
Karena satu dan lain hal, An yang awalnya ingin berjalan jalan sekarang terjebak di tempat latihan bersama dengan Jiazhen.
ah.. sampai kapan aku harus disini? ' batinnya sembari menghela nafas panjang, ia lalu melirik Jiazhen yang masih dengan semangat memukuli para prajurit dengan alasan sebuah latihan.
"dia sangat menikmati ya." gumam An dengan menatap kosong pemandangan itu, walau demikian telinganya masih dapat mendengar jelas suara para pelayan yang tengah berbisik karena Jiazhen memerintah salah satu dari mereka untuk membawa tempat duduk dan beberapa makanan ringan.
"hei kau dengar kan tadi? tuan muda kedua memerintah ku untuk membawakan perempuan itu hidangan?" bisik pelayan itu.
"wah, aku tak percaya.. dia tak hanya menggoda tuan muda pertama, sekarang dia menggoda tuan muda kedua." lanjut teman pelayan tersebut.
Ketika mendengar perkataan itu, An menoleh dan menatap sinis pada kedua pelayan yang tengah berbisik tadi, "hei.. kemari." panggilnya.
Dengan berat hati, keduanya mendekat dan salah satu pelayan itu langsung berkata, "apa?" serunya lantang.
dia mau mati ya?' batin An masih bersabar.
"kalian sedang ngobrol apa? sepertinya seru, bisakah aku ikut mendengarkan?" tanya An lembut pada mereka.
kedua pelayan itu saling menatap satu sama lain dan tertawa kecil, "ha.. maaf nona kedua, tapi bukankah derajat kita terlalu jauh untuk itu?" balas pelayan itu dengan terkekeh.
An diam dan menatap pelayan berkuncir kuda itu datar, "siapa namamu?" tanya An pelan.
"hah? anda bilang apa sih?" timpal si pelayan, An kemudian mendekat dan berbisik ditelinga kedua pelayan itu seraya memegang masing masing pundak mereka, "jaga mulut kalian, dasar orang rendahan." ucapnya dingin.
Tersulut emosi, salah satu dari mereka secara tak sengaja mendorong An hingga terjatuh dan membuat gempar para prajurit, terutama Jiazhen.
"Lian!" Jiazhen berlari dan segera membantu An untuk berdiri, "kau tak apa? apa yang terjadi?" tanyanya bingung, raut wajah Jiazhen berubah ketika melihat An yang awalnya ceria kini berlinang air mata.
"uh.. kakak.. mereka jahat.." rengek An sambil menangis sesegukan, gadis itu melirik kedua pelayan yang sekarang memasang wajah yang amat pucat.
"kenapa kau menangis? apa yang mereka lakukan padamu?" tanya Jiazhen seraya membersihkan pakaian An dari pasir.
"me--mereka tak memperbolehkan ku mengobrol bersama, mereka bilang aku anak rendahan, mereka bilang aku tak sederajat dengan mereka karena aku anak haram kak.." jelas An, matanya berkaca kaca, ia selalu menghapus air matanya setiap ingin berbicara, ia lalu melirik Jiazhen yang tampaknya sudah mulai memanas.
Jiazhen kemudian melirik kedua pelayan itu dengan tajam dan mendekat, "apa benar kalian mengatakan hal itu? beraninya kalian menghina salah satu majikan kalian." ujar Jiazhen geram.
"Tidak tuan muda kedua! kami tak--" belum sempat menyelesaikan kalimatnya, pelayan berkuncir kuda itu terkejut bukan main karena melihat sebuah pedang tajam tepat di samping lehernya. Ia terduduk dan teman yang berada didekatnya pun ikut terduduk dengan gemetar.
"kau mencelaku? jelas jelas tadi kau mendorong adikku. Apa kau mau berdalih itu bukan salahmu?" timpal Jiazhen mengulurkan pedangnya maju hingga melukai sedikit leher pelayan itu.
__ADS_1
"kak, hentikan. Kau tak boleh melakukan itu, aku tahu kalau aku belum diterima disini, jika kakak melakukan itu maka aku akan tambah tak diterima disini.." lirih An pada Jiazhen yang telah tersulut emosi, Pemuda itu menatap An dengan tatapan kesal dan menarik kembali pedang masuk kedalam sarung pedangnya.
"sialan." gumam Jiazhen, ia berdecak kesal dan memerintahkan salah satu bawahannya untuk menyeret kedua pelayan itu keruang hukuman.
"bawa mereka dan cambuk sebanyak 100 cambukan, jika aku melihat bekas cambukan itu kurang dari 100.. Aku jamin kalian akan bersentuhan langsung dengan pedang milikku." titahnya yang membuat semua orang bergidik ngeri.
Kedua pelayan itu dibawa pergi, dan sekali lagi semua orang mulai berbisik namun dengan topik yang berbeda, lalu semua yang mereka lihat hari ini akan menjadi topik pembicaraan yang dibicarakan hingga 2 hari kedepannya, topik itu bertema 'nona muda malang yang menjadi adik kesayangan para tuan muda'.
Setelahnya, Jiazhen membiarkan An pergi dengan alasan untuk menenangkan diri.
"acuh apanya? dia itu mudah terbuai loh? gadis gadis itu saja yang tak berani untuk mendekat." gumam An melanjutkan perjalanannya, karena belum tahu struktur kediaman itu, ia hanya berjalan lurus ke depan dengan berbekal indera pendengar.
An secara samar mendengar suara kereta kuda, "kereta.. pasti didepan sana pintu keluar kediaman ini." ujarnya, ia lalu bergegas untuk pergi ke sana.
