Moon In Darkness

Moon In Darkness
Ch.61 Penantian


__ADS_3

Sementara itu, kamar An yang semula gelap diterangi oleh remang cahaya bulan yang masuk melalui jendela. Jendela terbuka, angin malam yang sejuk masuk disertai dengan seorang pria.


Pria itu memandangi tubuh mungil An yang sedang terbaring dan berkeringat dingin, ia mendekat ke arahnya dan duduk disamping ranjang, sambil mengelus kening gadis itu yang basah akan keringat.


Semakin memandangnya, pria itu dapat merasakan jika An tengah bermimpi, mimpi buruk yang sampai-sampai dapat membuat keningnya berkerut.


"padahal aku sudah menanti hari dimana aku menemukanmu.." pria itu menutup sebagian wajah An menggunakan tangannya dan mengalirkan chi miliknya.


"tapi kau malah terbaring dengan wajah berkerut di hadapanku, Nona rubah? kau jahat sekali." lanjutnya lagi dengan lirih.


Tak lama, wajah An yang semula kalut kian membaik, seolah mimpi buruknya telah pergi. Sinar bulan yang semakin terang juga menerangi kamar itu, wajah pria yang ada di samping An terlihat dengan jelas.


Dengan mata merah dan rambut hitam yang panjang, dia seakan mendominasi ruangan itu. Seperti seorang pangeran namun perkasa, seorang pengelana namun berwibawa, seorang peri namun tak bersayap, ataupun seorang iblis tanpa tanduk.


"aku rindu padamu, tidakkah kau ingin bangun dan melihatku? ataukah kau tak ingin bercerita tentang siapa yang berbuat begini padamu?" tanya pria itu, wajahnya terlihat sangat beringas saat menanyakan pertanyaan terakhir, ia terus mengelus lembut rambut An dan memandang kosong pada gadis itu.


"seharusnya aku langsung membawamu saat itu.." gumamnya dengan perasaan kalut, sesaat setelahnya ia diam, matanya tertuju pada bayangan seseorang dari dekat jendela.


"tak aku sangka, kehadiranku membawa serangga busuk seperti dirimu.." ejek lelaki itu sembari menatap kesal pada pria bertopeng hitam dihadapannya, terlihat jika orang itu juga memegang setangkai bunga mawar hitam yang sangat indah.


"benarkah? aku meragukan ucapan makhluk cacat sepertimu, atas dasar apa kau bisa menginjakkan kaki ke tempat ini?" hardik lelaki itu tak ingin kalah, ia lalu tertawa sinis dan menatap jijik ke arah pria yang tengah duduk disamping An.


"konyol, secacatnya aku, aku tak akan pernah sekotor kalian. Makhluk serakah." jawab pria bermata merah itu sinis.


"Hah? kau mau mati ya? harusnya kau tetap berdiam diri saja di duniamu itu, tak usah berpura-pura menjadi makhluk yang baik." tangkas pria bertopeng itu dengan mempercepat langkahnya menuju ranjang An.


"benarkah? walau begitu, aku tak pernah menumbalkan keluargaku sendiri untuk mendapat kekuasaan seperti dirimu."


Emosi mereka memuncak, pria yang mengenakan topeng hitam itu terlihat berusaha untuk menekan auranya agar tidak keluar. Rahangnya mengeras dan tampak emosi yang tak terbendung lagi dari sorot matanya.


"aku terkesan karena kau mengetahui hal itu, kau benar-benar ingin mati ya?" bisik lelaki itu sambil mengepalkan tangannya hingga meremas setangkai bunga yang ia pegang.


"mati.. aku tak akan mati sebelum membunuh orang-orang seperti kau." balas pria yang tengah duduk, ia lalu beranjak dari kursi dan berniat mendekat pada pria bertopeng didepannya.


Belum sempat mereka beradu satu sama lain, suara langkah kaki terdengar mendekat ke arah mereka.


Tak lama, pintu terbuka dan tampak Chyou berdiri diambang pintu sembari memegang sebuah buku bacaan, "...kupikir para serangga itu telah pergi." gumamnya sambil melirik sebuah bunga mawar hitam dilantai.


Chyou kemudian menatap jendela yang terbuka lebar, ia mendekatinya dan menutup jendela itu rapat. Masih dengan menggenggam buku ditangannya, dia menyalakan sebuah lampu kecil dan duduk disamping ranjang An.


Lelaki itu pun melirik wajah adiknya yang kembali berkerut, ia dengan pelan mengelus punggung tangan An dan berbisik, "tidurlah, aku akan menjagamu agar tak ada lagi serangga yang mendekat."


