Moon In Darkness

Moon In Darkness
Ch.52 Kesatria Misterius


__ADS_3

"apa bagian sini aman?" tegas kesatria Yong sambil mengamati sekeliling, mengawasi jikalau ada sesuatu yang terlihat mencurigakan.


"siap tidak ada komandan!" seru kedua prajurit dihadapannya.


"bagus, jaga terus tempat ini, karena tempat ini adalah tempat paling rawan yang ada di ibukota." ujar kesatria Yong dan berlalu pergi untuk memeriksa setiap sudut ibukota.


"astaga, Pria itu benar benar mengerikan.. apakah ia tak tahu caranya tersenyum?" salah seorang dari penjaga merenggangkan tubuhnya dan mengeluh.


"hentikan, jika ada yang dengar kita bisa mati.." sahut temannya yang tak ingin terlibat masalah.


"ngomong-ngomong entah kenapa bulannya tak terlihat sama sekali, ya kan?"


"benar, melihat itu aku seperti berada di dunia iblis, mengerikan! apa ya namanya, bulan kegelapan?" celoteh mereka untuk menghilangkan rasa suntuk berlebihnya.


"itu sih tiga bulan kematian. hahaha!"


Disaat mereka tengah mengobrol dan tertawa, mereka tak merasakan jika ada seseorang yang berhasil lewat dan masuk ke dalam zona pasar malam.


"ini.. aneh, kenapa di bagian pasar malam tak ada yang menjaganya?" gumam An saat melihat suasana pasar yang sangat sepi.


tua bangka sialan, kenapa dia telat memberitahuku jika para kontributor perbudakan itu akan mengadakan pertemuan malam ini?!' batinnya kala mengingat beberapa surat balasan yang dikirim oleh kakek tua itu.


"tapi kenapa suasana pasar sangat sepi?" gumam An lagi, ia kemudian merasakan sebuah keberadaan dibelakangnya dan langsung berbalik untuk melihat, tepat dibelakang tubuhnya ada seorang lelaki berjubah biru tua yang memakai topeng hitam setengah wajah.


"em.. hai?" sapa lelaki itu dengan kaku.


"lama tak bertemu ya? tuan An?" lanjutnya lagi dengan menunduk untuk memberi hormat.


"siapa? aku tak pernah ingat memberikan namaku ke sembarang orang." cibir An sembari menatap lelaki itu sinis.


"aduh.. hatiku terasa sakit karena kau tak mengingatku. Sakit banget, loh?" lelaki itu kemudian berjalan mendekat dan memiringkan kepalanya, "benar tak ingat?" tanyanya kembali pada An.


siapa sih orang gila ini?!' An kini berusaha untuk mengingat sosok yang ada di depannya, ia lalu teringat akan lelaki yang ia temui saat pertama kali masuk ke area pasar dan membanggakan pasar tersebut.


"ah.. Tuan Telur ya?" gumam An merasa tak yakin dengan jawabannya.


Lantas Pria itu tersenyum pahit, "anu, bukan telur tapi Yelu, Tuan."


"oh.. ya, benar.. itu." An memalingkan wajahnya dan dengan rasa tak bersalah, ia mencoba meninggalkan Yelu di sana.


"hei! kau mau kemana?" seru Yelu seolah mencoba untuk menghentikan gadis itu.


"apa itu urusanmu? enyahlah, telur." ledek An yang berdecak kesal.


"yah.. itu memang bukan urusanku, tapi kau tak boleh ke sana."


apa ini? rasanya seolah jantungku ditusuk dengan pisau' batin Yelu sambil memegangi dadanya.


An hanya diam, dibalik topeng rubahnya, mata An menyiratkan sebuah pertanyaan, memangnya kenapa?


Lelaki itu tersenyum kembali, ia mengangkat jari telunjuk dan menempelkan nya dibibir, "kedai budak sedang mengadakan pertemuan rutin mereka, kau tahu lah 'segitiga'.."


"segitiga? kenapa mereka selalu membuat nama aneh untuk itu?" tanya An sangat penasaran.


"aku tak tahu, yang jelas mereka-- ah sepertinya aku mengganggumu sekarang, kalau begitu sampai jumpa!" ujar Yelu yang menggantung kalimatnya ditengah.

__ADS_1


An yang telah terlanjur penasaran, menarik lengan baju lelaki itu dan memintanya untuk memberitahu lebih.


"hm, boleh, tapi ada syaratnya.."


"apa?! cepat katakan!"


"kau harus mengingat namaku, jika kita bertemu lagi."


