Moon In Darkness

Moon In Darkness
Ch.45 Negosiasi


__ADS_3

An yang telah selesai menyantap sarapan bersama kedua saudaranya dengan cepat pergi dan mencari tempat untuk memuntahkan makanannya kembali, "huh.. aku tak akan makan lagi sampai malam nanti.. " an menggerutu sambil berjalan pelan untuk pulang.


Di perjalanan, seseorang tiba tiba datang dan menariknya ke ujung taman, An tahu siapa itu, dia adalah adik bungsunya, Mingmei yang dilihat An bermesraan kemarin.


Mingmei mendorong An sampai ke tembok, dengan wajah yang kesal, ia berbisik pelan disertai tatapan yang tajam, "hei! aku tak tahu bagaimana kau mengetahuinya, tapi tutup mulutmu soal aku dan kekasihku!"


"apa maksudmu?" ucap An seakan tak tahu maksud perkataannya.


Karena sudah kesal, Mingmei tanpa sengaja menguatkan nada suaranya, "tentu saja soal aku dan pengawal ku kemarin!! hah-- "


gawat.. aku tak sengaja membesarkan suaraku.. ' batin Mingmei gelagapan, ia melirik An dan baru menyadari tatapan mengerikan yang An berikan padanya.


"apakah ini.. sikap baik seorang adik pada kakaknya?" cemooh An pada gadis itu.


Dengan gugup, Mingmei sekali lagi berteriak tepat di depan wajah An, "kau bukan saudariku!"


"oh? baiklah, kalau begitu tak apa dong jika ku beritahu orang tentang hubunganmu dengan dia.. " An membuat isyarat mata dan mengarah pada pengawal yang berdiri di belakang Mingmei, Lelaki itu tertegun dan membuang wajah pura pura tak tahu.


"ka--kau pikir orang akan percaya padamu?! "


"memang tak semuanya.. tapi ku jamin akan ada dua orang." Hanya dengan mengatakan itu, Mingmei sudah mengetahui pasti siapa dua orang yang dimaksud. Dan akan menjadi hal buruk jika kedua orang yang disebutkan An akan dengan tegas mengusir pengawal kesayangannya itu.


Gadis berambut ikal itu menggigit bibir bawahnya, ia melepaskan tangannya yang mengurung An ditembok dan menunduk selayaknya memberi hormat, "tolong.. tolong jaga rahasia tentang hubunganku, ka..kak."


"Nona!" Sang pengawal lalu bersimpuh di depan An dan mengatakan kalimat yang sama, "maaf jika menyela nona keempat, tapi.. kumohon jangan menyebarkan isu buruk tentang Nona Ming!"


"apa? isu buruk? tapi itu fakta loh.. kau.. tidak, seharusnya kalian mencium kakiku agar aku tak memberitahu orang lain." Mingmei dan pengawalnya hanya tertunduk dan tak menyahut apapun.


An menjulurkan tangannya dan memegang dagu Mingmei untuk membuat gadis itu menatapnya, "tapi karena aku memiliki adik yang penurut.. aku akan merahasiakan ini, tentu dengan beberapa syarat."


"a--apapun dan, terima kasih.. kakak." ujar Mingmei kaku.


"baiklah, syaratnya mudah, kau harus menjadi mataku sampai aku tak lagi membutuhkanmu. Ingat, jika hal ini bocor pada orang lain, ku jamin.. kau tak akan pernah melihat dia lagi." tunjuk An pada pengawal dibelakang Mingmei.


"orang pertama yang harus kau awasi, adalah bibi pertama. Laporkan semua kegiatannya padaku, jangan melewatkan satupun, selalu berikan informasi tepat jam 11 malam." lanjut An.


"baik kak, aku akan mengusahakan yang terbaik.." sahut Mingmei dengan sopan, tentu saja itu berkat dominasi An yang seperti ingin menerkamnya jika dia salah melangkah.


kupikir dia akan merengek karena tak tahu cara melakukannya'


"ingatlah, jika ini gagal.. aku akan menyingkirkan kekasih tersayang mu." An berbisik dan melenggang pergi dari sana.


Saat dilihatnya An tak lagi ditempat, Mingmei yang awalnya berdiri tegap langsung tersungkur ke tanah, telinganya seakan tuli dan hanya melihat tangannya yang masih gemetar dengan hebat, "sebenarnya.. apa yang barusan terjadi?"


