
Sesampainya di rumah, An membuka pintu depan dengan kuat dan melihat jika ruang tamunya telah kosong, ia lalu membuka topeng rubah juga tudung jubahnya, "ternyata benar ya, aura yang kurasakan ketika ingin pergi itu dia." gumam An pelan.
Gadis itu merenggangkan tubuhnya dan mengacak rambut dengan kasar, membiarkan rambut panjang miliknya terurai dengan indah. Dia berdecak dan kemudian menghela nafasnya, "hei.. aku ingin tidur sekarang, jika ada yang ingin kau bicarakan, tunggu sampai besok." ucapnya tanpa melihat jika ada seorang pun di sana.
An menutup pintu dengan kasar dan pergi untuk beristirahat, tak lama seseorang datang ke depan pintu paviliun, ia menggunakan jubah compang-camping dan masih berdiam diri di depan pintu masuk.
Lelaki tersebut bergumam, "orang itu..seorang gadis. Apa aku diselamatkan olehnya?"
Lantas ia tertawa kecil dan membuka tudung jubahnya, terlihat di bawah cahaya bulan yang redup, seorang lelaki tampan yang memiliki mata tajam berwarna hitam pekat, juga rambut panjang diikat yang hitam bersinar.
"sepertinya, ini jam tidur yang buruk bagi seorang Nona bangsawan." ucap lelaki itu masih menatap pintu paviliun.
Di saat ibukota dilanda kepanikan, istana kaisar juga digemparkan karena adanya penyusup yang masuk ke kamar kaisar Qi.
"Yang mulia! apa anda baik-baik saja?! Yang mulia!" teriak tangan kanan kaisar---Shang Ma, pria berbadan kurus, dan berkacamata itu berlari ke kamar kaisar hingga tak sempat mengatur nafasnya, setibanya di depan pintu ia langsung mendobrak pintu itu dengan tubuhnya dan melihat jika kaisar Qi sedang membaca beberapa dokumen berlumuran darah di tangannya.
"jangan berisik Shang.. aturlah nafasmu terlebih dahulu." ucap kaisar pelan tanpa menoleh ke arah lelaki itu, ia kemudian berjalan ke arah sofa dan melanjutkan bacaannya di sana.
Setelah selesai mengatur nafas, Shang mendekat dan seketika terkejut kala melihat daftar nama para bangsawan terkenal yang masuk dalam daftar pelanggan juga kolega setia dari tempat penjualan manusia.
"yang.. yang mulia.. mereka.." ragu ragu Shang bicara, tentu saja karena ia tahu jika kaisar yang dia layani tengah mencoba untuk menutupi amarahnya pada para bangsawan itu.
"Putra mahkota sudah tiba di sana?" tanya kaisar mendadak.
"ya! beliau sudah membantu memadamkan api di pasar gelap dan mengevakuasi para penduduk yang ada di sekitar." jelas Shang Ma sambil berdiri tegap.
"apa kawasan pasar baik baik saja? apakah ada api yang keluar dari area pasar gelap itu?"
"tak ada Yang mulia, yang ada di sana hanyalah bekas kebakaran, hawa panas juga bongkahan kristal besar yang berisi api hitam di dalamnya." lanjut Shang sambil melirik tuannya.
aku tak tahu kenapa.. teknik itu muncul bertepatan dengan kebakaran itu, melihat jika orang itu menargetkan para bangsawan, apa dia utusan dari seseorang? tapi siapa, orang yang memiliki teknik terlarang itu?' Shang memikirkan semuanya, tak ada yang ia lewatkan. Kejadian yang belum lama terjadi pun masih di dalam pikirannya.
"apa orang ini sama.. dengan orang yang meninggalkan kristal di lapangan kosong itu? apa itu sebuah peringatan akan peristiwa ini?" gumam lelaki berkacamata itu serius.
"hentikan, otakmu akan meledak jika kau terus memikirkannya, bagaimana dengan para pebisnis dan bangsawan yang ada di lokasi kejadian?" tanya kaisar kembali.
"mereka telah diamankan dan dipulangkan ke kediaman masing-masing Yang mulia, tapi.." Shang menggantung kalimatnya karena melihat nama dari salah satu kolega, dia adalah Baoyu Wu, anak pertama dari pemimpin keluarga Wu, salah seorang pilar saat ini, sekaligus ibu dari jendral muda Kekaisaran.
aku tak menyangka jika anggota keluarga pilar Kekaisaran ikut dalam masalah ini.' Shang memijat keningnya pelan dan mengambil beberapa dokumen yang masih ada dilantai.
