Moon In Darkness

Moon In Darkness
Ch.44 Hadiah


__ADS_3

"melelahkan, lari secepat ini saja sudah bikin sesak.. " ucap An dengan tergesa gesa, ketika ia sampai ke paviliun dan mau menuju kamarnya, An mendengar suara berisik dari arah pintu depan.


Ia mendekat dengan perlahan dan melihat dua orang pelayan wanita sedang berada di depan pintu paviliun seraya membawa sesuatu ditangan mereka.


"he--hei.. apa kita akan baik baik saja setelah melakukan ini??" bisik salah satu pelayan itu gelisah, ia lalu melirik benda yang dipegangnya dan langsung memalingkan wajah.


"tenang saja! lagipula nona Qiongli sendiri yang memberi kita perintah! dia akan melindungi kita!" seru teman pelayan itu dengan bangga.


"ta--tapi.. Nona Lian itu adalah adik yang disayangi tuan muda pertama dan tuan muda kedua kan.. " Gadis pelayan itu ketakutan dan mulai melihat sekelilingnya,


"jika.. jika Nona Lian tahu bahwa kita yang melakukannya, kita akan mati seperti pelayan yang mengatainya waktu itu!" lanjut gadis itu frustasi.


"hah! dasar penakut! kau tinggal menaruhnya dan kita akan pergi! " teman dari gadis itu kemudian mengambil paksa benda yang tengah ia pegang.


"siapa bilang kalian boleh pergi? oh iya.. makasih loh hadiahnya." ujar An yang tiba tiba muncul dari belakang, An dengan beringas menusuk nusuk tubuh kedua pelayan itu seakan melimpahkan kekesalannya.


Kedua pelayan itu pun kini tergeletak di lantai dengan tak berdaya, darah dari tubuh mereka memercik ke segala arah, dengan kesadaran yang semakin menipis mereka berusaha bernapas, "to--tolong.." lirih kedua gadis itu dengan mengenaskan.


Tanpa mendengarkan gadis gadis pelayan itu, An menusuk keduanya bergantian hingga akhir hidup mereka. Setelah melihat kedua gadis itu tak bernyawa, ia kemudian berdiri, mengelap percikan darah yang menempel di topengnya dan menghela nafas panjang, "sepertinya aku tak akan istirahat malam ini"


Malam yang panjang dan sunyi itu, sekarang berganti dengan pagi yang sejuk dan riuh. Tak terkecuali paviliun tempat dimana An mengistirahatkan tubuhnya yang kelelahan sepanjang malam.


"nona! nona! " teriak Arum dari balik pintu kamar, karena tak ada sahutan, Arum membuka pintu itu dan alangkah terkejutnya dia melihat An yang tidur di sembarang arah.


"astaga nona! bagaimana bisa anda masih tidur?! ayo bangun nona! " seru Arum sembari menggoyangkan tubuh An pelan.


"anda harus bersiap! saya ada berita hangat! " lanjutnya dengan tergesa gesa.


Sementara itu di paviliun tempat dimana Qiongli tinggal, semua orang berkerumun dan berdesak-desakan.


Semua orang hadir di tempat itu, Chyou, Jiazhen, para bibi dan paman bahkan nenek mereka ada di sana.


"siapa.. yang berani melakukan hal tercela ini?" tegas Sang nenek ketika melihat dua orang mayat pelayan wanita yang bersimbah darah tepat didepan pintu kediaman Qiongli.


" gila! berapa tusukan yang ada ditubuh mereka?"


"lihat! bukankah yang ada di mulut mereka itu.. usus?"


"astaga! benar benar menjijikkan!"


Para pelayan lain yang ada di sana pun merasa ngeri sekaligus jijik dengan apa yang mereka lihat, "kak, apa kau tak menerima laporan tentang penyusup tadi malam?" tanya Jiazhen ragu ragu.