"kenapa pecundang sepertinya dapat menekan ku hanya dengan tatapannya itu? aku bahkan tak melihat aura dan aliran chi sama sekali di tubuh anak itu.." ia terus bergumam sampai Sang pengawal memutuskan untuk memapahnya kembali ke paviliun.


An yang berjalan mengitari kediaman Wu tanpa sengaja menemukan apa yang ia inginkan, "besarnya.. " mata An berbinar kala melihat sebuah bangunan kokoh nan indah berdiri di depannya, sebuah perpustakaan keluarga yang menyimpan banyak ilmu berguna.

__ADS_1


Gadis itu dengan tak sabaran berlari ke pintu masuk perpustakaan, tak ada pengawal di sana, seolah memang sengaja dikosongkan entah oleh siapa. Ia kemudian membuka pintunya dan tak bisa berkata kata lagi.


"keren!" tanpa adanya aba aba, An langsung menghampiri setiap rak dan membaca buku yang tersedia, tapi ada satu pertanyaan yang mengganjal di pikirannya, "kenapa tempat ini sangat berdebu?"


Seakan tak pernah di kunjungi lagi, buku buku yang ada di perpustakaan dipenuhi debu yang sangat tebal, namun untungnya belum ada rayap yang memakan buku buku itu.


Mungkin karena kertasnya kualitas bagus jadi tahan lama? ' batin An terus membaca tiap buku.


Matanya selalu bersinar setiap membuka lembaran baru dari buku buku itu, "hebat.. mulai dari teknik menyerang, perlindungan, racun, kultivasi, bahkan untuk mengetahui chi ada disini.. "


Ia terus membaca buku sampai sampai tak mengetahui bahwa waktu sudah menunjukkan sore hari, saat sampai di rak terakhir, rak yang paling sudut di antara semuanya, terdapat satu buku tua yang terpisah dari buku lainnya.


Buku itu memiliki rantai di setiap sudutnya seperti dikunci oleh seseorang, "apa aku harus meninggalkannya?"


Ia lalu menunjukkan senyum jahatnya dan dengan sigap mengambil buku tersebut, mudah untuk An menghancurkan rantai rantai itu. Di saat semua rantai lepas, sebuah cahaya berwarna ungu keluar dari buku, seketika itu juga kepala An seolah ditusuk bertubi tubi menggunakan pedang panjang yang sangat tajam.


"akh! gila.. " bukannya merasa takut, ia malah merasa tertantang dengan buku yang dipegangnya [ Teknik t--la---g suku Velma : Kristal Gelap ]


"hm.. agaknya ada sesuatu yang penting di kata yang terhapus ini.. "


Tak lama, jam pun berbunyi sebagai tanpa pukul 6 sore, An yang baru menyadari jika ia terlalu lama berada disini memutuskan membawa buku itu dengan teknik baru yang baru saja ia kuasai.


haha! aku tak perlu lagi memohon pada lelaki gila itu untuk mengajariku ini!' Ia sangat girang karena telah berhasil menguasai teknik yang mirip seperti milik Chyou, beda dari teknik yang digunakan An adalah tanda bunga teratai emas yang berubah menjadi bunga teratai hitam.


Sewaktu An keluar terlihat langit sudah mulai gelap, dan alangkah terkejutnya dia ketika Chyou tiba tiba sudah berada di belakangnya, "sedang apa?"


"kenapa selarut ini masih diluar?" tanya Chyou lagi, Gadis itu terpaku dan mengalihkan pandangannya sesaat.


"aku.. tersesat?" ujarnya dengan menggaruk garuk tengkuk.


"yah.. sudah kuduga sih, ngomong ngomong kau tak masuk ke sana kan?" tunjuk Chyou pada perpustakaan yang baru saja dimasuki An.


"tidak! aku baru saja sampai saat kau ada di belakang!"


jangan sampai dia tahu aku sudah baca semua bukunya!'


"baguslah, lagipula tak ada yang berguna di sana, hanya sebuah perpustakaan lama." gumam Chyou, An tertegun kala mendengar perkataan Lelaki itu.


"apa? apa maksudnya?" An mendekatkan wajahnya agar dapat melihat mata Chyou dengan jelas.


"perpustakaan itu akan diratakan, mau dibuat taman. Buku buku berharganya juga sudah dipindahkan ke perpustakaan baru yang ada didekat paviliun utama. Isinya hanya ada buku yang tak berguna.." jelas Chyou sembari mengajak An untuk pulang.


"loh? jadi.. itu bukan perpustakaan utama?"


