Moon In Darkness

Moon In Darkness
Ch.42 Lelang Hijau


__ADS_3

An bersama wanita bercadar itu memasuki ruangan lalu memilih tempat duduk paling depan, beberapa pelayan datang dan memberikan mereka sebuah kertas untuk menuliskan nama juga nomor yang mereka dapat dari papan angka.


"baik, Tuan rubah putih nomor 66 dan Nyonya cadar merah nomor 13, selamat menikmati.. acara kami." ucap salah seorang pelayan seraya berjalan pergi.


"akhirnya aku bisa mengistirahatkan tubuhku.. " keluh wanita itu dengan memukul mukul punggungnya.


"jangan mengatakan hal itu dengan tubuh seorang wanita, sungguh tabu kau tahu. "


"dasar, anak jaman sekarang tak tahu sopan santun, tak bisakah kau berkata sopan padaku?"


"mimpi." An kemudian membenarkan topengnya dan menyenderkan tubuhnya ke kursi.


Sudah 10 menit sejak mereka berdua masuk ke ruangan, namun pelelangan masih belum dimulai. Disaat keadaan sunyi tanpa suara, wanita bercadar yang merupakan marrionet seorang kakek tua berbisik pelan, "aku sudah memikirkan kesepakatan itu."


"ayo tambahkan beberapa aturan, kau akan ku anggap sebanding, tapi kau harus berkontribusi penuh dalam setiap lelang yang kulakukan. Pendapatannya kita bagi 50 : 50." lanjut wanita itu memainkan rambutnya.


"kau lupa jika aku tak ingin berbagi hasil?" sindir An.


"ayolah, aku ini pedagang, insting uangku kuat! tidakkah kau mau berbagi denganku sedikit saja?"


"20 : 80"


"hei! bukankah kau terlalu serakah? 35 : 65." balas wanita itu terkejut.


"10 : 90, jika kau menawar lagi maka aku keluar."


"kau.. " wanita itu menggenggam erat pegangan kursi yang sudah mau retak, ia menarik nafas kasar lalu memijat kepalanya, "baik baik, 10 : 90. Kenapa aku harus melakukan ini sih? apa untungnya coba.. " gerutunya.


masalah uang beres.' batin An puas.


An tersenyum girang, ia menaikkan satu kakinya ke atas kaki lain dan menoleh pada wanita disebelahnya, "bagaimana dengan budaknya?"


Wanita itu tersentak, ia memalingkan muka seolah tak mendengar pertanyaan itu.


"... kau ingat bukan? syarat keempat adalah hal wajib jika kau ingin berkerjasama denganku." tegas An sambil menatap sinis ke arah wanita bercadar itu.


"aku ingat sialan! tapi aku tak bisa dengan mudah mengakhiri kontrak dengan orang itu!" Wanita itu menggaruk kepalanya kasar, ia berdecak kesal dan bergumam, "dasar anak bangsawan."


"siapa?"


"hah.. a--apa? memang aku bilang apa ya? ahaha" dalih wanita itu kaku, karena terus ditatap dengan tatapan tajam ia akhirnya memberitahu orang yang berada dibelakang perbudakan itu.


"Lee Jiang, si rubah keluarga Jiang itu! dia ketuanya." lanjutnya pasrah.

__ADS_1


"bagaimana kau tahu?"


"bagaimana apanya? tentu saja karena kontrak itu! perjanjian yang sangat tak menguntungkan bagi pelanggan!"


"kau tahu itu tak menguntungkan tapi kenapa masih dilakukan?"


"ah.. kau menusuk jantungku anak kurang ajar.. apa kau tak tahu seberapa menggiurkan penawarannya sewaktu awal kontrak?!"


"bilang saja kau tertarik karena uangnya."


Jiang.. bukankah itu salah satu keluarga inti?' batin An, walau masih mendapat sedikit informasi, ia tetap bahagia karena itu akan menjadi awal dari kesenangan.


Setelah mereka selesai berbicara, para tamu telah mengisi semua kursi kosong dan siap untuk lelang nya, lampu lampu seketika mati menyisakan sebuah lampu besar ditengah panggung yang terbuka lebar.


"Halo para hadirin sekalian! selamat datang di acara sederhana kami! "lelang dimulai, sang pembawa acara yang menyebut dirinya Goblin pun melantunkan kata kata indah sebelum menghadirkan barang barang lelang nya.


Tak ada yang menarik di sepuluh barang pertama, hanya ada perhiasan, kain sutra, juga hal lain yang tak ada nilainya. Namun dengan bodohnya, banyak sekali wanita bangsawan yang menawarkan harga untuk itu.


"baiklah, barang ke-11 pada malam ini adalah Hogweed Flower yang hanya tumbuh di daerah Utara! dimulai dari harga 100 dang!" teriak goblin membara.


