Moon In Darkness

Moon In Darkness
Ch.62 Berita


__ADS_3

Gadis itu mengedipkan matanya berulang kali saat melihat suasana kamar yang telah bersinar karena matahari sudah berada tepat di atas. Masih termenung mengingat mimpi yang dia alami, An menggoyang goyangkan kedua lengannya ke atas dan mendaratkan kasar kedua lengan itu pada wajahnya yang halus.


Wajahnya menjadi panas dan sedikit memerah, ia kemudian bangun dari ranjangnya dan berdiri untuk merenggangkan tubuh.


"tubuhku tak sakit.. sepertinya aku juga naik tingkat?" tanyanya pada diri sendiri, baru saja ingin melangkah dia melihat sebuah mawar hitam tergeletak di lantai dan memungutnya.


An mencium aroma bunga yang hampir layu itu dan menghela nafas pelan, "kurasa ada tamu tadi malam, siapa ya.." gumam gadis itu seraya menaruh bunga di atas meja.


Diapun duduk kembali di ranjangnya sambil mendengarkan obrolan beberapa orang yang ada di ruang tamu, mereka adalah Chyou, Tuan Yong, Lang, Shu dan beberapa prajurit yang lain. Tak banyak yang mereka bicarakan, topik mereka masih dengan kebakaran kedai budak, masalah nyonya muda pertama yang telah dikurung di penjara bawah tanah istana, penangkapan para bangsawan termaksud Lee Jiang yang diduga sebagai pelaku sementara, dan pembantaian sepihak yang dialami kelompok teratai hitam tadi malam.


An mendengarkan semuanya dengan jelas dan seksama, ia kemudian kembali ke ranjang dan merebahkan tubuhnya di sana.


"Lee Jiang ditangkap, tapi agaknya berita tentang bibi Bao telah menenggelamkan fakta jika lelaki itu masih anggota dari keluarga pilar." iba gadis itu, namun kemarahannya tersulut kembali karena mengingat hal buruk yang telah Lee Jiang lakukan.


"dari yang kudengar, pembantaian itu dilakukan tepat saat aku sedang pingsan, melihat ada dua luka berbeda dari setiap korban, pelakunya pasti lebih dari satu orang." gadis itu membalikkan badannya dan menatap datar pada mawar hitam yang telah layu di meja.


"memangnya siapa yang mau bekerja sama memenggal kepala orang dan mencuri jantungnya di saat yang bersamaan? kalau itu aku, tak akan kubiarkan tersisa.." ia menjeda ucapannya tak kala pintu terbuka, terlihat Xia berjalan dengan lunglai memasuki kamarnya sambil membawa air dan kain untuk membasuh muka.


"Xia? kau sakit?" tanya An tak enak hati.


Xia mendongakkan kepalanya dan mata hijaunya membulat sempurna.


"Nona!" dengan wajah berseri ia menghampiri An, menaruh ember airnya dan memeluk An dengan kuat.


"Nona! saya takut! saya pikir anda akan meninggalkan saya!" rengek Xia masih menangis di pelukan An.


"yah.. aku lebih takut dengan fakta jika kau akan berteriak dan memanggilku dengan hal aneh lainnya." ucap gadis itu dengan mempersiapkan hati dan mental, tak berselang lama suara hentakan kaki menyerbu kamarnya.


"Lian?! apa ada yang sakit? katakan padaku!" teriak Chyou sambil berlari menghampiri An.


Setelah Chyou masuk, Tuan Yong, Lang, Shu, dan tabib Chang dengan pelan memasuki kamar, mereka memberi hormat sederhana dan berbaris mengelilingi ranjang An.


uh..aku tak nyaman..' pikir An risih, ia lalu melirik Lang dan Shu, tampak sangat jelas jika mereka berdua merasa khawatir sekaligus bersalah atas apa yang telah terjadi.


"maaf Nona keempat, saya akan memeriksa nadi Anda." izin tabib Chang seraya memegangi lengan An.


"tunggu.. aku kan naik tingkat dan otomatis auraku akan keluar karena belum ku serap, mereka.. tak menyadarinya bukan?" batin An dengan gugup, ia lalu melirik orang orang itu satu persatu, tapi tak ada seorangpun yang menunjukkan ekspresi selain khawatir padanya. Ada sedikit rasa kecewa pada hati An karena tak ada yang menyadari keahliannya.


"nadi anda baik, jalur tenaga anda pun dalam keadaan baik, tak ada yang perlu dikhawatirkan karena tampaknya demam Nona juga sudah turun,"

__ADS_1


"apa kau serius? dia baik baik saja?" potong Chyou kalut, dia bahkan sampai meremas bunga mawar hitam yang telah diletakkan An di atas mejanya.


"ya Tuan Muda pertama, Nona hanya perlu beristirahat, dia akan kembali sehat jika istirahat dengan cukup." sahut sang tabib yang telah lelah dengan drama persaudaraan menggelikan ini.


kau tak sendiri tabib Chang, aku juga merasakan hal yang sama denganmu.' ucap An dihatinya seolah kedua orang itu memiliki keahlian telepati pribadi.


"baguslah, terimakasih tabib Chang. Kalau begitu semuanya keluar sekarang juga, ada yang ingin ku bicarakan dengan Lian." pinta Chyou sambil menatap risih pada semua orang di sana.


