
Masih pada hari yang sama, hari dimana An yang seharusnya hanya memeriksa lokasi tempat ia menggunakan teknik barunya, yang berujung makan siang hangat bersama para saudara tercinta.
"Youyo.. aku akan muntah jika kau memaksaku untuk makan lagi.." ujar An tak berdaya dengan menyodorkan piring berisi setengah roti yang dimakan.
"hah, serius? kau baru makan dua piring loh? bagaimana kau bisa kuat jika nafsu makanmu kecil begini?" Jiazhen kemudian memanjangkan tangannya untuk mengambil sisa roti yang tak dihabiskan oleh An.
kau yang b*bi.' geram An yang hanya bisa ia sampaikan lewat senyum kakunya.
Chyou mengangguk tanda setuju dengan ucapan yang dikatakan oleh Jiazhen, walau begitu ia tak mempermasalahkan nya dan membiarkan An untuk mengistirahatkan perutnya.
"oh ya kak Lian, bagaimana dengan belanjanya? kita kesini untuk itu bukan?" potong Mingmei disela obrolan.
"tak usah, besok saja." larang Jiazhen yang telah menghabiskan lima piring berturut-turut.
"apa?! kenapa.. " Mingmei yang tanpa sadar mengeraskan suara di awal, segera menutup mulut rapat rapat, ia takut jika Jiazhen tak terima dan marah padanya.
"ini sudah hampir sore, banyak orang jahat yang berkeliaran jam segini, lebih baik kalian pergi lain waktu saja." jelas Lelaki itu tanpa terlihat emosi yang memuncak.
eh? kakak tak marah.. padahal biasanya dia marah jika ada yang meninggikan suara didepannya.' Mingmei secara spontan melirik An yang sedang beradu mulut dengan Jiazhen, mereka tampak akrab, tanpa ada tembok pembatas yang dibuat oleh keduanya.
"irinya.. " gumam Mingmei pelan namun masih dapat terdengar oleh Chyou, sadar jika Kakak pertamanya mendengar ucapan itu, ia langsung mengalihkan pandangannya dan menjadi gelagapan.
"kalau.. kalau begitu, ayo kita pulang saja Kak Lian! lagipula Kak Jiazhen benar, ini sudah terlalu sore untuk berbelanja."
tapi inikan baru jam 3?' melihat sikap Mingmei yang mulai tak nyaman, An tak punya pilihan lain selain menurutinya dan pulang.
Sebelum keluar dari tenda, ia berbalik pada Chyou yang masih menunggu kepergiannya, "Youyo, kau tak pulang?" tanya An memastikan.
bisa gawat jika dia dan para pasukannya masih berjaga disini, aku tak akan bisa memulai hal itu.' khawatir An yang tak dapat disembunyikan pada wajahnya.
"aku akan berjaga disini, jika saja pemilik teknik itu kembali, ataupun ada sesuatu yang menghawatirkan." jelas Chyou sambil mengusap kepala An pelan.
gawat! apa yang harus kulakukan?! ' An terus memutar otaknya, berusaha agar Chyou tak berada ditengah kota malam ini.
"ah.. sayang sekali, padahal tadinya aku ingin mengajak Kakak untuk minum teh bersama.." gumam An lesu, ia kemudian melirik Chyou untuk melihat reaksi apa yang ia dapatkan, dan hasilnya sesuai dengan apa yang ia harapkan.
"kau mau mengajakku minum teh? tumben sekali." sindir Chyou seakan tengah meragukan perkataan An.
ah sialan! setidaknya jika pasukannya disini, Chyou harus ada di rumah!' tegas An yang bertekad untuk dirinya sendiri.
"tadinya sih begitu, tapi karena kau tak mau, aku akan ajak Kak Jiazhen saja." An lalu berbalik dan meninggalkan Chyou tanpa menunggu jawabannya.
"hei, siapa bilang aku tak mau?" Chyou bergegas menarik lengan An.
"kau sibuk kan? itu berarti kau tak mau!" celoteh An kesal.
"aku memang sibuk, tapi tak sesibuk itu untuk melewatkan pesta minum teh yang diadakan adik kesayanganku. Penyelidikan ini bisa ku lanjutkan setelah minum teh bersamamu." Chyou lalu memberi perintah pada ksatria Yong untuk berpatroli selagi ia pulang dan mengistirahatkan dirinya.
An terperangah, semudah itukah ia berhasil dibujuk? hanya dengan minum teh?'
Chyou kemudian mengajak An untuk pulang, ia seolah tak sabar untuk menikmati waktu luangnya meminum teh bersama dengan Gadis itu.
yah.. baguslah, aku akan memberinya sedikit racun pelumpuh dan obat tidur agar ia tak kembali lagi kemari.' An tersenyum penuh kemenangan, memikirkan jika ia akan melakukan rencananya dengan mulus tanpa adanya halangan, tapi.. benarkah tanpa halangan?