"tidak. Tidak ada yang melapor padaku tentang hal yang mencurigakan." jawab Chyou masih memeriksa kedua mayat itu.


"ini bukanlah tontonan! cepat pergi dari sini!" dengan satu hentakan saja, semua pelayan yang tadinya menonton pergi tanpa sisa, dan hanya menyisakan para anggota keluarga Wu yang penasaran akan hal ini.

__ADS_1


"kak.. aku takut.." rengek Qiongli sambil bersikap manja pada Chyou, Lelaki itu sama sekali tak membalasnya dan malah menceramahi nya tanpa jeda.


"bukankah kau sudah berada di tingkat menengah tahap 3? tak seharusnya kau bertingkah seperti anak kecil." Chyou melepaskan pelukan Qiongli dan membersihkan tangannya.


"ta--tapi kak, bagaimana jika orang itu lebih kuat dariku? buktinya dia bisa membunuh dua orang pelayan ini!"


"hanya karena dia membunuh dua orang, bukan berarti dia kuat." Chyou menunjuk luka tusukan yang ada di tubuh mayat dua pelayan itu.


tusukan itu.. sangat kasar dan tak beraturan apa itu artinya dia orang awam? atau dia sengaja membuat bekas yang tak bisa dibaca? ' batin Qiongli, ia mulai merasa cemas dan menggigit kukunya.


sial! padahal aku memerintahkan dua orang ini hanya untuk menaruh bangkai tikus di depan kediaman gadis haram itu! kenapa malah mereka yang jadi bangkainya?! atau..tak mungkin kan?' lanjut Gadis itu tak habis pikir.


"kakak? kenapa ramai sekali?" ucap seorang gadis muda yang baru saja tiba, ia memakai baju yang sederhana berwarna merah muda, dengan jepit rambut berbentuk mawar pemberian dari Chyou, atau bisa disebut sogokan.


Dengan pakaiannya yang tak mencolok seperti nona lain, para pelayan juga langsung menganggap bahwa dia adalah orang yang sederhana, mereka tak tahu jika pakaian yang dikenakan An sekarang terbuat dari sutra yang dijual untuk keluarga kerajaan.


Melihat adiknya yang baru saja tiba dan tak mengetahui apapun, Jiazhen pun dengan sigap menghampiri gadis itu dan menutup matanya.


"huaa! kak Jiazhen! kenapa kau menutup mataku?!" seru An seraya meronta.


"matamu akan rusak kalau melihat itu, ayo pergi!"


"tapi! aku mau lihat itu!" tegas An semakin memberontak pada Jiazhen.


"pergilah ke taman, ajak saja dia sarapan." Chyou mendekat dan itu pun semakin menghalangi pandangan An ke depan.


"siapa yang bilang begitu?! kau dengar dari mana hah?!" teriak Qiongli tak terima.


Karena Qiongli membuka pandangan An untuk melihat ke depan, Gadis itu akhirnya melihat hadiah yang tadi ia ucapkan, "ka--kak! apa.. itu?" rintihnya dengan wajah pucat.


"kan sudah kubilang jangan lihat!" dengan panik Jiazhen mengangkat tubuh An menuju taman terdekat, tentu saja dengan Arum yang mengekor dibelakangnya.


"lihat?! akan ada lagi orang yang terkejut jika mayat ini tak segera dibereskan! cepat bersihkan tempat ini!" titah sang Nenek pada para penjaga.


"lanjutkan lah penyelidikan mu di tempat lain, jangan di area terbuka seperti ini. " lanjutnya seraya pergi dari sana.


"baik, nenek." sahut Chyou dengan hormat, kedua mayat tersebut akhirnya diangkat dan ditaruh di tempat pembakaran, banyak orang yang heran kenapa mayat yang seharusnya di otopsi berada di sana, dan jawaban yang keluar dari mulut Chyou sangatlah sederhana, "karena mayat itu sudah menodai mata adikku."


