
Tuan Wen menoleh dan menatap bibi Bao dengan sinis, wanita itu memakai pakaian berwarna merah gelap yang dihias menggunakan teratai hitam, juga topi lebar yang menutup seluruh wajahnya.
"wah? jarang sekali melihat orang seperti kau datang, ada angin apa?" celetuk bibi Bao santai.
"hoho.. memangnya aku harus bilang padamu jika aku akan ke sini, Nyonya Li?" sindir Tuan Wen seraya menyeringai.
"apa?" bibi Bao seketika melebarkan matanya dan dapat dilihat jika ia berusaha untuk menahan emosinya.
Li? bukankah itu salah satu keluarga inti?' batin An yang masih menundukkan kepalanya, ia bisa saja menatap bibi Bao, tapi ia tak akan bisa menjamin jika emosinya tidak pecah di sana.
Tentu saja, karena pada saat ini dia adalah An, bukan seorang Lian Wu sang nona bangsawan.
"kenapa? bukankah pertama kali kau datang, kau memberikan marga itu?" cetus kakek Wen yang membuang mukanya dan tersenyum tipis pada An.
"kau mau melawan ku, kakek tua?" ancam wanita itu karena sudah berada di tahap akhir kesabarannya.
"ngomong-ngomong aku tak menyangka jika kau membawa seorang badut dan bukannya pengawal." lanjut wanita itu angkuh.
Tuan Wen menggertakkan gigi dan mengepalkan tangannya kuat, "bilang sekali lagi, aku akan mencoba untuk memaafkan kau."
Melihat situasi yang semakin panas dan panjangnya antrian, sang pemilik kedai budak, Lee Jiang melerai keduanya dan mempersilahkan mereka semua untuk masuk.
Tak ada keanehan sewaktu mereka membukakan tirai pembatasnya, namun setelah tirai terbuka muncul keramaian luar biasa yang ada didalam sana.
teknik meredam suara? kurasa aku menginginkan ini untuk kamarku.' batin An kagum.
Para tamu dan kontributor sedang berbincang hangat layaknya pesta dan pertemuan biasa, dari logat dan perilaku semua tamu, dapat dipastikan jika mereka semua adalah bangsawan. Baik itu bangsawan tinggi maupun bangsawan rendah.
Tempat itu cukup luas tapi bisa dikatakan sederhana, hanya ada beberapa meja, lukisan juga vas, terdapat pula dua ruangan yang dijaga dengan penjagaan pengawal dengan arah yang berlawanan.
Tepat di tengah ruangan, terdapat sebuah meja besar berbentuk segitiga yang dapat menampung para tamu yang datang malam ini. Mereka juga membawa penjaga masing masing jikalau ada sesuatu yang tak bisa dihindari.
Tuan Wen berbalik kearah An dan membuka mantel bersamaan dengan topinya, ia kemudian membungkukkan tubuh dan berbisik pada An, "di ruangan sebelah kiri itu tempat penitipan barang, Rubah itu sedang berjaga didalam."
An mengangguk pelan, ia menerima mantel juga topi kakek Wen dan pergi ke ruang penitipan itu, saat tiba di depan pintu ruangan, An terhenti sejenak karena melihat bibi Bao yang sedang berbincang dengan bawahannya di depan pintu.
"dasar tua bangka! harusnya dia mati saja dengan semua bonekanya itu! kau, setelah menaruh ini langsung keluar saja!" bibi Bao berdecak kesal dan terus mengumpat.
Bawahan yang ia bawa hanya diam dan membungkukkan kepalanya, masih setia untuk mendengar keluh kesah sang majikan.
"bocah itu kira hanya karena aku sudah tua jadi tak bisa melindungi diri sendiri? dasar bangsawan bau kencur!" lanjutnya sembari pergi dari sana.
__ADS_1
Melihat jika tak ada yang menghadang pintu, ia pun bergegas ke sana dan masuk kedalam.