Dengan cepat An mengangguk dan Yelu pun membisikkan rahasia itu, tentunya mereka harus sedekat mungkin agar tak ada yang menguping.


10 menit berlalu, An dan Yelu akhirnya berpisah dan An tetap akan pergi ke kedai budak, ia memberitahu Yelu jika ia tertarik untuk menandatangani kontrak.


"tertarik? kau harus belajar lagi jika ingin berbohong Nona Lian." gumam Yelu, ia pun masuk ke gang kecil didekat patung kaisar, dimana ada beberapa penjaga yang telah pingsan dibuatnya.


"kalian lihat yang tadi kan? dia itu Nona ke empat keluarga Wu, orang yang telah lama hilang dan kini dikabarkan kembali, juga.. sekaligus orang yang telah membeli kalian sebagai kesatria nya." lanjut Yelu saat melihat dua orang lelaki yang sedang mengikat para penjaga.


"ya.. kami melihatnya dengan jelas, tapi kenapa anda memanggilnya tuan, Anda kan tahu jika beliau perempuan?" tanya lelaki yang memiliki rambut ikal dan sedikit pendek, wajahnya imut jika dibandingkan dengan laki-laki sewajarnya.


"dia akan membunuhku jika aku bilang dia seorang gadis." sahut lelaki bertopeng hitam itu dengan lancar.


"aku.. masih saja bertanya-tanya, kenapa kau yang seorang orang asing ingin membantu kami? maksudku.. kau membantu kami untuk menjadi lebih kuat dan dapat memakai aliran chi kami." cetus lelaki yang terlihat lebih dewasa, ia memiliki rambut sebatas bahu dan mata elang yang tajam.


"kenapa? entahlah, aku hanya merasa.. jika aku harus membantu gadis itu, aku harus membantunya apapun yang ia lakukan." ucap Yelu datar, ia lalu membuka topeng hitam setengah wajahnya, terlihat jika ia memiliki wajah tampan yang dapat menggoda semua wanita, ditambah satu tahi lalat kecil yang ada di bawah mata bagian kanan.


"apapun yang terjadi, aku akan membantu untuk bertemu para kesatria kecilnya ini pada pelantikan kesatria keluarga Wu." gumam lelaki berjubah biru tua itu seraya menganggukkan kepalanya.


"bagaimana caranya? jika anda memasukkan kami secara rahasia, si Jendral muda itu akan membunuh kami ditempat." oceh lelaki yang terlihat lebih dewasa.


"jangan khawatir, toh.. dia sudah memintanya sendiri padaku beberapa waktu lalu."


segitiga ya, jika yang diucapkan orang itu benar, berarti semua yang terlibat akan hadir.' An terkekeh pelan dan mempercepat langkahnya untuk menjemput partner nya.


Pertemuan segitiga, pertemuan yang diadakan oleh kedai budak 6 bulan sekali, orang-orang yang hadir diantaranya adalah para pelanggan tetap, kontributor, juga pemilik kedai itu sendiri.


"ada apa ini? sekali mendayung dua sampai tiga pulau terlampaui." ketika memikirkannya saja sudah membuat hati Gadis itu berbunga-bunga, semua berjalan lancar, tak ada sedikitpun gangguan.


benar.. beginilah jadinya, jika aku bertindak. Tunggu saja giliranmu, bibi.'


Beberapa saat telah berlalu dan ia pun sampai ke pelelangan hijau, di sana seorang Pria paruh baya sedang berdiri dan menunggu dirinya.


"wah, akhirnya sampai ya.. kupikir aku harus meninggalkanmu dan pergi sendiri." cetus Kakek tua itu kesal.


"kau merajuk? di usiamu yang sudah tak muda itu?" sahut An dengan nada yang tak kalah sinisnya.


Karena lelah untuk berdebat, mereka pun langsung naik ke kereta kuda dan bersiap untuk pergi ke kedai budak keluarga Jiang.


"apa tuan muda keluarga Jiang itu melakukannya sendiri? atau dia disokong oleh para ketua di keluarganya?" tanya An membuka obrolan.


"dia melakukannya sendiri, kau tahu lah, anak muda zaman sekarang pikirannya sangat kosong." timpal lelaki tua itu sembari mengangkat kedua bahunya.


"oh ya, jika diingat lagi, aku belum memberitahukan namaku ya?" kakek tua itu lalu mengulurkan lengannya untuk berjabat tangan dengan An.