Semua orang berbisik ketika melihat bunga itu di depan panggung,


"kenapa mereka menjual barang tak berguna itu?"


"apa apaan ini? buat apa menjual tanaman yang bisa dipetik di Utara langsung? itu juga bukan tanaman langka. Iya kan rubah?" oceh wanita bercadar, ia kaget bukan main disaat An menawar bunga itu dengan harga yang lumayan.


"1000 dang." ucap An dengan santai, Goblin dan para tamu lain dibuat terkejut olehnya, mereka berpikir bahwa ia sudah gila.


"kau gila?! kau akan membuang 1000 dang hanya untuk rumput pinggir jalan!" seru Wanita bercadar itu tak percaya.


"wa--wah.. apakah anda yakin, tuan nomor 66?" tanya Goblin memastikan.


"iya, apa kau tak dengar yang tadi ku katakan?"


"ah.. baik, Hogweed Flower dengan harga pertama 1000 dang! apakah ada yang ingin menawar kembali?!" Sang Goblin memanaskan tamu, sangat disayangkan karena dari awal mereka memang tak tertarik dengan bunga itu.


Lantaran tak ada yang memberi penawaran, bunga itu akhirnya jatuh ke tangan An dengan sekali penawaran.


"bisakah kau jelaskan padaku kenapa kau membelinya?" tanya wanita bercadar itu tak habis pikir.


"kau tak akan mengerti." ujar An dengan dingin, wanita itu hanya menggelengkan kepalanya atas apa yang telah dilakukan An.


Hogweed.. dari nama saja aku sudah mengenalnya, tanaman racun yang sangat membantuku di kehidupan sebelumnya.' batin An.

__ADS_1


Tanaman yang dapat memberikan rasa panas, mati rasa, benci matahari dan kebutaan, itu mungkin dapat membantuku dengan kondisi fisik sekarang.' An menganggukkan kepalanya bangga.


Lelang dilanjutkan, walau banyak benda yang cukup bagus tapi tak ada yang membuat An menginginkannya.


"kupikir kau akan membeli jika banyak orang yang menawar benda itu." ejek wanita itu.


"kau kira aku tak bisa membedakan mana yang bagus dan mana yang tidak?"


"yah.. kau benar sih, entah kenapa lelang kali ini menyedihkan. Makanya lain kali mampir ke tempatku saja." tutur wanita itu penuh percaya diri, "di sini juga ada loh, tak perlu jauh jauh ke kota Chengse!" lanjutnya.


An hanya melirik wanita disampingnya sekilas dan tak menjawab sama sekali.


Setelah semua barang hampir habis dijajakan, sang Goblin dengan penuh semangat mengatakan hal yang sekali lagi menghebohkan para tamu, "semua! apa kalian tahu kenapa kami menyiapkan sedikit barang hari ini? karena kami akan membawakan kalian sesuatu yang akhir akhir ini dijadikan topik utama!"


Semua tamu yang awalnya sudah mulai lelah, kini kembali membara saat tahu 'sesuatu' yang disebutkan oleh Goblin.


Wanita bercadar itu melirik An yang wajahnya tak terdeteksi sama sekali, Kira-kira apa yang akan dilakukannya ya?' batin wanita itu tak sabar.


Sesaat sebelum membawa barang keluar, Sang Goblin tampak kesal dan meminta izin pada para penonton untuk pergi ke belakang sebentar.


An merasakan sesuatu yang aneh, ia meraba dan melepaskan anting safir di telinganya, tak lama, gadis itu pun terkekeh ketika mendengar apa yang dikatakan oleh Goblin di belakang panggung.


"apa?! bagaimana bisa mereka mengundur barang spesial itu! mereka tahu ini hari utamanya kan?!" bentak Sang Goblin pada seorang lelaki yang tampak kusut.


"ma--maaf tuan, pihak kami pun baru diberitahu malam ini, mereka bilang bius untuk barang tersebut habis dan belum bisa dibeli.. kami--" lelaki tersebut dipukul hingga terpental jauh menabrak dinding, ia gemetar dan hanya bisa menahan darah yang mengucur keluar dari hidungnya.


"bilang pada mereka untuk segera membawakan barang spesial itu! dasar manusia tak berguna!" ujar Sang Goblin menunjukkan aura kebencian yang amat pekat.


...•...


...•...


...•...


...•...


...[ MOHON MAAF APABILA ADA KESALAHAN KATA MAUPUN TANDA BACA YA.. ]...


...[ TERIMA KASIH TELAH MEMBACA CERITA INI~ ]...


...[ SAMPAI JUMPA DI CHAPTER BERIKUTNYA SEMUA! <3 ]...


...@Thara_tta (๑'ᴗ')ゞ...

__ADS_1


__ADS_2