
Sama halnya seperti hari kemarin, langit di Kota Chengse terlihat cerah tanpa awan sama sekali. Setelah sebulan berlalu, kini An harus melepas tempat persembunyiannya untuk pergi ke Ibukota.
An saat ini tengah berada di ruangan madam, dan sedang duduk untuk membahas masa kontraknya.
"jadi.. kontrakmu sudah selesai ya, An?" madam berbicara tenang dengan sesekali menyeruput tehnya.
"yah.. begitulah. Aku tak suka drama jadi bisakah anda merahasiakan kepergian ku, dengan dalih aku pulang kampung sama seperti Ying?" An menyenderkan kepalanya dan menaruh kakinya dimeja.
Madam melirik gadis itu dan berbicara datar, "apa maksudmu merahasiakan? memangnya kau mau pergi kemana?"
Mendengar pertanyaan Madam, An tersenyum dan mulai tertawa, "haha! hei madam, padahal kau telah memerintahkan seseorang untuk mengikuti ku. Aku selalu memberitahukan kegiatanku padanya, dan kau tau?" An memberi jeda pada perkataannya, ia lalu mendekatkan tubuhnya dan melihat madam dengan lekat.
"dia bahkan selalu mengikuti ku tanpa ku minta." lanjut An dengan nada dingin, ia mengeluarkan sedikit auranya dan membuat madam Kaili cukup terkejut.
"iya kan, kak?" seru Gadis itu seraya memiringkan kepalanya lalu melihat ke sudut ruangan.
Tak lama, Jie muncul dengan mengenakan sebuah jubah hitam panjang, tak seperti sosoknya yang biasa elegan dan memiliki tatapan lembut, Jie yang muncul saat ini memiliki tatapan tajam juga menusuk.
"kau hebat, padahal sewaktu kita bertemu kau hanyalah gadis pinggiran yang tak memiliki rumah." Jie berjalan mendekat, ia pun berdiri tepat di belakang Madam Kaili.
ah.. pemandangan itu..' batin An yang merasakan sebuah getaran kecil dihatinya, sosok kedua orang itu sekarang sangat mirip dengannya di kehidupan dahulu. Sesosok pemimpin berhati dingin yang memiliki seorang pendamping berdarah dingin.
"sejak kapan?" tanya sang Madam penuh selidik.
"hm.. bagaimana ya? aku tak ada niatan memberi tahu kalian tuh, bukankah kalian memiliki ini untuk memikirkannya sendiri?" sindir An sambil mengetuk ngetuk kepalanya.
seminggu yang lalu sih, lebih tepatnya ketika selesai acara kembang api. Toh aku tak peduli jika dia tau tentang lelang dan latihan itu.' batin An puas karena sudah membohongi kedua orang itu.
"Kau benar benar tak punya sopan santun ya?" balas Jie dengan sinis.
"huh? untuk apa aku melakukannya? aku akan sedikit sopan jika itu untuk Madam dan kak Jie, lain halnya jika untuk Ratu Peramal beserta anjingnya." cemooh An.
Mendengar kalimat itu, Jie seketika naik pitam, "ha! beran---"
"baiklah, aku akan berusaha sebisa mungkin untuk tidak membuat keributan yang tak berguna. Tetapi, jika keributan itu berasal dari faktor lain, kau tak boleh menyalahkan kami." jelas Madam Kaili.
"itu adalah pilihan bagus." An Mengangguk puas, ia lalu beranjak dari sofa dan ingin meninggalkan ruangan, ketika sampai didepan pintu ia menoleh dan memampangkan senyum manisnya, "oh ya.. jangan lupakan bonus dan upah akhirku ya, Madam~"
__ADS_1
Setelah An keluar, Jie langsung melanjutkan perkataannya yang sempat terpotong tadi, "Madam! bukankah anak itu keterlaluan? dia harus diberi pelajaran. Berani beraninya dia meremehkan anda.." lirih Jie diakhir kalimat.
"memangnya apa yang bisa kita lakukan?" Madam mendengus kasar, "aku sudah tak aktif untuk melakukan penyerangan, kau pun tak bisa melakukan apa apa jika tanpa alat alat sihirmu." lanjut Madam sembari memijat kening.
"Bocah itu berbeda, dia masih muda, bahkan memiliki tingkatan energi yang tak terbatas, seseorang yang akan berkembang seiring berjalannya waktu. Kau yang sekarang tak akan bisa melakukannya." cela Wanita itu.
Jie terdiam ketika mendengar pernyataan itu, memang benar ia tak bisa melakukan apapun tanpa alat alat sihirnya, itu jugalah alasan yang membuatnya diusir dari kelompok.
"hah.. pergilah, kepalaku pusing." Madam mengayun ayunkan tangannya, Jie pun dengan sigap menghilang dari ruangan ini.
Dan pertemuan singkat itu akhirnya selesai tanpa adanya pertumpahan darah sama sekali.
...****************...
