
"selamat datang tuan, ada yang bisa saya bantu?" sebuah marionette wanita bertanya selayaknya manusia.
jika bukan karena sudah mempelajari chi, mungkin aku akan tertipu mentah mentah.' batin An, ia salut dengan pemilik lelang yang hanya bekerja sendiri tanpa bantuan orang lain, lebih tepatnya ia hanya bekerja dengan para marionette miliknya.
"aku nomor 44, ingin memilih hadiahku." An menyerahkan tiga kantong penuh Dang pada wanita itu.
"baik tunggu sebentar." Pelayan wanita itu mulai menghitung Dang dengan cepat, setelah selesai ia langsung menyimpannya ke sebuah kalung.
batu sihir?' batin An kagum.
Pelayan itu berdiri dan merentangkan tangannya, saat itu juga sebuah kloning muncul tepat di samping An.
"silahkan ikuti dia tuan, Terima kasih saya ucapkan karena anda telah bergabung dalam lelang kali ini." Pelayan itu membungkuk dan kembali melayani tamu yang terus berdatangan.
Kini An dituntun oleh sebuah kloning boneka, "sebenarnya bagaimana dia bisa membuat kloning dari boneka itu sendiri?" gumam An tak habis pikir seberapa kuat pemilik lelang itu, yang jelas ia tak ingin memiliki hubungan dengannya, walau An tak menyadari ia baru saja mengancam sang pemilik lelang itu sendiri.
Setelah beberapa menit, An sampai kesebuah ruangan, tempat itu sempit, lembab, bau, dan bisa dibilang sayup. Hanya ada tiga lampu kecil yang menerangi ruangan itu.
Didalam ruangan, sudah ada dua orang yang beraut wajah kesal menatap An dengan tatapan tak suka.
"Ck! akhirnya dia datang."
"dia kira dia siapa? beraninya dia membuat ku menunggu begini?" gerutu dua orang itu bersamaan.
Dilihat dari penampilan mereka yang norak.. pasti bangsawan ya.' An melangkah ke depan lebih dulu dan menatap kedua anak lelaki yang ada didalam kandang berukuran kecil didepannya, tubuh mereka bergetar, penuh luka dan sangat berantakan.
Tapi, disaat An melihat mata kedua anak itu ia tersenyum, mata penuh tekad untuk bertahan hidup, pantang menyerah dan.. tak takut akan kematian.
"yah.. lumayan." An mengangguk pelan dan menunjuk kedua anak itu, "aku ingin yang ini."
Beberapa pelayan di sana membuka kandang dan membiarkan kedua anak itu keluar, lalu salah satu pelayan yang memiliki luka dibibir nya membisikkan sesuatu pada mereka.
An menatap pelayan itu tajam, "ho.. jadi begitu.." gumamnya. Ia pun berbalik ingin segera pergi dari tempat mengerikan itu, An melihat disekelilingnya, semua kandang penuh dengan anak kecil dan hewan, perlakuan tak pantas yang sangat rendah.
__ADS_1
Mata anak anak itu sebagian besar mengharapkan pertolongan, dan sebagian lagi memiliki mata keputusan akan nasib mereka kedepannya.
Disusul kedua anak yang mengikutinya, ia akhirnya keluar dari tempat mengerikan itu melalui pintu belakang.
Selama diperjalanan, kedua anak itu terus mengikuti An sampai memasuki zona perbatasan pasar malam, "hei.. sebenarnya kenapa kalian terus mengikuti aku hah?!" gertak An pada mereka.
Kedua anak itu diam, mereka terus menunduk hingga anak tertua mengangkat wajah dan membuka mulutnya, "sekarang.. kami adalah budak anda. Tolong biarkan kami melayani anda sampai akhir hidup kami!"
An diam, ia mendekati anak anak itu dan menunjuk si anak tertua, "memangnya orang lemah sepertimu bisa melayani ku?"
Terlihat netra anak itu bergetar, An memegang kepalanya dan menghela nafas panjang karena benci dengan suara bising di sekitarnya, ia ingin bergegas pergi dari sana secepat yang dia bisa.
"ka-kami akan melakukan apapun! kami akan berlatih agar bisa menjadi pantas untuk anda!" seru anak paling kecil yang ada di sana. An melirik anak itu malas, ia pun duduk di tumpukan papan tepat dibelakangnya.