"ini aneh, kemana penjaga yang beberapa menit lalu ku lihat, iya kan Ru?" ucap An santai pada seorang lelaki yang ada di hadapannya. Terlihat di bawah lelaki itu ada seorang penjaga pingsan yang sedang diikat.
"iya, Tuan." sahut Rushin tanpa emosi. Ia lalu mendekat dan mengambil mantel beserta topi dari tangan An.
"mana? kau sudah mendapatkannya bukan?" An menjulurkan lengannya seolah meminta sesuatu.
Rushin merogoh sakunya dan mengeluarkan beberapa kunci lalu memberikannya pada An.
"saya sudah memberikan obat tidur pada penjaga yang ada di lantai bawah tanah dan yang menjaga ruang belakang, namun Anda harus tetap waspada, kita tak tahu jika ada yang melenceng dari rencana, Tuan." jelas Rushin sambil menundukkan kepalanya.
"wah, Kau lebih berguna dari yang kupikirkan? Sangat sayang karena kau hanya bisa kupakai sekali saja." gumam An dengan mengeluarkan boneka yang berpakaian mirip dengannya.
"lalu, bagaimana denganmu Arum? masih ingat apa yang harus Kau kerjakan?" tanya An pada wanita yang masuk untuk menaruh barang milik bibi Bao.
"saya sudah memasang beberapa lilin aroma yang telah diberi sedikit racun pelumpuh milik Anda, karena racun itu tak beraroma, tak akan ada yang sadar." Arum melirik Rushin dan melanjutkan kembali ucapannya.
"dan.. saat saya mendengar sebuah siulan, saya akan bergegas menyelinap ke ruangan Lee Jiang untuk mengambil semua dokumen pentingnya." lanjut Arum seraya mengeluarkan sebuah mantra teleportasi dan memberikannya pada An.
"dokumen itu, akan kau berikan pada siapa?" cela An dengan menerima kertas mantra itu.
"setelah mencoba menyelamatkan Nyonya pertama, saya akan langsung pergi ke istana, untuk menyerahkan semua dokumen langsung pada kaisar.. tanpa memberitahukan siapa yang ada dibaliknya."
"tu--tunggu.." potong Arum gugup.
"kenapa Anda tak langsung meledakkannya saja? kenapa juga Anda harus menyelamatkan para budak yang ada di bawah tanah? Anda kan.. tak kenal.. mereka?" lanjut Arum.
An menatapnya, ia melihat jika jemari gadis itu gemetar, walau begitu tatapan yang ia berikan sangat tajam.
"itu tujuannya kan?" seru An yang malah membuat Arum dan Rushin memiringkan kepala mereka.
"jika aku langsung meledakkannya, para bangsawan yang memiliki kekuatan akan sadar dan langsung berlari keluar, jika aku tak menyelamatkan para budak, ledakan ini akan sia-sia. Karena sejak awal, aku memang menargetkan para budak juga semua bangsawan." jelas An sambil melipat tangannya.
"kau tanya kenapa aku menyelamatkan mereka walau aku tak mengenalnya? itu sama halnya jika aku bertanya " mengapa kau membunuh orang yang tak memiliki salah padamu?" ya kan?" tusuk An terang-terangan.
lagipula aku juga harus memastikan "barang spesial" apa yang ada diruang bawah tanah.' tambah An dalam hati karena telah mendengar pembicaraan pembawa acara lelang beberapa hari yang lalu.
Arum terdiam, ia menghela nafas dan menganggukkan kepalanya, "baik Nona, terimakasih atas jawaban Anda, dan.. senang bisa melayani Anda walau hanya sesaat." ucapnya dengan menunduk.
Mereka bertiga mulai berpencar, Arum yang mengawasi ruangan Lee Jiang, Rushin yang memperhatikan gang aman untuk menghindari ledakan, juga An yang kini tengah berlari dari atas tanah ke bawah.
