
Benar saja, orang yang baru dibicarakan memang telah hilang entah kemana.
"kak Nuan!" teriak pelayan itu dari kejauhan. Nuan menoleh dan seakan tengah mencari seseorang.
"loh? kakak sendirian? mana Kak An?" tanya si pelayan beruntun.
"ha.. bocah sialan itu.." gumam Nuan kesal.
Kedua pelayan yang melihat hanya bisa memiringkan kepalanya dan saling menatap satu sama lain.
"sepertinya dia hilang." Nuan secara acuh mengatakannya dan berjalan kembali.
"HAH? HILANG? Di--diculik?!" kedua pelayan itu merasa syok.
"iya, cepat bantu aku bawa ini, berat."
"loh? tidak dicari kak?" tanya mereka heran.
"tidak usah, toh yang begituan susah ditemukan."
Disisi lain, seorang gadis muda tengah berjalan dengan keadaan hampir tak bernyawa, "sial.. membosankan sekali~"
Sudah lewat seminggu kejadian itu terjadi, kukira akan ada hal menyenangkan lain selain tergores di sana sini. Ternyata tidak ada tuh.
Kupikir 'monster' itu kuat, ternyata hanya sekumpulan daging tanpa otak. Apa aku terlalu berharap lebih dengan ini?
"sialan! aku bisa gilaa!!" aku berteriak dengan kencang tanpa memedulikan orang orang yang ada di sekitarku, tapi.. mungkin karena 'chi'? suara mereka yang berbisik bisik jadi terdengar jelas.
Ini tak seru, apa siluman dan iblis juga selemah itu? kuharap tidak. Karena aku sudah berekspektasi sangat besar untuk itu.
"jangan mengecewakan aku makhluk lain, atau aku akan menghantui mu hingga alam baka." gumam ku.
Ketika aku tengah sibuk berjalan, aku mendengar suara bisik bisik dari sebuah gang kecil yang ada didepan.
"he--hei.. kau benar benar melakukan nya ya??"
"tentu! haha! kita akan masuk ke 'pasar malam' dan menipu para bangsawan!"
"tapi.. apa benar itu 'koin' asli?"
"kau tak percaya padaku? aku mendapatkannya dari bangsawan muda bodoh yang minum banyak alkohol tadi malam."
"kau gila."
"daripada itu bersiaplah! karena malam ini akan menyenangkan!"
"apa benar menyenangkan?" celetuk ku dari depan gang kecil itu, wah.. aku tak menyangka hanya karena aku nimbrung sedikit mereka sudah ketakutan setengah mati.
"ka-kau! apa kau.. mendengar perkataan kami?!" orang yang sedari tadi memegang 'koin' ini menjadi gelagapan, dapat dilihat dengan jelas jika dia menaruh 'koin' itu kedalam saku celananya.
__ADS_1
"aku tak sengaja dengar kok.." dalih ku. Tapi memang ini adalah unsur ketidaksengajaan, toh aku dengar karena mereka berbisik, harusnya telepati saja. Kenapa pula chi nya harus meningkatkan indra pendengaran ku?
"itu.. itu namanya menguping!" potong seorang anak kecil di samping orang itu.
"HA?" aku melotot kearahnya dengan sedikit kobaran api di mataku. Aku sedikit kesal, padahal memang tak sengaja, sialan!
Jika dilihat dari perawakannya mereka berdua adalah seorang remaja, yah lebih tepatnya satu remaja dan satu bocah.
"hii menakutkan!" rengek bocah itu.
"ja--jangan menakuti temanku dasar nenek tua!" teriak anak laki laki yang memegang koin seraya ingin memukulku memakai tongkat.
Tapi, hasilnya sejak awal sudah ditentukan. Seseorang yang bahkan tak bisa menguasai chi dan menyerang dengan naif, jika dia bertemu orang lain selain aku dia sudah pasti..MATI.
"baiklah.. kalian harus bilang apa??" tanyaku pada kedua bocah yang tengah duduk bersimpuh ini.
"ma--maafkan kami nona.." lirih mereka dalam keadaan babak belur, tentu saja aku hanya memukul bocah itu sekali. Tapi tidak dengan satunya.
"nona? bukan nenek tua?" sindir ku dengan memainkan 'koin' yang kudapat.
Aku melirik remaja itu, mungkin karena takut dipukul dia hanya diam dan menatap tanah. Sangat berbanding terbalik dengan bocah yang sedang menatapku tajam.
"jangan menatapku begitu, nanti matamu hilang." ejek ku pada bocah itu. Dia sedikit terkejut, tapi tetap menatapku dengan berani.