Karena tak ada yang berani membantah, mereka semua keluar dari ruangan itu dengan wajah gusar. Yang tersisa di sana hanyalah An dan Chyou seorang.


Sunyi, bukannya memulai percakapan, lelaki itu malah membungkam seluruh isi kamar dan membuatnya seperti kuburan, tak ada suara di sana sampai setengah jam berikutnya.


ah sialan! kenapa dia belum bicara juga sih?' celoteh An dihatinya, ingin rasanya ia memulai percakapan ini, tapi ada sesuatu yang mengatakan padanya untuk membiarkan Chyou memulai pembicaraan mereka.


Dengan perasaan kesal yang telah menumpuk, An pun ingin memulai obrolan, "Hei--"


"maaf.." gumam Chyou saat An hendak bicara.


"maaf karena aku menempatkan kau dalam situasi ini, padahal aku sudah janji untuk selalu menjagamu selama kau berada di sampingku." lirih pria itu, tampak bahunya yang biasa tegap kini menciut seperti anak kecil yang baru saja dimarahi.


"tak apa Youyo, lagipula ini bukan salahmu,"


"wah.. aku tak percaya kau langsung mengatakan itu dengan jelas. Tapi, sakit yang kau maksud bukan dari racun itu sa--"


"tidak, kau tak perlu membelaku. Aku mengakuinya jika itu semua pasti karena ulahku, jika saja aku melatih mereka dengan benar, mereka tak akan berkhianat dengan mudah seperti ini." ucap Chyou dengan dingin.


"setidaknya biarkan aku menyelesaikan kalimatku, dasar." umpat An kesal.


Gadis itu lantas menggaruk tengkuknya yang tak gatal, ia melirik lelaki yang ada disampingnya sedang diam tak berdaya.


"bagaimana dengan pelayan itu?" tanya An mencoba mencairkan suasana walau dia sudah tahu jawabannya.


"dia mati, semua anggota unit teratai hitam mati."


"apa ketuanya juga mati? orang bertopeng itu?" tanya An lagi dengan agak bersemangat.


".. tidak, aku yakin jika dia belum mati, kami hanya menemukan lengan kanannya tanpa jasad di sana."


"ah, begitu." dengan kecewa An menahan emosinya.

__ADS_1


"pokoknya, aku akan berusaha untuk menebus kesalahanku ini, sebagai seorang kakak.. aku, tak ingin melihatmu terluka lagi.." Chyou menatap mata adiknya dalam.


An merasa tak nyaman dengan ucapan juga tatapan itu, ia berpikir jika hal yang sudah terjadi tak usah dibahas terlalu jauh, lupakan saja. Sama seperti dia sendiri yang melakukan segala hal dan melupakannya di saat bersamaan.


"tak masalah buatku, biarkan saja. Toh.. kita bukan saudara sungguhan, kau tak perlu merasa terbebani akan hal itu." ucap An sambil tersenyum nanar, dia bahkan tak mampu melihat wajah Chyou dan memilih untuk membuang muka ke arah lain.


Setelah beberapa saat tak mendapat jawaban, ia memberanikan diri untuk menoleh dan memastikan jika lawan bicaranya masih berada di sana. Namun An bergeming, dilihatnya wajah orang yang dapat ia panggil "kakak" menunjukkan ekspresi yang menurutnya sangat aneh.


eh? kenapa dia memasang wajah begitu?' pikir An tak mengerti.


"begitu ya, baiklah." jawab Chyou singkat lalu segera beranjak dari kursi,


"aku lupa jika ada sesuatu yang harus dikerjakan, sekarang kau istirahat dan jangan pergi kemana-mana dulu. Aku tak ingin.. melihat orang yang telah ku anggap sebagai adikku sendiri kembali terluka karena aku.." lanjut lelaki itu tanpa menoleh.


"hah? apa apaan sih? apa aku tak mengatakan padanya, jika jangan melibatkan perasaan pribadi didalam tugas?" seru An dengan wajah merah padam.


"sadarlah An, sadarlah.. Kau.. hanyalah pengganti kursi kosong untuk sementara. Kau tak boleh mengharapkan sesuatu yang lebih dari upah kerjamu, jangan.. melibatkan perasaan omong kosong jika kau tak ingin hal yang sama terulang kembali.." gumam gadis itu sembari menunduk.


Secara tak sengaja, ingatan An tentang ledakan itu berjalan seperti roll film, sangat menyebalkan dan membuat mual bagi dirinya. Untuk menghilangkan perasaan aneh itu, ia memanggil Xia, Shu, Lang, dan Chen yang secara kebetulan sudah pulang dari misi pertamanya.


"Perkenalannya nanti saja, karena kalian sudah berkumpul, aku akan memberikan tugas agar kalian dapat mengisi waktu luang." jelas An yang telah berpindah posisi dengan duduk di kursi, sambil menatap ke empat orang yang berdiri tegap di hadapannya.


"siap, master!" kompak ke empat orang itu tanpa ada keraguan sedikitpun.


...•...


...•...


...•...


...•...


...[ MOHON MAAF APABILA ADA KESALAHAN KATA MAUPUN TANDA BACA, KARENA SAYA INI CUMA NPC SEMATA ^^]...


...[ THANK YOU FOR READING THIS STORY! ]...


...[ MINASAN,-JI NO SHŌ DE O AI SHIMASHOU! ]...


...@tharazerow (๑'ᴗ')ゞ...

__ADS_1


__ADS_2