"pantas? butuh 10 tahun lagi agar kau bisa pantas menjadi pelayan ku, cebol." ejek An seraya mengangkat sebelah kakinya.
Anak terkecil itu menggigit bibir bawahnya dan menatap lurus ketanah, "kami memang tak berguna sekarang, tapi nanti-" belum selesai anak tertua itu bicara, An telah memotong ucapannya.
"berisik, aku bilang tak butuh ya tak butuh. Lagipula memangnya kau mau bekerja secara sukarela di bawahku hanya karena aku membayar tubuhmu?"
"ya!" ucap kedua anak itu teguh dengan pendiriannya.
"dasar keras kepala, padahal aku membayar mereka karena ingin ku lepas saja. Tak ada gunanya menggunakan mereka sekarang." gumam An sembari menatap langit gelap tanpa bulan.
"baiklah, jika kalian bersikeras akan ku kabulkan, tapi kalian harus memenuhi syarat jika ingin bekerja untukku." seru An dan ditanggapi anggukan cepat dari kedua anak itu.
"pertama, bawa uang itu dan pergilah ke sebuah tempat agar kalian mendapat tempat bernaung, jangan sampai kalian tertangkap oleh si kakek tua itu lagi. Kedua, latih fisik dan jiwa kalian, aku ingin kalian menguasai bela diri dan chi ketika kita bertemu lagi. Dan yang terakhir, batas waktunya adalah satu bulan."
Mereka mengangguk dengan senang karena An secara tak resmi telah menganggap mereka sebagai pelayannya, atau lebih tepatnya kesatria?
An beranjak dari tempatnya dan mendekatkan wajahnya kepada kedua anak itu, "perlu kalian garis bawahi, untuk saat ini aku hanya ingin membeli 'tekad' kalian. Jika dalam satu bulan ke depan aku tak melihat tekad itu, maka enyah lah dari hadapanku."
Bulu kuduk mereka seketika berdiri, setelah mendengar perkataan dingin bak es itu mereka seakan tau jika hidup kedepannya tak akan semudah mencuri dari orang awam. Walau begitu, nyali kedua anak itu makin besar dan berkobar.
__ADS_1
"baik tuan!" seru anak anak itu serempak.
An mengangguk dan berjalan pergi meninggalkan kedua anak yang masih menatap punggungnya dalam diam.
***
"haa sial. Bukannya mendapat sesuatu aku malah menghabiskan uangku untuk membeli dua bocah yang baru satu kali kutemui." gerutu An di sepanjang jalan menuju air mancur.
"tapi, apa reaksi kakek itu jika tau ada penyelundup di tempatnya ya?" An pun tertawa kecil ketika memikirkan sesuatu yang menurutnya diluar dugaan.
"ada untungnya aku ke sana, aku jadi bisa melihat spesies baru lagi kan~"
"... Seorang siluman.. mereka memang berbeda dibanding monster yang hanya menggunakan otot.." An menghentikan langkahnya ketika ia tepat didepan air mancur yang memisahkan antara pasar malam, dengan pasar tempat dimana orang orang merayakan festival.
"..menurut kalian, kapan aku dapat menangkap seorang siluman ya?" An mengangkat kepalanya dan ia segera melemparkan dua buah belati ke dua arah berlawanan, terlihat dari satu sisi sebuah belati mengenai lengan seseorang, namun sangat disayangkan karena orang itu dapat melarikan diri dari sana.
Dan dari sisi berlawanan, belati itu ditangkap oleh seseorang yang menggunakan jubah panjang berwarna biru gelap, sinar bulan juga angin malam mulai masuk ke tempat itu dan memperlihatkan wajah orang misterius yang ada dibalik jubah.
"hei kau, ini peringatan pertama sekaligus terakhir untukmu, jangan pernah mengikuti ku jika kau tak ingin cepat mati ditangan ku." ujar An menatap lurus ke arah lelaki yang ada di atas atap itu.
...•...
...•...
...•...
...•...
...[ MOHON MAAF APABILA ADA KESALAHAN KATA MAUPUN TANDA BACA YA.. ]...
...[ TERIMA KASIH TELAH MEMBACA CERITA INI~ ]...
...[ SAMPAI JUMPA DI CHAPTER BERIKUTNYA SEMUA! <3 ]...
__ADS_1
^^^@Thara_tta (๑'ᴗ')ゞ^^^