__ADS_1
"tak kusangka jika dia benar-benar membuat penjaga tertidur.. dan lagi, apa mereka tak ada kerjaan?! membuat gudang di belakang tempat rawan begini, pakai desain kumuh pula!" oceh An masih terus berlari mengikuti arah tangga yang zigzag.
"aku sampai tak terkejut melihat pintu masuk didalam gudang kotor yang lembab itu." ia terus berlari, semakin ia masuk kedalam semakin lembab dan gelap pula tempat itu.
Setelah penantian panjang, An melihat titik akhirnya, ia sampai pada sebuah pintu kayu tua yang telah banyak dimakan rayap, terdengar buruk, tapi pintu itu tak dapat didobrak sama sekali.
"ini.. chi roh.. roh tanah ya?" An terpukau, walau penampilan pintu itu sangat buruk, ia dilindungi oleh tumpukan tanah yang lebih kuat dari berlian sekalipun.
"mungkin ini roh tingkat tinggi." gumam gadis itu lalu mencoba setiap kunci yang ada ditangannya, setelah beberapa kali mencoba ia pun menemukan kunci yang cocok dan membuka pintu secara pelan.
Sedikit terkejut, pemandangan yang pernah ia lihat kini kembali lagi, terdapat banyak sekali sel kurungan, lampu yang redup, serangga, lumut, bahkan makanan busuk di sana.
tempat ini lebih parah dibandingkan milik kakek tua itu!' An mengepal jemarinya kuat, lalu ia melirik para penjaga yang sedang tertidur dengan pulas nya dan langsung memenggal kepala para penjaga itu menggunakan pisau pendek pemberian Arum sebelum berpisah.
An terus berjalan sembari membuka satu per satu sel yang ada di sana, bukanlah narapidana ataupun penjahat yang ia temukan, namun ia menemukan banyak sekali anak kecil, remaja, bahkan orang dewasa.
Mereka semua tampak terkejut melihat An yang datang dan membukakan pintu untuk mereka, gadis itu tak bersuara sama sekali, dengan jubah hitam dan topeng rubahnya, ia hanya diam dan membuka semua sel satu persatu. Para budak itu secara perlahan keluar dari sel dan memperhatikan An yang sedang membuka kurungan lainnya.
"dilihat dari tubuh, wajah dan pakaian mereka, pastinya mereka dari tempat yang berbeda-beda." gumam An tanpa memedulikan tatapan penasaran dari belakangnya.
Saat telah membuka semua pintu sel, ia sampai pada sel yang jauh berbeda dari yang lain. Sel terakhir yang ia liat memiliki banyak rantai dan penghalang, secara samar An dapat melihat seorang laki-laki tengah duduk di sana dengan diikat menggunakan banyak rantai.
Tubuh lelaki itu tak terlalu terlihat karena cahaya yang redup, namun An dapat merasakan jika lelaki itu tengah menatapnya dengan tatapan membunuh.
sepertinya ini, barang spesial itu.' batin An sambil tersenyum puas, ia dengan senang hati membuka pintu sel lelaki itu dan melangkah masuk ke dalam.
"ja--jangan ke sana!! Tu--Tuan!" teriak seorang gadis kecil di belakangnya. Bersamaan dengan itu, lelaki yang berada di dalam sel mendekati tubuh An dengan cepat dan mencekik lehernya kencang.
"Kau.. apa Kau bagian dari orang orang itu?!" seru pria itu beringas.
...•...
...•...
...•...
...•...
...[ MOHON MAAF APABILA ADA KESALAHAN KATA MAUPUN TANDA BACA YA.. ]...
...[ TERIMA KASIH TELAH MEMBACA CERITA INI~ ]...
__ADS_1
...[ SAMPAI JUMPA DI CHAPTER BERIKUTNYA SEMUA! <3 ]...
...@Thara_tta (๑'ᴗ')ゞ...