
Setelah dipenuhi oleh padatnya manusia, jalan tempat Chyou melakukan tugasnya kini sepi tanpa sisa. Karena bukanlah hal mudah, untuk melindungi semua orang dari berbagai sisi di lorong yang sempit itu.
Keempat lelaki itu sekarang berdiri di berbagai sisi kristal sambil memfokuskan chi mereka, semuanya tetap diam hingga Chyou membuka mulutnya dan berteriak dengan lantang, "SEKARANG!"
Mata keempatnya terbuka dan secara bersamaan chi mereka mengalir ke arah kristal besar yang berada ditengah, mata mereka bergetar, tubuh mereka basah karena keringat, dan tentunya sulit untuk mempertahankan nafas yang normal saat ini.
Semua orang yang memperhatikan dari jauh merasa kagum dan sangat terpukau akan kekuatan keempat lelaki itu, mereka terus bersorak dan menyemangati dengan kegirangan.
Beberapa saat kemudian, kristal itu meledak dan hancur berkeping-keping, suara gemuruh kecil terdengar kala api yang terperangkap didalamnya beterbangan keluar dari kristal. Keempat lelaki itu terjatuh dari posisinya dan tergeletak lemas di tanah.
"aku.. tak akan mau melakukan hal ini lagi!" teriak Aiguo memperihatinkan di sisi seberang.
Dengan nafas yang masih memburu, mereka berjalan ke arah tenda untuk mengistirahatkan diri di sana.
Sebelum masuk ke dalam, Chyou menghentikan langkahnya dan berbalik ke belakang. Masih dengan kelelahan, ia mendekati kerumunan warga dan menarik salah satu gadis berbaju biru dari sana.
"apa yang kau lakukan?!" tanyanya spontan pada gadis itu.
"eh.. Youyo?" sahut An terkejut kala Chyou menarik lengannya secara tiba-tiba.
"aku tanya, sekarang kenapa kau disini?!" masih dengan pertanyaan yang sama dan belum melepas genggamannya, ia memperhatikan An secara seksama, tak ada dayang di sisinya, tak nampak pula kereta keluarga yang mengantarnya, pakaian dan rambut gadis itu pun terlihat sederhana.
"kau dengan siapa ke sini?" tanya Chyou kembali sambil menarik gadis itu untuk pergi bersamanya.
"itu.. aku sendirian. Hehe.." jawab gadis itu kikuk, Chyou menggelengkan kepalanya dan membersihkan debu yang menempel pada baju gadis di depannya.
Tak peduli dengan cibiran ataupun tatapan orang lain, ia tetap mengajak An untuk menjauh dari kerumunan yang mengerikan itu.
"kenapa kau tak ada takutnya sih? bagaimana jika kristal tadi terlempar ke kerumunan?"
"jika itu terjadi, kau akan langsung melindungi ku, iya kan kak?" An tersenyum dengan manis, sembari menjawab semua perkataan kakaknya, ia terus menatap lingkungan itu seolah menunggu sesuatu.
"Ah! hentikan! lepaskan aku!" teriak seseorang dari gang kecil yang terselip ditengah kerumunan.
Keduanya mendengar itu, tanpa berpikir panjang An berlari ke sumber suara tanpa diminta siapapun, namun matanya agak kaget saat melihat Xia yang kini didekap oleh segerombol preman tak bernama.
aku memang meminta Xia berteriak jika aku telah masuk ke jangkauan Chyou, tapi aku tak ingat jika menyewa orang untuk pemeran tambahan disini.' batin An masih memikirkan hal yang sedang terjadi.
"siapa kalian?" gumamnya seraya menatap para preman itu tajam, karena memiliki tubuh yang kurus, uratnya akan mudah terlihat jika dia sedang marah.
__ADS_1
"pergi kau dasar bocah!" seru salah seorang preman yang bergegas mencabut pisaunya untuk menyerang An.
Gadis itu tak menghindar ataupun menjauh, dia tetap berada di sana, menunggu serangan itu sembari tersenyum. Tak lama, ia memainkan bibirnya dengan berkata, "habis kau,"
Leher para preman itu tiba-tiba terputus begitu saja, darah bercucuran ke segala arah dan menyisakan bau amis yang menyengat.
An hanya melirik tempat itu dan menatap dua orang yang menjadi dalang dibalik pertumpahan darah ini.
"kau tak kena cairan itu kan?" tanya Chyou yang memastikan jika darah kotor itu tak menyentuh sehelai pun kain ditubuh adiknya.
"hei bodoh! kau harusnya teriak! jika orang udik itu sempat menggores mu, akan susah untuk menghilangkan mereka ditengah keramaian begini." seru Jiazhen dengan mengecilkan suaranya di kalimat terakhir.