Di saat yang sama, An masih terlentang dilantai dan menatap kosong pada ruangan hitam disekelilingnya, sorot wajahnya seakan mengatakan jika ia bosan dan lelah.


"mimpi yang aneh, sampai kapan aku harus berada disini?" gumamnya sembari mengingat kembali kejadian yang baru saja ia alami.


"tenangnya.. oh ayolah! aku muak dengan ketenangan ini! seseorang bawa aku keluar dari sini!" teriak An yang hanya menggema tanpa sahutan.


Ia kemudian terdiam kembali, masih dengan mengingat mata ibu yang ia lihat untuk terakhir kali.


"jika dia memang membenciku, harusnya tak usah membuatku tahu apa itu dunia." lirih An sambil mengusap kasar wajahnya.

__ADS_1


Gadis itu terus terpejam, lama kelamaan hawa di sekitarnya berubah, yang semula hangat menjadi sejuk dan berangin, ia juga merasakan sentuhan di keningnya yang terasa hangat dan lembut.


Perlahan An membuka matanya, pemandangan pertama yang ia lihat adalah sesosok wanita yang pernah ia temui berulang kali dengan ekspresi yang sama.


"kau sudah bangun, anakku?" ucap wanita itu ramah, An hanya menatap wajahnya yang tersenyum, mata wanita itu terlihat sangat hangat, tanpa adanya butir kekesalan ataupun kekecewaan.


"ibu?" tanya An spontan, ia reflek menutup mulutnya karena tak mengira ia dapat berbicara.


apa? kupikir ini ingatan Lian seperti biasanya! jadi, aku bisa melakukan apapun disini, sama seperti sebelumnya.' batin An tak percaya, ini pertama kalinya ia bisa mengontrol dirinya sendiri dalam ingatan tubuh itu.


"tentu saja ini ibu! kau ini kenapa sih?" seru wanita itu gemas, ia mulai mencubit pipi An yang ada didalam pangkuannya, senyumnya sangat indah, bak permata yang sangat diperebutkan orang-orang.


Gadis yang tampak masih berusia lima tahun itu mengerjapkan matanya, ia terus memainkan jari untuk mengetahui jika itu bukan khayalan.


"ibu.. kau ibuku kan?" tanya An dengan cedal.


Wanita itu tampak bergeming, ia kemudian menghela nafasnya pelan dan masih memberikan senyuman hangat khasnya, "iya.. ini ibumu. Apa kau bermimpi buruk sampai tak mengenaliku, hm?"


Entah mengapa, ada perasaan syukur di hati An, perasaan lega dan senang mulai bercampur menjadi satu di dalamnya.


An lantas menundukkan kepalanya dan mengangguk pelan menanggapi pertanyaan kecil dari sang ibu.


"apa itu? ceritakan pada ibu.. jika kau membaginya pada seseorang, perasaan tak enak di hatimu akan menghilang." jelasnya seraya merapikan rambut An yang berantakan.


"aku.. bermimpi menjadi orang lain, didalam mimpiku, aku sangat dibenci semua orang, aku tak memiliki keluarga, pekerjaanku adalah membunuh orang lain, bahkan mengintimidasi orang yang tak bersalah. Aku.. adalah orang yang dikutuk, dan seorang monster yang mengerikan." jelas An yang masih menunduk, ia menghentikan ucapannya karena tak ada sahutan dari wanita dihadapannya.


Dengan membulatkan tekad, ia melirik pelan ke arah ibu yang ada didekatnya. Belum sempat ia melihat reaksi apa yang diterima, kepala gadis itu telah lebih dulu dielus dengan cepat.


"dasar! tega sekali mereka memperlakukan anak ibu seperti orang jahat! berani beraninya mereka menyebut malaikat ibu sebagai seorang monster!" teriak wanita itu tak terima, An yang mendengarnya sontak berpikir jika ia telah gila.


"apa ibu.. tak benci padaku? jika.. aku benar-benar seorang monster yang suka membunuh.." jelas An yang kesal karena tingkah ibunya.


Dia tak lagi memikirkan apa yang ia katakan, ia hanya meluapkan segala emosinya tanpa mengingat 'siapa' dia sekarang.


Masih belum mendengar jawabannya, An malah diberikan pelukan hangat yang telah lama ia lupakan, elusan dan belaian lembut dipunggung kecilnya membuat air mata An tak lagi tertahankan.


"kau tahu sayang? sejahat apapun kau, sebenci apapun dunia padamu, dan seburuk apapun kau dimata orang lain, bagiku.. kau adalah malaikat yang dititipkan Tuhan padaku.." wanita itu lalu kembali memeluk An dengan erat.


"sejahat apapun dunia padamu, aku akan menjadi satu dari orang orang yang mencintai dan membela dirimu." lanjutnya lagi.