"aku Wenhua Yun, pemilik dari pelelangan terkenal dan penginapan termewah yang ada di Kekaisaran barat." lanjutnya dengan penuh percaya diri.


"berhentilah bersikap formal, Tuan Wen." An menepukkan lengannya cepat untuk melakukan jabat tangan 'versinya'.

__ADS_1


"apa si rubah itu sudah melakukan tugasnya?"


"yah, dia bilang padaku jika dia telah memasang semua peledaknya, gadis yang kau bawa bersamaan dengannya juga mungkin sudah datang lebih dulu." ujar Tuan Wen yang merasakan aura milik bonekanya.


"bagaimana dengan ini? kau sudah membuatnya dengan benar bukan?" tanya An lagi saat melihat sebuah boneka yang berpakaian persis seperti dirinya, lengkap dengan topeng rubah putih dan jubah hitam panjang yang menutup seluruh tubuhnya.


"iya! kau tak tahu betapa tergesa-gesa nya aku ketika melihat jika kau meminta satu boneka lagi?! untungnya boneka ini hanya perlu berjalan dan memberi hormat tanpa mengeluarkan sepatah katapun!" oceh Tuan Wen yang emosi karena lelah.


"hah.. jika bukan karena kau, aku juga tak sudi untuk datang di pertemuan seperti ini." gumam kakek tua itu dengan berat hati.


An termenung, "apa sesusah itu menggerakkan 3 boneka bersamaan? kau menggerakkan lebih dari 3 di pelelangan milikmu kan?"


"bukannya susah, aku juga tak menggerakkannya sekaligus. Kan sudah kubilang, mereka itu seperti mayat hidup, boneka yang terbuat dari tubuh yang paling lama 3 hari setelah jantungnya terhenti, akan mematuhi ku dan melakukan aktifitasnya seperti biasa," kakek Wen lalu menatap An lekat.


"beda ceritanya jika dibuat dari tubuh yang telah lama mati, aku harus menggerakkannya sendiri untuk itu." lanjut Pria tua itu sambil mendengus kesal.


"itu berarti, Arum dan rubah itu juga? bukan kau yang mengendalikan mereka?" tanya An terkejut.


"tentu! tapi aku bisa melihat apa yang mereka lakukan, jika tak sesuai dengan yang diperintahkan, aku bisa saja membuat mereka berubah menjadi mayat asli jika mau!" ucap kakek itu penuh kebanggaan.


seperti xxtv.' An tertawa kecil melihat tingkah Pria tua dihadapannya itu.


Setelah banyaknya obrolan, tak terasa jika mereka telah sampai di kedai budak. An menyimpan boneka itu di [ teratai hitam ] dan turun sebagai pengawal bagi Tuan Wen.


"selamat datang Tuan Yun, aku senang kau datang untuk pertama kalinya hari ini." sambut Tuan Muda keluarga Jiang-- Lee Jiang.


Pria yang tak pernah membuka topeng wajahnya, ada kabar angin yang mengatakan jika wajah tuan muda Jiang buruk rupa, karena takut diejek dan dihina, ia memilih untuk bersembunyi dibawah kulit orang lain.


menjijikkan.' batin An, ia saat ini sangat ingin menghancurkan wajah anak muda itu, namun ia mengurungkan niatnya karena hal itu hanya akan merusak rencananya.


"topengmu bagus, aku baru tahu jika Tuan Yun memiliki pengawal badut." ejek Lee Jiang secara terang terangan.


"ya.. dia memang punya hobi yang menarik."


bersabarlah An.. jangan membunuhnya disini.' batin Tuan Wen takut jika gadis dibelakangnya kehilangan kendali.


setidaknya berkaca dong!' batin An emosi.


An hanya bisa mengangguk dan memberi hormat dengan sopan pada Lee Jiang sekarang, tapi didalam hatinya ia sangat ingin membakar tubuh lelaki busuk itu.


Baru saja mereka ingin masuk, suara dari tamu penting malam ini akhirnya muncul dari belakang mereka, "wah.. siapa ini? bukankah ini kakek boneka?" sapa bibi Bao pada mereka.


...•...


...•...


...•...


...•...


...[ MOHON MAAF APABILA ADA KESALAHAN KATA MAUPUN TANDA BACA YA.. ]...


...[ TERIMA KASIH TELAH MEMBACA CERITA INI~ ]...


...[ SAMPAI JUMPA DI CHAPTER BERIKUTNYA SEMUA! <3 ]...

__ADS_1


...@Thara_tta (๑'ᴗ')ゞ...


__ADS_2