Dibalik tubuh Jiazhen yang sedang memasukkan pedangnya, tampak seorang gadis cantik yang memiliki rambut perak bergelombang, dia adalah Xia.
syukurlah dia tak apa, walau aku heran kenapa harus khawatir padanya.' An menghela nafas lega dan berlari mendekati Jiazhen.
"kakak! dia cantik sekali!" ucap An, matanya berbinar dan senyumnya sangat lebar.
"aku suka dia! bisakah kita membawanya untuk menjadi temanku?" lanjut An dengan polos di tempat berdarah itu.
"hah? memangnya masuk akal mengangkat orang hanya karena can--"
Chyou berjalan mendekati An dan menariknya untuk keluar dari gang penuh darah itu, ia kemudian meminta An untuk pergi ke tenda dan menunggu dengan tenang.
"hei kalian! urus mayat ini, aku ingin pergi sebentar!" titah Jiazhen sembari melepas baju pelindungnya dan melenggang pergi.
Saat berjalan menuju tenda, gadis itu melihat jika kedua saudaranya melangkah ke jalur yang berbeda, "kemana orang gila satunya akan pergi?" gumam An seraya memasuki tenda.
Di dalam tenda itu tak terlihat adanya tanda kehidupan, bahkan dua orang yang ikut andil di sana tak terlihat batang hidungnya.
"kemana perginya si oranye dan si sayu?"
"Yang mulia putra mahkota dan Tuan Jun telah pulang langsung ke istana, mereka menitip salam untuk Nona keempat." sahut seseorang dari balik tirai tenda.
Sesaat setelah An menoleh, ia melihat dua orang lelaki yang tak asing untuknya, gadis itu terkejut bukan main namun masih dapat dia sembunyikan ekspresi terkejut itu.
"oh? siapa kalian? aku tak ingat ada orang disekitar sini beberapa detik yang lalu."
tak kusangka mereka berdua masih hidup.' batinnya merasa puas dengan hasil dari kedua pria dihadapannya.
__ADS_1
"maafkan kelancangan kami Nona, izinkan kami memperkenalkan diri, saya Lang," ucap lelaki berambut sebahu dengan mata elang cokelatnya.
"dan saya Shu!" potong seorang lelaki yang memiliki wajah imut dan rambut ikal, warna matanya hampir sama dengan Lang, bedanya ia memiliki warna mata yang sedikit terang.
"kami adalah kesatria pelindung Anda untuk kedepannya, mohon terimalah janji setia kami pada satu satunya master kami!" seru mereka dengan kompak sambil memberi hormat kesatria.
An hanya diam melihat itu, tak lama Chyou datang dengan wajah yang sangat ceria, "kau suka? mereka adalah yang termuda di calon prajurit baru, aku juga sudah mengetes kemampuan mereka. Dan menurutku kemampuan itu cukup berguna." jelasnya dengan menatap tajam ke arah dua orang yang sedang menunduk itu.
"tentu aku suka, apalagi kau pasti memilih orang-orang yang sempurna~" An mendekat dan menerima janji kesatria mereka, ia lalu berlari untuk menghamburkan pelukan pada kakaknya.
"terimakasih Youyo, tapi.. dimana si cantik itu?" tanyanya masih menempel pada Chyou tanpa menghiraukan tatapan tak percaya Lang dan Shu dibelakangnya.
"aku sudah meminta Yong untuk mengantarnya ke rumah, dia akan ada di sana saat kau pulang." ujar lelaki bermata langit itu seraya mengelus pelan kepala An.
Keduanya terlihat sangat harmonis, sampai-sampai para pelayan dan kesatria yang masuk ke dalam tak hentinya menatap mereka berdua.
apa? sepertinya ini efek samping teknik itu, aku sempat heran kenapa sejak tadi baik baik saja.. ternyata baru sekarang ya?' batin An lemas, setelah bercengkrama singkat dengan saudaranya, ia duduk dan meminum segelas teh hangat yang diantarkan pelayan.
"Nona.. anda baik-baik saja? wajah Anda terlihat pucat.." lirih Lang dengan ekspresi khawatir, mereka juga tak bisa memanggil Chyou karena dia sedang sibuk menerima laporan prajurit lain.
"tak apa, dibanding itu.. aku senang melihat kalian masih hidup sekarang." dalih An mencoba untuk mengganti topik obrolan.
"kami kan sudah janji! kami hebat bukan?!" seru Shu bersemangat, gadis itu kemudian harus mendengarkan celotehan para kesatria barunya entah sampai kapan habisnya.
...•...
...•...
...•...
...•...
...[ MOHON MAAF APABILA ADA KESALAHAN KATA MAUPUN TANDA BACA YA.. ]...
...[ TERIMA KASIH TELAH MEMBACA CERITA INI~ ]...
...[ SAMPAI JUMPA DI CHAPTER BERIKUTNYA SEMUA! <3 ]...
...@tharazerow (๑'ᴗ')ゞ...
__ADS_1