__ADS_1
Lelaki itu melihat An yang dengan gembira menuju kereta kuda, ia tersenyum tipis dan melirik Ksatria Yong, "kendurkan penjagaan di sekitar patung kaisar." bisiknya.
Ksatria itu tertegun dan bergegas untuk mendekat pada pemimpinnya itu, "tapi Ketua! jika begitu, orang itu akan dengan mudah untuk kembali dan kita tak tahu apa yang ingin dilakukannya kan?!"
"ya.. bukankah itulah tujuan utamanya? apa kau lupa? jika ingin menangkap ikan, harus dengan umpan yang menggiurkan."
Ksatria Yong hanya bisa menghela nafasnya kasar, ia menatap kasihan pada ketuanya, "Ketua.. itu bukanlah cara biasa yang kau pakai, aku tahu itu. Lagipula, kau harus ingat.. jika orang yang kau anggap adik itu, bukanlah ad--"
Belum sempat menyelesaikan perkataannya, sebuah pisau air terbang kearahnya dengan cepat, nyaris. Untunglah tak mengenai wajah pria itu.
"sepertinya kau lelah, sampai lupa jika aku adalah orang yang tak suka dibantah." Chyou tersenyum, namun senyum itu adalah yang paling mengerikan yang pernah ia lihat.
"..baik, maafkan saya, Ketua." ucap Ksatria Yong dengan gagap, terlukis rasa takut pada wajah sangarnya itu.
Chyou meninggalkan tenda dengan wajah yang gusar, para prajurit yang melihat hal itu sontak menundukkan kepala mereka.
Aura pekat yang ia keluarkan semakin lama semakin memudar. Aura gelap itu menghilang tak kala ia sampai ke kereta dan melihat ketiga saudaranya bersenda gurau bersama.
tak apa.. walaupun hanya fisiknya saja, semua akan baik baik saja.. akan kutunjukkan padanya, jika aku bisa melakukannya.' batin Chyou tanpa ekspresi, tak ada yang tahu apa yang dipikirkan oleh lelaki itu saat ini.
Mereka kemudian kembali ke kediaman Wu, karena kemacetan yang terjadi di sepanjang jalan, mereka baru sampai pada sore hari.
Arum dan beberapa pelayan lain menyambut kedatangan mereka dan pergi ke paviliun masing masing, tak ada makan malam bersama hari ini, dikarenakan sang pemimpin keluarga tengah melakukan perjamuan di istana kaisar.
"perjamuan ya? apa hanya nenek yang pergi kesana?" tanya An ketika sampai di paviliun.
sepertinya secara ringkas aku tahu apa yang mereka bicarakan, pasti kristal cantik itu~' batin An bangga.
"tidak Nona, nyonya pertama, nyonya keempat dan nona Qiongli pergi bersama dengan beliau."
Arum terdiam sejenak, tentu saja ia diam, seorang kakek tua yang telah lanjut umur akan sedikit kesusahan untuk menyiapkan pesta teh nona bangsawan.
"bagaimana? tolong ya." An tersenyum jahil padanya dan berlalu menuju kamar, tanpa mendengar jawaban dari Arum.
Sesampainya dikamar, ia menuju bawah ranjang dan mengambil sebuah kantong hitam berhiaskan bunga teratai emas, "maafkan aku Chyou, tapi kau tak boleh menghancurkan rencanaku. Aku sudah mengeluarkan banyak barang untuk membujuk kakek tua itu, " gerutunya.
"jika benar, si rubah pasti sudah mulai mengerjakan tugasnya untuk memasang beberapa mantra peledak di area tenda itu. Haa.. memikirkannya saja sudah membuatku muak, apalagi ketika ingat jika salah satu bangsawan tinggi ikut menjadi dalang dibaliknya." An terus bergumam lalu bersiap siap untuk membersihkan diri sebelum pesta teh dimulai.
Beberapa saat kemudian, ia telah selesai membersihkan diri dan terkejut karena Arum juga telah selesai menyiapkan pesta teh miliknya.
"saya sudah menyiapkan apa yang saya bisa Nona, maaf jika ada yang tak sesuai dengan harapan Anda." ucap gadis itu pelan seraya membungkuk.
"hm, lumayan. Kalau begitu aku akan membuat tehnya, ini harus menjadi pesta berkesan untuk kakakku. Oh ya, jika Kak Chyou sampai bisakah kau dan semua pelayan pergi?" An mengambil cangkir dan membawanya ke dapur.
"aku tak suka diganggu." lanjutnya dengan berbisik.
Sesampainya di dapur, An membuat teh dengan segelas teh yang dicampur obat tidur miliknya, "ini hanya sedikit.. toh dia harus berterima kasih padaku karena aku berubah pikiran." gumam An seraya mengaduk tehnya.
"siapa yang harus berterima kasih?" tanya seseorang dari belakang.