Mata An memerah, tangan kecilnya bergetar dan mencoba untuk melepaskan pelukan yang diberikan ibunya, "kan sudah kubilang! aku ini monster! apa kau tetap akan membelaku jika suatu saat aku membunuhmu?!" teriaknya sambil menangis.


"tentu.. ibu akan melakukannya, karena ibu tahu jika kau pasti memiliki alasan untuk melakukan hal itu." jawab wanita itu dengan lembut, tanpa memberikan ekspresi marah ataupun terkejut, ia masih sama seperti sebelumnya, tersenyum hangat tanpa ada emosi dimatanya.


"kenapa?" lirih An dengan tatapan yang tak percaya.


Wanita itu merentangkan tangannya dan melebarkan kembali senyumannya, "karena kau adalah keluargaku.."


Disaat itu juga tangisan yang selama ini gadis itu pendam keluar secara bersamaan, tubuhnya yang semula kecil menjadi selayaknya gadis remaja, dengan penuh air mata, ia kembali kedalam pelukan wanita dihadapannya dengan sangat emosional.


"tak apa, kau hebat, sangat hebat.. Ibu bangga mempunyai putri sehebat dirimu.." bisik ibunya sambil mengelus punggung An yang gemetar.

__ADS_1


Momen itu adalah momen paling menyenangkan bagi An, ia terus memeluk wanita itu walau dia tahu jika itu hanyalah mimpi, saat itu juga ia terus berharap jika semua yang dialaminya sekarang adalah kenyataan.


Setelah merasa jika putrinya telah selesai menangis, ibunya secara perlahan merenggangkan pelukan itu untuk melihat wajah An, ia membelai pelan wajah yang memerah dan penuh air mata itu, pelan dan lembut.


"sudah baikan?" tanyanya sambil tersenyum, gadis itu hanya mengangguk pelan dan tak berani untuk menatap mata wanita itu secara langsung.


sial.. kenapa aku sampai berteriak sih tadi?! memalukan sekali!' batin An yang mulai normal kembali.


"kalau begitu, kau harus pulang.. jagalah tubuhmu, jangan terlalu banyak pikiran dan makanlah yang teratur.."


Mata An membulat sempurna kala mendengar perkataan wanita itu.


eh?'


Gadis itu lantas mendongakkan kepalanya dan menatap mata ibunya yang menahan air mata.


"ingatlah.. jika kau merasa dunia jahat padamu, ibu akan menjadi orang pertama yang mendengar ceritamu.. aku sayang padamu, Tina." seru sang ibu dengan berderai air mata, di saat terakhir ia mencium kening An dan semuanya kembali seperti semula.


"apa.. ah! bagaimana itu terjadi?" gumam An masih terperangah di ruang gelap itu, namun berbeda dengan sebelumnya, kali ini dia terlihat lebih bahagia dan bersemangat.


"yah.. apapun itu, tak buruk juga.." ucapnya sambil tersenyum kecil, ia lalu memutar badannya dan melihat seorang gadis tepat di depannya.


Gadis itu berambut sangat panjang, matanya berwarna ungu dan sayu, kulitnya juga pucat seperti orang mati, pakaian yang ia kenakan hanyalah pakaian lusuh yang sangat berantakan. Dibalik itu semua, yang sangat mengejutkan adalah tubuh gadis itu yang seakan habis terbakar.


"siapa?" tanya An sembari melangkah mundur untuk waspada.


"... cari, cari topeng itu!" pekik gadis itu sambil mencengkram bahu An dengan kuat.


"a--apa? topeng apa?!" sahut An gelagapan.


"topeng yang telah kau lepaskan! jika kau tak segera menemukannya, kutukan itu akan terus menguasai dirimu!" ancam gadis itu dengan melotot tajam ke arah An.


Tak sempat An menjawab segala ucapan gadis itu, ia langsung didorong dan jatuh ke sebuah jurang dalam dibelakangnya.


Sesaat sebelum ia terjun, gadis itu kembali berucap, "angin dingin akan membawamu kesana, temukan, atau kau akan---"


Kalimat itu terputus dan secara bersamaan An pun akhirnya bangun dari mimpi yang telah memakannya seharian.


...•...


...•...


...•...


...•...


...[ MOHON MAAF APABILA ADA KESALAHAN KATA MAUPUN TANDA BACA YA.. ]...


...[ TERIMA KASIH TELAH MEMBACA CERITA INI~ ]...


...[ SAMPAI JUMPA DI CHAPTER BERIKUTNYA SEMUA! <3 ]...

__ADS_1


...@tharazerow (๑'ᴗ')ゞ...


__ADS_2