Moon In Darkness

Moon In Darkness
Ch.27 Tawaran


__ADS_3

Disaat An masih terus mengumpat, seorang pelayan yang menggunakan topeng angka empat datang ke hadapannya.


"tuan rubah? silahkan ikuti saya untuk pengambilan hadiah dan pembayaran." Pria itu tak mendapat jawaban apapun, ia hanya diam sambil menundukkan kepala, menunggu.


An menatap pria bertopeng itu dengan tatapan tak suka, "buat apa orang rendahan sepertimu menghampiriku?"


Pria itu lalu mengatakan hal yang sama seperti yang ia katakan sebelumnya, "tuan rubah? silahkan ikuti saya untuk pengambilan hadiah dan pembayaran."


An diam dan didalam topengnya ia menampilkan senyuman licik yang tak dilihat oleh siapapun, ia lalu beranjak dari tempatnya dan memerintahkan pelayan itu untuk menuntunnya dengan baik.


Mereka berdua berjalan kebelakang panggung dengan An sebagai pemimpin, mungkin ini adalah tata krama dimana pelayan tidak boleh berjalan lebih dulu dibanding tuan nya.


Mereka lalu sampai didepan sebuah ruangan kecil yang hanya bisa dimasuki dua orang saja, setelah masuk dinding ruangan itu menutup dan berjalan keatas.


lift.. tidak, tangga sihir?' pikir An, ia tertawa kecil dan menyenderkan tubuhnya ke dinding, "hei.. kau bisa berhenti berpura pura, apa menurutmu sebuah marionette dapat membuat aura sekuat itu?"


Tubuh pria itu terlihat bergetar, ia pun mengangkat kepalanya yang tertunduk dan membuka topengnya seraya terkekeh, "padahal aku telah menghilangkan sebagian auraku, bagaimana kau melakukannya anak muda?"


Sesosok pria tua yang memiliki wibawa, tatapan mata yang tajam, dan aura yang sangat mendominasi keluar dari tubuhnya. Pria itu kini menatap An penuh selidik.


"tak usah berputar putar, kau sengaja menampakkan auramu kan? Jangan berlagak bodoh." gerutu An dengan mengetuk ngetuk jarinya.


"haha.. aku tak pernah melakukannya, jika pun iya berarti kemampuanku sudah menurun."


An berdecak setelah mendengar perkataan itu, dasar sombong, jadi dia mau bilang itu ketidaksengajaan? jelas sekali dia mencoba menekan ku dengan mengeluarkan auranya sewaktu bertemu tadi.' batinnya.


"kau salah jika berharap aku akan patuh setelah kau menekan ku."


"kau sangat berbeda ya tuan, sungguh menarik.."


Ruangan itu tiba tiba menjadi sunyi, kedua orang yang ada didalamnya hanya diam tanpa mengeluarkan suara sedikitpun.


"tak usah berbasa-basi, apa mau mu... pemilik lelang?" An bertanya dengan nada merendahkan, tentu ia tak berniat menjadi musuh orang ini, karena pria di hadapannya lebih kuat dibanding dirinya sekarang. akan susah jika orang sepertinya menjadi musuh' pikir An.

__ADS_1


"aku semakin menyukaimu anak muda, kau cepat tanggap.. kalau begitu aku akan langsung mengatakannya saja, apa kau mau menjadi orang ku?"


sampai sekarang dia masih belum memperlihatkan sedikitpun auranya, namun firasat ku mengatakan aku harus mendapatkan orang ini' Pria itu bertekad bulat didalam hatinya untuk menjadikan An sebagai bawahan.


An diam, dibalik topengnya ia menatap pria itu dengan tatapan membunuh yang teramat sangat mengerikan, orang ku?' tapi ia segera mengurungkan niatnya dan mencoba untuk berkepala dingin.


"aku tak ada niatan untuk menjadi bawahan seseorang." sahut An dingin seakan tak memberikan celah pada orang itu.


Pria itu terkekeh kembali dan masih terus berniat untuk menjadikan An sebagai orang miliknya, "baiklah jika begitu, bagaimana kalau rekan bisnis?"


"apa keuntungan ku bekerja sama denganmu?"


"kau akan mendapatkan kekuasaan." jawab enteng Pria itu.