"menyebalkan.. " gumam Qiongli penuh amarah, ia lalu masuk ke kediaman nya dengan membanting pintu keras keras.


Di saat yang sama, Jiazhen berhasil mengangkat An sampai ke bangku taman dengan selamat, huh.. kenapa bocah ini jadi berat sekali?!' batinnya masih mengatur nafas.


Jiazhen kemudian memerintahkan beberapa pelayan untuk menyajikan sarapan yang akan disantap nya bersama An, "kak.. mungkin aku tak akan makan dulu.. " ringis An menahan mual yang menjadi jadi.


gawat.. ini pasti efek samping dari latihan ku tadi malam.. yah, walau aku puas dengan hasilnya.. '

__ADS_1


Melihat tingkah An yang tengah tertawa sambil memegangi perutnya, Jiazhen merasa khawatir dan bergegas untuk mencari tabib keluarga, "a--aku akan pergi sebentar! kak You akan datang nanti! tunggu aku mengerti?! jangan kemana mana! " teriak Jiazhen sampai tak terlihat lagi.


"euh.. lidahku pahit.. " An menyandarkan tubuhnya di bangku dan menatap kosong langit, "jika hanya dengan tusukan itu, mereka akan memikirkan dua hal.. antara orang awam atau seorang master.. " lanjut Gadis itu dengan melihat tangannya yang kecil dan kurus.


"Chyou juga lama sekali. "


Tak lama, sebuah tangan yang dingin menutup pandangan An, ia memegang tangan itu dan berdecak kesal, "kak, ini tak lucu! cepat lepaskan! "


Untaian rambut hitam panjang mengenai pundak An, mata safir itu seakan bersinar karena terkena sinar matahari pagi, "bagaimana kau tahu ini aku?" tanya Chyou seraya duduk di bangku seberang.


"tentu saja tahu, hanya satu aura untuk orang tak tahu malu." An menjawab dengan sinis.


"haha, sedihnya.. tapi, Lian.. apakah kau baru saja naik tingkat?" tanya Chyou lagi, dan kali ini pertanyaan itu membuat Gadis didepannya merasa takjub.


"bagaimana kau tahu?!"


"hm.. mungkin karena auramu lebih kuat dari biasanya?" jelas Chyou tanpa basa basi.


An terkejut dengan perkataan yang dilontarkan Lelaki itu, keringat dinginnya keluar dan suaranya pun menjadi gugup, "apakah.. auraku terlihat sejelas itu?"


"ah, tidak kok.. kau sudah menutupnya dengan baik, hanya saja aku memang sensitif terhadap aura seseorang.. " lanjut Chyou mencoba menenangkan An yang kalang kabut.


Oh iya, jika diingat lagi dia memang peka dengan aura ya.. ' Gadis itu akhirnya dapat bernafas dengan lega.


"aku naik setingkat!" seru An penuh percaya diri, Chyou tersenyum puas dan mengucapkan selamat tanpa bertanya lebih lanjut.


Setelah beberapa menit mereka mengobrol, Jiazhen datang dengan kerusuhan nya sambil membawa seorang kakek tua yang ternyata seorang tabib.


Para pelayan juga berdatangan membawakan sarapan pagi untuk mereka, selama sarapan pagi ini berlangsung An akan ditemani oleh kedua kakaknya.


ah.. kenapa mereka belum juga pergi?! ' batin An yang meronta karena belum siap untuk menerima makanan ke dalam tubuhnya.


...•...


...•...


...•...


...•...


...[ MOHON MAAF APABILA ADA KESALAHAN KATA MAUPUN TANDA BACA YA.. ]...


...[ TERIMA KASIH TELAH MEMBACA CERITA INI~ ]...


...[ SAMPAI JUMPA DI CHAPTER BERIKUTNYA SEMUA! <3 ]...

__ADS_1


...@Thara_tta (๑'ᴗ')ゞ...


__ADS_2