Nampan berisikan cangkir yang ia pegang hampir jatuh karena sangking terkejutnya, "H--Hei! bisakah kau bersuara jika berjalan?!" teriak An pada Chyou yang berdiri diambang pintu, lelaki itu terlihat sangat rapi dengan pakaian formal serba putih miliknya.
"mau dibantu? tampaknya nampan itu akan jatuh jika kau yang memegangnya." Chyou mendekat dan berniat untuk mengambil nampan pada An.
__ADS_1
Secara spontan gadis itu langsung menarik nampan berisi teh sambil melirik pelan lelaki didepannya, "aku.. aku saja! kau tamu disini, tamu harus diperlakukan seperti raja, iya kan Youyo?" ucap An dengan manis.
gawat jika bubuk obatnya masih terlihat.' tak ada yang mengetahui jika jantung An saat ini berdetak sangat cepat, hampir lepas dibuatnya.
Chyou hanya tersenyum dan membiarkan An untuk berjalan terlebih dahulu, mereka lalu duduk di meja ruang tamu, tepat dimana Arum telah mempersiapkan beberapa dessert dan lilin aroma bunga.
"kupikir kau hanya mengajakku minum teh, ini lumayan membutuhkan tenaga ya." puji Chyou sambil memandangi rangkaian rangkaian bunga dan ornamen antik di sana.
"tentu, kau harus berterima kasih padaku karena ini." An tersenyum girang, ia juga mulai memakan sedikit kue kering agar suasana menjadi sedikit terbuka.
"benar, terima kasih adikku yang manis."
An tertegun mendengar kalimat itu.
kenapa? padahal itu kalimat biasa, tapi kenapa.. aku tak suka mendengar nya?' tanya gadis itu di hati kecilnya.
"hei.. aku ada sebuah pengakuan." Chyou melipat lengannya dan memperbaiki posisi duduknya.
"apa kau tahu? hari dimana kau menghilang, adalah hari dimana aku berperang melawan para penghianat. Di tempat dimana aku hanya bisa melihat darah juga mayat, aku tak bisa mengingat hal menyenangkan ketika aku menebas semua orang yang dicap penjahat," Chyou mengangkat wajahnya, tampak kerutan di kening yang tak bisa ia tutupi.
"dan apa kau tahu apa yang kubayangkan ketika berada di tempat mengerikan itu? aku mengingatmu." lanjut Chyou yang mulai mengangkat cangkir teh dan meneguknya pelan.
An hanya diam, ia tak membalas untuk waktu yang lama, "kenapa?"
kenapa kau menceritakan ini padaku? pada seseorang yang bukanlah adikmu ini?'
"entahlah? aku juga tak tahu.. mungkin karena.. hanya Kau yang mau mendekat padaku? beberapa hari sebelum aku dikirim ke medan perang, adalah hari ketika ayahku meninggal, " tatapan lelaki itu mulai sayu, namun ia masih dapat mempertahankan kesadarannya.
"ia meninggal.. saat sedang berburu bersama denganku. Hari dimana semua orang menyalahkanku, bahkan ibuku sendiri, hahaha.." tawa yang kaku dan perih, sebuah luka yang awalnya hilang seolah muncul dan menyebar kembali ke seluruh tubuh lelaki itu.
"karena hal itu, hari dimana kau menghilang menjadi tertutup. Seakan ada seseorang yang menggunakan kematian ayah untuk menutup semua tentang penyelidikanmu," Chyou mulai menggosok matanya, ia pun merasakan rasa kantuk yang luar biasa hebatnya.
"makanya maafkan aku.. Lian.. karena telah melibatkan mu ke dalam masalah keluarga yang rumit seperti ini, aku bahkan.. tak ingin menjadi pemimpin keluarga, aku hanya.. ingin bersama.. mu.." setelah menyelesaikan kalimatnya, lelaki itu terjatuh dan tertidur dengan nyaman di atas sofa ruang tamu.
"kau bicara seolah melihat 'Lian', tapi tak apa, tak perlu minta maaf denganku.. karena sebentar lagi aku, akan merenggut satu persatu keluarga ini darimu." gumam An sembari menyelimuti Chyou yang tertidur pulas.
Gadis itu melirik jam yang menunjukkan pukul sembilan tepat, "masih dua jam lagi, sebaiknya aku bersiap dan memberikan rencana kedua pada kakek tua itu."
An lantas berlalu ke kamarnya, meninggalkan Chyou yang sedang terhanyut dalam mimpi yang.. indah?
"selamat tidur, kakak."
...•...
...•...
...•...
...•...
...[ MOHON MAAF APABILA ADA KESALAHAN KATA MAUPUN TANDA BACA YA.. ]...
...[ TERIMA KASIH TELAH MEMBACA CERITA INI~ ]...
__ADS_1
...[ SAMPAI JUMPA DI CHAPTER BERIKUTNYA SEMUA! <3 ]...
...@Thara_tta (๑'ᴗ')ゞ...