"kalau begitu, jelaskan padaku 'koin' yang kau maksud ini." aku memutar-mutar koin yang kudapat tepat di depan wajah anak laki-laki itu.
"ko--koin itu.. bisa membuat Anda masuk ke daerah 'pasar malam'.."
Anak laki-laki itu menelan saliva nya kasar, "Anda harus pergi ke tengah kota, di sana ada sebuah air mancur tua.. Anda tinggal melemparkan koin itu kedalamnya saja.."
Anak itu melirik ku perlahan seakan tengah waspada.
"koin itu.. hanya bisa sekali pakai."
Apa? aku tak salah dengar? sekali pakai?
"jadi.. aku harus mendapatkan koin lain jika ingin pergi ke 'pasar malam' lagi?"
Kedua anak itu mengangguk dengan cepat, kenapa ya.. padahal seharusnya aku sudah puas telah berhasil merampok kedua anak ini. Tapi, rasanya ada yang kurang.. Dia masih menyembunyikan sesuatu!
"baguslah! aku mengerti sekarang, jadi bisakah kau memberikan ku sesuatu yang ada dalam saku mu itu?"
Setelah mendengar perkataan ku, wajah kedua bocah ini tampak pucat pasi. Seakan bertanya tanya,
..."bagaimana dia tau?!?"...
Yah, kira kira begitu kan. Aku benar benar beruntung! sepertinya benda itu sama berharganya dengan 'koin' ini.
Anak itu tetap diam, dia masih memandang tanah dengan gemetar. Walau begitu aku tetaplah aku.
__ADS_1
"hei.. aku bukanlah tipe orang yang bersabar, kau mengerti?" mungkin jika diancam dia bakal patuh.
Masih dalam keadaan gemetar, anak itu perlahan memegang sakunya dan mengeluarkan sesuatu. Apa itu? sebuah karcis?
Dia menjulurkan sebuah kertas padaku, tanpa memandangku sama sekali. Apa aku terlihat sangat menakutkan sampai sampai dia tak mau menatapku? Jika begitu kenapa adiknya tidak?
"apa ini?" aku mengambil kertas tipis itu dari tangannya yang kasar, padahal masih anak anak, harusnya dia belajar dan bukan mencuri kan?
Hah.. apa yang baru saja kupikirkan?
"itu tiket lelang.. Anda bisa masuk ke sebuah lelang bangsawan jika menggunakan tiket itu." ucapnya pelan.
"lelang ya?" yang benar saja, lelang lagi? aku bisa bisa berubah profesi jadi pedagang kalau begini. Tapi.. yah mungkin aku dapat melihat sebentar dan membandingkan lelang disini dan lelang waktu itu.
"apa ada cara khusus untuk masuk lelang nya?"
"setahu saya tidak ada.. Anda hanya perlu mencari toko sesuai nama di tiket ini."
"hm.." aku meraba sakuku dan memberikan sekantong uang pada kedua anak itu, aku tak suka memiliki hutang dengan orang lain, walau itu informasi sekalipun.
Dapat kulihat, kedua anak itu tercengang, mereka masih memandangi kantong uang yang baru saja ku lempar pada mereka, "kalian tak mau?"
Anak laki-laki itu mengambil kantongnya dengan cepat, dia juga membukanya tepat di depanku, apa dia pikir aku menipunya?
Nah, karena aku sudah mendapat tujuanku malam ini, aku harus segera bersiap-siap dan membeli beberapa keperluan.
Aku beranjak dari tempatku tanpa menghiraukan kedua anak yang masih memandang sekantong uang itu.
"Te--terima kasih! Terima kasih.. Terima kasih banyak!" anak itu mengatakannya sambil terisak, memang ada yang spesial dari uang itu? jika dijumlahkan mungkin hanya 200 Dang.
Karena tak mau melihat pemandangan itu, aku hanya melambaikan tanganku hingga keluar dari gang.
*
"sekarang.. aku harus membeli sesuatu dan bergegas kembali ke kedai!" seru An dengan berjalan santai. Dia mungkin tak menyadarinya, tapi tindakannya barusan akan membawa petaka untuk kedua anak jalanan itu.
...•...
...•...
...•...
...•...
...[ MOHON MAAF APABILA ADA KESALAHAN KATA MAUPUN TANDA BACA.]...
...[ TERIMA KASIH TELAH MEMBACA NOVEL INI~]...
...[ SAMPAI JUMPA DI CHAPTER BERIKUTNYA SEMUA! <3 ]...
__ADS_1
^^^@Thara_tta (๑'ᴗ')ゞ^^^