Ketika sampai, An melihat Chyou tengah berdiri diantara para pegawai yang sepertinya sedang memasok makanan, "oh? kak Youyo"
Gadis itu berjalan mengendap-endap menghampiri Chyou, dan dengan jahil ia memeluk Pemuda itu dari belakang, "kakak!" serunya.
"apa yang kakak lamunka--" kalimat An terhenti saat ia melihat ada dua orang berpakaian biasa yang melihatnya melakukan aksi itu.
sialan! aku tak lihat dia lagi ngobrol dengan orang! mau kutaruh dimana wajahku ini!' teriaknya dalam hati.
"aku.. " tunda An, ia lantas menarik salah satu tangannya dan memelintir punggung Chyou dari belakang, "mau jalan jalan keluar." lanjut An lagi.
"pft.. ahaha!" salah satu dari kedua orang itu tertawa terbahak bahak melihat tingkah An, dan satu orang lainnya hanya memalingkan muka menahan tawa.
kenapa dia? tak waras?' batin An menatap mereka tajam.
Chyou yang melihat itu dengan sigap memperkenalkan An kepada dua orang Pria yang ada di hadapannya, "kenalkan, dia adikku Lian. Lian, ini dua orang asing, yang di kanan Aiguo dan yang di kiri Jun." jelas Chyou.
An bersembunyi di belakang Chyou dan dengan malu malu ia memperkenalkan dirinya pada kedua orang itu, "halo.. aku Lian Wu adik kak Youyo, salam kenal." ucapnya pelan.
"senang bertemu denganmu Lian.. oh ya, maksud kakakmu itu, dua temannya ya manis." timpal Pria berambut biru tua---Aiguo, berwajah manis dan kharismatik, ia juga memiliki mata oranye yang sangat unik. Juga disusul dengan anggukan pelan oleh Pria berambut cokelat yang memiliki wajah sayu dan seperti tak ingin didekati---Jun.
"ya.. orang asing." balas An sembari menggelayutkan lengannya pada Chyou, pria itu sedikit terkejut namun dapat dengan mudah mengikuti alur.
"jadi.. kamu mau keluar?" tanya Chyou lembut sambil mengusap remah biskuit yang ada di pipi An.
"iya.. aku bosan disini." ujar An semakin menempel pada Chyou.
__ADS_1
"sendirian? mana pelayanmu? apa kau tak suka dengannya?" tanya Chyou tanpa henti, kedua temannya yang melihat tingkah Chyou hanya bisa terdiam dan saling menatap satu sama lain, kehadiran mereka seakan tak ada di sana.
"tidak, aku suka dengan Arum, tapi aku tak terbiasa jika ada orang yang selalu mengekor padaku setiap aku pergi kak, boleh kan?" ucap An sambil mengencangkan pegangan tangannya pada Chyou, sebagai arti "iya kan saja! aku mau pergi dari sini."
Chyou pun akhirnya sadar dan menganggukkan kepalanya, "ingat, pulanglah sebelum matahari terbenam." tegas Pemuda itu pada An.
An melepaskan pegangannya dan memberi hormat pada kedua orang yang akhirnya dianggap, "kalau begitu saya pamit dulu, dah Kak Aiguo dan Kak Jun! dah juga Kak Youyo! " seru An melambaikan tangan sembari berjalan pergi dari sana.
Selepas An pergi, Aiguo berjalan mendekat dan memukul mukul pundak Chyou seraya tertawa, "wah wah, kau benar benar menjadi kakak yang baik yaa?" ledeknya puas.
Chyou melirik Aiguo malas dan menghela nafasnya, "sepertinya anda sudah tak memerlukan pasukan militer kediaman Wu lagi ya, Putra mahkota?" balas Chyou dengan angkuh.
"ha! lihat anak ini, kau membalas ku dengan cara mengejekku begitu?" seru Aiguo tak mau kalah.
"tentu, apa perlu saya ulang lagi biar anda mendengarnya? benarkan adipati?" tanya Chyou pada Jun yang sedari tadi diam.
"anda benar benar pendendam ya Tuan muda pertama, tak seharusnya anda menyebutkan gelar di tengah orang ramai begini." ujar Jun dingin.
"bukankah anda sudah memasang pelindung dari tadi? anda benar benar pintar berakting ya." timpal Chyou.
"hah.. sudahlah hentikan! aku kesini untuk membahas masalah itu dengan kalian! tapi.. aku penasaran apa yang akan dipikirkan adikmu ketika mengetahui sifat asli kakaknya." gumam Aiguo diakhir kalimatnya, Chyou menatap Pemuda itu tajam dan merapikan kerah bajunya, "jika anda berani, maka lakukanlah." tantang Chyou mengeluarkan auranya.
"sudah cukup! aku akan pergi jika kalian berdua masih tetap bertengkar." ucap Jun menjadi penengah obrolan yang mulai memanas itu.
"yah.. aku masih waras untuk melakukan hal gila itu." ujar Aiguo santai dan berjalan pergi meninggalkan kedua temannya.
...•...
...•...
...•...
...•...
...[ MOHON MAAF APABILA ADA KESALAHAN KATA MAUPUN TANDA BACA YA.. ]...
...[ TERIMA KASIH TELAH MEMBACA CERITA INI~ ]...
...[ SAMPAI JUMPA DI CHAPTER BERIKUTNYA SEMUA! <3 ]...
__ADS_1
^^^@Thara_tta (๑'ᴗ')ゞ^^^