahkan organ manusia.
Hm.. mungkin yang membedakannya adalah benda pusaka yang didapat secara ilegal, gulungan teknik ilegal, potion ilegal, semua yang "ilegal" sangat mudah ditemukan disini.
Pantas saja 'koin' itu hanya bisa sekali pakai, jika dimasukkan seperti itu tak ada bedanya dengan koin permohonan yang biasa dilakukan warga sekitar, takkan ada satupun yang curiga.
"bau darah disini sangat menyengat." sudah lama aku tak mencium bau busuk ini, ini bahkan lebih menyengat dibanding darah monster yang selama ini ku bunuh, apa karena aku langsung pergi dan tak menunggunya hingga busuk? soalnya bangkai monster itu langsung menghilang ketika aku datang besoknya, apa warga mengambil dan mengubur nya ya?
Aku lumayan kagum dengan orang yang membuat pasar ini, membutuhkan banyak energi untuk melapisi tempat ini agar tak terlihat dari luar, apalagi mungkin sekarang banyak orang lalu lalang disini, tapi tak terlihat karena energi yang membatasinya.
Setelah puas berkeliling, aku tak sengaja melihat sebuah kedai kecil yang menjual banyak koin, "bukankah itu koin yang ku lempar tadi?" karena penasaran aku mendekat dan melihatnya dengan seksama.
"benar.. ini koin seperti tadi.." disaat aku tengah berbisik, penjual koin itu mulai melancarkan aksinya sebagai 'pedagang'.
"wah, apa anda pengunjung baru disini tuan?" tanya pria berjanggut itu ramah.
"oh.. ya.. "
"koin ini memang bukanlah benda langka, tapi sangat sulit ditemukan jika 'diluar', jadi karena anda sudah kemari kenapa tak sekalian beli saja? agar tak susah susah mencarinya lagi~"
Benar, pedagang tetaplah pedagang di manapun ia berada.
...•...
...•...
...•...
...•...
...[ MOHON MAAF APABILA ADA KESALAHAN KATA MAUPUN TANDA BACA YA.. ]...
...[ TERIMA KASIH TELAH MEMBACA CERITA INI~ ]...
__ADS_1
...[ SAMPAI JUMPA DI CHAPTER BERIKUTNYA SEMUA! <3 ]...
^^^@Thara_tta (๑'ᴗ')ゞ^^^