__ADS_1
"Yang mulia, apa saya boleh tahu.. Anda mendapatkan semua dokumen ini dari mana?" tanya lelaki itu ragu, kaisar hanya bisa diam dan menunjuk ke arah jendelanya, jendela itu terbuka, Shang bergegas ke sana dan melihat ke bawah, ia yang hanya bermodal otak tanpa kekuatan itu merasakan mual akibat melihat seorang mayat dengan wajah yang tak karuan lagi bentuknya.
bagaimana bisa dia melukai wajahnya sendiri agar tak dikenali? itu adalah hal yang gila!' batin Shang yang masih tak percaya.
Lelaki kurus itu terduduk lemas dilantai dan mengatur nafasnya, tapi dengan cepat ia kembali berdiri dan menutup jendela itu perlahan, "apa anda tahu siapa dia?"
"tidak, yang jelas.. siapapun pelakunya, dia seolah berkata untuk tak perlu mencari tahu lebih lanjut dan terima saja hadiahnya." ujar kaisar Qi santai.
"yah.. kita terima saja, kau urus semua orang yang ada di dokumen ini, bilang pada mereka jika Kekaisaran ini tak butuh orang yang tak berhati manusia." jelas Kaisar dengan sinis, setelah mengurus masalah itu, ia kembali ke ranjangnya dan merebahkan tubuhnya.
Malam pun berganti pagi, semua orang yang baru saja terbangun dikejutkan dengan prajurit Kekaisaran yang berkeliling dan menangkap langsung semua pebisnis dan bangsawan tingkat rendah. Para prajurit menangkap mereka semua hanya dengan bermodal surat perintah Kekaisaran yang telah ditandatangani oleh Kaisar.
Banyak tanggapan dari penangkapan itu, ada orang yang sadar diri dan pasrah, orang yang masih bisa membela diri namun akhirnya kalah, orang yang ingin memberi keuntungan lebih agar bisa bebas, juga orang yang telah tahu akan hal ini lalu berusaha kabur dari Kekaisaran. Namun, apapun yang mereka lakukan, mereka semua dapat ditangkap dengan mudahnya.
Untuk para bangsawan tingkat tinggi, para kolega kaisar sendiri yang langsung mendatangi mereka, termaksud Shang Ma yang akan mendatangi salah satu dari keluarga pilar Kekaisaran, Keluarga Wu.
Beberapa orang yang mengetahui jika salah satu anggota keluarga pilar ditangkap akhirnya menyebarkan kabar itu, lambat laun kediaman mereka menjadi sangat ramai, banyak sekali wartawan dan pedagang yang ingin melihat sendiri dengan mata kepala mereka.
Bukan hanya diluar, didalam kediaman pun sangat riuh, paviliun utama yang dijadikan tempat tinggal nenek sekaligus tempat pertemuan para tamu pun diserbu oleh semua pelayan yang ada di sana. Walau sedikit, mereka sangat berharap untuk dapat menguping pembicaraan para keluarga yang terjadi di dalam.
dasar, bicara saja susah! kenapa semua anggota keluarga yang ada disini harus menghadirinya?! dasar kaisar tak berguna, tangkap ya tangkap! kenapa harus pakai basa basi sih?' oceh An dengan menatap tajam pada tangan kanan kaisar yang sedang berbicara pada nenek di depan mereka, ia lalu melirik bibi pertama yang telah mati kata, mulutnya bungkam seribu bahasa dan gemetar sangat hebat.
ah.. tatapan Nona keempat tajam sekali ya..' batin Shang pasrah dan terus melanjutkan diskusi untuk menangkap putri pertama keluarga itu.
An yang seharusnya senang melihat pemandangan itu entah kenapa merasa ada sesuatu yang mengganjal, kenapa aku tak senang? bukankah aku sudah berhasil menangkapnya?'
Secara tak sengaja, An beradu mata dengan bibi keempat, wanita itu kemudian tersenyum dan menganggukkan kepalanya, seketika itu juga gadis yang memakai pakaian serba hijau itu merinding dibuatnya, untunglah pakaian yang An kenakan saat itu dapat menutupi tangannya yang sangat gemetar.
"jadi.. saya sangat merasa bersalah mengatakan ini, tapi dengan surat perintah yang diberikan oleh Yang mulia, saya terpaksa harus menangkap anak pertama Anda, Baoyu Wu karena telah ikut serta dalam perkembangan sebuah organisasi ilegal yang telah memperjualbelikan manusia." jelas Shang dengan tegas, ia kemudian berdiri dan memberi isyarat mata pada para anak buahnya untuk menangkap bibi pertama yang sedang berdiri di belakang pemimpin keluarga.