"kekuasaan ya.. hanya itu?"


"kau juga akan mendapat kekayaan, kau tak perlu berkelana untuk mencari nafkah sendiri, kau bisa menjadi pemeran utama di pasar malam ini jika kau mau menjadi rekan bisnisku." ucap pak tua itu angkuh.


Dari situ An paham, jika Pria dihadapannya itu beranggapan bahwa dia adalah seorang pengelana yang sedang singgah dan secara kebetulan mendapatkan tiket untuk lelang bangsawan, "dengan kata lain dia menganggap ku 'orang kuat tanpa pengaruh', seorang rakyat tanpa pemimpin." gumam An.


Pria itu heran melihat An yang tiba tiba tertawa, "apa ada yang lucu dari ucapan ku?"


"tidak.. hanya saja.. aku cukup tertarik dengan tawaran darimu." An mengangkat kedua pundaknya sembari tertawa kecil.


hmp! sudah kuduga, akan mudah menjadikan orang sepertinya sebagai milikku, aku hanya perlu menariknya lagi agar dia tak pergi menjauh.' batin pria itu.


"wah wah.. syukurlah ka-" sebelum Pak tua itu melanjutkan perkataannya, An memotong dengan cepat.


"tentu bersyarat, apa kau pikir aku akan melakukannya tanpa syarat hanya karena kekurangan raja?" timpal An sambil mendekati Pria itu.


"baik.. katakan."


"pertama, aku ingin derajat yang sama sepertimu. Kedua, bayar aku jika pekerjaan ku memuaskan. Ketiga, aku ingin berpartisipasi pada lelang mu, tapi aku tak ingin berbagi hasil." An masih mengetuk ngetuk jarinya pelan.

__ADS_1


kupikir apa, ternyata dia lumayan pintar juga.' pikir Pak tua itu, ia menjadi makin tak sabar untuk membuat An menjadi 'rekan', "haha! kalau itu sih mud-" sama seperti sebelumnya, An kini memotong kembali perkataan Pria itu.


"dan yang keempat, kau harus menghapus 'budak' dari daftar 'barang lelang' mu." lanjut An, ruangan itu langsung menjadi dingin dan mencekam, aura membunuh mulai merambat keluar dari tubuh An. Ia memang tak memperlihatkan wajahnya, tapi orang yang berada didekatnya akan langsung menyadari jika saat ini dia sedang marah.


Wajah Pak tua itu menjadi tegang, ia mematung sejenak sebelum merespon perkataan An, "apa aku wajib melakukan hal yang terakhir?" tanyanya serius.


"tentu."


"apa yang terjadi jika aku menolak?"


An mendekat ke arah Pria itu, memegang pundaknya pelan dan berbisik, "maka nikmati sepuasnya kekuasaan mu itu, karena aku akan segera membunuhmu."


Bulu kuduk yang berada di tubuh Pria itu seketika berdiri, apa yang terjadi? dia bahkan tak mengeluarkan auranya, kenapa dia dapat menekan ku?' pikir Pak tua itu keheranan.


Tangga sihir pun perlahan berhenti dan mulai terbuka, sewaktu dinding itu terbuka sudah banyak orang berkumpul untuk membawa pulang 'hadiah' mereka, berbanding terbalik dengan pintu masuk, pintu keluarnya sangat glamor dan meriah.


An melepaskan pegangannya dan berbalik untuk pergi dari sana, sebelum ia pergi An berhenti sejenak tepat di depan dinding yang hampir menutup, "jika kau tak bisa memenuhi syaratnya, carilah orang lain untuk menjadi marionette mu."


Tak ada yang tahu raut wajah seperti apa yang Pria tua itu buat didalam sana. Pintu lalu tertutup, tanpa terdengar satupun jawaban.


...•...


...•...


...•...


...•...


...[ MOHON MAAF APABILA ADA KESALAHAN KATA MAUPUN TANDA BACA YA.. ]...


...[ TERIMA KASIH TELAH MEMBACA CERITA INI~ ]...


...[ SAMPAI JUMPA DI CHAPTER BERIKUTNYA SEMUA! <3 ]...

__ADS_1


^^^@Thara_tta (๑'ᴗ')ゞ^^^


__ADS_2