
Setelah An pergi, Ying pun menyusul tanpa melihat kebelakang sama sekali. Saat ini, Jiao Yun hanya bisa diam dan merasakan sakit luar biasa didalam tubuhnya.
Wajah Jiao Yun melepuh, bukan hanya wajah bahkan tubuhnya. Wajah cantik yang selalu ia banggakan kini hancur menjadi mengerikan. Ia makin meringis, air mata turun melewati kulitnya yang telah rusak.
"kenapa? harusnya ini tidak terjadi.. hidupku.. karirku.. semua yang telah ku perjuangkan!" Jiao Yun terus bergumam, ia bahkan tak menyadari kemunculan seseorang didepannya.
"astaga.. padahal aku sudah mengingatkannya agar tak merusak alat sihir ku.. dia benar benar rubah nakal, ya kan?" ucap lelaki bertopeng rubah itu pada Jiao Yun.
alat.. sihir..? '
Jiao Yun yang awalnya diam dan menatap tanah, langsung mengangkat wajahnya. Dahinya kini mengerut, ia menggertakkan giginya, bahkan rahangnya pun menegang.
bagaimana 'orang itu' ada disini?! '
"loh? kenapa tidak jawab? jangan bilang lidahmu juga hilang sama seperti anggota tubuh anak buah mu?" tanya lelaki itu lagi.
"haha.. saya tidak tau.. bagaimana anda bisa ada disini? di tempat makhluk makhluk rendahan ini?" Jiao Yun mencoba menggerakkan tubuhnya perlahan, ia dengan lamban mundur dan tak memberikan tanda perlawanan.
Lelaki itu tak membalas perkataan Jiao Yun dan tertawa dengan keras.
"melihat tingkah mu ini, sepertinya kau sudah sadar ya? akan kelalaian juga kesalahan mu." lelaki itu mengeluarkan auranya, aura itu sangat kuat dan menekan. Jiao Yun berteriak kesakitan karena terkena aura miliknya itu.
"karena kau sudah sadar.. aku tak perlu basa basi lagi kan?"
Jiao Yun yang masih kesakitan, kini berlutut dan membenturkan kepalanya berulang kali ketanah, wajah Jiao Yun yang semula hancur sekarang dipenuhi lagi dengan darah.
"tu.. tuan.. saya mohon.. be.. berikan saya kesempatan satu kali lagi! jika.. jika bukan karena pengganggu itu, saya tak akan melalaikan tugas saya!" seru Jiao Yun gemetar tapi, tak ada jawaban. Ia tak berani mengangkat kepalanya, karena ia tau melakukan itu sama halnya dengan menggali kubur sendiri.
"kesempatan, kau mimpi ya? lagipula.. aku tak membutuhkan seorang sampah yang bahkan tak bisa menyelesaikan tugasnya,"
Lelaki itu mengulurkan tangannya ke depan dan seolah sedang menarik roh Jiao Yun dihadapannya.
"apalagi seseorang yang bahkan tak mendengarkan perkataan yang dikatakan tuannya."
Jiao Yun berteriak kencang, seluruh tubuhnya memberontak, dan setelah itu ia tak bergerak sama sekali.
"sial, hal seperti ini saja menghabiskan cukup banyak energi, "
Lelaki itu merenggangkan lehernya, lalu menatap Jiao Yun dengan tatapan jijik.
"aku sangat tak beruntung malam ini, tubuhnya bahkan rusak karena ledakan chi yang tiba tiba membludak. Tapi.. jika kubiarkan 'dia' akan menggantikan mayat ini untuk melayani manusia rendah itu kan?"
Lelaki itu terlihat berpikir dan membuat tubuh Jiao Yun melayang di udara.
__ADS_1
"kalau begitu akan ku perbaiki bagian luarnya saja." sebelum pergi lelaki bertopeng itu diam sejenak.
"padahal kau melihatnya, tapi kenapa diam saja? kau hanya menyelamatkan orang jika dilihat orang lain ya. Dasar munafik Timur!"
tak ada jawaban, lelaki itu seakan berbicara dengan angin.
Lelaki bertopeng rubah itu kemudian menghilang, dan keheningan malam mulai menyebar di seluruh kota Chengse.
...****************...
Dua belas hari berlalu sejak kejadian itu, Warga kota dihebohkan dengan penemuan mayat monster yang hampir membusuk beserta mayat beberapa orang yang tak diketahui identitasnya.