Mereka memegangnya dan memborgol tangan wanita itu, Baoyu berteriak tanpa henti, para pelayan yang mendengar dari luar pun berfirasat jika Nyonya pertama mereka telah kehilangan akalnya.
"ti--tidak! seharusnya tak begini! ibu--" teriak Baoyu menggantung kalimatnya ketika sebuah tamparan mendarat di pipinya yang tak lagi muda.
Wajah penuh riasan yang biasa dipijat dan dimanja itu langsung berubah perlahan menjadi merah hingga akhirnya memar, rasa perih mendatanginya seperti angin, wanita itu terus memegangi pipinya dan menatap ibunya dengan perasaan tak percaya.
"kau.. sudah membuat kami malu, kuharap kau dapat mengintropeksi diri didalam sel tahanan milikmu itu." cela sang nenek dengan wajah kecewa, ia bahkan harus berjalan menggunakan tongkat agar dapat mengantar kepergian anak pertama yang selalu ia banggakan.
Baoyu hanya terdiam, ia kemudian beralih untuk menatap anaknya seakan meminta sebuah keadilan, tapi yang dia dapatkan hanyalah tatapan hampa, yang bahkan tak menunjukkan rasa simpati padanya.
__ADS_1
"ayo jalan, Nyonya Baoyu Wu.." ucap salah satu prajurit yang memegangi tangannya.
"tidak.. ini.. bukan begini harusnya.." gumam wanita itu dan kembali mendongakkan kepalanya, kini ia langsung mencari seseorang dan berteriak sangat kesal, "Kau bilang tak akan jadi begini?! bagaimana kau bisa lepas tangan terhadapku sialan!!"
Wanita itu terus berteriak hingga masuk ke dalam kereta untuk pergi ke istana, semua orang yang melihat kepergian Nyonya pertama keluarga Wu itu bergembira dan sangat senang, karena salah satu anjing keluarga telah pergi ke tempat yang tak akan pernah bisa untuk dirinya keluar kembali.
Mereka juga makin menantikan, pertandingan yang akan digelar Kekaisaran untuk semua pilar yang telah lama menopangnya, sangat menyenangkan untuk menerka-nerka siapa yang akan turun dan naik dipertandingkan kali ini.
Semua orang yang ada dikediaman Wu perlahan pergi, karena mereka sudah tak perlu berada di sana, saat itu tinggal Qiongli, Jiazhen, Chyou, dan An yang masih berdiri di depan gerbang yang telah ditutup itu.
"ini semua karma karena kakak telah membawa petaka itu!" seru Qiongli seraya menatap tajam ke arah An yang masih termenung.
"hei! jaga bicaramu sekarang li, apa otakmu berubah jadi otot sepenuhnya hingga tak bisa lagi membaca keadaan?" cibir Jiazhen lalu menyeret adik kandungnya itu untuk pergi.
"Lian? sekarang aku juga harus mengurus sesuatu, mau aku antar hingga depan paviliunmu?" tanya Chyou tiba-tiba.
An pun kembali dari alam bawah sadarnya dan menatap Chyou dengan tatapan sangat iba, ia kemudian mendekat dan secara perlahan memeluk lelaki itu, "kau harus kuat Youyo! aku tahu bibi tak bersalah! dia akan keluar dari sana, pasti!" ucap An memberi semangat.
Chyou mendengar semua kalimat An satu persatu, matanya bergetar namun tertutupi karena ia langsung menyembunyikan wajahnya di balik pundak An yang mungil, "ya.. pasti."
Setelah mengatakan dua kata itu, Chyou langsung pergi ke area pasar untuk melakukan pengamatan, An memintanya langsung ke sana untuk membiarkan lelaki itu agar bisa memenangkan pikirannya.
Kini hanya An yang tersisa, di sela perjalanan kembali ke paviliun, dengan wajah yang tenang ia melewati beberapa orang yang berlalu lalang, bulu kuduk nya berdiri sempurna dan jantungnya berdetak sangat kencang, "kenapa wanita itu.. berteriak sambil menatap tajam pada bibi keempat?" gumam An yang saat ini memiliki firasat buruk.
...•...
...•...
...•...
...•...
...[ MOHON MAAF APABILA ADA KESALAHAN KATA MAUPUN TANDA BACA YA.. ]...
...[ TERIMA KASIH TELAH MEMBACA CERITA INI~ ]...
...[ SAMPAI JUMPA DI CHAPTER BERIKUTNYA SEMUA! <3 ]...
...@Thara_tta (๑'ᴗ')ゞ...
__ADS_1