An kini telah selesai membereskan beberapa barangnya dan ingin keluar lewat pintu belakang, tapi langkahnya terhenti ketika mendengar banyaknya suara yang ada di arah pintu depan, "kenapa ya?" gumamnya penasaran.
Karena rasa ingin tahu tinggi yang didapatnya setelah hidup kembali, tanpa An sadari ia malah pergi ke pintu depan untuk melihat apa yang ada di sana.
Matanya terbelalak ketika melihat sebuah kereta bangsawan lengkap dengan kesatria, dan seorang Tuan muda yang tengah berdiri di sana. Lelaki itu kemudian menoleh, ia melambaikan tangannya ke arah An yang masih diam membeku ditempat.
Singkat cerita, perjalanan ketenangan yang diinginkan An buyar tanpa menyisakan serpihan sekecil apapun. Teman temannya yang tahu bahwa ia bangsawan pun sangat heboh dibuatnya.
Para pejalan kaki, bahkan tamu yang ada di kedai pun ikut menganga ketika mendengar kalimat yang diucapkan oleh Chyou Wu.
..." Aku datang untuk menjemputmu.. Adikku."...
sumpah deh, dia salah makan?' batin An.
Sudah beberapa menit berlalu saat An telah meninggalkan Kota Chengse, tapi hiruk pikuk orang orang masih bermunculan ketika melihat kereta mereka lewat, An menatap ke luar jendela dan melihat pemandangan Ibukota yang sangat berbeda dengan Kota Chengse. Mulai dari gedung gedung tinggi, jalan berbatu bata, bahkan toko besar dan sebuah perpustakaan untuk umum.
Tempat yang sangat cocok untuk para kaum raja. Akan tetapi, tak bisa dielakkan jika pemandangan yang ada di sudut sudut jalan tak jauh berbeda dengan apa yang ada di kota Chengse. Bahkan gelandangan yang ada di Ibukota lebih banyak dibandingkan di Kota Chengse.
"padahal aku sudah bilang untuk jangan membuat perhatian." gumam An menatap lurus ke jendela.
"maafkan aku An, tapi nenek memerintahkan ku untuk menjemputmu dengan kereta keluarga." Chyou merasa tak enak.
"padahal kalian membuangnya." ucap An pelan, namun Chyou yang duduk di seberangnya dapat mendengar perkataan itu dengan jelas. Walaupun telah mendengarnya, ia tak membalas apapun dan hanya tersenyum pahit.
__ADS_1
"dan aku benci keramaian." lanjut An seraya menyenderkan kepalanya di kursi kereta.
"kenapa? apa kau tak memakai alatnya?" Chyou heran.
"aku pakai, tapi sekarang aku juga benci tatapan mereka. Itu benar benar membuatku risih." An melirik malas ke jendela yang tertutup, walau jendela itu tertutup, ia masih dapat merasakan tatapan rasa ingin tahu orang orang.
"haha.. apa perlu kuberikan alat penutup pandangan juga?" goda lelaki itu.
An menatap kakaknya malas, ia memutar bola matanya dan mendengus kesal, "aku tak butuh."
Chyou menggeleng geleng kan kepalanya, ia lalu membuka jendela dan melirik nya sekilas. Entah apa yang ia lihat, raut wajah lelaki itu seketika berubah kembali menjadi cerah.
Kereta kuda akhirnya berhenti, Chyou turun terlebih dahulu dan membukakan pintu untuk An. Ia mengulurkan tangannya selayaknya seorang kesatria, "selamat datang ke rumah, An." serunya gembira.
An menyambut uluran tangan Chyou selayaknya nona muda kebanyakan, ia turun dengan elegan dan mulai memperhatikan sekitarnya, semua pelayan berkumpul, para bangsawan keluarga lainpun ikut datang untuk melihat.
Di tempat ia berdiri sekarang, An dapat mengetahui dengan jelas, bahwa Keluarga Wu adalah keluarga yang menuntut keanggunan, kesopanan, kekuasaan dan kemewahan. Keempat simbol yang tak dapat dipisahkan melekat pada seluruh anggota keluarga yang sudah berdiri untuk menyambut kedatangannya.
Terlihat dengan jelas tatapan benci dan tak suka yang dilontarkan hampir kebanyakan dari mereka, baik keluarga maupun pelayan. Ekspresi mereka seakan bertanya "kenapa anak yang harusnya sudah mati berdiri disini dengan keadaan sehat dan bugar?"
untunglah sebelum berangkat aku mempelajari tata krama dengan Jie. Mereka benar benar keluarga aktor internasional.' batin An sembari memulai aktingnya dengan senyuman yang penuh akan tipuan.
...•...
...•...
...•...
...•...
...[ MOHON MAAF APABILA ADA KESALAHAN KATA MAUPUN TANDA BACA YA.. ]...
...[ TERIMA KASIH TELAH MEMBACA CERITA INI~ ]...
...[ SAMPAI JUMPA DI CHAPTER BERIKUTNYA SEMUA! <3 ]...
^^^@Thara_tta (๑'ᴗ')ゞ^^^
__ADS_1