Bukan hanya kabar itu yang menggemparkan semua orang, melainkan kabar bahwa [ Sang gadis cuaca bersikap selayaknya orang lain! ]
Kenapa berita itu muncul? karena sikap Jiao Yun yang awalnya angkuh, selalu membuat masalah, dan pencari sensasi, kini berubah menjadi diam, penurut, dan tak mempedulikan perkataan orang lain.
Ia bahkan tak menghiraukan tatapan atau perkataan orang yang lewat di telinganya, bahkan tatapan Jiao Yun kosong seperti orang yang tak berniat hidup.
Walau begitu, ia masih menjalani kesehariannya dengan biasa, seperti menari, memainkan alat musik, ataupun menghibur tamu sampai pagi. Semua orang mengklaim bahwa dia telah gila, tapi ada juga beberapa orang yang berkata jika itu tidaklah penting,
"jika masih bisa dipakai bukankah tidak masalah?"
"benar! dia lebih manis jika penurut seperti ini! haha"
"hei.. aku masih penasaran, kenapa kak Jiao jadi seperti itu ya?" tanya salah seorang pelayan yang sedang bersih bersih.
"memangnya kenapa? bukankah itu lebih baik? dia jadi tak pernah memprotes apapun yang kita lakukan bukan?" sahut temannya cuek.
"tapi.. bukankah itu.. sangat aneh?"
"aku tak peduli. Lagipula semenjak si penari baru datang, banyak keanehan di tempat ini."
"kau benar sih, tapi kan.."
"sudahlah, kau tak perlu mencemaskan orang yang bahkan tak mengenalmu."
"ugh.. hatiku sakit.."
Ketika mereka berdua masih berbincang bincang, Jie datang dengan raut wajah bingung.
"kalian! apa kalian melihat An? atau Nuan?" serunya pada kedua pelayan itu.
"mereka berdua sedang pergi belanja kak!" jawab mereka kompak.
__ADS_1
Jie tampak berwajah kalut, ia lalu mengusap ngusap keningnya dengan kasar, "ah, baiklah kalian cepat susul mereka ke pasar."
"loh kenapa? kayaknya dua orang sudah cukup untuk bawa belanjaan deh kak." tanya mereka heran.
"tidak usah tanya! cepat pergi!"
"i-iya!" kedua pelayan itu bergegas pergi untuk menyusul An dan Nuan ke pasar, disela sela perjalanan mereka bertanya satu sama lain.
"sekarang kak Jie lebih tegas dari dulu ya?"
"itulah salah satu keanehan lainnya. Apalagi sekarang Kak Jie jadi lebih sensitif dan peduli dengan apapun yang berhubungan sama Kak An."
Setelah kedua pelayan itu pergi, Jie menghela nafas panjang dan memijat keningnya, "ternyata aku memiliki banyak adik yang merepotkan ya."
seusai festival An menemui ku dengan keadaan luka parah, bahkan dia tak ingin memberitahuku apa yang terjadi, lalu Jiao Yun yang menghilang dan muncul kembali sehari sesudah festival dengan tampang yang mengenaskan. Untunglah saat itu masih sangat pagi dan belum banyak orang beraktivitas,'
Jie yang melamun tersadarkan kembali karena tugas yang telah menantinya, kehebohan badai di malam festival itu membuat semua orang murka dan hampir menuntut kedai dengan alasan [ Jiao Yun tidak bisa mengendalikan kekuatan nya. ]
Bahkan Nyonya Kai kewalahan menghadapi orang orang itu, beruntungnya An keluar dan mengusulkan jawaban yang sedikit merugikan.
"bagaimana kalau kita adakan festival lagi? karena pihak kami yang merugikan kalian, kalian bisa meminta dana untuk melanjutkan festival yang belum selesai kan?" Ucap An tersenyum riang memandang Nyonya Kai.
Karena tidak ada yang bisa dilakukan lagi, Nyonya Kai dengan berat hati menerima usul itu dan mengalami kerugian terbesar seumur hidupnya, beliau bahkan mengumpat.
"dasar bocah sialan, beraninya mengikutsertakan uangku."
"jika tebakanku benar, An saat ini telah meninggalkan Nuan dan pergi ke tempat lain." gumam Jie pasrah.
...•...
...•...
...•...
...•...
...[ MOHON MAAF APABILA ADA KESALAHAN KATA MAUPUN TANDA BACA.]...
...[ TERIMA KASIH TELAH MEMBACA NOVEL INI~]...
...[ SAMPAI JUMPA DI CHAPTER BERIKUTNYA SEMUA! <3 ]...
^^^@Thara_tta (๑'ᴗ')ゞ^^^
__ADS_1