"bukan? kenapa?" tanya Chyou keheranan, An hanya menggeleng tanpa mengucapkan sepatah kata pun.


Gara gara banyak termakan lamunannya sendiri, An tak menyadari jika ia telah sampai ke paviliun dengan cepat, mungkin karena hari ini tak ada makan malam bersama, Chyou pamit pulang tanpa adanya kerusuhan.

__ADS_1


Akhirnya sore itu dilewati An dengan tenang, tak ada sesuatu yang spesial setelah Chyou mengantarkannya ke paviliun. Arum hari ini juga tak banyak bicara dan seperti biasa, para pelayan hanya diam dan menatap dari jauh.


Setelah makan malam, An bergegas ke kamarnya dan meminta istirahat lebih awal, ia lalu membaringkan tubuhnya dan mengeluarkan buku yang tadi sempat ia bawa.


"teknik kristal gelap ya? namanya jelek sekali.. " ia membuka buku itu dan mulai membacanya, karena agak sulit dipahami dibandingkan dengan buku lain, An memerlukan waktu yang cukup lama untuk memahaminya.


"ini.. bukankah termaksud ilmu gelap?" bisiknya ketika sudah memahami buku itu, "teknik yang bisa memakan chi seseorang.. [jika orang itu memiliki batasan dia adalah orang yang tak layak] bukankah tak ada orang yang tak memiliki batasan?"


"kenapa.. buku sehebat ini bisa ada di sini?!" gumam An gembira, ia memukul ranjang sangking gembiranya. Entahlah, mungkin yang berupa larangan adalah perintah untuknya.


"bagaimana jika kucoba? aku juga sudah berada di tingkat dasar tahap akhir dan.. " An menjulurkan tangan dan menunggu beberapa saat, "... ternyata memang tak ada."


Walaupun Gadis itu pintar dalam mengingat dan belajar, sama seperti yang lain, dia pasti ada kekurangan. Seperti indera pendengarnya, juga energi alam yang seharusnya berada pada dirinya untuk menarik para roh sebagai teman kontrak.


"dasar roh roh tak berguna, segitunya tak ingin berada di dekatku?" ucapnya sambil mengumpat.


Biasanya orang yang telah membuka titik meridian akan mempelajari chi, bisa dikatakan chi yang dilatih sendiri dapat memperkuat fisik maupun mental, namun chi juga bisa didapatkan dengan bantuan energi alam, para roh mulai tertarik dan membuat kesepakatan bersama manusia.


Tentu setiap manusia akan mendapat roh yang berbeda, baik itu sifat dasarnya bahkan kekuatannya. Jika saja 'manusia' itu beruntung, maka roh yang akan membuat perjanjian dengannya bukanlah roh biasa, bisa saja raja roh.


Tapi, ada satu kasus dimana seseorang memiliki kekuatan alam seutuhnya pada dirinya sejak lahir, kekuatan alam tersebut disebut [ Myrax ] karena kasus ini sangat jarang, hampir tak ada orang yang memiliki chi ini. Jikapun ada, orang tersebut akan memilih untuk bungkam dan merahasiakan [ Myrax ] miliknya


setelah diperhatikan, lebih banyak orang yang menggunakan chi roh, dibanding chi alami yang didapat dari berlatih.' batin An yang sangat fokus.


Tak lama, An secara tak sengaja merasakan sebuah aura di balik jendelanya, ia bergegas menghampiri dan membuka jendela tersebut. Bukannya melihat hal berbahaya, ia malah melihat sebuah daun kecil yang berisi chi seseorang membawa sebuah surat untuknya.


ini roh angin.. dasar roh tingkat rendah.' gerutu gadis itu masih kesal pada roh roh yang tak mau membuat perjanjian dengannya.


"sepertinya bisa ketebak dari siapa.. " An kemudian membuka surat itu, wajahnya tampak tersenyum setelah membaca beberapa kata yang ada pada kertas kecil tersebut.


"haha.. kena kau." gumamnya dengan senyum licik, ia lalu segera mengganti pakaiannya dan pergi ke pasar gelap ditengah kota.


...•...


...•...


...•...


...•...


...[ MOHON MAAF APABILA ADA KESALAHAN KATA MAUPUN TANDA BACA YA.. ]...


...[ TERIMA KASIH TELAH MEMBACA CERITA INI~ ]...


...[ SAMPAI JUMPA DI CHAPTER BERIKUTNYA SEMUA! <3 ]...


...@Thara_tta (๑'ᴗ')ゞ...

__ADS_1


__ADS_2